Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Kebohongan Devinka


__ADS_3

Reksa segera duduk di samping Dika dan dia juga memasang wajah serius menatap ke arah Ciko dan Devinka, lalu Dika mulai bertanya kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka harus bertengkar seperti ini.


"Sekarang katakan padaku apa masalahnya?" Tanya Dika memulai,


"Aku tidak tahu apapun dia tiba-tiba saja datang dan melakukan ini padaku" balas Devinka dengan raut wajah yang masih belum bisa menerima perlakuan Ciko padanya,


"Ciko apa itu benar?" Tanya Dika menatap Ciko dengan menyelidik,


"Itu benar, tapi aku melakukannya karena dia akan pindah ke kota A tanpa memberitahu kita dahulu, kau tahu Dika dia sekarang menuruti nenek lampir itu, dia tidak mendengarkan ku dan dia tidak akan menjadi anggota The Boys lagi jika dia pergi ke kota A dan tidak tahu kapan akan kembali, apa kau pikir dia tidak keterlaluan?" Balas Ciko menjelaskan.


Devinka menatap heran karena dia belum memberitahu siapapun mengenai kepergiannya kecuali Reksa tapi kini dia mendengar semua itu dari Ciko sehingga kini dia menyadari siapa dalam sebenarnya dan dia langsung menatap tajam pada Reksa.


"Reksa....ini pasti ulah kau kan?" Ucap Devinka pelan sambil menatap Reksa dan mengeratkan giginya dengan kuat.


Sedangkan Reksa langsung memalingkan pandangan ke sembarangan arah karena dia tahu Devinka akan memarahinya dan dia tidak ingin mendapatkan tatapan menyeramkan itu darinya, Dika juga langsung menepuk jidatnya pelan dia tidak habis pikir kedua sahabatnya ini bisa berkelahi hanya karena hal sepele seperti itu dan Dika sudah tahu bahwa semua ini hanyalah kesalah pahaman.


"Astaga....jadi hanya karena hal seperti itu kalian bertengkar?, Ayolah Ciko dimana dirimu yang selalu tenang dan berpikiran jernih?, Kau seperti ini tidak bisa disebut Ciko yang aku kenal" ucap Dika berusaha menyadarkan Ciko terlebih dahulu.


Karena sumber emosinya ada pada Ciko sehingga Dika memilih untuk meredakan emosinya terlebih dahulu, sampai akhirnya setelah mendengar ucapan Dika Ciko bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan wajahnya sudah jauh lebih tenang dan damai daripada sebelumnya.


Bahkan sampai saat itu Dika masih tidak habis pikir kenapa Ciko bisa semarah itu kepada Devinka, hingga Dika pun menyuruh mereka untuk berbaikan, walaupun pada awalnya Ciko dan Devinka menolak dengan keras namun karena Dika terus menyuruh dan mendesak mereka akhirnya mereka pun mau berbaikan dan berjabat tangan satu sama lain.

__ADS_1


"Ayo...cepat Devinka raih tangan Ciko atau kau tidak ingin bersahabat lagi dengan kita?" Ucap Dika mengancam,


"Aishh...iya...iya aku memaafkanmu" balas Devinka sambil menerima jabatan tangan dari Ciko.


Setelah mereka berbaikan Dika mulai menanyakan kebenarannya terhadap Devinka tentang kepergian dia ke negara A.


"Devinka apa benar kau mau pindah ke negara A?" Tanya Dika dengan menatapnya penuh penasaran.


Bahkan bukan hanya Dika saja yang menunggu jawaban Devinka tetapi Reksa dan Ciko memberikan tatapan yang sama kepadanya, mereka bertiga masih berharap bahwa berita itu bohong namun nyatanya melihat Devinka yang menghembuskan nafas lesu serta menunduk dalam sekejam mereka mulai menyadari bahwa semua itu adalah kebenarannya.


"Devinka setidaknya jika kau sungguh akan menyerah pada dirimu sendiri dan pergi ke sana menuruti kemauan ibumu, kau harus memberitahu kami jangan menyembunyikannya seperti ini dan bisa saja itu akan membuat kami salah paham" ucap Dika memberikan nasehatnya,


"Aku tahu Dika, tapi aku hanya tidak ingin membuat kalian kecewa karena aku, aku tahu aku lemah dan tidak bisa melawan ibuku lagi, aku hanya takut ayahku tidak akan selamat jika aku terus membangkang kepadanya, dan aku melakukan ini hanya untuk kesembuhan ayahku buka berarti aku mengalah begitu saja kepadanya" ucap Devinka menjelaskan.


"Devinka tapi apa kau akan memberitahu Elisa tentang ini, dia juga teman kita sekarang" ucap Reksa yang langsung menarik perhatian Ciko juga Dika,


"Tidak, aku tidak akan memberitahunya, untuk apa aku memberitahu dia, dia bukan siapa-siapa untukku" balas Devinka menutupi perasaannya sendiri.


Dika dan Ciko yang mendengar itu sangat kaget karena selama ini mereka pikir Devinka sudah menaruh perasaan yang spesial kepada Elisa sebab gerak geriknya mulai berubah semenjak kemunculan Elisa disekitar mereka, bahkan Devinka terakhir kali membelikan beberapa hadiah kepada Elisa dan sempat mengajaknya jalan berdua saja di belakang mereka tapi kini dengan mudahnya Devinka mengatakan bahwa dia seakan tidak memperdulikan Elisa dalam hidupnya.


"Devinka apa kau yakin dengan ucapan yang kau katakan barusan?" Tanya Dika masih meragukannya,

__ADS_1


"Benar, untuk apa juga aku berbohong aku tidak menyukainya aku hanya mengasihani dia kau terlalu berlebihan menilaiku tentangnya" ucap Devinka dengan tersenyum sangat baik.


Tanpa Devinka sadari saat itu justru ada Elisa di balik pintu, saat itu aku mendengar semua perkataan yang kaluar dari mulut Devinka dengan sangat jelas, padahal kedatanganku kesana hanya untuk memberikan foto wisuda kami yang baru saja aku cetak dan semua anak-anak di jurusan itu mendapatkannya, tapi saat baru saja hendak menekan bel aku mendengar suara mereka karena pintu juga sedikit terbuka, alhasil aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.


Namun malah hal menyakitkan seperti ini yang aku dapatkan, saat mendengar ucapan itu aku semakin yakin bahwa Devinka memang tidak pernah memiliki perasaan terhadapku dan aku sadar bahwa selama ini akulah yang mulai mencintainya tetapi tidak dengan dia, aku yang terlalu berharap lebih kepadanya dan dia hanya mengasihani aku.


Aku langsung pergi dari kediaman Devinka dan membuang semua foto cetak tersebut begitu saja, aku tidak bisa menahan air mataku dan terus berlari meninggalkan tempat itu secepat yang aku bisa, bahkan ketika satpam disana menyapaku aku mengabaikannya begitu saja.


Devinka yang masih tidak sadar bahwa semua ucapannya telah di dengar oleh Elisa dia tetap memasang wajah tanpa dosa dan meyakinkan ketiga temannya bahwa dia memang tidak memiliki perasaan khusus kepada Elisa, sedangkan Reksa menatap kepada Devinka dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Aku masih tidak percaya jika kau sama sekali tidak memiliki perasaan lebih pada Elisa" ucap Reksa yang masih tidak mempercayai ucapan Devinka,


"Haha...Reksa jangan konyol kau tahu sendiri bukan siapa calon tunanganku, dia model sekaligus selebritis terkenal dan dia wanita pilihan ibuku, jelas sekali aku akan lebih memilih dia yang jauh lebih cantik di bandingkan si cewek konyol itu" balas Devinka sambil merangkul pundak Reksa.


Reksa tetap saja tidak bisa mempercayainya dan dia langsung menurunkan tangan Devinka dari pundaknya dengan segera.


"Devinka bagus jika kau tidak menyukainya tapi jangan menghina dia seperti itu, karena aku menyukainya dan aku akan terus mengejarnya jika kau memang tidak menyukainya" ucap Dika dengan lantang.


Reksa tersentak kaget mendengar penuturan kata dari Dika yang sangat mengagetkan, sedangkan Devinka terlihat sedikit sedih untuk beberapa detik pertama sebelum dia langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ceria.


"AHA...sialhkan saja Dika aku akan mendukungmu semoga kau berhasil, dia akan sangat beruntung mendapatkan pria hebat sepertimu" balas Devinka sambil tersenyum yang dipaksakan.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menarik ucapanku lagi Devinka, dan dengan ini kau sudah menyerahkan Elisa padaku, jangan sampai kau menyesalinya" ucap Dika yang langsung berubah serius.


__ADS_2