
Kak Eril tiba tiba mengulurkan tangannya ke arahku dan membantuku berdiri.
"Mari aku bantu kau berdiri" ucapku sambil mengulurkan tangan.
Aku kaget sekaligus bingung dan hanya menatapnya sambil menaikkan kedua alis karena masih merasa tidak percaya bahwa kak Eril mau membantuku seperti ini.
"Heh cepat raih tanganku aku sudah pegal terus seperti ini" ucapnya menyadarkanku dari lamunan.
"Eh i..iya kak" jawabku sambil meraihnya dan segera berdiri.
Suasana terasa sangat canggung dan aku mulai merasakan betapa menyeramkan ya udara yang tengah aku hirup saat ini sampai rasanya dadaku terasa sesak, di mana kak Eril menatapku dengan tatapan tajam dan mata yang di sipitkan, aku sungguh tidak tahan dengan tatapan tajam darinya dan aku tahu mungkin dia sudah melihat kelakuan konyolku yang menggerutu.
Serta mencaci Devinka dengan banyak perkara buruk saat di dalam lift sebelumnya, aku mulai berpikir bahwa saat itu dia akan mulai memarahiku atau bahkan memukulku dan memberiku sebuah hukuman yang tidak sepele.
Karena takut dengan tatapan matanya yang begitu tajam aku pun mulai mengerutkan wajahku dan menutupkan mata dengan perasaan ngeri dan tubuh yang mulai bergetar gugup.
"Aahh....dia pasti akan memukulku sekarang, cepat lakukan jangan buatku semakin terancam seperti ini" gumamku dalam hati.
Sedangkan di sisi lain ER justru malah tersenyum kecil melihat tingkah Elisa yang menutup matanya dan tubuhnya yang gemetar bisa di pastikan bahwa Elisa memang sangat takut dengan Eril.
"Hey, kenapa kau menutup matamu apa aku sejelek itu?" Ucap kak Eril membuatku langsung membukakan mata dengan kaget.
"Ehh....apa yang terjadi kau tidak marah denganku?, atau mau memukulku?, apa kau mau langsung menghukummu ya?" Tanyaku padanya secara langsung saking kagetnya.
Saat itu aku merasa aku sungguh bodoh karena berani bertanya secara gamblang di hadapan kak Eril secara langsung karena saat itu aku kaget dan penasaran karena dia tidak melakukan apapun padaku.
Sedangkan Eril yang mendengar pertanyaan dari Elisa dia mulai mengerutkan dahinya dan dia mulai merasa sedikit kesal karena mengetahui apa yang sebenarnya Elisa pikirkan di kepalanya sampai dia menutup mata dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
"Oh, jadi dia sangat takut denganku sampai bergetar dan menutup mata seperti orang aneh barusan" gumam Eril mengetahuinya,
Dia pun segera menjawab pertanyaan Elisa.
__ADS_1
"Apa aku semenakutkan itu sampai kau mengira aku orang jahat yang akan menghukummu bahkan memukulmu tanpa sebab ha?" Balas kak Eril dengan tatapan sangat dingin kepadaku.
Mendengar jawaban darinya aku sangat malu dan merasa sangat bersalah, rasanya jika ada lubang di sana aku akan memilih untuk masuk ke dalam lubang itu dan bersembunyi selama mungkin sampai dia pergi dan aku tidak perlu menghadapinya lagi.
Aku pun segera meminta maaf karena aku tahu sudah berperasangka buruk kepada dia sebelumnya, meski pun suasana saat itu masih cukup mencekam dan aku masih terasa gugup untuk bicara dengannya tapi aku tetap harus melakukan itu sebelum dia semakin membenciku.
"O..oahh..iya..ma..maaf kak aku salah sangka, kalau begitu aku pergi dulu" ucapku gugup dan segera pergi menjauhinya dengan cepat.
Aku berjalan dan menoleh ke arahnya beberapa kali dengan berjalan cepat meski kakiku terasa sangat sakit, saking gugup dan terlalu sering menoleh ke arah kak Eril dan tersenyum padanya aku kurang fokus melihat ke depan jalanku.
Sampai akhirnya aku malah menabrak pintu kaca perusahaan yang membuat kepalaku terpentok cukup keras.
"Dukk.... aduhhh" ucapku meringis sambil mengusap kepalaku yang terasa cukup sakit.
Beberapa orang yang berada di sana tentu dengan jelas mereka melihat kekonyolanku yang menabrak sebuah pintu yang terlihat jelas dan begitu besar, aku sungguh sangat malu dan langsung berlari dari sana dengan perasaan tak menentu.
"Asihh aku sangat memalukan, bagaimana aku bisa menghadapi kak Eril besok ahhh Elisa kau benar benar konyol" gerutuku sambil berjalan kesal dan merasakan kepalaku yang mulai memar.
"Ehh?, Ada apa kalian tiba tiba menghadang jalanku apa kalian tidak ada kerjaan yah" ucapku dengan kebingungan.
"Kerjaan kami hanya membawamu kembali ke rumah tuan muda Devinka, jadi ayo cepat masuk ke dalam mobil sebelum aku menyeretmu!" Perintah Ciko dengan wajah yang menatapku dingin.
Tatapannya lebih menusuk dari apapun, tapi aku juga merasa aneh saat mendengar mereka harus membawaku kembali ke kediaman Devinka padahal.sudah jelas sebelumnya aku sudah bertengkar hebat dengan Devinka dan kami berdua menolak untuk saling bertemu satu sama lain.
"Ehh..bagaimana mungkin dia memintaku menemuinya apalagi pergi ke rumahnya sudah jelas tadi aku berperang dengannya, apa kalian ini bermimpi ya?" Balasku dengan keheranan.
Tiba tiba Dika berjalan menghampiriku dan dia merangkul ku tanpa asa asa, itu membuatku semakin heran dan mulai merasa ada yang aneh dengan mereka berdua, aku pun dengan cepat melepaskan gandengan tangannya dari pundakku dan menatapnya dengan penuh kecurigaan.
"Aishh...lepaskan tanganmu dari pundakku, apa yang kalian inginkan sebenarnya?" Ucapku padanya sinis,
"Tenang saja Elisa kita hanya mau mengundangmu dalam acar penting malam ini, dan aku bisa mengantarmu pulang nanti, ayo masuk kita sudah harus pergi sekarang" ucap Dika sambil kembali merangkul ku lagi,
__ADS_1
"Dika jaga sikapmu, dan berhenti menggandeng pundakku, kita tidak sedekat itu dan bersikap sopanlah padaku!" Bentakku dengan kesal sambil menghempaskan lengannya dengan kuat hingga dia meringis kesakitan.
"A..AA...arghh sakit sakit" teriak Dika meringis kesakitan,
"Rasakan itu balasan karena tanganmu tidak sopan padaku" ucapku dengan puas.
Tiba tiba saja Ciko menarik lenganku dan dia mendorongku masuk ke dalam mobil lalu dia menutup pintu mobil dengan cepat dan mereka mengunci mobil begitu saja lalu melajukan mobil dengan cepat sehingga tidak ada kesempatan untukku kabur.
"Dika cepat lakukan mobilnya" ujar Ciko tegas dan di anggukki oleh Dika,
"Hey, turunkan aku apa yang kalian lakukan sebenarnya, apa kalian menculikku heh cepat hentikan mobilnya!" Bentakku berteriak keras dengan emosi yang meledak.
Mereka berdua hanya terus diam dan Dika hanya menatapku sekilas lewat kaca depan, aku sungguh kesal karema bentakkan dan teriakanmu diabaikan oleh mereka sehingga aku terus berontak berusaha untuk membuka pintu mobil sekuat tenaga.
"Eughhh....lepaskan aku, keluarkan aku dari mobil kalian, Dika Ciko apa kalian gila ha!" Bentakku sekali lagi.
Ciko membalikkan badan dan dia menatapku tajam.
"Diam!, Atau aku akan membiusmu agar mulutmu itu berhenti mengoceh" ancam Ciko dengan tatapan tajam padaku.
Aku tidak mempercayai ucapannya dan aku menantang dia dengan berani karena ku pikir dia hanya menggertakku saja saat itu, aku pun mendekatkan wajahku padanya dan mengejeknya dengan puas, berniat untuk membuatnya kesal agar dia mau melepaskan ku.
"Hah?, Kau pikir aku percaya dengan ancamanmu itu, aku bahkan tidak takut dengan segerombolan preman apalagi dengan ancaman murahan darimu, kau hanya pria lemah berwajah sok menakutkan iya kan" ujarku mengejeknya.
Kulihat wajahnya sudah mulai kesal dan aku tersenyum menaikkan sebelum bibirku karena berpikir rencanaku sudah berhasil rupanya malah aku yang terjebak dengan rencana Ciko, dia dengan cepat menarik kerah bajuku dan membuatku sulit melawannya lalu membius bibir ku dengan membekapnya sebuah kain yang memiliki harus aneh.
"Eumm eumm." Aku yang berusaha berontak,
Aku tahu ada obat bius di kain itu sehingga perlahan membuatku merasa lemas aku berusaha untuk tidak menghirupnya namun mungkin aku bisa mati jika terus berusaha menahan nafas, aku terlalu panik untuk berpikir jernih sampai akhirnya aku kehilangan kesadaran karena di bius oleh Ciko.
"Ciko aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini" gumamku dalam hati penuh dendam sebelum aku benar benar kehilangan kesadaran.
__ADS_1