
Aku benar benar lupa dengan waktu kerjaku sendiri karena terlalu asik bermain dengan Devinka, rasanya sungguh menyenangkan sampai aku lupa bahwa aku dan Devinka sebenarnya adalah musuh bebuyutan tapi kali ini aku justru tertawa bersama dengan Devinka karena sebuah game.
"Ahaha.... chicken kau benar benar bodoh tombol itu untuk jurus tapi kau malah melompat seperti orang konyol, haha konyol benar-benar konyol" teriak Devinka sambil tertawa dan memukul pahanya sendiri.
Aku berusaha keras untuk belajar tapi game itu terlalu sulit untukku sehingga aku menyerah dan menaruh stik game tersebut di atas meja dan tidak sengaja aku melihat jam di dinding lalu baru tersadar bahwa aku sudah menghabiskan seluruh waktu istirahat makan siangku di ruangan itu hanya dengan bermain game bersama seorang Devinka.
"Astaga.... Ini sudah waktunya masuk, aishhh aku akan terlambat" ucapku panik dan segera berlari keluar dari ruangan itu.
"Eh, hey... chicken kau sudah menyerah ya haha...cemen sekali" teriak Devinka mencemooh aku lagi.
Aku tidak perduli dengan hinaannya itu sekarang aku lebih mementingkan pekerjaanku sehingga aku mengabaikan teriakkan Devinka.
Tidak sengaja, saat baru saja keluar dari sana aku berpapasan dengan Reksa yang saat itu hendak masuk ke ruangan kerja Devinka, Reksa masih sempat menyapaku namun aku mengabaikannya karena terlalu terburu-buru dan tidak sadar jika yang menyapaku adalah Reksa.
"Ehh....Elisa kenapa kau....?" Ucap Reksa tidak sampai.
Aku terus berlari secepat yang aku bisa hingga menuju ke tempat kerjaku dan kulihat di sana belum ada siapapun yang datang sehingga aku bisa jauh merasa lebih tenang karena ternyata aku tidak terlambat, aku segera duduk di kursiku dan mulai menyalakan komputer milikku lalu bersiap siap untuk melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya tidak terselesaikan akibat kak Eril yang membawaku keluar secara tiba-tiba.
Namun baru saja aku selesai menyalakan komputer milikku, kak Eril datang ke ruangan dengan membuka pintu sangat keras dan dia berteriak memanggilku membuatku kaget karena dia langsung berlari ke arahku dan memelukku secara tiba tiba.
"Brakkk..ELISA?" teriak kak Eril di depan pintu,
"Eh? Kak Eril ada apa deng...." Ucapku tak selesai.
Kak Eril tiba-tiba memelukku sangat erat dia seperti orang yang takut kehilanganku padahal sedari tadi aku sudah berada di sana dan sebelumnya dia juga bersamaku, bahkan berkeliling dengan mobilnya juga denganku tapi kini dia tiba-tiba memelukku seperti itu membuatku sangat heran dan tercengang.
Aku berusaha untuk melepaskan kak Eril dari pelukannya terhadapku namun dia memelukku terlalu erat bahkan aku hampir kehabisan nafasku karena sesak, tapi disaat seperti itu kak Kris dan kak Anne juga masuk secara tiba-tiba ke dalam ruangan itu dan mereka secara langsung melihat kak Eril yang tengah memelukku.
"Elisa... Eril?, Apa yang sedang kalian lakukan di ruangan ini!" Bentak kak Anne dengan keras dan tatapan yang tajam terhadapku.
Aku semakin kaget dan takut, kak Eril juga langsung melepaskan pelukannya dan dia segera berusaha menjelaskan semuanya terhadap kak Anne dan kak Kris yang mungkin saat itu akan salah paham dengan perbuatannya begitu pula denganku yang masih heran dan kebingungan mengapa kak Eril tiba-tiba datang kepadaku dan menghampiriku seperti itu.
"Dengarkan penjelasanku dulu, kalian tidak boleh berpikiran macam macam aku tidak bermaksud melakukan apapun" ucap kak Eril berusaha menjelaskan.
__ADS_1
Kak Anne dan kak Kris berjalan menghampiri aku lalu mereka menatapku dengan tatapan yang penuh tekanan juga begitu tajam, suasana seakan langsung berubah begitu mencekam dan rasanya aku sulit bernafas kala itu, tatapan mereka benar-benar membuatku kesulitan untuk bergerak dan melakukan hal lainnya.
Untunglah saat itu kak Eril menggenggam lenganku dan dia menatapku dengan tatapan yang begitu hangat juga memberikan senyum manisnya terhadapku sehingga setidaknya dengan itu aku bisa mereka jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Aku percaya kepada dia bahwa dia tidak akan membiarkan kesalah pahaman ini berlangsung terlalu lama, dia bukan pria yang brengsek aku tahu dia pergi baik dan aku tenang jika dia bisa menjelaskan yang sebenarnya di depan kedua rekan tim yang lainnya.
"Cukup!, Berhentilah melemparkan tatapan seperti itu kepada Elisa dia sama sekali tidak bersalah" ucap kak Eril dengan suara yang begitu tinggi.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat kak Eril membentak kak Anne dan kak Kris dengan tatapan tajam dan nada suara yang sangat tinggi seperti itu, aku juga kaget mendengarnya namun kak Eril segera melanjutkan kembali ucapannya tersebut.
"Bagaimana kau bisa menjelaskan apa yang kau lakukan barusan ketua tim?" Tanya kak Anne begitu serius,
"Kenapa kalian mau menghakimi kami sebelum aku menjelaskannya, aku peringatkan kepada kalian. Jangan berani-beraninya kau mencurigai aku dan Elisa! Tidak ada apapun yang terjadi diantara aku dan Elisa. Tadi aku sempat panik karena dia pergi terlalu lama setelah aku membawanya kembali dari sebuah acara, makanya aku mencari dia hampir ke seluruh lantai di perusahaan ini, namun sayangnya hingga jam masuk kerja aku belum juga menemukannya, sampai aku kembali dengan putus asa akhirnya aku menemukan dia yang duduk di kursi kerjanya, aku kaget sekaligus senang karena ternyata dia baik baik saja makanya aku tidak bisa mengontrol diri dan refleks langsung memeluknya karena aku merasa begitu lega setelah melihatnya" ungkap kak Eril menjelaskan semuanya.
Akhirnya kak Anne dan kak Kris langsung merubah cara pandangnya terhadapku dan kak Eril mereka langsung meminta maaf terhadapku serta kak Eril saat itu juga, bahkan mereka meminta maaf dengan membungkuk di hadapanku aku merasa tidak enak menerima permintaan maaf seperti itu dari mereka berdua sehingga aku langsung meminta keduanya untuk kembali berdiri tegak.
"Elisa maafkan aku, aku telah berpikiran buruk tentangmu maaf karena pernah marah terhadapmu sebelumnya" ucap kak Kris dengan tulus,
"Ehh...sudah sudah kak, apa yang kalian lakukan?, Kalian tidak sepantasnya meminta maaf seperti ini kepadaku, aku hanya anak magang disini dan aku tahu aku banyak melakukan kesalahan serta keributan selama aku bekerja bersama kalian aku tidak masalah jika kalian seperti terhadapku, aku paham kalian seperti itu hanya karena salah paham, sedikitpun aku tidak pernah marah terhadap kalian berdua kak" ucapku sambil segera menyuruh keduanya agar bangkit.
Kak Anne langsung memelukku di tambah dengan kak Kris yang juga memelukku bersamaan dengan kak Anne.
"Huhu...maafkan aku Elisa aku janji tidak akan berperasangka buruk lagi sebelum mendengar penjelasan darimu dahulu, maafkan aku yah gadis kecilku" ucap kak Anne yang kembali meminta maaf lagi kepadaku,
"Kak aku kan sudah bilang jangan meminta maaf begitu padaku, kau sudah ku anggap seperti saudaraku aku tidak bisa melihatmu seperti ini, jadi berhentilah" ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Aku sangat senang karena kak Eril telah meluruskan semua kesalahan pahaman antara kami akhirnya semua dapat terselesaikan dengan cepat dan semua kembali seperti semula, kak Kris sudah tidak lagi marah denganku dan dia sudah tidak mempermasalahkan masalah aku yang memeluk kak Eril sebelumnya begitu pula dengan kak Anne yang sudah tidak salah paham lagi terhadap masalah kak Eril yang memelukku barusan.
Mereka kembali seperti saat aku pertama kali masuk ke dalam tim itu, aku sangat senang tapi kak Kris dan kak Anne memelukku terlalu erat hingga aku hampir kehilangan nafasku sendiri.
"Eu...euuu...kak aku tidak....bisa...bernafas...euuu" ucapku terbata bata.
Kak Kris dan kak Anne akhirnya melepaskan pelukan mereka dari tubuhku dan aku merasa sangat lega karena akhirnya bisa menghirup udara dengan sepuasnya lagi.
__ADS_1
"Haaaahh... Akhirnya aku bisa bernafas lega lagi, hah...hah...hah" ucapku sambil memegangi leherku yang hampir kehabisan nafas.
Rasanya akan sangat tragis jika sampai aku pingsan atau meninggal karena kehabisan nafas sebab di peluk oleh kedua rekan kerjaku sendiri, untunglah itu tidak terjadi.
"Elisa apa kamu baik baik saja?" Kata kak Kris bertanya sambil memegangi pundakku,
"Aku baik baik saja kak, kalau begitu aku akan kembali bekerja ya hehe" ucapku sambil berjalan perlahan dan segera duduk kembali di kursi kerjaku dan terhanyut dengan pekerjaan yang sudah menumpuk sedari tadi.
Aku benar-benar telah menyia nyiakan banyak waktu sebelumnya hingga akhirnya kini justru aku sendiri yang keteteran karena pekerjaanku begitu menumpuk, sampai akhirnya aku merasa sangat lelah dan punggungku terasa akan patah karena terlalu lama duduk di depan komputer, untunglah aku masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan menyebalkan itu sebelum waktu pulang tiba.
Jika tidak mungkin kali ini aku akan bekerja lembur lagi dan membuatku akan kacau di hari berikutnya karena aku tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kepadaku ketika rasa kantuk mulai menerima mataku saat larut malam.
Aku memang jarang sekali begadang atau bahkan hampir tidak pernah begadang ataupun tidur terlalu larut sebab aku selalu menjadwalkan waktu untuk belajar dengan baik dan beristirahat sesuai waktunya, karena aku tumbuh besar di sebuah panti asuhan maka tidak heran rasanya jika aku harus mengikuti semua peraturan yang ada di sana dimana aku harus bangun pukul lima pagi dan aku harus tidur tidak boleh lebih dari pukul sepuluh malam aku juga dulu tidak diperbolehkan keluar malah jika lebih dari pukul sembilan, dan harus selalu izin kemanapun aku pergi kepada ibu panti.
Dulu aku sering mengeluh karena terlalu banyak peraturan yang diberlakukan oleh ibu panti, terutama untuk anak panti yang berusia menginjak remaja sepertiku saat itu, aku bahkan sempat merasa terkekang karena tidak bisa datang keacara yang diadakan beberapa temanku jika mereka mengadakan sebuah pesta malam hari.
Aku juga sering dikira cupu karena selalu fokus belajar dan membaca setiap jam istirahat aku bahkan selalu membawa bekal dari ibu panti setiap hari dan jarang jajan di kantin sebab pengelola panti tidak memiliki cukup dana untuk memberiku uang jajan setiap hari maka dari itu ibu panti selalu membuatkan aku bekal dari rumah.
****
Aku bersiap siap untuk pulang ke rumah sambil terus mengingat kenangan ku saat masih duduk di bangku SMP dan SMA, dulu aku mengira bahwa aku adalah anak paling tidak beruntung di dunia ini, dan aku pikir aku adalah yang paling menyedihkan dan miskin, aku tidak bisa bermain seperti anak anak pada umumnya aku tidak bisa menikmati dunia luar dan harus terus menjadi anak yang berprestasi agar bisa terus melanjutkan pendidikan.
Itulah yang membuat aku sangat iri terhadap orang orang kaya di sekitarku aku juga membenci mereka karena mau seperti apapun mereka berperilaku mereka tetap dicintai dan diperdulikan oleh banyak orang, bahkan mereka bebas memilih apapun dalam hidup mereka, sedangkan aku? Tidak ada kesempatan untuk aku menentukan semuanya dengan mudah.
Meski aku memiliki kendali penuh terhadap hidupku tapi aku juga harus berjuang mati matian untuk menghidupi diriku juga anak anak panti lainnya, aku sudah sering bekerja paruh waktu ketika aku masih di SMA, semua gajih yang aku dapatkan aku tabung dan selalu aku berikan kepada anak anak panti lainnya.
Aku sangat menyayangi mereka semua karena mereka adalah keluargaku namun kini aku kehilangan mereka, entah dipindahkan kemana mereka sekarang aku tidak bisa menemukannya dan aku gagal mempertahankan panti asuhan tempatku pernah tinggal.
Dengan menatap ke atas langit dan berusaha menahan air mata agar tidak turun aku mulai bertekad dan membuat janji dengan diriku sendiri.
"Lihat saja aku akan menjadi orang sukses di masa depan, aku juga akan menemukan anak anak panti setidaknya aku harus bertemu dengan Cici, aku sangat merindukannya" ucapku penuh tekad.
Cici adalah gadis kecil berusia 8 tahun dia gadis manis yang memiliki fisik terbatas, dia tidak bisa melihat dan mendengar, dia juga jarang sekali berbicara sebab dia merasa percuma karena dia tidak bisa mendengarnya.
__ADS_1