
Samping kiri dan kanan jalanan itu hanyalah ladang kosong yang terbengkalai dan sangat sedikit kendaraan yang melewati jalanan itu apalagi kini sudah hampir gelap dan aku semakin merasa cemas sebab masih belum bisa menyalakan mobil Devinka.
"Devinka bagaimana ini, apa mobilmu benar benar tidak bisa menyala lagi?" Ucapku dengan cemas,
"Tenang saja aku akan memperbaikinya lagi tadi juga jika kau tidak menggangguku pasti sekarang sudah selesai. Kau tunggu saja di dalam ini hampir gelap bahaya jika kau duduk di luar seorang diri" ujarnya dengan tegas,
Aku pun menurutinya dan segara masuk ke dalam mobil sementara Devinka kembali berkutik dengan mesin mobilnya sampai beberapa menit kemudian akhirnya mobil itu bisa menyala lagi dan aku sangat senang sampai tak sadar tersenyum begitu ceria pada Devinka.
"Aahh akhirnya menyala juga" ujar Devinka merasa puas atas pekerjaannya,
"Wah...hebat Devinka kamu sungguh bisa memperbaikinya yeeayy akhirnya kita bisa pergi dari tempat menyeramkan ini" tambahku sangat gembira sambil tak sadar memegangi lengan Devinka dan bersorak kegirangan satu sama lain.
"Yeayyy... akhirnya kita bisa pulang huhu aku bisa tidur di ranjangku kan huhuu, terimakasih Devinka" ujarku saking bahagianya.
Di saat aku terus memegangi lengan Devinka dan bersorak kegirangan seorang diri, Devinka justru hanya diam mematung menatapku tanpa ekspresi sampai tak lama aku akhirnya sadar sebab melihat wajah Devinka yang hanya terdiam saja.
"E..ehh...maaf aku tidak bermaksud seperti itu" ucapku sambil langsung melepaskan genggaman dari tangannya.
Untunglah saat itu Devinka tidak marah denganku dan dia hanya menatapku sinis sekilas, lalu dia langsung menyalakan mobilnya dengan menggerutu kecil padaku.
"Huuh dasar kau aku harus mencuci tanganku karena kau" gerutu Devinka yang membuatku jadi kesal.
Mendengarnya menggerutu seperti itu, aku yang tadinya merasa bersalah sekarang menjadi lebih membencinya dan memilih untuk menyandarkan tubuhku ke belakang sampai tak lama karena perjalanan kami masih agak jauh aku pun justru malah tertidur di mobil Devinka.
******
Di sisi lain Devinka yang fokus menyetir dia belum menyadari bahwa Elisa sudah tertidur lelap di sampingnya sampai ketika dia sudah memasuki perkotaan lalu hendak menanyakan alamat rumah pada Elisa barulah dia memeriksa ke samping dan menyadari bahwa Elisa sudah tidur entah sejak kapan.
__ADS_1
"Heh..cewek ayam di mana alamatmu?" Tanya Devinka tanpa membalikkan kepalanya,
"Heh...Elisa...cepat katakan..." Tambah Devinka yang tidak mendapatkan jawaban dari Elisa.
Karena kesal tidak mendapatkan jawaban juga, akhirnya Devinka memeriksa dengan menoleh sekilas ke samping dan mengetahui jika Elisa tertidur di mobilnya.
"Astaga...dasar cewek ini merepotkan sekali, kapan dia tertidur, enak enakkan saja" bentak Devinka kesal.
Sambil menyetir Devinka berusaha membangunkan Elisa berkali kali namun sayangnya Elisa tetap tidak terbangun juga, bahkan saking sulitnya membangunkan Elisa, Devinka sampai terpaksa harus menepuk nepuk kedua pipi Elisa hanya saja hasilnya tetap nihil karena Elisa tetap tertidur.
"Aishh...apa dia masih hidup, kenapa susah sekali membangunkannya sial!" Gerutu Devinka merasa frustasi sendiri.
Melihat pada jam yang dia kenakan waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam dan Devinka juga sudah sangat lelah, melihat Elisa yang sulit di bangunkan akhirnya Devinka terpaksa harus membawa Elisa bersamanya.
"Arghhh...terpaksa aku harus membawa pulang cewek merepotkan ini, awas saja kau jika nanti terbangun aku akan memberimu pelajaran" kata Devinka masih sangat kesal dan jengkel.
Devinka sama sekali tidak menghiraukan Elisa, dia sangat kesal dan dengan sengaja meninggalkan Elisa tetap berada di mobilnya.
"Huuh biarkan saja dia tidur di sini, siapa suruh dia tidak bangun saat aku terus membangunkan nya" ujar Devinka bicara sendiri.
Dia masuk ke dalam rumahnya dan bersiap untuk membersihkan diri sampai ketika siap untuk tertidur, pikirannya justru malah teringat pada Elisa, Devinka terus merasa khawatir Elisa akan merusak mobilnya jika membiarkan dia tetap tidur di sana.
"Aahh...bagaimana jika dia menendang bagian depan mobil kesayanganku?, Atau dia menggigit sabuk pengamannya, atau mencakar kursinya. Arghhhhkkk tidak tidak....ini akan berbahaya aku harus memindahkannya!" Ujar Devinka yang langsung bangkit dari tempat tidurnya lalu segera pergi kembali ke garasi.
Devinka berjalan dengan menggerutu kesal dan terus merutuki Elisa.
"Sial ..sial...sial....dasar cewek itu, dia benar benar membuatku kesal dan frustasi, dia juga sudah mengotori mobilku aku akan memintanya ganti rugi" gerutu Devinka yang tiada habisnya.
__ADS_1
Saat tiba di garasi Devinka melihat Elisa yang sama persis dengan apa yang sudah dia bayangkan sebelumnya saat itu Elisa benar benar menaikkan kakinya ke bagian depan mobil hingga mengenai kaca mobil tersebut dan lebih parahnya lagi Elisa mengulip sambil tertidur lalu mengoleskan upilnya pada jok mobil kesayangan Devinka.
Melihat itu tentu saja mata Devinka langsung terbelalak sempurna dan tangannya dia kepal cukup kuat sampai bisa bisa dari telinganya keluar api kemarahan yang sangat besar dan panas.
"ELISAA...." Teriak Devinka dengan nafas menderu menahan emosi yang menggebu,
Mendengar teriakkan Devinka Elisa hanya bergerak sedikit dari posisinya lalu kembali tertidur dengan nyaman tanpa merasakan gangguan apapun, padahal saat itu teriakkan Devinka cukup keras dia langsung berjalan dengan penuh amarah, Devinka membuka pintu mobilnya dan segera mengangkat Elisa keluar dari sana, walaupun kesal dan emosi Devinka tetap menggendong Elisa dan memindahkannya ke sofa di ruang tengah rumahnya, karena kesal Devinka menjatuhkan Elisa cukup kasar sampai Elisa hampir terjatuh ke lantai namun untunglah Devinka masih sempat menahannya.
Elisa yang tidak terbiasa tidur dengan tenang dia terus bergerak dalam tidurnya hingga membuat kemeja yang dia kenakan terbuka bagian kancing atasnya, melihat itu Devinka sangat kaget dan membelalakkan matanya lebar, dia berusaha untuk tidak melihatnya tapi itu ada di depan matanya.
"Aish...kenapa bisa ada wanita yang tidur sepertinya, ahhhh mataku sudah ternod*i gerutu Devinka kesal,
Dia langsung berlari cepat menuju kamarnya lalu mengambil selimut miliknya, Devinka menutupi sekujur tubuh Elisa dengan selimut itu lalu dia kembali ke kamarnya dengan perasaan sangat kesal dan merutuki Elisa habis habisan.
"Cewek ayam sialan, dia tertidur lebih menyeramkan dari pada seekor serigala, aishhh benar benar sial, aku menyesal membantunya dan memberinya tumpangan" gerutu Devinka dengan wajah yang muram.
Cukup lama Devika sulit tertidur karena dia tetap merasa cemas dengan keberadaan Elisa yang tidur di sofa depan rumahnya, sedangkan para pelayan di rumah itu sama sekali tidak ada yang berani menanyakan apapun kepada Devinka sebab mereka melihat wajah tuan mudanya yang begitu dipenuhi amarah sehingga mereka tidak ada yang berani berkata sedikitpun dan hanya membiarkan tuannya melakukan apapun yang dia kerjakan, termasuk membawa Elisa ke rumah tersebut.
Devinka yang cemas Elisa akan terjatuh saat tidur di sofa dia berkali kali memeriksa keadaan Elisa dari kamar ke ruang tengah sampai akhirnya bi Eli menyapanya karena terus melihat Devinka berjalan terburu buru bolak balik dari kamar ke ruang tengah sambil menggerutu kesal dan itu hanya untuk memastikan bahwa Elisa tidak terjatuh ke lantai.
"Tuan muda, apa anda mencemaskan gadis itu, saya bisa memindahkannya ke kamar tamu jika anda mencemaskannya tidur di sofa" ujar bi Eli mengusulkan,
"A..ahh...tidak usah bi, biarkan saja cewek menyebalkan itu tidur di sana kau pastikan dia tidak jatuh ke lantai, aku akan tidur sekarang" balas Devinka lalu segera kembali ke kamarnya.
Setelah memerintah bi Eli untuk menjaga Elisa, barulah Devinka bisa tertidur dengan tenang dan lelap, sementara bi Eli tersenyum kecil melihat tuan mudanya membawa pulang seorang wanita untuk pertama kalinya.
Bi Eli adalah ketua pelayan di kediaman Devinka dia sudah bekerja bersama keluarga itu sejak Devinka masih kecil karena dulunya dia adalah perawatan yang merawat Devinka hingga dia tumbuh sebesar saat ini, karena Devinka sudah menganggap bi Eli sebagai kerabatnya sehingga dia meminta ibunya untuk tetap mempekerjakan bi Eli sebagai ketua pelayan.
__ADS_1