Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Melawan Keysa


__ADS_3

Aku segera bergegas pergi untuk wawancara kerja di perusahaan webtoon itu, walaupun akunsama sekali tidak pernah memiliki pengalaman bekerja di bidang itu tapi aku pikir aku harus tetap mencobanya dahulu aku sudah masuk dalam tahapan awal mungkin akan ada kesempatan dan keberuntungan lainnya yang bisa aku dapatkan nanti.


Di saat aku hendak pergi Dika berlari menghampiriku lagi dan dia menawarkan untuk mengantar aku ke sana.


"Elisa apa kau mau aku mengantarmu kesana, aku sedang senggang sekarang" ucap dia menawarkan,


"Tidak usah aku bisa sendiri dan masalah aku tinggal di rumahmu tenang saja aku akan membayar sewa, dan kau tidak boleh menolak itu, aku tidak ingin memiliki balas budi pada siapapun" ucapku kepadanya dan Dika hanya tersenyum kecil padaku.


"Sudah aku akan pergi, byee" ucapku sambil melambaikan tangan kepadanya dan segera pergi dengan cepat.


Aku pergi ke halte bus dan menunggu bus jurusan disana lalu sesampainya di perusahaan tersebut kulihat ada beberapa pelamar lainnya yang juga tengah menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruangan wawancara, aku juga sudah mengenakan kartu absen dan hanya tinggal menunggu nomor kartuku di panggil oleh pihak panitianya.


Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya giliranku tiba aku berdiri dan menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan, segera aku masuk ke dalam dengan penuh keyakinan dan duduk di depan beberapa orang yang saat itu akan mewawancarai aku. Dan betapa kagetnya aku saat melihat salah satu dari pewawancaranya itu adalah Keysa, wanita tunangannya Devinka.


Sejak pertama kali melihat dia aku sudah yakin bahwa aku akan gagal, tapi bodohnya aku tetap berusaha melakukan yang terbaik di hadapan dia meski dia terus menatap menyepelekan aku.


"Kau.... Apa pengalamanmu di bidang komik? Apa kau pernah bekerja di perusahaan komik lainnya sebelum ini, dan apa alasan kau menjadi pengangguran?" Ucap Keysa kepadaku.


Pertanyaan dia padaku saja sudah terdengar sangat berbeda dari pertanyaan yang dia ajukan kepada dua pelamar lain di sampingku dan aku sudah tahu dia mungkin hanya ingin mempermalukan aku dan hanya akan terus meremehkan aku, oleh karena itu karena aku tidak ingin terus di injak-injak oleh wanita sombong sepertinya, aku pun berusaha keras menjawab ucapannya itu di luar dari bagian rencanaku untuk wawancara hari ini.


"Aku melamar memang tidak memiliki pengalaman dalam bidang ini dan aku memang tidak ahli dalam dunia komik atau webtoon namun aku akan selalu berusaha dan terus belajar semampuku karena aku selalu membaca komik dan berkutik dalam dunia itu setiap hari sebab itu adalah salah satu hobiki selama ini, dan alasan kenapa aku berhenti dari perusahaan sebelumnya itu karena aku memutuskan untuk menghindari sebuah konflik dengan orang-orang yang tidak bisa profesional dalam pekerjaan, contohnya seperti anda saat ini" balasku dengan sangat tepat dan berani untuk melawannya.


"CK... Jangan kau pikir aku tidak akan berani melawanmu!" Gumamku dalam hati sambil melawan tatapan sinisnya dengan tatapan datar yang aku buat.


Dia mungkin berpikir aku akan tertunduk malu dan tidak menjawab pertanyaan darinya lalu aku akan pergi dan berlari dari ruangan itu sambil menangis seperti pecundang dan dia akan datang lalu mendesak aku dan mengancamku seperti yang biasa dia lakukan kepada wanita lain.


Tapi sayangnya aku tidak sama dengan wanita lain pada umumnya, aku tidak akan pernah takut dengan wanita perebut pacar orang seperti dia lagi pula aku juga tahu Devinka hanya menyukaiku jadi aku sangat percaya diri untuk terus melawan dia dengan kekuatan diriku sendiri meski aku tidak memiliki kuasa apapun.


Terlihat wajahnya langsung merah padam dan dia terlihat sangat kesal kepadaku, namun aku sedikit merasa puas karena berhasil membuat dia kesal sampai seperti itu bahkan dia mungkin tidak bisa mengendalikan dirinya hingga menggebrak meja itu di tengah-tengah wawancara.


"Brakk...." Suara meja yang di gebrak dengan kuat olehnya hingga membuat semua orang yang ada disana tersentak kaget kecuali aku.


"Ada apa? Apa kau tersinggung dengan ucapanku, aku hanya menjawab pertanyaan yang kau ajukan dan sebagai orang yang di wawancarai itu sepantasnya untuk aku jawab sesuai dengan fakta yang ada dan sesuai juga dengan resume yang aku tulis dalam surat lamaranku, atau kau tidak membaca resumeku dahulu yah sebelum memberikan pertanyaan kepadaku, hingga anda bisa semarah itu denganku?" Ucapku mendahului dia lagi,


"Diam kau! Wanita j*Lang sepertimu tidak pantas bekerja dimanapun, akan aku pastikan kau tidak akan pernah di terima bekerja di perusahaan manapun di kota ini bahkan di negara ini, kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi saat ini Elisa, lidah saja nanti aku akan membalasnya!" Ucap dia melemparkan ancaman kepadaku dengan tatapan yang tajam.


Aku tidak perduli dengan ancaman yang dia lontarkan bahkan jika dia mengancam akan membunuhku aku tidak perduli sedikitpun dengan hal itu.


"Akan aku tunggu hal itu, sampai jumpa" balasku sambil langsung pergi dari sana.


Aku pikir semua itu sudah selesai tapi ternyata tidak dia berlari menghampiriku dan tiba-tiba saja menjambak rambutku dari belakang sangat kuat hingga aku hampir jatuh di buatnya, aku tentu tidak terima dengan hal itu dan aku balas menjambak dia lalu mendorong tubuhnya dengan sangat kuat ke dinding dan aku langsung menarik tangannya yang sedari tadi menjambak rambutku dengan kuat aku membalikkan tangannya dan memelintirkan tangannya itu ke belakang hingga dia meringis kesakitan.


"A..a...aahahhh...lepaskan hey j*Lang sialan lepaskan tanganku aaawww itu menyakitkan!" Ucap dia berontak.

__ADS_1


Aku tidak ingin melepaskannya karena dia sudah membuat rambutku rontok karena dia jambaknaku juga merasakan cakaran kukunya di tanganku sehingga aku harus memberikan dia sedikit pelajaran kali ini agar dia tidak berani lagi untuk bermain-main dan menyerang ku dari belakang seperti itu lagi.


"Minta ampun padaku atau aku tidak akan melepaskanmu!" Ancamku kepadanya.


Semua orang hanya menatap ngeri dan mereka semua yang ada disana tidak ada yang berani menghentikan aku ataupun Keysa ada juga dari mereka yang terlihat senang ketika aku memberikan wanita itu sebuah pelajaran berharga.


"A...AA..ahhh...sakit ini sangat sakit, oke aku mohon padamu aku mohon lepaskan aku aku salah aku minta maaf lepaskan tanganku!" Teriak dia yang akhirnya menyerah juga dan langsung meminta maaf kepadaku.


Setelah mendengar itu barulah aku bisa melepaskannya aku langsung melepaskan tangannya dan segera pergi dari sana setelah memberikan peringatan kepada wanita sialan itu.


"Dengarkan aku baik-baik, jangan pernah menyerangmu dari belakang atau aku akan membunuhmu dari depan dengan lebih cepat, bahkan tadi aku bisa saja mematahkan tanganmu itu, tapi aku tidak melakukannya karena menghargai Devinka, aku tidak ingin dia menikahi wanita cacat!" Ucapku padanya lalu segera pergi dengan cepat.


"Kau.... Beraninya kau melakukan itu padaku! Awas kau Elisaaaaa" teriak wanita itu yang aku abaikan.


Aku yakin dia sangat kesal dan marah karena kejadian itu kepadaku dan aku tahu dia pasti akan membuat peperangan yang nyata mulai sekarang, aku akan melawan dia dan tidak akan menjadi lemah seperti wanita lain, karena aku adalah Elisa yang di besarkan dengan banyak rasa sakit sehingga aku sudah terbiasa merasakannya dan menjadi jauh lebih kuat dari siapapun di dunia ini.


Saat aku membuka pintu ku lihat ada Devinka dan ibunya disana, mereka pasti melihat semuanya yang aku lakukan kepada Keysa juga semua ucapan diantara Keysa dan aku, aku sempat diam sejenak melihat ke arah mereka berdua lalu segera berjalan melewati mereka dengan cepat.


"CK.... Mereka menguping" ucapku pelan dengan berdecak kesal.


Aku berjalan melewatinya dengan membereskan rambutku yang berantakan karena di jambak oleh Keysa sebelumnya.


"Elisa aku kagum denganmu, dan aku masih mencintaimu" ucap Devinka sambil berbalik kepadaku.


Aku mungkin terlihat keren dan luar biasa kuatnya di hadapan semua orang kala itu namun ketika aku duduk sendiri di dalam bus, dengan menyandarkan kepalaku ke samping di situlah aku terlihat begitu lemah dan hancur, aku sakit dan dadaku terasa sangat perih, aku seperti tidak pernah bisa merasakan kebahagiaan barang sedikit saja di dalam hidupku.


Selalu saja ada halangan dan rintangan disaat aku sudah hampir sampai pada kebahagiaan, aku kehilangan panti di saat aku sudah bisa bekerja untuk membantu ibu panti sepenuhnya aku juga kehilangan Devinka di saat kami sudah hampir bahagia bersama, bahkan aku kehilangan pekerjaan yang sangat aku sukai disaat aku sudah merasa nyaman bekerja di sana bersama rekan kerjaku yang lain.


Aku turun dari bus dan berdiri sejenak disana karena aku tidak ingin pulang menemui Dika dalam keadaan kacau seperti ini, jika dia melihat mataku yang lebam bekas menangis seperti ini aku yakin dia akan mendesak aku untuk menceritakan apa penyebabnya dan aku tidak ingin dia mengetahui semua yang baru saja aku lakukan di kantor itu.


Terlebih aku pergi ke sana dengan penuh percaya diri dan mengatakan hal-hal sombong padanya dimana aku telah gagal untuk mendapatkan semua hal tersebut hanya dalam sekejap mata.


Aku berdiri sendiri di pinggir halte bus sambil terus mengusap air mataku dan berusaha untuk berhenti menangis namun air mata itu terus jatuh begitu saja sampai tidak lama sebuah mobil berhenti di hadapanku dan Ciko keluar dari sana.


"Heh sedang apa kau menangis di pinggir jalan seperti ini? Apa kau menjadi pengemis sekarang, lihat pakaian dan rambutku yang berantakan itu, aishhh kau sangat buruk bagaimana kedua temanku yang bodoh itu bisa menyukaimu" ucap Ciko kepadaku.


Dia berkacak pinggang di hadapanku sambil terus meledeki aku seperti itu, memang sangat menyebalkan dan sejak dulu Ciko tetap seperti itu, tidak ada yang berubah darinya sedikitpun.


"CK... Untuk apa kau menghampiriku jika untuk meledeki aku seperti itu, sudah sana pergi aku sedang tidak ingin di ganggu siapapun apalagi manusia beku sepertimu" balasku sambil mendorong dia untuk menjauh dariku,


"Ayo masuk aku akan membawaku ke tempat yang lebih baik, setidaknya agar kau tidak membuat malu wanita di dunia ini karena menangis di tempat umum dengan wajah jelek mu itu" ucap Ciko yang masih meledeki aku.


Aku terpaksa masuk ke dalam mobilnya karena setelah melihat ke sekeliling memang beberapa orang disana seperti melihat dan memperhatikan aku dengan tatapan aneh mereka sehingga aku merasa risih dengan tatapan semua orang.

__ADS_1


"Baiklah aku akan masuk, awas saja kau jika meledeki aku terus!" Ucapku memperingatinya.


Aku segera masuk ke dalam mobil dan duduk di dalam dengan tenang.


Entah kemana si Ciko ini akan membawaku namun dia sepertinya membawa aku ke tempat yang sangat jauh hingga siang sudah berlalu kita belum sampai juga di tempat itu, dan akhirnya kita masuk ke kawasan yang sejuk dan banyak sekali tanaman teh di sekitaran jalan sana hingga tidak lama dia mengesampingkan mobilnya lalu berhenti di sana dan segera keluar.


Aku juga mengikutinya dan menghirup udara yang segar di sekitar sana, ini sangat menyejukkan tubuh dan hatiku sehingga aku bisa merasa sedikit lebih baik ketika menghirup udara yang sangat asri disana.


"Ciko darimana kau tahu tempat sebagus ini?" Tanyaku kepadanya.


"Ini tempat rahasia yang selalu aku datangi dan hanya Dika dan aku saja yang mengetahuinya, kami berdua tumbuh bersama dan sangat dekat, hingga sebesar sekarang dan aku harus kehilangan dia karena dirimu, maka dari itu aku sangat membencimu" ucap Ciko tanpa menatapku sedikitpun,


Aku menaikkan kedua alisku dengan heran, karena Ciko tiba-tiba saja mengatakan hal yang sangat membingungkan seperti itu kepadaku.


"Heh, apa yang kau katakan siapa yang merebut Dika darimu kalian kan masih bertan bahkan sampai detik ini, lalu apa urusannya denganku?" Balasku merasa tidak terima,


"Ya kau memang benar, tapi apa kau tidak menyadari bahwa Dika itu sangat menyayangimu dan dia terus menjagamu sejak lama dia selalu memperhatikanmu dari kejauhan dan aku yang selalu ada di sampingnya bahkan lebih sering dia abaikan karena dia mulai sibuk memperhatikanmu, dimana kau sendiri justru malah sibuk dengan Devinka dan itu membuatku membenci dirimu, tapi itu dulu setelah aku mengenalmu dan memperhatikanmu juga aku rasa pilihan Dika memang benar, kau tidak seburuk yang aku kira sebelumnya" balas Ciko berkata sangat banyak.


Ini pertama kalinya aku mendengarkan dia bercerita begitu panjang denganku, padahal selama ini dia selalu diam, dan tidak perduli denganku dia bahkan selalu melemparkan tatapan sinis padaku dan dia juga pernah mengancam aku beberapa kali.


Aku sedikit gugup dan diam terperangah melihat Ciko yang terlihat begitu berbeda saat ini, dan aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi, atau menanggapi ucapannya itu sampai dia meneruskan perkataannya lagi kepadaku.


"Elisa kau tidak bisa membuat dia orang pria terus memperebutkanmu dan membuat mereka terus bersaing seperti itu, kau harus memilih salah satu dari mereka dan melepaskan yang satunya agar tidak ada yang terluka lebih jauh lagi diantara kalian bertiga" ucap Ciko sambil menata lekat dan bicara sangat serius kepadaku.


Aku tertunduk menghindari tatapannya itu yang membuat aku sangat bingung memikirkan ucapannya barusan.


"Huftt....aku tahu Ciko, aku juga paham dengan maksud perkataanmu barusan, tapi mungkin kau juga tahu sendiri siapa pria yang benar-benar aku cintai sejak lama, dan aku tidak mungkin menyakiti Dika" balasku kepada Ciko dengan jujur,


"Itulah kenapa aku membencimu Elisa kau tidak bisa memilih diantara mereka, kau lihat seberapa besar perjuangan Dika untukmu dia berusaha keras sejak beberapa tahun terakhir dari kau masih kuliah hingga sekarang, dia fokus membesarkan perusahaannya untuk bisa menyerang perusahaan nyonya Merisa, agar apa? Agar dia bisa merebut dari Devinka dan agar dia bisa memilikimu, dia tidak ingin kau terluka karena dia sudah tahu sejak lama bahwa Devinka sudah di jodohkan dengan Keysa" balas Ciko yang terlihat sedikit marah bahkan membulatkan matanya sempurna kepadaku.


Aku sungguh merasa bersalah dan tidak enak hati kepada Dika aku sangat kaget, aku tidak menduga Dika sudah melakukan semuanya untukku.


"A..apa yang kau katakan Ciko?" Ucapku berusaha untuk memastikan bahwa semua itu bohong.


Ciko mengambil ponselnya dan dia memperlihatkan rekaman dimana Dika menantang dan melawan nyonya Merisa dengan sangat tegas dan lantang dia bahkan menyuarakan ancaman serta peperangan melawan perusahaan milik keluarga Devinka dimana saat ini semuanya sudah resmi bahwa mereka akan bersaing secara nyata di hadapan publik, aku terperangah dan refleks menutupi mulutku saking kagetnya melihat Dika yang begitu berani melawan seorang nyonya Merisa.


"I....itu aku.... Aku harus bagaimana Ciko, aku takut Dika dalam masalah besar, bagaimana dengannya?" Ucapku merasa cemas sekarang,


"Dia mungkin sudah baik-baik saja karena sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini dalam waktu yang sangat lama, dia dan aku sudah merencanakan penyerangan balik ini sangat lama dan kau tahu, yang membuat dia sangat bertekad adalah dirimu Elisa maka dari itu aku minta padamu tolong berlakulah baik dan adil kepadanya, dia juga ingin merasakan kasih sayangmu, bukan hanya Devinka" balas Ciko sambil menepuk sebelah pundakku pelan.


Visual Ciko


__ADS_1


__ADS_2