Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Selesai Wawancara


__ADS_3

Aku tidak perduli yang penting bagiku aku bisa menjadi diriku sendiri dan aku bangga dengan semua pencapaian dan sikap yang aku miliki lagi pula semua ini aku dapatkan karena sikapku juga, seandainya saat itu hatiku tidak tergerak untuk membantu kak Anna mungkin aku juga tidak akan bisa mengenalnya sedekat ini sekarang.


Begitu pun dengan berita perampokan yang aku dapatkan itu juga karena diriku maka tidak heran jika aku memberika reward sendiri kepada diriku, karena jika bukan aku yang memberikan semua itu siapa lagi, aku hanya hidup sendiri selama ini.


Kami segera menyiapkan beberapa kamera dan sudah mempersiapkan untuk melakukan rekaman wawancara bersama kak Anna juga ayahnya yang selama ini terkenal misterius juga selalu berada di luar negeri jarang sekali datang untuk mengunjungi putrinya sebab mengurusi bisnis yang begitu menyita waktunya.


Aku sudah membicarakan masalah rumor tersebut terlebih dahulu sebelum kami mulai mereka karena aku berjaga jaga agar ayah kak Anna tidak salah paham maupun tersinggung dengan beberapa pertanyaan yang aku ajukan yang mana pertanyaan itu bersangkutan dengan rumor murahan yang sedang tersebar di masyarakat.


Selain itu aku juga sudah meminta izin kepada kak Anna dan memperlihatkan semua pertanyaan yang akan aku ajukan padanya nanti, aku tidak bisa membuat kak Anna kehilangan kepercayaan kepadaku sehingga aku sudah mempersiapkannya sebaik mungkin dan menghindari adanya kesalah pahaman.


Untungnya kak Anna dan ayahnya sama sama orang baik dan cukup ramah sehingga tidak terlalu sulit untuk berkomunikasi dengan mereka bahkan kak Kris juga kaget berkali kali saat melihat keramahan sikap kak Anna kepadaku di hadapannya.


"Wahh....nona Anna anda memang selebritis papan atas sesungguhnya, bahkan kepada wartawan seperti kami anda sangat memperlakukannya dengan baik, aku sangat berterimakasih atas kemurahan hatimu nona Anna" ujar kak Kris sambil membungkuk memberi hormat.


Kak Anna hanya menanggapinya dengan senyum singkat dan kami segera memulai rekaman wawancara, semua di rekan dengan baik dan berjalan dengan lancar dalam waktu yang singkat.


"Aahhh akhirnya selesai juga, terimakasih ya kak Anna, om. Berkat kebaikan kalian aku bisa menyelesaikan tugas kuliahku dengan baik aku sungguh berhutang budi pada kalian" ungkap sangat berterimakasih kepada mereka berdua,


"Tidak perlu sungkan saya juga berterimakasih karena kamu sudah menjaga putri kesayangan saya dari pria b*engsek saat itu, dan dengan wawancara ini saya berharap rumor buruk tentang putri saya segera terselesaikan" jawab ayah kak Anna dengan wajah datar dan cukup bijaksana,


"Ohh...tentu saja om, anda tenang saja saya akan selalu menjaga kak Anna bahkan jika harus mengorbankan semua harta saya tapi saya yakin kak Anna tidak akan membutuhkan itu, iya kan kak hehe" jawabku sedikit bercanda.


Semua orang tertawa mendengar ucapanku sebab mereka tahu jika kak Anna sudah memiliki segalanya bagaimana bisa aku berbicara akan mengorbankan seluruh hartaku untuknya, aku memang sudah kehabisan akal saat itu.

__ADS_1


Sejujurnya saat itu aku hendak berkata akan mengorbankan nyawaku jika di perlukan untuk melindungi kak Anna, namun untunglah aku masih sempat sadar sebelum melontarkan ucapan itu, aku sadar jika nyawaku lebih berharga dari apapun dan aku dengan kak Anna juga belum sedekat itu.


Sehingga aku langsung mengalihkannya dengan mengatakan akan mengorbankan hartaku padahal aku tidak memiliki harta apapun selain diriku juga nyawa yang tuhan berikan pada jiwaku ini.


"HM, aku terlalu menyedihkan dalam kisah ini" gumamku dalam hati.


Mereka sudah cukup tertawa dan ayahnya kak Anna pergi lebih dulu meninggalkan kami sebab dia sudah harus kembali ke luar negeri, begitupun denganku juga kak Kris yang beranjak pergi dari sana.


Setelah berpamitan pada kak Anna aku sungguh diejek habis habisan dengan kak Kris saat di dalam mobil menuju perjalanan pulang.


"Ahaha...Elisa bagaimana kau bisa membuat lelucon selucu tadi, kau berniat mengorbankan seluruh harta padahal kau lebih miskin dariku, haha kau lucu sekali" ucap kak Kris yang tak ada habisnya mengejekku.


Aku sudah mulai terbiasa dengan mulut pedah kak Kris dan memilih mengabaikan dia sambil memalingkan pandangan ke luar jendela mobil.


"Ehh, bukankah itu Devinka?" Gumamku dalam hati,


"Kak berhenti turunkan aku di sini, cepat hentikan mobilnya!" Teriakku dan kak Kris mengerem dadakan.


Saat kak Kris menghentikan mobil aku langsung mengambil tas ranselku dan segera turun dari sana lalu menyuruh kak Kris untuk pergi dan melaporkan hasil wawancara lebih dulu kepada kak Eril.


"Ehh...Elisa kau mau kemana kita masih harus membuat laporan pada ketua tim" teriak kak Kris padaku,


"Tenang saja aku ada urusan mendesak sebentar, kau pergi saja lebih dulu aku akan menyusul nanti dan aku serahkan laporan nya padamu yah, aku mempercayaimu kak Kris yang tampan!" Jawabku berteriak dan memujinya.

__ADS_1


Aku tau kelemahan kak Kris adalah sebuah pujian dan benar saja setelah mendapatkan pujian dariku dia tidak lagi berteriak dan berusaha menghentikanku dia langsung pergi dan akan menangani semuanya sesuai rencanaku.


"Aha..dia terlalu mudah untuk dimanfaatkan, tapi itu cukup menguntungkan bagiku" gerutuku sambil berlari mencari Devinka.


Aku tiba di bahu jalan yang tadi aku lihat ada keberadaan Devinka di sana namun sekarang aku tidak melihatnya.


"Aishh...jelas aku tadi melihat dia berdiri di sini dengan kebingungan dan mengotak ngatik ponselnya seperti orang frustasi, kenapa tiba tiba dia menghilang?" Gerutuku kebingungan sambil terus mencari keberadaannya.


Saat aku terus berjalan dan mencari cari keberadaannya, akhirnya aku bisa menemukan Devinka yang saat itu tengah bersiap untuk menyebrang aku langsung berlari menghampiri dia sambil berteriak memanggil namanya.


"DEVINKA..." teriakku sambil melambaikan tangan padanya.


Aku melakukan itu bermaksud agar dia bisa dengan cepat menatap ke arahku dan tidak melanjutkan untuk menyebrang jalan, namun rupanya caraku itu tidak mempan pada pria konyol sepertinya, dia sudah melihat saat itu dan jelas mata kami saling bertemu namun dia malah terus berjalan menyebrangi jalan serta mengabaikan diriku.


"Aishh apa yang salah dengan otaknya?, kenapa dia malah mengabaikanku, bukankah dia tersesat sebelumnya, merepotkan saja" gerutuku kesal dan segera berlari menyusul Devinka.


Aku berlari berusaha mencapai Devinka dan berhasil meraih kemejanya dengan erat, aku tidak akan membiarkan dia lolos lagi kali ini.


"Hah....hah, akhirnya aku bisa menangkapnya. Devinka diam sebentar, jangan mencoba untuk menghindariku lagi aku sudah tidak sanggup mengejarmu" ujarku dengan nafas tak teratur saking lelahnya mengejar Devinka sebelumnya,


"Hey, lepaskan tanganmu dari pakaian mewahku kau bisa meninggalkan kuman di sana!" Katanya dengan wajah yang datar,


Aku membelalakkan mata mendengar ucapannya yang sangat menusuk jantung serta harga diriku sekaligus, rasanya aku seperti tengah di hina sebagai manusia pembawa kuman untuknya padahal aku hanya memegangi kemeja dia agar dia tidak bisa berlari lagi dan aku tidak perlu mengejarnya lagi.

__ADS_1


Meski dia memintaku untuk melepaskan tangan dari kemejanya aku tetap tidak melakukan itu dan tetap memegang kemejanya dengan lebih erat dari pada sebelumnya.


__ADS_2