
"Dia mungkin sudah baik-baik saja karena sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini dalam waktu yang sangat lama, dia dan aku sudah merencanakan penyerangan balik ini sangat lama dan kau tahu, yang membuat dia sangat bertekad adalah dirimu Elisa maka dari itu aku minta padamu tolong berlakulah baik dan adil kepadanya, dia juga ingin merasakan kasih sayangmu, bukan hanya Devinka" balas Ciko sambil menepuk sebelah pundakku pelan.
Aku semakin terdiam mematung dan tidak bisa berkata-kata lagi, aku hanya membiarkan air mataku menerobos keluar dari pelupuk mataku dan membasahi pipiku begitu saja, aku mulai merasakan sesak di dadaku dan aku merasa begitu terpukul saat ini.
"Ciko kau benar, seharusnya aku memberika Dika kesempatan, dia sudah memberikan segalanya untukku bahkan ibunya sudah mengenali aku, apa aku jahat jika aku tidak menerimanya lagi?" Tanyaku kepada Ciko,
"Kau wanita paling jahat jika kau membuat dia kehilangan dirimu lagi Elisa, dia mungkin tidak terlihat memperjuangkan mu sejak awal seperti Devinka yang selalu berada di sekitarmu untuk datang mengganggumu namun nyatanya dia sangat mencintaimu, jika kau bisa melihat sebuah cinta dalam kebencian kenapa kau tidak bisa melihat cinta juga di mata seorang Dika yang diam selama ini?" Ujar Ciko kepadaku dengan tatapan matanya yang lekat.
Karena ucapan Ciko aku perlahan tersadar dan aku segera meminta Ciko untuk membawaku kembali ke rumah Dika, aku ingin menemuinya dan aku ingin segera melihat wajahnya.
"Ciko, ayo kita pulang, aku ingin pulang dan menemui Dika, ayo Ciko!" Ucapku mendesaknya dengan segera.
Ciko pun mengangguk dan langsung membawa aku masuk ke dalam mobil, dia juga melakukan mobilnya dengan sangat cepat dan aku selalu saja merasa tidak enak dan tidak menentu selama di perjalanan, perasaanku hanya terus saja tertuju pada Dika mengingat semua kebaikan yang selalu dia berikan kepadaku, dia yang selalu merangkul aku ketika aku sedih dan dia yang selalu membela aku disaat banyak orang menghinaku dan meremehkan aku bahkan kini dia juga yang masih setia merangkul aku.
Disaat Devinka sendiri orang yang paling aku cintai tidak bisa melindungi aku dan menerima aku disisinya, aku benar-benar telah sadar sekarang aku tahu Dika juga berhak mendapat kesempatan dariku meski aku belum bisa sepenuhnya membuka hatiku untuk dia.
Namun aku percaya tidak akan ada salahnya jika aku memberikan dia sebuah kesempatan, sesampainya di rumah Dika aku langsung keluar dari mobil dengan terburu-buru bahkan aku berlari masuk ke dalam rumah itu dengan cepat dan aku berlari menaiki tangga hingga mendobrak pintu ruang kerja Dika yang saat itu tidak di kunci.
Aku berlari ke arah Dika yang berdiri di sping meja kerjanya dan ada Reksa juga yang duduk di kursi saat itu, aku tidak memperdulikannya dan langsung memeluk Dika dengan erat.
"Dika.....maafkan aku, aku akan memberimu kesempatan aku....aku akan menerimamu ayo kita bertunangan" ucapku sambil memeluk dia dengan erat dihadapan Reksa dan ada Ciko juga yang menyusulku dari belakang.
Dika terlihat bingung dan dia mengusap rambutku dengan lembut lalu mendorong tubuhku pelan dan mulai berbicara kepada.
"Elisa apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Tanya Dika kepadaku,
"Tidak ada yang terjadi aku hanya sadar bahwa aku sudah menyia-nyiakan pria yang mencintai aku dengan tulus selama ini, aku ingin berusaha untuk membuka hatiku padamu aku akan memilihmu kali ini Dika, aku tidak ingin menyesal karena mengabaikan untuk ke sekian kalinya" balasku kepadanya.
__ADS_1
Dika tersenyum padaku dan aku juga membalas senyuman itu hingga Reksa mulai menyadarkan aku tentang keberadaannya yang ada disana.
"Ekhmmm.... Tolong tahu tempat jika kalian ingin bermesraan setidaknya biarkan aku keluar dulu dari sini, aku tidak ingin menjadi saksi" ucap Reksa kepadaku dengan tatapannya yang tajam,
"Reksa kau boleh pergi sekarang" balasku kepadanya,
"Aishh....kau membuat aku melihatmu dekat dengan Devinka, dan sekarang kau dengan Dika, aku ingin mencakarmu Elisa!" Ucap Reksa dengan wajahnya yang membuat aku ingin tertawa.
Ciko menarik Reksa dan membawanya pergi hingga mereka benar-benar pergi dari kediaman Dika dan memberikan aku sedikit waktu untuk berdua bersamanya.
Setelah mereka pergi aku juga merasa sedikit canggung karena sudah hilang kendali sebelumnya dan sekarang justru malah menjadi gagundan bingung untuk melakukan apa di dalam ruangan ini dengan Dika.
"AA..ahh...Dika kalau begitu aku harus ke bawah dulu" ucapku sambil bergegas pergi.
Dika mengikutiku dan dia mengajak aku untuk makan malam bersama, itu sedikit membuatku terkejut namun aku tidak.bisa menolaknya.
Terlihat agar aneh untukku dan terasa sangat canggung sehingga membuatku sulit bersikap normal dan leluasa di hadapannya, aku sungguh tidak nyaman dalam situasi seperti ini sehingga aku meminta pada Dika untuk kembali bersikap normal seperti sebelumnya.
"Ekm....Dika" ucapku memanggilnya disaat dia tengah sibuk berkutik dengan masakannya di dapur,
"Iya ada apa Elisa, apa kau sudah lapar yah?" Balas Dika kepadaku,
"A.... Ahhh tidak bukan begitu, aku hanya merasa kita sedikit canggung dan tidak bisa, ini membuat aku sedikit tidak nyaman, bisakah kita bersikap seperti sebelumnya saja? Aku ingin kita bisa bersikap normal dan aku bisa bebas berekspresi di hadapanmu sesukaku, kau tidak keberatan bukan?" Ucapku mengatakannya.
Dika tersenyum sambil menyajikan makanan buatannya diatas meja dan dia mulai menuangkan semangkuk makanan itu untukku dan meminta aku untuk segera mencicipinya.
"Tidak masalah aku juga tidak memintamu untuk bersikap seperti itu di hadapanku, sejak dulu aku bisa menerima kamu apa adanya dan aku menyukai kamu bagaimana dirimu" balas Dika yang membuat aku sangat senang.
__ADS_1
Aku bisa merasa lega sekarang dan sudah tidak merasa tegang atau gugup lagi.
"Sudah ayo kita mulai makan nanti sup nya akan dingin" tambah Dika kepadaku,
"Eumm....aku akan menghabiskannya dengan cepat" balasku sambil segera memakannya.
Semua makanan yang di buat oleh Dika mang tidak pernah gagal, rasanya selalu sangat enak dan luar biasa, makanan yang dibuat olehnya selalu bisa memanjakan lidahku dan ibu membuat aku selalu ingin memakannya lagi dan lagi hingga berkali-kali.
"Eumm.....Dika ini enak sekali apa kau memiliki tangan ajaib yang? Aaahh makanan buatanmu selalu membuatku puas" ujarku sambil menghabiskannya.
Mangkuk kunsudah kosong dan aku sudah kenyang, hingga merebahkan badanku ke belakang dan aku keceplosan bersendawa cukup keras hingga membuat Dika terperangah mendengarnya dan aku segera menutupi mulutku sedangkan Dika justru malah tertawa.
Itu membuatku sangat malu, karena dia tertawa manis seperti itu dan aku langsung merona di buatnya, aku sungguh mempermalukan diriku di hadapan pria yang menyukaiku aku bahkan tidak habis pikir kenapa Dika bisa menyukai wanita sepertiku dengan sangat lama dan tidak pernah menyerah.
"Aihhh.... Maafkan aku, aaahhh ini sangat memalukan" ucapku pelan.
"Haha... Elisa kau sangat lucu, kenapa kau malah malu seperti itu aku bisa berpura-pura tidak mendengarnya jika kau ingin" ujar Dika yang justru membuat aku semakin malu,
"Jangan menyebutkannya terlalu jelas aku akan mati kutu" balasku sambil menutupi wajahku yang sudah merah padam seperti udang rebus saking rasa malunya yang mendarah daging.
Ini adalah pengalaman pertama yang sangat memalukan dan aku tidak bisa menahan diriku sendiri tadi, rasanya aku ingin menggali dan masuk ke dalam lubang saja, atau jika aku bisa menghilang, aku akan memilih untuk menghilang saja.
Dika justru malah terus melihatku seperti itu dan aku segera menyuruh dia untuk memalingkan pandangannya dariku karena aku tidak bisa menahan rasa malu ini lagi terlalu lama.
Momen Dika dan Elisa.
__ADS_1