
Aku masih berdiri mematung dan merasa lesu saat sadar kalau memang Devinka juga Reksa bukan orang biasa.
"Ahh, dasar aku ini tentu saja mereka bisa melakukan apapun dengan kekuasaan kedua orangtuanya, mereka berbeda denganmu yang hanya mengandalkan keberuntungan Elisa, kapan aku akan sadar diri" gerutuku sambil memukul pelan kepalaku sendiri.
Aku pun berlenggang pergi dan ijin untuk ke kamar mandi kepada kak Eril.
"Kak aku ke toilet sebenar yah" ucapku sambil berjalan menunduk dengan lesu,
Kak Eril hanya menjawab dengan anggukan sedangkan kak Anna dan kak Kris menatapku dengan heran lalu mereka saling bicara mengenai ku.
"Eh, Eril ada apa dengan anak baru itu, tadi dia begitu gembira dan penuh semangat kenapa bisa tiba tiba lesu begitu, apa yang sudah kau bicarakan padanya tadi?" Tanya kak Kris penasaran,
"Aishh...kenapa kau berpikir dia begitu karenaku, aku hanya mengatakan bahwa mungkin kedua temannya menggunakan pengaruh untuk bisa masuk ke departemen satu, hanya itu saja" jawab kak Eril jujur,
"Aahhh iya aku tau memang ada tiga anak yang masuk hari ini, aku dengar dua anak baru lainnya adalah laki laki dan mereka masuk ke departemen satu tanpa wawancara, sepertinya mereka memang bukan orang biasa pengaruhnya hebat sekali" tambah kak Anne menyambar pembicaraan,
"Benarkah?, Darimana kau tau itu?" Tanya kak Kris,
"Aku mendengarnya dari temanku dia kan yang mengurus rekrutmen saat ini, dan aku dengar salah satu anak laki laki itu adalah keluarga nyonya Merisa" balas kak Anne mulai bergosip,
"Wahh jika benar, pantas saja dia masuk departemen dengan mudah dan tanpa proses apapun, Elisa sungguh kasihan harus bersaing dengan teman seperti pria itu pasti dia menerima banyak ketidak adilan" jawab kak Kris yang dianggap oleh kak Anne.
Eril yang saat itu hanya diam dan melihat kedua rekan kerjanya mulai bergosip dia pun segera menghentikan mereka.
"Eh..sudah sudah kalian berdua ini kebiasaan, jika sampai ucapan kalian tadi terdengar orang lain bagaimana?, fokus saja bekerja" pungkas Eril menghentikan pergosipan.
Mereka pun kembali fokus pada pekerjaan nya masing masing sedangkan aku yang masih berada di kamar mandi hanya bisa menatap cermin dan membilas wajahku berkali kali.
Saat itu aku hanya bisa mengatur nafas dan membersihkan wajahku lalu aku hendak kembali bekerja namun saat beberapa wanita masuk ke sana sambil membicarakan masalah karyawan baru di departemen satu aku langsung kembali dan berpura pura mencuci tangan untuk mendengarkan informasi dari mereka.
__ADS_1
"Eh, kau tau tidak?, ada dua pria yang baru masuk ke departemen satu" Ucap salah satu wanita pada temannya,
"Iya aku tau, mereka sangat tampan dan berwibawa baru masuk saja sudah menggemparkan perusahaan kan" jawab wanita lainnya,
"Eishh bukan itu, tapi salah satu dari mereka memiliki hubungan dekat dengan CEO juga nyonya Merisa, pantas saja kan dia di tempatkan di departemen sehebat itu, ahh aku sangat iri kepada mereka, kalau bisa aku juga mau menjadi wanita simpanan mereka asal aku bisa naik jabatan" jawab wanita sebelumnya.
Aku sungguh kesal dan meremas tanganku sendiri saat mendengar perbincangan dari kedua wanita di sampingku tersebut, aku segera pergi kembali ke tempatku bekerja dan duduk dengan kasar di kursi sampai membuat rekan kerjaku yang lain menatapku.
"Eughh ...sialan, sejak SMP sampai sekarang Devinka memang tidak pernah berubah dia selalu menggunakan kekuasaan kedua orang tuanya untuk mendapatkan apapun, aku membencinya!" Gumamku dalam hati yang membara.
Di sisi lain Anne dan Kris saling tatapan satu sama lain dan menaikkan kedua alis mereka bersamaan, seakan tengah berbicara dengan kontak mata, lalu Anne pun menghampiri Elisa dan mulai bertanya kepadanya.
"Eumm Elisa apa yang terjadi denganmu, sepertinya kamu terlihat sangat kesal, apa karena tugas yang kuberikan terlalu sulit yah?" Ucap kak Anne,
"Ahh .. tidak kak, bukan itu masalahnya aku hanya kesal karena tidak berhasil menemukan dua rekan magangku yang lain hehe sepertinya mereka meninggalkanku" jawabku beralasan.
Aku tidak mau membuat kak Anne yang begitu baik mengkhawatirkan ku, aku juga tidak mau membawa urusan pribadi pada pekerjaan, aku mulai menenangkan diriku dan kembali melanjutkan pekerjaan sampai tak lama sebuah panggilan telpon masuk di dalam ponselku.
"Hallo kak ada apa?" Ucapku menjawab panggilannya,
"Elisa hari ini kamu tidak perlu bekerja yah aku ada acara di luar kota dan pergi secara mendadak jadi aku lupa memberitahumu, lagi pula kamu juga kuliah kan, tenang saja gajihmu tidak akan di potong" ucap kak Anna di sebrang sana,
"Ahh begitu ya kak, kalau begitu berhati hatilah di perjalanan dan cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu" balasku,
"Baiklah Elisa byee" jawab kak Anna dan panggilan pun terputus.
Setelah menjawab panggilan itu aku kembali ke mejaku dan melanjutkan semuanya seperti sebelumnya.
Di sisi lain Devinka dan Reksa justru malah asik bermain video game di ruang pribadi ibunya Devinka yang tak lain dan tak bukan adalah nyonya Merisa dia adalah istri sekaligus reporter legendaris di perusahaan tersebut dia juga merupakan istri dari pemilik perusahaan CTN group.
__ADS_1
Saat itu perusahaan tengah di pimpin oleh ibu Merisa sebab suaminya tuan Alexander tengah menghadiri pertemuan perusahaan besar di luar negeri dan mengurus perusahaan induk yang ada di sana namun nyatanya kabar itu hanyalah sebuah kebohongan.
Ibu Merisa datang ke ruangan itu dan menemui putranya Devinka dengan perasaan senang karena selama ini dia jarang sekali bertemu dengan putranya itu karena dia selalu tinggal di luar negeri bersama suaminya atau selalu di sibukkan dengan urusan perusahaan.
"Devinka....akhirnya ibu bisa melihat wajahmu sayang" ucap ibu Merisa sambil memeluk Devinka dengan erat,
"Lepaskan Bu, aku bukan anak kecil lagi di sini juga ada Reksa jangan membuatku malu" jawab Devinka yang menuai senyum di wajah ibu Merisa,
"Baiklah ibu sudah harus kembali ke negara A, ayahmu pasti sudah merindukan ibu, ingat kamu yang mengawasi perusahaan ini sekarang jaga baik baik dan ini, hubungi tuan Albert dia wakil presdir yang akan membimbing mu, kamu juga sudah mengenalnya kan" ucap ibu Merisa memberikan kontak tuan Albert,
"Iya, aku tau kau tidak perlu mencemaskanku, lagi pula sejak kecil hanya Albert yang menjagaku dan nyonya Meri yang merawat ku iya kan, kau selalu sibuk dengan pekerjaan aku sudah biasa dengan itu" jawab Devinka dengan acuh.
Nyonya Merisa hanya bisa tersenyum pahit menerima ucapan dari putranya lalu dia segera berpamitan pada Devinka juga Reksa.
"Baiklah ibu pergi dulu yah, Reksa tolong jaga Devinka untukku" ucap ibu Merisa,
"Tentu saja nyonya, mari saya antar anda" balas Reksa sambil berjalan keluar mengantar nyonya Merisa.
Nyonya Merisa memang sangat mempercayai Reksa dan dua sahabat Devinka lainnya itu juga yang membuat keluarga besar mempertahankan level kedudukan keluarga mereka sebagai empat keluarga besar yang kaya raya.
Setelah mengantar nyonya Merisa, Reksa kembali menemui Devinka dan dia sudah melihat mood Devinka yang rusak.
"Ayolah Dev, bagaimanapun dia ibumu orang yang sudah melahirkan mu, dia begitu juga karena kesibukannya, ini juga demi masa depanmu dan keluarga mu" ucap Reksa sambil merangkul Devinka,
"Terserah aku tidak perduli" jawab Devinka acuh.
Sebenarnya ada alasan mengapa nyonya Merisa selalu sibuk dengan banyak pekerjaan hingga dia tidak bisa mengurusi satu putranya itu, sudah sejak beberapa tahun ke belakang tuan Alexander mengalami sakit parah dan bahkan kini dia sudah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, kanker dalam tubuhnya terus menggerogoti kesehatan dia.
Namun nyonya Merisa terus menyembunyikan kebenaran itu dan mengatakan pada publik serta semua orang bahwa suaminya mengurusi perusahaan di luar negeri, padahal kenyataannya tuan Alexander tengah berobat.
__ADS_1
Bahkan nyonya Merisa menyembunyikan semua itu dari putranya sendiri selama bertahun tahun lamanya karena dia tidak ingin membuat Devinka merasa sedih dan putus asa.