Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Kehilangan satu pekerjaan


__ADS_3

Aku terus menggerutu kesal dan beberapa kali menendang pintu lift untuk melampiaskan emosi dalam diriku.


"Eughh...Duk..Duk...Duk...dasar pria sialan, tidak tahu diri, sombong, manusia batu, kepala besar eughhh...." Gerutuku merutuki Devinka sepuasnya.


Saat pintu lift terbuka seseorang memegang pundakku dan aku langsung berbalik membentaknya dengan keras tanpa melihat dahulu siapa orang yang memegang pundakku itu.


"Eihhh... Lepaskan aku!, Apa kau tidak tahu sopan santun?" Bentakku dengan keras dan cukup kasar.


Saat membalikkan badan dan melihat wajahnya dengan benar, barulah aku kaget dan tersadar bahwa orang yang baru saja aku bentak dengan keras adalah atasan tim ku sendiri yang tak lain adalah kak Eril, aku tak bisa berkutik sedikitpun dan rasanya tubuhku langsung terdiam mematung sulit untuk aku gerakkan.


Bahkan bibirku saja terasa sangat kelu untuk aku gunakan berbicara, aku hanya membelalakkan mataku dengan mulut setengah terbuka saking kagetnya melihat orang tersebut adalah kak Eril.


Saat itu aku terlalu bingung dan takut, apalagi saat melihat wajah kak Eril yang tidak menunjukkan ekspresi apapun sehingga membuatku semakin bingung untuk bertindak atau hanya sekedar memulai mengeluarkan sepatah kata.


"E..eum..kak..a..aku" ucapku terbata bata,


"Anggap saja aku tidak mendengar dan tidak melihat semua yang kamu lakukan barusan" ucap kak Eril memotong ucapanku dengan santai lalu dia berjalan pergi meninggalkanku lebih dulu.


Aku sangat frustasi dan rasanya malu sekali karena diketahui oleh kak Eril, sementara kak Eril sendiri justru hanya tersenyum tipis sesaat setelah dia berjalan melalui diriku.


Aku pun berjalan mengikutinya dari belakang karena memang saat itu kami memiliki tujuan yang sama, yakni pergi ke kantor departemen dua, tempat di mana aku bekerja bersama anggota tim ku yang lain.


Saat baru sampai dan memasuki ruangan departemen dua, nampak di sana sudah ada kak Kris yang tengah membereskan meja kerjanya sedangkan kak Anne baru saja tiba dan muncul dari belakang sambil merangkul pundakku secara tiba tiba.


"Heyy.....ehhh, ada apa nih?, Kenapa kalian datang bersamaan?" Tanya kak Anne menatapku seperti tengah menyelidik.


Untuk mencegah jiwa kepo seorang wartawan Anne, aku langsung menjelaskan dan menghempas semua pemikiran dan prasangka yang akan di berikan oleh kak Anne kepadaku sebelum semuanya terlambat.

__ADS_1


"Eishh...kak, jangan berpikiran yang aneh aneh aku hanya bareng dengan kak Eril saat di lift sampai ke sini saja, tidak lebih" ucapku menjelaskannya dengan jujur.


Walau sudah aku katakan yang sebenarnya tetap saja kak Anne terus melemparkan tatapan curiga terhadapku di tambah satu orang lagi yang tak lain adalah kak Kris dia juga malah mengikuti kak Anne dan membuat prasangka prasangka yang tidak berdasar kepadaku sehingga membuatku semakin malu pada kak Eril.


"Ahh...Elisa sudahlah aku tahu kok, lagi pula selama ini setiap kali bertemu denganku di dalam lift, ketua tim selalu saja menghindar bahkan sering kali dia malah menyuruhku naik lebih dulu agar kita tidak pergi bersamaan menuju ruangan, tapi kali ini kenapa ketua tim memperbolehkan kamu berjalan di belakangnya, bukankah itu aneh?, Iya kan Kris" ujar kak Anne yang membuatku ingin menelannya hidup hidup saat itu juga.


"Seandainya dia lebih kecil, aku sudah menelannya hidup hidup, aishh merepotkan sekali mereka ini" gerutuku dalam hati penuh kekesalan.


"Eh...iya juga yang kau katakan, atau jangan jangan ada sesuatu diantara kalian, aaaa aku mulai mencium bau bau...." Ucap kak Kris yang langsung di bekap mulutnya dengan tangan oleh kak Eril,


"Eumm...eummm.." suara kak Kris yang berusaha melepaskan lengan kak Eril dari mulutnya.


Aku memegangi mulutku dan terbelalak melihat kak Eril bisa bersikap seperti itu untuk pertama kalinya dan bukan aku saja yang merasa kaget, tapi kak Anne juga merasakan hal yang sama bahkan kami saling tatap satu sama lain dan merasa heran bersamaan.


Hingga tak lama kak Anne langsung menarik lengan kak Eril untuk membantu kak Kris yang nampak sangat kasihan dengan mulutnya yang sudah dibekap cukup lama.


Akhirnya kak Kris bisa bernafas dengan leluasa lagi dan dia mulai mengatur nafasnya sendiri lalu meminta maaf kepada kak Eril agar tidak memperpanjang urusan ini.


"Hah...hah...ketua tim aku minta maaf jika ucapanku menyinggungmu, lain kali aku akan lebih menjaga mulutku ini agar kau tidak perlu membungkamnya dengan tangan dinginnya itu" ucap kak Kris yang nampak masih sedikit kesal,


"Baguslah kalau kau mengerti, kembali bekerja untuk kalian semua!" Balas kak Eril dengan tegas.


Aku dan kedua rekan tim ku itu segera bergegas menuju meja kerja masing masing dan mulai mengerjakan tugas kami dengan serius, karena kejadian barusan suasana di tempat kerja terasa lebih mencekam dan menyeramkan.


Aku terus berusaha fokus dan tetap menyelesaikan pekerjaanku, hingga karena aku terlalu fokus aku tidak mendengar suara dering ponselku yang terus bergetar di samping komputer milikku, sampai ketika selesai mengerjakan semua tugas dan jam istirahat makan siang tiba, aku baru bisa memeriksa ponselku.


Lalu ku lihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari kak Anna, dan aku baru ingat bahwa dia hari kemarin tidak masuk kerja dengannya dan tidak memberikan izin atau kabar apapun sebab aku di rawat di rumah sakit dan tadi malam malah terjebak di tempat yang antah berantah bersama Devinka sehingga aku lupa untuk mengabari kak Anne.

__ADS_1


Aku hanya memegangi ponselku dan bingung harus berkata apa jika aku menelponnya nanti, hingga tak lama ponselku kembali bergetar dan itu panggilan masuk dari kak Anne lagi, aku bingung bagaimana harus menghadapinya dan bagaimana menjelaskan semua yang terjadi kepadany, aku hanya takut kak Anna tidak akan mempercayai ucapanku dan takut dia akan memecatku kali ini karena aku sudah mengambil banyak libur belakangan ini.


"Aduhh....bagaimana aku bisa berbicara dan menjelaskan semuanya kepada kak Anna?, Ya Tuhan tolong berikan keberuntungan kepadaku huhu" ucapku dengan wajah yang penuh kecemasan dan segera mengangkat panggilan telpon tersebut.


"Hallo Elisa kemana kau dua hari ini?, Kenapa tidak datang ke rumahku?" Tanya kak Anna sama seperti apa yang aku pikirkan sebelumnya,


"A..ee..euu...itu kan, sebelumnya aku minta maaf karena ada beberapa masalah yang aku lewati dalam pekerjaanku sehingga aku sulit membagi waktu, aku sungguh minta maaf kak, kau bisa memotong gajihku saja sebagai hukumannya" balasku meminta maaf dan merasa bersalah,


"Tidak masalah aku tahu ini akan terjadi, karena bekerja di perusahaan pasti akan sangat sibuk, kalau begitu Elisa kau aku berhentikan saja, ayahku sudah menyewa beberapa bodyguard untukku sehingga kau juga bisa fokus dengan satu pekerjaanmu" ucap kak Anna yang membuatku kaget dan langsung membulatkan mataku sempurna,


"Astaga....kak tolong jangan marah denganku, jangan pecat aku, bekerja denganmu adalah yang paling menyenangkan dan memiliki gajih yang cukup untukku menabung, tolong jangan pecat aku" ungkap ku terus memohon,


"Hmmm...maaf Elisa tapi aku tidak bisa mempekerjakan kamu lagi karena ayahku merasa khawatir jika seorang wanita yang menjagaku apalagi kau juga tidak bisa selalu ada di sampingku" balas kak Anna yang masih akan memecatku.


Dan mungkin saat itu aku sudah benar benar kehilangan pekerjaan emasku.


"Tapi kak aku sangat...." Ucapku terpotong,


"Tenang saja Elisa kau hanya berhenti bekerja sebagai bodyguard ku bukan berhenti menjadi teman baikku, ingat kau masih seorang penyelamat untukku aku mempercayaimu dan kita masih bisa bertemu seperti biasa kau akan terus menjadi rekan yang baik untukku jadi jika kau mengalami kesulitan katakan saja padaku, kau tidak perlu bekerja denganku untuk meminta bantuan atau uang dariku, mengerti kan" ungkap kak Anna yang membuatku semakin merasa tidak enak,


"Baiklah kak, terimakasih sudah mau mempekerjakan aku, dan terimakasih karena kau terlalu baik kepadaku" balasku kepadanya merasa tidak enak,


"Tidak masalah, kalau begitu sudah dulu ya aku masih banyak pekerjaan di sini" kata kak Anna dan panggilan pun terputus tepat setelah aku menjawabnya.


Setelah berbicara dengan kak Anna lewat telpon aku sungguh merasa lesu dan mulai saat ini mungkin aku hanya bisa mengandalkan gajih dari magang di perusahaan yang tak seberapa di banding menjadi bodyguard kak Anna, aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar dengan lesu lalu kembali duduk di bangku kerjaku sambil menundukkan kepalaku ke atas meja.


"Huhu....aku semakin miskin sekarang dan harus mengirit keuangan lagi, bagaimana aku bisa membeli rumah jika seperti ini terus" gerutuku seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2