
Aku sungguh sangat lemas dan menjatuhkan kepalaku ke meja namun entah kenapa tiba tiba kak Eril menahan kepalaku dan tangannya menjadi tumpuan kepalaku di meja, saat itu karena aku terlalu sedih aku tidak memperhatikan hal tersebut bahkan tidak mempedulikannya.
Aku hanya merasa sedih karena tidak bisa menikmati makanan apapun, padahal.sebelumnya aku sudah membayangkan makanan apa saja yang ingin aku nikmati.
Tapi kini sudahlah aku kecewa karena tidak makan di tempat mewah seperti bayanganku kini aku juga tidak bisa menikmati makanan apapun yang ada di sana, aku sungguh sial hari itu dan menjadi orang paling malang serta menyedihkan diantara mereka.
Saat semua makanan pesanan mereka tiba hanya aku yang diam dan tidak bisa memakan apapun karena kak Kris yang menatapku dengan tajam seakan memperingatkan aku agar tidak memakan sedikitpun makanan yang ada di depanku saat itu.
"Huaaa...aku lapar, kak Kris kenapa kau sangat tega membiarkanku kelaparan, ini kan pesta perayaan keberhasilanku kenapa malah aku yang kelaparan" ucapku protes tak terima,
"Siapa suruh kau menimpa kakiku dengan kursi tadi ha?" Balasnya menjengkelkan,
"Aku kan tidak sengaja lagi pula aku sudah meminta maaf bahkan bertanggung jawab membantumu mengobati lukanya, kenapa harus di permasalahkan sampai seperti ini" balasku menentangnya,
"Tetap saja kali ini aku yang mentraktri jadi semua keputusan siapa yang bisa makan atau tidak ada di tanganku, kau juga tadi kabur bersama Anne apanya yang bertanggung jawab" ujar kak Kris yang terlihat masih menyimpan dendam terhadapku.
Aku kembali tertunduk lesu dan tak bisa berbuat apapun kak Anne juga tidak bisa memberikan makanan ke padaku sebab di saat dia hendak memberikan sebagian makanannya kak Kris dengan cepat merampas makanan itu dari tanganku dan mengancam kak Anne sehingga dia tidak mau memberiku makanan lagi.
"Elisa ini, makan saja punyaku" ujar kak Anne padaku.
Saat mendapatkan tawaran dari kak Anne aku sudah sumringah dan merasa sangat senang aku langsung hendak mengambil salah satu piring berisi kepiting saus pedas kesukaanku, namun baru saja aku hendak meraih kepiting yang nampak menggugah selera itu, tapi sayangnya dengan cepat kak Kris merampas piring itu dari tanganku.
"Kemarikan, aku kan sudah bilang kau tidak bisa makan apapun kali ini dan untukmu Anne kalau kau mencoba memberinya makanan lagi semua milikmu aku ambil, kau akan bernasib sama dengannya" bentak kak Kris membuatku kaget dan sakit hati.
Aku tidak bisa menerimanya lagi saat itu juga aku bangkit dari kursiku.
"Baiklah silahkan kalian makan, ku pikir pada awalnya kalian semua orang baik tapi nyatanya kau kak Kris kau orang paling kejam dan kau katua tim apa kau bisa kenapa kau terus diam dan bersikap tidak perduli dengan semua yang terjadi bahkan di saat salah satu anggota tim mu di tindas seperti ini, haaa kak Anne juga kalah hanya karena makanan kalian sangat egois dan kekanak kanakan lebih dari aku dan Devinka setidaknya dia masih memiliki hati tidak seperti kalian!" Bentakku dengan penuh emosi dan langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Aku berlari tak tahu arah dan hanya mengikuti jalan yang entah akan sampai ke mana.
Aku terus berlari sambil menangis dan mengusap air mata yang jatuh terus menerus membasahi pipiku.
"Hiks...hiks...mereka kejam sekali kenapa mereka tega bersikap sejahat itu kepadaku, padahal hanya karena hal sepele lagi pula aku tidak pernah meminta kak Kris untuk menolongku dia sendiri yang berinisiatif menahan kursiku yang hampir jatuh karena kak Anne, kenapa malah aku yang jadi sasarannya hiks...hiks..huaaa..aku sangat menyedihkan dan kelaparan" gerutuku uring uringan sendiri dan menangis dengan keras di jalanan.
Aku berdiri di pinggir jalan menunggu taxi atau angkutan umum lainnya lewat di sana namun sudah beberapa lama tidak ada kendaraan yang lewat satupun ke sana, hingga aku mulai merasa putus asa.
"Hiks..hiks...kenapa dunia sangat tidak adil padaku" gerutuku lagi meratapi nasib buruk ku.
Aku duduk berjongkok di pinggir jalan sampai sebuah mobil tiba tiba saja berhenti di depanku dan seseorang keluar dari sana, rupanya itu Devinka dia membantuku berdiri dan menawarkan tumpangan kepadaku.
"Elisa, kenapa kau ada di tempat seperti ini?" Tanya Devinka kepadaku.
Aku kaget dan menengadahkan kepalaku dan aku sangat senang saat tahu itu sungguh Devinka, saking senangnya aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri dan langsung memeluk Devinka secara tidak sadar.
Gara gara terlalu bahagia aku sampai lupa kalau aku sudah berbohong kepada Reksa dan Devinka kalau aku masih tidak enak badan padahal aku malah pergi ke acara makan bersama dengan anggota tim ku sendiri.
Devinka melepaskan pelukanku dan dia menyadarkanku.
"Heh, lepaskan kenapa kau memelukku?" Bentak Devinka kebingungan.
Aku langsung melepaskannya dan meminta maaf kepadanya dengan cepat,
"Ehh, ma..maaf tadi aku terlalu senang, Devinka ayo bawa aku kembali ke daerah yang aku kenal aku tidak tahu jalan pulang sekarang" ujarku berkata jujur padanya,
"Ehh...kau tersesat?, Haha ku pikir kau tidak akan pernah mengalami hal memalukan seperti ini haha bukankah kau sendiri yang pernah bilang jika orang dewasa tidak mungkin tersesat" ujar Devinka malah membalikkan ucapanku saat dulu aku mengatakan kepadanya di saat dia tersesat.
__ADS_1
Aku benar benar tertampar dengan ucapanku sendiri, sejujurnya aku cukup malu tapi tidak ada yang bisa aku lakukan hanya dengan mempertahankan rasa gengsi dan malu dalam diriku.
"Ahaha...iya, tapi itukan dulu mungkin aku keliru, tapi Devinka kamu tidak sekejam mereka kan, kamu tidak akan meninggalkanku begitu saja iya kan?" Ucapku penuh harap kepadanya,
Saat ini sungguh tidak ada siapapun yang bisa aku pintai pertolongan, dan hanya Devinka yang bisa aku harapkan karena dia sudah berada di hadapanku, ini akan berbeda cerita jika saja Lili belum pergi ke tempat yang jauh dariku.
"Seandainya Lili masih ada" gerutuku kecil,
"Elisa ayo masuk, bukankah kau perlu tumpangan" ucap Devinka menyadarkanku.
Aku segera berjalan dan masuk ke dalam mobil Devinka.
"Ah..iya aku segera masuk" ucapku sambil segera masuk.
Devinka langsung melajukan mobilnya dan tidak ada pembicaraan diantara aku dan dia selama beberapa menit, sampai tak lama Devinka bertanya sesuatu kepadaku.
"Elisa aku masih penasaran kenapa kau bisa tiba tiba ada di jalan perbatasan?" Tanya Devinka membuatku kebingungan untuk menjawabnya,
"Bukankah kau masih tidak enak badan dan seharusnya kau sudah berada di rumahmu tengah beristirahat iya kan, atau aku yang salah?" Tambah Devinka yang mulai mencurigaiku,
"Ti..tidak kau tidak salah, aku memang tadinya hendak pulang namun rekan satu tim ku mengajakku merayakan keberhasilan liputan berita pertamaku yang berhasil meningkatkan kualitas departemen, makanya aku ada di sana karena mereka tapi..." Ucapku tertahan karena aku masih sangat sakit hati sampai tidak bisa membicarakannya lagi,
"Tapi apa?, Intinya kau berbohong padaku dan Reksa kan" ucap Devinka dan aku hanya bisa membalasnya dengan anggukkan,
"Devinka aku bisa menerima semua hukuman yang akan kau dan Reksa berikan padaku karena sudah membohongi kalian berdua, aku sudah pasrah bahkan jika kau memberiku hukuman yang berbahaya aku akan menerimanya" balasku yang sangat putus asa.
Saat itu aku sudah sangat pasrah dengan nasib diriku sendiri dan itu pertama kalinya aku menyerah dalam hidup, aku sungguh tidak enak hati dan rasanya ingin menangis melepaskan semua beban sesegera mungkin.
__ADS_1
Namun karena di sampingku masih ada Devinka aku harus terus menahannya, aku tidak bisa memperlihatkan kelemahanki di depan musuhku sendiri, meski pun Devinka sudah bersikap baik padaku tetap saja aku pikir itu hanya sebagai balasan atas kebaikanku pada dia sebelumnya.