
"Kau kan punya banyak uang Devinka juga cukup berpengaruh di kampus apa kalian harus melibatkan Elisa dalam hal ini ha?" Bentak Dika yang bereaksi terlalu berlebihan,
"Tidak bisa dosen itu anti so*okan, dia bersih dan kejam seandainya bisa mungkin hanya Devinka yang akan dia loloskan lalu bagaimana denganku apalagi Elisa yang hanya mahasiswa biasa" ungkap Reksa dengan memasang wajah menyedihkan.
Devinka, Ciko dan Dika mereka menghela nafas panjang dan memegangi keningnya saat melihat wajah Reksa yang begitu menyebalkan saat memasang wajah menyedihkan seperti itu sehingga membuat mereka benci melihatnya.
Reksa hanya tersenyum getir karena dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh ketiga temannya.
"Mereka pasti sedang kesal padaku, aku harus meminta bantuan Elisa tapi dia malah belum bangun...sial, ini gara gara Ciko" gumam Reksa dalam hatinya.
Setelah mendapatkan penjelasan sebenarnya dari Reksa akhirnya mereka tidak ada pilihan lain selain menerima semuanya terlebih semua itu juga terjadi dan yang menjadi masalah kali ini adalah keadaan Elisa yang masih belum sadarkan diri setelah di bius oleh Ciko sebelumnya padahal ini sudah hampir satu jam berlalu.
"Sudahlah lagian ini juga udah terjadi" ujar Dika memulai pembicaraan,
"Iya tapi bagaimana dengan cewek ayam ini, apa yang sudah kau lakukan padanya sampai dia tidak bangun juga sedari tadi, Dika cepat katakan!" Bentak Devinka menatap tajam pada Dika karena dia hanya tahu bahwa Dika yang membawa Elisa ke rumahnya,
"Ehh, benar Elisa...hey..Elisa bangun...Elisa apa kau baik baik saja?" Ucap Dika tersadar dan dia langsung menghampiri Elisa sambil berusaha membangunkannya.
Sudah beberapa kali Dika berusaha membangunkan Elisa namun dia tetap tak menunjukkan ciri ciri akan sadar sedikitpun alhasil itu membuat mereka semua panik seketika dan Reksa langsung bertanya dengan keras kepada Dika bahkan dengan memegang kerah bajunya cukup kencang.
"Dika berhenti. Apa yang sudah kau lakukan padanya aku hanya menyuruhmu untuk membawanya ke rumah ini kenapa dia seperti ini sekarang" bentak Reksa sambil mencengkram kerah pakaian Dika,
"Heh...lepaskan lenganmu dari pakaianku dan kau tanya langsung pada orang itu kenapa dia malah membius Elisa saat di mobil" ujar Dika memberitahu yang sebenarnya.
Mendengar itu Devinka dan Reksa sangat kaget dan membelalakkan mata mereka sempurna, mereka tidak menyangka Ciko yang selalu terlihat dingin dan kalem bisa melakukan itu pada seorang perempuan.
Reksa pun beralih pada Ciko dan dia membentak Ciko dengan keras meminta penjelasan.
"Ciko sekarang katakan apa yang kau gunakan untuk membiusnya kenapa dia tidak bangun juga!" Bentak Reksa dengan keras.
__ADS_1
Sedangkan Dika merapihkan pakaiannya yang tadi sempat di cengkram oleh Reksa.
"Ini aku hanya memberinya obat bius ini pada kain dan membekapnya sampai dia pingsan, di sini hanya di sebutkan dia akan pingsan selama 30 menit saja, apa aku salah jika dia tidak sadar sampai selama ini mana aku tahu" jawab Ciko dengan santai sambil menunjukkan obat bius yang dia gunakan.
Reksa langsung merampas obat bius itu dan saat dia mengambilnya obat itu sudah kosong dan tinggal tersisa sedikit cairan saja di dalamnya.
"Eh..kenapa sudah habis apa kau pernah menggunakannya pada orang lain juga, dan berapa bayang kau tuangkan pada kain itu?" Tanya Reksa menanyakan lagi.
"Semuanya" jawab Ciko dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dika, Devinka dan Reksa kembali membelalakkan mata tak percaya dan sangat kaget mereka bertiga berteriak secara bersamaan membentak Ciko.
"APA?" bentak mereka bertiga sangat kaget.
"Ciko apa kau gila dia bisa mati jika kau memberikan semua obat bius itu padanya" bentak Dika dengan tatapan tajam kepada Ciko,
"Aku kan sudah bilang itu hanya obat bius ringan dia akan baik baik saja" ujar Ciko yang masih keras kepala.
Karena kesal dan Ciko yang terus bersikap.seakan tak bersalah Dika tak bisa menahan emosinya dan dia meluncurkan tinjunya tepat mengenai pipi sebelah kakak Ciko hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Bukkk.....rasakan itu kau adalah pria paling kejam yang pernah gue kenal!" Ucap Dika dengan wajah dipenuhi emosi dan berhasil memukul Ciko.
Reksa dan Devinka membelalakkan mata dan membuka mulutnya lebar saat melihat Dika tiba tiba memukul Ciko sekeras itu sebelumnya Ciko dan Dika adalah teman yang sangat dekat dan mereka tidak pernah bertengkar sekalipun sejak kecil namun kali ini hanya karena Elisa Dika bahkan berani memukul Ciko tanpa pikir panjang.
Devinka dan Reksa segera menahan tangan Dika karena mereka takut dia akan kembali menyerang Ciko dan pertengkaran di antara mereka akan semakin besar jika tidak di tahan.
"Sudah cukup Dika, kau melukai Ciko" ucap Devinka membentaknya.
Pukulan Dika yang sangat kuat membuat Ciko tersungkur ke lantai dan dia kembali bangkit, Ciko kesal karena hanya masalah Elisa membuat dia mendapatkan pukulan dari Dika, sehingga dia pun ikut marah dan bersiap untuk membalas pukulan Dika.
__ADS_1
Meski sudah ditahan dan di bentak oleh Devinka amarah di dalam diri Dika masih menggebu dan dia belum bisa menenangkan dirinya sendiri, sedangkan Devinka yang melihat Ciko akan membalas Dika dia langsung beralih menahan Ciko sekuat tenaga.
"Ciko hentikan, apa kau kalian lakukan apa kalian akan berkelahi hah?, Ingat kalian itu sahabat dan kita sudah seperti saudara apa hanya karena masalah ini kalian akan saling melukai!" Bentak Devinka menyadarkan keduanya.
Meski bentakkan Devinka itu tidak bisa membuat mereka kembali berbaikan namun mereka kembali tenang dan tak berusaha untuk saling menyakiti satu sama lain lagi.
"Apa yang diucapkan Devinka benar, yang harus kita lakukan sekarang membawa Elisa ke rumah sakit, karena jika tidak mungkin dia tidak akan pernah bangun lagi" ujar Reksa menyadarkan mereka berdua bahwa ada hal yang lebih penting untuk mereka urus saat ini.
"Benar ayo cepat bawa dia ke rumah sakit" tambah Devinka yang langsung bergegas.
Dika langsung menggendong Elisa di saat Reksa baru saja berniat untuk mengangkatnya dan Devika hanya menaikkan kedua pundaknya saat Reksa menatap dia dengan bingung karena Dika seakan akan seperti merebut Elisa dari tangan Reksa.
"Ada apa dengan Dika, dia terlihat begitu memperdulikan Elisa" gumam Reksa menduga duga.
"Reksa kemudikan mobilmu" teriak Dika sambil berjalan keluar menggendong Elisa.
Reksa segera berlari menyusul dan dia segera membukakan pintu lalu Dika masuk dan duduk di belakang sambil terus menggendong Elisa di atas pangkuannya sedangkan Devinka dan Ciko memakai mobil milik Devinka.
Reksa mengemudikan mobil secepat yang dia bisa menuju rumah sakit terdekat dan mereka berhasil membawa Elisa untuk mendapatkan perawatan secepatnya.
Mereka berempat duduk di depan ruang pemeriksaan, nampak diantara mereka ber empat Dika lah yang begitu pucat dan terlihat jelas sangat mengkhawatirkan Elisa sedangkan Ciko terus memasang wajah murah karena masih merasa kesal.
Di sisi lain Devinka juga merasa sedikit mencemaskan Elisa namun dia berusaha untuk menghempas perasaan itu dari pemikirannya.
"Bagaimana keadaan cewek ayam itu yah?" Gumam Devinka tak sengaja mengkhawatirkan Elisa,
"Aishh apa yang aku pikirkan kenapa juga harus memperdulikannya bukankah dia selalu menjengkelkan lebih bagus kalau dia tidak ada" tambah Devinka kembali bergumam pada dirinya sendiri.
Reksa berdiri di samping Ciko dan dia juga sama khawatirnya dengan Dika karena Reksa tahu Elisa adalah gadis yang baik dan ceria, meski mereka hanya dekat dalam beberapa saat namun Reksa sudah bisa melihat kebaikan dalam jiwa Elisa.
__ADS_1
"Hiks..hiks...kasihan sekali Elisa aku merasa sangat bersalah karena ide konyolku dia jadi harus di rawat seperti ini" kata Reksa sambil menangis di depan ketiga temannya.