
Alhasil Dika dan Ciko tidak berani lagi mengganggu Devinka dan mereka memilih untuk pergi dari sana menghampiri Reksa dan membawa Reksa untuk ikut bermain game lagi bersama mereka.
"Hey....Reksa sedang apa kau di situ, ayo kita main game biarkan Elisa dan Devinka menyelesaikan tugasnya" ucap Ciko yang sudah memahami apa yang diinginkan oleh Devinka sebenarnya.
Reksa yang merasa heran dia hanya menatap sambil mengerutkan kedua alisnya merasa heran dengan kedatangan Ciko dan Dika yang tiba tiba saja menghampirinya.
"Ehh...mau apa kalian?, tidak aku juga mau menyelesaikan tugas kuliahku, aku kan juga satu tim dengan mereka berdua kalian ini kenapa sih aneh sekali" balas Reksa dengan heran,
"Sudahlah Rek, ayo main game sebentar saja kau kan jagoan, ayo cepat" ucap Dika sambil menarik Reksa di bantu oleh Ciko.
Ciko menarik lengan kiri Reksa sedangkan Dika menarik lengan kanannya mereka berdua memaksa Reksa untuk pergi bermain game bersama sedangkan Reksa yang tidak mau, dia terus berusaha menolak dan dia terus berontak sebisanya.
"Eh...eh...apa apaan kau ini?, Lepaskan....lepaskan aku, aku tidak mau bermain game hey..... lepaskan aku" teriak Reksa berusaha berontak.
Meski sudah berusaha untuk melepaskan diri nyatanya badan Reksa yang kalah dengan kekuatan kedua pria tinggi itu jelas sekali kalah telak sehingga Ciko dan Dika bisa dengan mudah menarik Reksa sampai menjatuhkannya ke kursi dan terus memaksa Reksa untuk mulai bermain game dengan Dika.
Sedangkan Ciko menjaganya agar tidak berusaha kabur dari sana.
"Hey, Ciko Dika kalian ini kenapa sih, ada apa sebenarnya, kenapa kalian memaksaku begini aku kan mau mengerjakan tugasku dengan Elisa" bentak Reksa dengan kesal dan wajah yang cemberut.
Ciko sudah menahan kegeraman di dalam dirinya sedari tadi apalagi kini yang melihat Reksa tidak mengerti juga dengan kondisi dan keadaan Devinka yang sedari tadi memperhatikan dia dengan wajah kesal cemberut sambil mengepalkan kedua lengannya penuh emosi.
Reksa yang terus menolak membuat Ciko terpaksa memberitahunya tentang situasi tersebut namun sebelum itu Ciko masih sempat mengetuk kepala Reksa cukup keras sembari melemparkan kekesalannya pada Reksa.
__ADS_1
"Pletak....." Suara Ciko yang mengetuk kepala Reksa cukup keras,
"Awww....Ciko apa apaan kau ini sialan!" Gerutu Reksa sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit,
"Heh, apa kau masih belum mengerti juga lihat tuh, Devinka sedari tadi cemberut dan uring uringan tidak jelas sampai menggangguku dan Dika yang sedang bermain game dengan serunya, kau malah asik terus tertawa dengan cewek bar bar itu, cari mati yah kau" ujar Ciko memberitahunya.
Reksa lagi lagi hanya menaikkan kedua alisnya merasa heran dan tatapannya langsung beralih pada Devinka yang tengah berjalan hendak menghampiri Elisa.
"Ehh...ada apa?, Memangnya apa yang salah dengan Devinka dan apa hubungannya denganku serta Elisa?" Tanya Reksa yang masih tidak mengerti dengan penjelasan dari Ciko,
"Aishhh kau tidak bisa melihatnya juga, Devinka itu sepertinya menyukai Elisa, apa kau buta hah?" Bentak Ciko yang membuat Reksa serta Dika tertawa bersamaan saat itu juga,
"Hahaha.....apa, apa kau bilang?, Devinka menyukai Elisa hahah jangan bercanda mana mungkin dia menyukainya sudah jelas mereka itu musuh bebuyutan tidak mungkin Devinka tiba tiba menyukainya haha konyol sekali kau ini" ujar Reksa sambari tertawa sangat renyah,
"Iya betul yang dikatakan oleh Reksa, mana mungkin Devinka menyukainya palingan dia kesal karena Elisa memegangi semua barang barang antik kesayangannya aku pikir sih begitu" tambah Dika menimpali.
Melihat reaksi kedua sahabatnya malah terus tertawa, akhirnya Ciko benar benar merasa frustasi dan dia lebih memilih untuk pergi dari tempat itu untuk menenangkan pikirannya sendiri.
"Aishhh sudahlah kalian sama saja, aku akan pergi dulu keluar, baik baik lah kalian di sini" ujar Ciko sambil segera bergegas pergi.
Ciko dan Dika masih tidak menyadarinya dan mereka akhirnya bermain game bersama sebab Dika yang terus memaksa Reksa untuk menemaninya melanjutkan bermain game di sana.
Sedangkan Elisa yang saat itu tengah berdiri kebingungan seorang diri Elisa tiba tiba saja menghampirinya dengan nada suara yang menyebalkan bagi Elisa.
__ADS_1
"Heh, cewek ayam berhenti memegangi semua barang barangku!" Bentak Devinka dengan tatapan yang tajam menusuk.
Saat mendengar bentakkan Devinka yang cukup keras sampai membuat Dika juga Reksa bisa mendengarnya, mereka pun semakin yakin bahwa apanyang dikatakan oleh Ciko sebelumnya hanyalah bulan Ciko saja.
"Ahhh... sepertinya Ciko benar benar sudah salah paham dengan Devinka" ucap Reksa dan ditanggapi dengan anggukkan oleh Ciko.
Mereka kembali terus bermain game dengan sibuk memainkan stik game tersebut dengan seru, di sisi lain Elisa mulai mengerutkan kedua alisnya bersamaan dan memegangi tas slempang dengan erat.
"Apa apaan kau ini, aku hanya melihatnya dan memegangnya sebentar kok, kenapa kau sewot begini sih" balasku dengan kesal.
Wajar saja jika aku merasa kesal karena Devinka tiba tiba saja menghampiriku dengan wajah yang menyebalkan dan dia malah membentakku sangat keras seakan aku sudah merusak barang barang miliknya padahal aku hanya melihatnya saja dan memegangnya sebentar, aku juga melakukannya bersama Reksa dan sangat hati hati, tapi Devinka terlalu berlebihan dalam menegurku sehingga membuatku semakin kesal dan membencinya.
Setelah mendapatkan jawaban dariku tiba tiba saja Devinka menarik lenganku dan mengajakku untuk segera menyelesaikan tugas kelompok kami.
"Sudahlah ayo kita selesaikan tugas kuliah kita segera" ucap Devinka sambil menarikku menuju meja,
"Lepaskan, kau bisa mengajakku dengan baik baik tidak perlu sampai menarikku seperti tadi" ucapku sambil menghempaskan lengannya.
"Hah, aku hanya menarikmu sebentar kau sudah marah seperti itu, sedangkan tadi saja Reksa memegang lenganmu sangat lama bahkan dia sempat merangkul mu dan kalian tertawa bersama, sepertinya kau baik baik saja saat Reksa yang memegangi lenganmu kenapa kau marah saat aku memegangnya" ucap Devinka dengan wajah yang sinis dan membuatku merasa heran.
Aku menatapnya dengan heran, dan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Devinka sebenarnya.
"Apa maksudmu?, Kau ingin aku bersikap sama kepadamu layaknya aku memperlakukan Reksa iya?" Ucapku memastikannya,
__ADS_1
"Tidak tentu saja tidak, aishh....menjengkelkan sekali bicara dengan cewek lemot sepertimu, sudah cepat catat semuanya aku yang akan menentukan judul dan temanya" kata Devinka memerintah ku.
Meski aku masih merasa heran dan kebingungan dengan ucapan Devinka namun aku tidak bisa membalas atau meladeninya sehingga aku hanya mengikuti apa yang dia katakan saja agar semuanya bisa berjalan lebih cepat dan aku bisa segera pergi dari tempat itu.