
Tapi jika itu terjadi lagi, akan aku pastikan dia mencicipi kepalan tanganku tepat di kedua pipinya hingga dia tidak bisa bicara seenaknya dan membuatku emosi lagi.
"Eughh....dasar pria menjengkelkan, tidak punya hati, kepala batu...aku akan memberimu pelajaran lain kali, awas saja kau Devinka!" Teriakku sambil berjalan penuh emosi.
Sedangkan di sisi lain telat di dalam rumah kediaman Devinka, bi Eli mengintip dari kejauhan dan dia memperhatikan semua pembicaraan yang dilakukan oleh Devinka bersama Elisa sebelumnya, tak lama setelah Elisa keluar dari rumah, bi Eli langsung menghampiri Devinka.
"Permisi tuan muda" ucap bi Eli menyapa Devinka yang nampak menunduk setelah Elisa pergi dari rumahnya,
"Iya, ada apa bi?" Balas Devinka,
"Tuan bukankah semalam anda sendiri yang menggendong dan memberikan selimut pada gadis tadi, bahkan anda berulang kali memastikannya agar tidur dengan aman di sofa, kenapa anda berbohong dengan gadis tadi?" Tanya bi Eli pada Devinka dengan lemah lembut,
"Bi, tolong jaga rahasia ini aku hanya tidak ingin dia mengetahuinya itu saja" balas Devinka sambil menepuk sebelah pundak bi Eli lalu pergi meninggalkannya.
Bi Eli pun hanya bisa mengangguk patuh dengan ucapan dari Devinka, walaupun hatinya masih merasa penasaran dengan tingkah tuan mudanya yang sangat tidak biasa ini.
Setelah berkata seperti itu pada bi Eli, Devinka segera pergi meninggalkan rumahnya begitu pula denganku yang saat itu sudah berada di dalam sebuah taxi, saat melihat jam di ponsel waktuku sangat terbatas dan aku sudah tidak sempat untuk pergi pulang dahulu ke rumah, sehingga aku memutuskan untuk langsung pergi ke kantor.
Tidak peduli meski belum mandi dan pakaian yang kusut tak karuan yang penting untukku adalah, aku tidak datang kesiangan untuk bekerja di sana dan dengan begitu aku akan tetap memperoleh predikat yang bagus dari atasanku sehingga bisa lulus dari dosen killer tersebut.
"Aaahhh...orang orang pasti akan memperlihatkan penampilanku yang berantakan begini, tapi jika aku pulang dan mengganti pakaian itu pasti akan menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan dan aku pasti akan kesiangan bahkan sangat terlambat nantinya, aishh sudahlah aku tidak perlu memperdulikan pandangan orang lagi" gerutuku saat berada di dalam taxi.
Saat sampai di depan kantor, taxi ku berhenti berbarengan bersama mobil yang dikemudikan oleh Devinka sehingga saat aku keluar dengan terburu buru aku berjalan bersamaan dengan Devinka yang baru saja keluar dari mobilnya, tadinya aku berniat untuk mengabaikan dia.
Namun sialnya justru malah dia yang memanggilku lebih dulu sehingga dengan terpaksa aku harus berhenti dan langsung membalikkan badan melihatnya.
"Ehh, dasar pria sialan itu. Sebaiknya aku berpura pura tidak melihatnya" gerutuku dalam hati sambil terus melanjutkan jalanku hendak masuk ke dalam kantor,
__ADS_1
"ELISA.." teriak Devinka keras,
"Aishhh apa lagi yang mau dia lakukan padaku benar benar kesialan yang hqq" gumamku merasa sangat kesal dan frustasi,
Aku membalikkan badan dengan perasaan kesal yang campur aduk tak karuan, namun karena saat itu berada di dalam lingkungan kantor juga banyak para karyawan lain yang berlalu lalang di sana sehingga aku tidak bisa balik membentakknya di sana.
Aku pun terpaksa harus memasang wajah manis dan ramah agar orang orang tidak menjadikan kamu sebagai pusat perhatian ataupun menaruh kecurigaan dari mereka.
"Ehh...kau ada apa memanggilku?" Balasku sambil berpura pura memasang senyum ramah dengan terpaksa,
"Hah, jangan tersenyum jika tidak ingin itu sangat jelek!" Katanya dengan wajah yang sinis.
Bukannya berterimakasih karena walau tengah kesal aku masih berusaha berbaik hati padanya karena masih mau memberikan senyuman meski itu hanya palsu, lagi lagi dia justru malah semakin membuatku kesal untuk yang kesekian kalinya.
Aku berusaha menahan emosi dan tetap dengan penuh kesabaran dalam menghadapi orang seperti dirinya, ku coba menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan dan berusaha kembali memasang senyum palsu tersebut.
"Aaa...." Ucapku terpotong olehnya,
"Aa...apa?, Kau memang sudah jelek sejak lahir bahkan beraninya datang ke perusahaan tanpa membersihkan dirimu sendiri, aishh memalukan!" Ungkapnya membuat emosiku meledak ledak,
"Eughhhh....DEVINKA sialan, ikut aku...kau benar benar tidak bisa dikasih hati kau keterlaluan kali ini, aku tidak bisa menahan emosiku lagi" ucapku dengan suaran cukup keras dan langsung menariknya dengan paksa menjauh dari banyak orang.
"Heh...lepaskan, beraninya kau menyeretku, apa kau tidak tahu siapa aku, hey cewek ayam jangan macam macam denganku cepat lepaskan tanganmu itu" teriak Devinka yang berontak dan berusaha melepaskan lengannya dari genggamanku.
Aku tidak memperdulikannya dan terus menyeret dia menjauh dari kerumunan orang agar aku bisa melampiaskan amarahku kepadanya secara leluasa dan agar dia paham dengan jelas bagaimana caranya memperlakukan orang dengan baik.
Entah memiliki kekuatan dari mana, saat itu tiba tiba saja aku memiliki banyak tenaga untuk menariknya dengan kuat karena emosi sudah sampai ke ubun ubun, hingga ketika berada cukup jauh dari banyak orang barulah aku melepaskannya.
__ADS_1
Dan nampak Devinka meringis kesakitan sambil memegangi tangannya yang sibuk dia bersihkan menggunakan tisyu yang entah dari mana bisa dia dapatkan.
"Heh, apa kau gila ha?, Berani sekali kau memegang lenganku bahkan menyeretku seperti tadi, apa kau lupa siapa aku!" Bentak Devinka kepadaku.
Amarahku semakin memuncak dan jujur saja aku sungguh tidak bisa diam saja ketika melihat Devinka yang sudah keluar dari batas kesabaranku, saat itu juga aku langsung melawan ucapannya dengan lebih tajam tanpa rasa takut dan ragu lagi.
"Dengarkan aku tuan muda Devinka yang terhormat, aku memang orang miskin dan kita jauh berbeda sekali, tapi satu hal yang perlu kau tahu. Jangan hanya karena sebuah status sosial kau bisa merendahkan dan menghinaku seenaknya, apapun yang aku pakai dan aku gunakan tidak ada hubungannya denganmu jangan mengatur hidupku dan jangan bersikap so kenal denganku, mulai sekarang aku sudah putuskan kita hanya rekan satu kelompok dan anggap saja kita ini orang asing!" Bentakku dengan nafas menggebu dan emosi yang menjalar dengan kuat di seluruh tubuhku.
"Ingat itu baik baik!" Tambahku sambil menatapnya tajam dan sinis lalu segera pergi meninggalkan dia seorang diri di tempat tersebut.
Aku berjalan dengan perasaan kesal dan terus berjalan cepat dengan lurus menuju ke dalam perusahaan tanpa membalikkan pandangan sedikitpun dan tanpa keraguan dalam diriku.
Aku sungguh sudah jengkel dan merasa frustasi dengan kelakuan Devinka yang selalu bertindak seenaknya dan selalu memerintah semua orang seakan dialah yang paling berkuasa di negara ini, meski pun pada kenyataannya dia adalah pewaris keluarga kaya raya yang misterius tetap saja aku merasa semua ini tidak adil bagiku yang hanya masyarakat biasa.
Aku masuk ke dalam lift dan tidak memperhatikan beberapa orang lain yang juga ada di dalam lift bersamaku, fokusku sudah teralihkan seluruhnya karena Devinka saat di bawah tadi sehingga saat itu hanya tinggal emosi yang tersisa di dalam diriku ini.
Aku terus menggerutu kesal dan beberapa kali menendang pintu lift untuk melampiaskan emosi dalam diriku.
"Eughh...Duk..Duk...Duk...dasar pria sialan, tidak tahu diri, sombong, manusia batu, kepala besar eughhh...." Gerutuku merutuki Devinka sepuasnya.
Saat pintu lift terbuka seseorang memegang pundakku dan aku langsung berbalik membentaknya dengan keras tanpa melihat dahulu siapa orang yang memegang pundakku itu.
"Eihhh... Lepaskan aku!, Apa kau tidak tahu sopan santun?" Bentakku dengan keras dan cukup kasar.
Saat membalikkan badan dan melihat wajahnya dengan benar, barulah aku kaget dan tersadar bahwa orang yang baru saja aku bentak dengan keras adalah atasan tim ku sendiri yang tak lain adalah kak Eril, aku tak bisa berkutik sedikitpun dan rasanya tubuhku langsung terdiam mematung sulit untuk aku gerakkan.
Bahkan bibirku saja terasa sangat kelu untuk aku gunakan berbicara, aku hanya membelalakkan mataku dengan mulut setengah terbuka saking kagetnya melihat orang tersebut adalah kak Eril.
__ADS_1