Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Sadar diri


__ADS_3

"Eughhh kau sangat menyebalkan Devinka" balas Elisa yang sudah malas berdebat dengan Devinka.


Elisa melangkahkan kakinya ke pinggir dua langkah untuk menjauhkan jaraknya dari tempat Devinka berdiri lalu dia memalingkan pandangannya ke depan dengan lurus, dia sudah cukup kesal karena Devinka terus saja meremehkan kenangan dan ponsel bersejarah nya itu.


Meski ponsel tersebut tidak bernilai sedikitpun bagi orang lain apalagi bagi seorang Devinka namun bagi Elisa jelas ponsel itu sangat berarti sekali bahkan tidak akan ada yang bisa membelinya dengan uang.


Elisa tetap akan menjaga ponsel tersebut karena semua kenangan di dalamnya sangat disayangkan jika hilang begitu saja tanpa dia pernah mengabadikannya.


Aku terus merasa kesal hingga kita berada di luar perusahaan dan ternyataan Reksa memang sudah menunggu Devinka di depan mobilnya sejak lama.


"Woi Dev, Lo kenapa lama banget sih" bentak Reksa dengan wajah yang kesal.


"Gakpapa tadi bantu si cewek ayam tuh nyariin ponsel rongsokannya" balas Devinka yang lagi lagi malah menghina ponsel itu.


Reksa merasa bingung dan hanya menanggapi ucapan dari Devinka dengan menaikkan kedua alisnya karena tidak mengerti dengar apa yang dimaksud oleh Devinka tentang ponsel rongsokan tersebut.


"Hah?, Ponsel rongsokan, apa maksudmu Dev?" Tanya Reksa yang malah memperjelas lagi,


"Itu loh ponselnya yang hilang di dapur tadi siang, dia mencarinya lagi sampai aku pusing melihat dia terus bolak balik ke dapur" kata Devinka menjelaskan.


Reksa yang penasaran dengan ponsel Elisa dia pun langsung menanyakannya secara langsung.


"Ouh... Terus sekarang ponselnya mana, udah ketemu atau belum?" Tanya Reksa lagi sambil mengalihkan pandangannya padaku,


"Sudah ini ada di tanganku" balasku sambil menunjukkan ponsel tersebut pada Reksa.

__ADS_1


Aku pikir Reksa tidak akan sama dengan Devinka makanya aku percaya diri saja saat menunjukkan ponselku pada Reksa tapi ternyata dugaanku itu salah mereka sama saja, Reksa malah menertawakan aku karena ponselku itu.


"Ahahaha...Elisa apa kau bercanda ha?, Kau mencari ponselnyang sudah tidak layak pakai ini untuk apa Elisa buang buang waktu saja kau ini" ucap Reksa membuatku merasa sedih dan lesu.


Aku tahu ponsel itu memang sudah sangat jelek dan tidak layak pakai karena kaca lcd nya yang sudah retak dan bahkan casing nya saja sudah cacat, tapi aku pikir selama ponsel itu masih bisa aku gunakan untuk berkomitmen dengan orang lain maka ponsel itu masih berguna dan lagi kenangan di dalamnya aku harus menjaga dengan baik.


Ponsel itu juga ponsel pertama yang aku miliki aku juga tidak memiliki uang untuk membeli ponsel baru, dan melihat Reksa memberikan reaksi yang sama kepadaku aku mulai sadar memang bukan mereka yang jahat padaku atau menghinaku, mungkin memang aku saja yang tidak pantas berada di satu tempat dengan orang yang jelas jelas berbeda kasta denganku.


Seharusnya aku menyadari hal itu sejak lama sehingga aku tidak akan merasakan rasa sakit diremehkan dan di hina terus seperti ini, aku tidak ingin membalas ucapan Reksa lagi karena memang apa yang dikatakan oleh dia semuanya benar aku tidak bisa memarahi atau menyalahkannya.


Aku lebih memilih untuk menjaga jarak dan mengalihkan pembicaraan saat Reksa kembali bertanya padaku.


"Elisa..hey, kenapa kau tiba tiba murung begitu apa ucapanku menyakitimu?" Kata Reksa menatapku dengan lekat,


"Tidak, aku tidak papa dan ucapanmu memang benar bagi kau dan Devinka yang bisa memakai atau membuang ponsel kalian kapan saja, ponsel milikku ini tidak ada artinya apalagi harganya, ini memang pantas di sebut ponsel rongsokan. Hmmm sudahlah ayo kita segera pergi di mana kita akan mengerjakan tugasnya?" Balasku sambil tersenyum dengan tenang.


"Heh, cewek ayam apa kau salah makan hari ini?, Kenapa kau tiba tiba saja menjadi sabar seperti itu, apa kau tidak ingin memarahi aku dan Reksa atau membentak kami atau bahkan memukuli kami ha?" Ujar Devinka membuatku tak tahan untuk tertawa.


"Ahahaha...ternyata aku semenyeramkan itu yah di matamu, tenang saja kali ini aku sedang tidak mood untuk berdebat atau pun mencari keributan, ayo cepat kita pergi saja" balasku berpura pura baik baik saja di depan mereka berdua.


Devinka dan Reksa pun berjalan manyusulku yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil milik Devinka dan saat itu aku duduk di belakang seorang diri sedangkan Devinka duduk di depan bersama Reksa yang menyetir mobil.


Saat di perjalanan aku hanya terus memalingkan pandanganku ke luar jendela dan menikmati kota yang begitu padat dengan berbagai macam jenis makhluk hidup di dalamnya, saat aku melihat banyak orang yang berlalu lalang di luar sana dengan pakaian dan cara bicara yang berbeda satu sama lain aku seperti tertampar dengan kenyataan bahwa aku juga berbeda dengan mereka semua.


Entah kenapa sebuah penyesalan tiba tiba saja tumbuh di dalam hatiku, aku menyesal karena dulu terlalu bekerja keras untuk menjadi anak yang pintar dan begitu ambisius untuk mencapai segalanya di sekolah.

__ADS_1


"Kenapa dulu aku terobsesi untuk jadi pintar yah, dan kenapa aku malah memilih sekolah di lingkungan yang tidak diciptakan untuk orang sepertiku, ini membuatku lelah" gumamku dalam hati.


Aku menghembuskan nafas yang berat dan berusaha menyembunyikan kesedihan di dalam diriku, aku tidak ingin siapapun melihat titik terlemah ku dan aku hanya ingin terus terlihat ceria, kasar dan selalu bahagia di hadapan semua orang.


Aku tahu aku tidak boleh lemah karena tidak akan ada yang mengasihaniku apalagi membantu semua kesulitan yang aku hadapi, pada dasarnya memang diri kita sendirilah yang akan berjuang mati matian untuk mewujudkan apa yang kita harapkan dan kita impikan di masa depan.


Di saat kita terpuruk hanya ada diri kita yang memberi semangat sesungguhnya, bukan orang lain. Mungkin jika mereka yang masih memiliki keluarga akan memiliki setidaknya rumah untuk pulang dan bahu untuk bersandar, berbeda dengan aku yang hanya memiliki kedua kaki dan tanganku sendiri.


Menopang semua ujian dalam hidup seorang diri, dan di tuntut oleh diri sendiri untuk menjadi sempurna agar bisa di hormati orang lain dan berhenti di remehkan oleh semua orang, namun nyatanya menjadi pandai saja tidak cukup untuk mendapatkan semua itu, karena di lingkungan seperti ini justru kendali orang tua dan jabatan kekuasaan jauh lebih diutamakan melebihi segalanya yang telah aku korbankan.


Di saat aku tengah meratapi diriku sendiri yang terlihat begitu malang, di sisi lain Devinka terus saja saling berbisik dengan Reksa membicarakan aku diam diam.


"Rek, apa kau berpikir sama denganku, sepertinya ada yang berbeda dari cewek ayam itu, iya gak sih?" Kata Devinka memulai pembicaraan,


"Gue juga ngerasain sih, tapi kenapa nya itu yang gue juga gak tahu Dev" balas Reksa,


"Perasaan saat di lift dia masih cewek ayah yang sebelumnya deh, bahkan dia terus membela dirinya dan keras kepala seperti biasanya tapi pada ngomong sama lo, kenapa dia tiba tiba jadi terlihat murung gitu ya?" Tambah Devinka lagi.


Reksa mulai merasa tidak nyaman dengan ucapan Devinka barusan karena seakan akan Devinka mengira perubahaan sikap Elisa di sebabkan oleh dirinya dan Reksa langsung menegur Devinka saat itu juga.


"Ohh jadi maksud Lo dia begitu gara gara ucapan gue tadi yah?" Pungkas Reksa dengan menatap sekilas,


"Gak gitu, tapi bisa jadi sih" balas Devinka membuat Reksa semakin kesal,


"Aishh bilang saja dari awal kalau kau memojokanku, tidak mungkin dia begitu karenaku orang jelas jelas yang paling dekat dengannya kan aku siapa lagi coba" ungkap Reksa penuh percaya diri.

__ADS_1


Devinka langsung merotasikan matanya dan berhenti menanggapi ucapan dari Reksa dia juga bahkan memalingkan pandangannya kembali ke depan dengan tegak sampai membuat Reksa sedikit tersinggung dengan kelakuannya itu.


"Heh, kau mengabaikanku yah, dasar Devinka sialan!" Gerutu Reksa yang tetap diabaikan oleh Devinka.


__ADS_2