Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Salahpaham


__ADS_3

Aku hanya bisa diam dengan memperhatikan wajah Devinka yang sedikit tersenyum sambil terus fokus menatap ke depan lalu tiba-tiba saja dia memberikan aku sebuah box makanan.


"Sudah jangan menatapku terus ini ambil, aku tahu kau belum sarapan makanlah selagi kita dalam perjalanan" ucap Devinka kepadaku.


Aku kembali kaget dan terperangah aku tidak bisa menerima makanan darinya dan aku hanya menatapnya saja sambil beberapa kali mengucek mataku karena aku takut itu mimpi atau hanya khayalan diriku saja.


"Hey, kenapa diam saja aku sedang menyetir jika kau tidak mengambilnya mungkin tanganku akan patah terus seperti ini" ucap Devinka menyadarkan aku.


Aku segera menerimanya dan membuka box itu lalu di dalamnya benar-benar ada makanan dan itu dia potong sandwich yang membuatku ngiler, aku langsung menyantapnya tanpa berpikir panjang lagi karena perutku juga sangat lapar, tidak perduli dengan Devinka yang penting dia sendiri yang sudah memberikannya kepadaku jadi aku bisa memakannya hingga habis dan perutku kenyang.


Hingga tidak lama akhirnya kita sampai di toko swalayan yang tidak jauh dari kantor tempatku pernah magang disana.


"Ehh....ternyata kau bekerja disini sekarang yah?" Tanya Devinka padaku,


"Iya aku bekerja disini, sudah ya Devinka aku harus segera pergi dan terimakasih atas sarapannya itu sangat enak, bye..." Ucapku berpamitan dan segera turun dari mobilnya.


Aku berlari dengan cepat masuk ke dalam swalayan dan segera berganti pakaian menggunakan celemek di toko itu dan mulai bekerja meski waktu kerjaku tersisa lima menit lagi sebelum masuk jam kerja, tapi aku tahu aku adalah pekerja baru dan disana juga ada pria tua yang menyebalkan, makanya aku harus bersikap rajin agar dia tidak banyak mengomeli aku lagi.


"Nah bagus kau datang lebih awal jika kau terlambat aku akan menghukummu ingat itu Elisa!" Ucap pria tua tersebut memperingati aku,


"Iya iya pak, kenapa sewot sekali sih, aku akan rajin kau lihat saja" balasku padanya sambil terus fokus melanjutkan pekerjaanku.


Tiba-tiba suara pintu toko yang terbuka terdengar olehku dan aku segera pergi ke kasir untuk menyapa pembeli tersebut dan rupanya itu adalah Devinka, aku sempat kaget melihat dia masih berada disini dan malah masuk ke tokoku.


"Hey, Devinka apa yang kau lakukan kenapa kau malah kemari?" Tanyaku dengan heran dan sedikit takut.


Aku takut pria tua menjengkelkan itu akan memergoki aku yang berbicara dengan temanku di jam kerja, jika dia mengetahuinya dia pasti akan memarahi aku lagi dan mendengar suaranya saja benar-benar sudah membuatku kesal dan jengkel.


Devinka justru malah tetap terlihat santai dan bisa-bisanya dia menggodaku disaat tegang seperti ini.


"Tentu saja aku mau menemuimu tapi aku kemari juga untuk berbelanja jadi kau tidak perlu khawatir akan terkena marah oleh bos mu, aku mengenalnya tenang saja" ucap Devinka dengan santai.


Aku tidak bisa bersikap santai sepertinya dia bisa berbuat apapun yang dia inginkan karena dia memiliki segalanya dan dia memiliki banyak uang untuk menutup mulut pria tua tersebut, sedangkan aku jelas sekali aku tidak bisa melakukan apapun bila seandainya pria tua itu memarahiku apa lagi jika dia sampai memecatku.


Mungkin aku akan benar-benar rugi karenanya, aku pun segera membujuk Devinka agar dia mau pergi dari toko secepatnya.


"Aishh....Devinka kenapa kau tidak pergi juga, sudah sana pergi jangan membuat masalah disini, jika kau mau berbelanja ya tinggal belanja saja, tolong jangan membuatku takut seperti ini" ucapku sambil mendorongnya pelan,


Aku sungguh berharap dia agar segera pergi tetapi dia tetap tidak pergi dan dia justru malah mengangkat tangannya melambaikan tangan sambil berteriak memanggil bos ku, dan aku langsung diam tidak bisa berkutik lagi, aku sudah pasrah aku memang tidak bisa melawan dan aku sudah siap untuk dipecat.


"Hey ...bos botak, kemari kau!" Teriak Devinka memanggil dengan menghina pria tua pemilik toko itu.


"Huftt....matilah aku" ucapku pelan dengan pasrah dan menundukkan kepala.


Sesuai dengan dugaanku pria tua itu berjalan dengan penuh emosi dan langsung memarahiku dengan keras karena dia mengira aku melakukan kesalahan hingga membuat seorang pelanggan di depannya harus memanggil dirinya dengan perkataan seperti tadi.


"Astaga....Elisa apa yang sudah kau lakukan, kenapa kau mengganggu tuan Devinka apa kau tidak kenal dia itu siapa?, Kau dipecat karena sudah mengganggunya!" Bentak pria tua itu memecatku.


Aku hanya mengangguk dan tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Ya baiklah, terserah kau saja bos" balasku santai.


Devinka yang melihat itu dia segera menahan bos tua untuk tidak memecatku dan menjelaskan semuanya.


"Hey...hey...bos, tenang saja apa kau selama ini memperlakukan gadisku seperti itu?, Jika kau memecatnya maka aku yang akan memecatku bagaimana?" Ucap Devinka membuatku kaget dan refleks menatap ke arahnya tidak mengerti.


Anehnya lagi bos tua tersebut seperti sangat kaget ketika Devinka hendak memecatnya dia bahkan sampai langsung bersujud di depan kaki Devinka dan meminta maaf tanpa henti.


"Tuan....maafkan saya tuan saya tidak tahu jika gadis kecil ini adalah gadismu maafkan saya tuan saya tidak akan melakukannya seperti itu lagi, saya akan menjaganya mulai sekarang saya akan memperlakukannya spesial maafkan saya tuan tolong jangan pecat saya" ucap pria tua itu memohon.


Aku mengerutkan kedua alisku dan sangat kebingungan dengan apa yang tengah terjadi disana, aku pun bertanya kepada Devinka karena dia masih tetap berdiri dengan santai.


"Devinka ada apa ini?, Apa kalian sedang berakting dan mengelabui ku yah?" Tanyaku dengan heran,


"Tidak, mulai sekarang pria tua ini sudah bukan penanggung jawab toko swalayan ini lagi dan kau lah yang akan menggantikannya" balas Devinka membuatku tersentak.


"HAH?, Devinka jangan bercanda berlebihan begini dia adalah pemilik toko ini kau tidak bisa memperlakukannya seenaknya begini, bagaimana pun dia lebih tua darimu kenapa kau tetap diam disaat dia merendahkan dirinya di hadapanmu, cepat minta maaf kepadanya!" Ucapku dengan nada suara yang keras.


Bos itu juga tersentak tidak kalah kaget saat melihat Elisa dengan beraninya memarahi Devinka bahkan memerintah terhadapnya, sehingga dia semakin yakin bahwa Elisa adalah gadis Devinka sebab dia sudah berani berbicara non formal dan begitu lancang terhadap seorang Devinka dimana semua orang tahu bahwa semua tanah yang terbentang di wilayah itu adalah milik Devinka bahkan semua bangunan diatasnya harus membayar sewa dalam setiap tahun terhadap Devinka.


Dan Devinka juga terkenal sebagai orang yang kejam dikalangan para pembisnis kecil di sana termasuk pemilik kedai tersebut, maka dari itu dia sangat takut kepada Devinka dan langsung bersimpuh di bawah kaki Devinka untuk meminta maaf.


Sedangkan aku tidak mengetahui apapun makanya dengan berani mengatakan itu kepada Devinka.


"Nona...tidak usah nona Elisa saya yang salah anda tidak perlu memarahi tuan muda Devinka seperti itu" ucap bos tua itu dengan wajah yang ketakutan,


"Baiklah, bos berdirilah aku memaafkanmu dan aku tidak jadi memecat mu namun gadisku tidak akan bekerja dengan orang sepertimu lagi, jika kau melakukan sesuatu yang sama kepada karyawannya yang lain aku akan meratakan tokomu dengan tanah, ingat itu!" Bentak Devinka mengancam bos tersebut lalu dia menarikku membawaku keluar dari toko itu dengan cepat.


"Eh...eh...Devinka lepaskan aku apa yang kau lakukan, heyy...." Ucapku berontak dan dia malah membawaku masuk kembali ke dalam mobilnya.


Aku menatapnya dengan sangat keheranan sedangkan dia malah memasang wajah dingin tanpa ekspresi, dia seperti tengah marah kepadaku dan aku tidak tahu ada apa dengannya karena sebelumnya dia tidak seperti ini kepadaku.


"Devinka ada apa denganmu sebenarnya kenapa kau mengaku ngaku bahwa aku gadismu apa itu maksudnya?, Dan kenapa pemilik toko takut kepadaku apa kau sudah mengancamnya di belakangku yah!" Tanyaku dengan keras kepadanya.


Devinka tidak menjawabku sama sekali dan dia terus melajukan mobilnya dengan cepat juga wajahnya yang terlihat emosi, aku sama sekali tidak tahu apa sebenarnya yang membuat dia bisa se emosi ini.


Sebelumnya Devinka hendak masuk ke toko karena dia melihat ponsel Elisa tertinggal di mobilnya maka dari itu dia berniat memberikan ponsel itu kepada Elisa tetapi saat dia hendak masuk tidak sengaja Devinka melihat bos pemiliki toko tersebut diam diam memotret Elisa dari belakang dan Devinka tahu dengan jelas bahwa bos itu adalah orang yang mesum makanya dia sangat marah dan emosi dia juga sudah memerintahkan anak buahnya secara diam-diam untuk merampas ponsel bos itu dan menghapus foto-foto Elisa di dalam ponselnya.


Mungkin di hadapan Elisa tadi Devinka meloloskan bos itu tetapi di belakangnya Devinka sudah menyuruh anak buah dia untuk menghukum pria botak dan tua itu sesuai hukum yang berlaku di negeri ini bahkan dia sudah menutup toko tersebut.


Devinka masih marah dan kesal karena sebelumnya Elisa sudah menahan dia untuk memberikan pelajaran secara langsung kepada pemilik toko itu, tapi Devinka memang tidak bisa berbuat banyak ketika dihadapan Elisa sebab dia tidak ingin identitasnya terbongkar dia tidak mau Elisa mengetahui yang sebenarnya tentang dia sebelum memastikan Elisa benar-benar menyukainya atau tidak.


Sedangkan di perjalanan Elisa terus mendesak Devinka untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dan Elisa terus bertanya-tanya mengapa Devinka melakukan hal semacam tadi.


"Devinka katakan padaku kenapa kau terlihat marah tadi, kenapa kau memecatnya kenapa kau bersikap seperti berandalan?" Tanyaku dengan keras.


Aku butuh penjelasan darinya, sebab karenanya aku kehilangan pekerjaanku lagi.


"Devinka cepat jawab aku?, Kau tidak bisa seperti ini terhadapku aku ingin tahu alasannya Devinka!" Bentakku lagi mendesaknya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Devinka menghentikan mobilnya dan dia menatap dengan tajam ke arahku lalu memberikan ponselku yang sebelumnya hendak Devinka berikan kepadaku.


"Ini tadi aku datang ke toko berniat untuk memberikan ini padamu, tetapi kau tahu apa yang aku temukan?" Ucap Devinka merubah wajahnya dengan serius secara tiba-tiba,


"Apa?" Tanyaku heran dan merasa sedikit takut.


Devinka mengusap wajahnya sebentar lalu dia mengambil ponsel miliknya dan menunjukkan sebuah gambar kepadaku dimana di situ terlihat beberapa fotoku yang diambil secara diam-diam dari belakang, itu menunjukkan body ku dengan jelas dan ada juga foto yang menunjukkan bahwa pria tua pemilik toko tadi yang tengah memotret ku diam-diam, aku sekarang sadar dan tahu apa yang Devinka lakukan semuanya untukku dia membantuku terlepas dari pria brengsek seperti itu.


Jika saja dia tidak melihat ini dan tidak membantuku mungkin aku tidak akan tahu apa yang akan dilakukan pemilik toko itu kedepannya terhadapku, aku sangat kaget dan berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh.


Tapi Devinka malah langsung memelukku dan hal itu malah membuatku semakin tidak bisa menahan air mataku aku langsung menangis terisak di dalam pelukannya.


"Hiks...hiks...hiks...Devinka maafkan aku, aku salah tentangmu, maafkan aku Devinka...hiks...hiks" ucapku di sela sela tangisan,


"Tidak papa, sudah kau tidak perlu meminta maaf aku tahu kau tidak tahu dan aku tidak marah denganmu, sudah jangan menangis, aku telah mengirim pria sialan itu ke penjara dan dia tidak akan melakukannya kepadamu ataupun wanita lainnya" ucap Devinka menenangkan aku.


Aku senang jika pria mesum sepertinya sudah di penjarakan tapi aku masih merasa malu dan sangat merasa tidak enak kepada Devinka karena sebelumnya aku sudah memarahi dia dan bahkan menyuruh dia untuk meminta maaf kepada pria brengsek seperti itu.


Tapi aku juga baru sadar kalau aku telah memeluk Devinka cukup lama.


"Ehh....maaf aku tidak sengaja, maaf Devinka pasti pakaianmu kotor dan basah karena air mataku, aku merusak pakaianmu lagi maaf" ucapku merasa tidak enak,


"Haha...kau bercanda ya chicken, aku kaya aku bisa membuang pakaian ini dan membeli yang serupa saat ini juga, jadi tenang saja aku senang kau menangis sambil memelukku, jika kau masih belum puas kau bisa memelukku lagi" balas Devinka yang membuatku kesal.


"Aishh....Devinka kau mau aku hajar yah!" Bentakku sambil memberikannya sebuah lengan yang ku kepalkan dengan kuat.


"Hhaa... tidak tidak aku hanya bercanda" balas Devinka dengan tawa kecilnya.


Dia pun kembali melajukan mobilnya dan aku merasa tenang, entah kenapa aku tidak sadar jika bibirku tersenyum ketika dia mengerjai ku seperti tadi dan entah sejak kapan juga aku mau dia memelukku aku baik baik saja ketika dia memelukku seperti tadi, padahal biasanya aku selalu merasa risih, kesal dan emosi ketika berada di dekatnya.


Hingga Devinka justru malah membawaku ke sebuah mall yang besar dan setahuku itu adalah mall terbesar di kota, aku hanya clingukan tidak jelas dan merasa diriku sudah tersesat karena bisa sampai di depan mall semewah itu.


"Devinka untuk apa kau membawaku kemari?" Tanyaku dengan heran,


"Ayo ikut aku kau harus membersihkan dirimu yang bau itu" ucap Devinka meledekku lagi.


Ya walaupun aku tahu aku memang bau karena belum mandi sejak kemarin, tetapi tidak bisakah dia berpura-pura tidak mencium bau badanku agar aku tidak merasa malu dan minder, dia justru malah menarikku masuk ke dalam mall dan membawaku untuk melakukan perawatan bersamanya.


Aku tidak tahu harus berbuat apa tapi dia membawaku ke sebuah tempat perawatan wajah, dia mendorongku masuk ke tempat itu begitu saja lalu menyuruh orang-orang di sana untuk menangani ku.


"Lakukan semua perawatan terbaik untuknya dan jangan lupa suruh dia memberitahukan badannya juga dia tidak mandi sejak kemari malam" ucap Devinka kepada para pelayan disana membuatku merasa malu,


"Devinka dasar....awas kau!" Teriakku emosi tapi pelayan di sana sudah menarikku masuk dan mereka berani-berani memandikan aku dengan paksa.


Sampai akhirnya aku membentak mereka dan tidak sengaja mengeluarkan beberapa kali jurus ku kepada mereka, tentu saja aku berontak saat mereka ingin memandikanku, aku ini kan sudah dewasa dan aku bisa pergi mandi sendiri.


"Hey lepaskan aku biarkan aku mandi sendiri kalian tunggu saja di luar, aku sudah dewasa! Aish memalukan sekali sih" ucapku membentak mereka dan menggerutu kesal.


Aku selesai membersihkan diri dan meminta pakaianku kembali tapi mereka tidak memberikannya dan mereka justru langsung menarikku dan membawa aku untuk melakukan serangkaian perawatan wajah yang aku tidak tahu apapun mengenai hal itu.

__ADS_1


__ADS_2