Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Ke panti


__ADS_3

Saat itu Devinka masih belum sadar atas kesalahan yang sudah dia perbuat sampai membuat Reksa dan Elisa merajuk bahkan saat itu Reksa pergi menyusul Elisa meskipun dia tidak tahu di mana kediaman Elisa dan Reksa berusaha menghubungi Elisa sampai berpuluh puluh kali hingga akhirnya ponsel Elisa tidak dapat dihubungi.


Aku sengaja mematikan ponselku karena kesal dan geram dengan Reksa yang terus menelponku berkali kali sampai tak terhitung olehku, aku juga masih sangat merasa kesal kepada Devinka, padahal aku sampai di pecat oleh kak Anna sebagai bodyguard nya dengan bayaran gajih yang tinggi, demi bekerja sebagai karyawan magang dan menyelesaikan tugas dengan mereka.


Namun balasan yang dia berikan justru malah seperti itu, kali ini aku sudah tidak perlu bertegur sapa atau salam lagi pada mereka karena kami sudah menyelesaikan tugasnya dan besok ku pikir Devinka pasti akan mengirimkan hasil analisis pekerjaan kami di perusahaan esok pagi.


Karena Devinka sebagai ketua tim sehingga dia lah yang akan menyetorkan tugas pada dosen dan aku hanya akan menyelesaikan tugas magangku sampai kontrak akhir bulan ini selesai.


Sesampainya di rumah aku langsung membaringkan badanku di kasur lantai yang tipis dan keras, badanku berasa tambah sakit jika berbaring di sana namun tidak ada lagi tempat untuk aku beristirahat selain tempat itu.


Berkali kali aku menghembuskan nafas dengan berat dan lesu, semua yang sudah aku lewati selama ini sungguh membuat hidupku terasa sangat berat, aku mengecek yang tabunganku dan jumlahnya masih cukup jauh untuk bisa mengambil alih kembali panti asuhan yang sudah terlanjur di jual pada orang lain.


"Hhmmm...ini masih lama sampai aku bisa membeli kembali panti itu, banyak kenangan masa kecilku di sana, aku harus lebih semangat untuk bekerja lebih keras" ucapku memberikan semangat pada diri sendiri.


Ketika mengingat akan panti tersebut aku juga teringat kepada ibu panti yang selama ini telah merawatku sejak kecil hingga dewasa, aku pun menyalahkan ponselku dan segera mencari nama ibu Maya di daftar kontak ponselnya.


Sampai ketika sudah di temukan aku langsung menelpon ibu Maya karena sangat merindukannya, sudah cukup lama aku tidak menghubunginya dan dia juga tidak memberikan kabar padaku sehingga rasa rindu di hatiku tumbuh semakin besar.


Percobaan pertama saat aku berusaha menelpon ibu Maya tidak ada jawaban dari beliau dan untuk percobaan kedua lagi lagi telponnya tidak aktif, aku sudah sangat cemas karena sebelumnya ini tidak pernah terjadi pada ponsel ibu Maya.

__ADS_1


Sejak dulu ibu Maya bukan orang yang selalu mematikan ponselnya dan selalu aktif setiap saat namun kali ini aku sudah mencobanya berkali kali dan semuanya nihil, tidak ada satu pun panggilan dariku yang tersambung padanya, itu membuatku sangat cemas.


"Ya ampun ada apa dengan ibu Maya semoga dia selalu berada dalam lindungan yang maha kuasa" ucap Sesilia dengan wajah yang penuh kecemasan.


Sesilia sulit untuk tidur karena dia terus mencemaskan kondisi ibu Maya yang tidak bisa dia hubungi, dia juga bingung ke mana harus mencarinya karena dia sama sekali tidak tahu di mana ibu Maya tinggal, jangankan alamatnya nama kampungnyapun aku tidak mengetahuinya, sehingga akan sulit untukku mencarinya karena tidak ada satu petunjuk pun yang bisa aku gunakan.


Di saat seperti ini hanya do'a lah yang bisa aku panjatkan terus menerus dengan penuh harapan semua ibu Maya selalu sehat dan bahagia, aku pun mencoba untuk tidur dan memaksakan mataku untuk terpejam meski sedikit sulit untuk aku tertidur lelap.


Di dalam kamar kosan yang sempit dan tidak ada kamar hanya ada kamar mandi dan ruang tengah saja, aku tinggal di sana seorang diri, rasa panas karena tidak ada AC ataupun kipas angin sudah terbiasa untukku, di tambah semua kesulitan yang aku hadapi dalam setiap harinya ingin sekali rasanya aku terus tertidur hingga bisa menemui kedua orangtuaku di surga sana.


Malam pun berlalu begitu cepat hingga pagi kini sudah menyapa lagi, aku selalu bangun awal dan bersiap pergi ke luar untuk mencari sarapan, setiap hari semenjak aku tinggal di kosan aku hanya makan nasi bungkus yang di jual oleh pedagang kaki lima di pinggir jalan raya, tidak hanya harganya yang murah dan terjangkau olehku namun rasanyapun enak dan yang terpenting itu bisa membuat perutku kenyang untuk waktu yang lama.


Aku memilih untuk menikmati nasi kuning di pinggir jalan lalu bersiap untuk pergi mengunjungi gedung lama tempat panti asuhanku dulu.


Untuk mengirit pengeluaran karena pemasukan ku yang minim aku pun terpaksa harus menunggu angkutan umum agar bisa mengirit ongkos ku.


Menggunakan angkutan umum tentu saja memerlukan waktu yang lebih lama dan sesampainya di sana aku lihat bangunan itu sudah terbengkalai, rumput di sekitar sana sudah tumbuh menjulang tinggi dan beberapa kaca di panti itu sudah pecah, aku sangat sedih melihat keadaan panti tempat aku bertumbuh besar kini sudah rusak dan terbengkalai separah itu.


"Ya ampun siapa sih orang yang tega menelantarkan panti ini, kenapa juga dia membeli panti ini dan mengusir semua anak anak jika pada akhirnya tempat ini masih belum digunakan juga" gerutuku merasa kesal.

__ADS_1


Bagaimana aku tidak kesal karena kejadian itu aku berpisah dengan semua anak panti yang pernah hidup bersamaku bertahun tahun lamanya, aku juga harus pergi jauh terluntang Lantung tanpa arah serta tujuan, tinggal seorang diri dan hidup sebatang kara di dalam kerasnya dunia ibu kota yang di kelilingi orang orang kaya raya.


Aku tak bisa menahan kesedihan di dalam diriku lagi dan tanpa sadar air mata mulai jatuh dengan perlahan membasahi pipiku sedikit demi sedikit, rasanya hidupku terlalu menyedihkan untuk aku kenang sendiri, sudah beberapa menit aku berdiri menatap ke arah panti tersebut.


Ketika melihat panti dalam jarak yang dekat seperti ini aku selalu membayangkan dan merasa kembali ke masa lalu di mana panti itu masih terawat dan aku tinggal dengan bahagia di dalamnya bersama anak panti lainnya.


Aku sangat menyukai panti itu karena di sanalah aku pernah tinggal, aku ingin sekali bisa mengambil kembali panti itu dengan uangku sendiri agar kedepannya tidak ada lagi yang bisa mengusir secara paksa anak anak panti lainnya.


Terkadang aku merasa sangat heran dengan orang orang kaya di luar sana yang selalu semena mena dan menginjak orang miskin yang tak berdaya, mereka seakan bisa melakukan apapun layaknya pengusaha dunia, seenaknya membeli tempat yang sudah jelas adalah tanah wakaf sejak bertahun tahun lamanya namun karena mereka memiliki segalanya apapun jelas bisa mereka dapatkan dengan mudah hanya dengan uluran tangan berisi uang.


"Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah membuat panti asuhan ini terbengkalai seperti ini!" Ucapku dengan penuh kekesalan.


Dering ponsel ku berbunyi dan itu adalah bunyi alarm jam kerja yang aku nyalakan, aku pun segera bergegas pergi dari sana menuju kantor secepat yang aku bisa karena aku sudah menjadwalkan kepergianku sebelumnya.


Untunglah aku selalu membuat rencana dan menjadwalkan semua hal dengan teliti sehingga aku tetap bisa mengunjungi panti asuhan dan bekerja dengan tepat waktu tanpa harus meminta izin lagi kepada kak Eril.


Walaupun aku harus berlari mengejar angkutan umum agar bisa sampai di kantor tepat waktu namun bagiku hal itu tidak masalah sama sekali sebab aku sudah terbiasa berlari seperti itu dalam mengejar angkutan umum, bagiku daripada harus menghabiskan uang untuk membayar taxi lebih baik aku berlari dan menaiki angkutan umum yang jelas ongkosnya jauh lebih murah dan bisa di jangkau olehku dengan mudah.


Karena aku menggunakan angkutan umum sehingga saat di perjalanan berdesakkan dengan penumpang lain dan membuat pakaianku menjadi sedikit kusut begitu juga dengan rambutku yang agak berantakan, sampai ketika aku turun di depan perusahaan banyak orang menatap ke arahku karena keluar dari sebuah angkutan umum.

__ADS_1


"Ini memalukan tapi memang segini adanya, aku bisa apa" ucapku sambil menunduk dan segera masuk ke dalam perusahaan berusaha menghindari tatapan orang orang.


__ADS_2