
Aku hanya tersenyum dan sangat puas melihat wajah Devinka yang nampak frustasi dengan wajah yang sudah pucat bahkan aku memiliki ide yang sangat bagus dengan berniat menyuapinya seperti pasangan lain yang tengah makan di sana.
"Ehh, Devinka kau juga belum makan kan?, sini biar aku suapi aaaa..." ucapku sambil memberikan suapan pada Devinka.
"Heh...apa apaan kau ini aku tidak mau makan dari tangan kotormu itu" bentak Devinka dan aku langsung berpura pura sedih agar mendapatkan empati dari orang orang yang ada di sana,
"Sayang apa kau masih marah denganku hanya karena aku dekat dengan temanmu, dan kamu tidak mau menerima suapanku hiks...hikss" ucapku mulai melancarkan aktingnya,
Devinka membelototkan matanya padaku dan mengerutkan kedua alisnya meminta penjelasan sedangkan aku terus sengaja berpura pura hingga beberapa orang di sana mulai berbisik dan menyuruh Devinka untuk memaafkanku.
Aku hanya terus berusaha menahan tawa dan tetap pada rencana awalku untuk mengerjai Devinka.
"Hey...lihat pria itu dia sangat tampan tapi tega sekali berbicara kasar pada pacarnya sendiri" bisik salah satu perempuan di sana pada temannya,
"Iya yah, kasihan banget ceweknya" balas temannya yang lain,
"Heh kamu itu pria atau bukan cepat ambil suapan dari pacarmu tangannya akan pegal jika terus seperti itu, apa kau tega melakukannya jahat sekali" ucap salah satu perempuan yang berdiri dengan tatapan tajam kepada Devinka.
Aku pun juga berusaha memasang wajah menyedihkan untuk melancarkan aksiku sampai akhirnya Devinka mau memakan suapan dariku dengan wajah merah padam dan menahan malu.
Setelah itu aku pun langsung meminta maaf kepada perempuan tadi yang sudah membantuku melancarkan semua rencanaku.
"Aahh...maaf sudah mengganggu waktu kalian silahkan nikmati lagi hidangannya, terimakasih sudah membelaku" ucapku pada mereka dengan akting yang sempurna.
Para perempuan itu pun kembali pada meja mereka masing masing dan sudah tidak memperhatikan aku dan Devinka lagi.
Aku sudah tidak tahan dan akhirnya aku melepaskan senyumku dengan sangat lebar.
"Haha....Devinka wajahmu kenapa seperti terbakar begitu, bukankah makanan yang aku suapi terasa jauh lebih enak?" Ujar ku menggodanya lagi.
"Aishh....kau berani mempermainkan ku yah?. Oke kalo begitu kau bayar semua makanan ini sendiri aku akan pergi" ucap Devinka sambil bangkit dari kursinya.
__ADS_1
Aku panik dan langsung menarik lengan Devinka sampai membuatnya kembali duduk di kursi tepat di hadapanku.
"Devinka aku kan hanya bercanda sedikit saja kenapa kau harus semarah ini, kalau kau tidak membayarnya bagaimana aku bisa kembali ke perusahaan?" Ujarku dengan wajah memelas,
"Siapa suruh kau berani mempermainkan ku apalagi dengan melibatkan para perempuan menyebalkan itu, aishh makanan yang kau berikan juga membuatku gatal sebenarnya apa yang kau masukkan ke mulutku tadi!" Bentak Devinka sambil terus menggaruk leher dan tangannya.
Aku membelalakkan mata saat melihat kedua lengan dan leher Devinka yang tadi dia garuk mulai bermunculan bintik bintik merah, aku pun langsung berdiri mendekatinya dan menahan kedua lengan dia agar berhenti menggaruk tubuhnya sendiri.
"Devinka berhenti kenapa badanmu berbintik merah begini apa kau alergi dengan sesuatu?" Tanyaku padanya dengan serius,
"Mana aku tahu sedari tadi aku belum memakan apapun kecuali...." Kata Devinka menahan ucapannya sambil menatapku dengan tajam,
"APA?" bentakku padanya dengan heran.
Devinka tidak menjawab ucapanku dan aku mulai paham maksud dari tatapan matanya.
"Apa mungkin ini karena makanan yang aku suapi pada mulutmu barusan?" Ujarku padanya memastikan,
"Menurutmu karena apa lagi ha?. Sekarang aku tanya lagi apa yang kau masukkan pada mulutku tadi?" Tanya Devinka lagi dengan serius,
Mendengar jawaban dariku Devinka langsung bangkit berdiri dan menghempaskan lenganku begitu saja dia pergi ke kasih lalu membayar tagihan makanan begitu saja, aku langsung berlari menyusul dia yang meninggalkanku tanpa bicara sepatah katapun.
"Devinka...tunggu kau mau kemana kau kan tidak tahu arah jalan" teriakku sambil berusaha menyusul langkahnya.
Devinka terus mengabaikan aku dan dia malah berjalan lebih cepat menghindariku, aku tahu alergi di tubuhnya semakin memburuk dan aku juga sangat cemas, aku berlari sekuat tenaga dan berhasil menyusulnya aku merentangkan kedua lenganku menghalangi jalan Devinka.
Ku lihat sekujur tubuhnya sudah dipenuhi bintik merah dan mungkin itu sangat gatal sampai membuat Devinka terus menggaruknya dengan keras.
"Devinka berhenti!, kenapa kau meninggalkanku jangan berlari lagi aku tidak sanggup mengejarmu" ucapku menahannya.
Tidak ada balasan sama sekali darinya sehingga aku semakin khawatir melihat Devinka yang terus menggaruk tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Devinka berhenti jangan menggaruknya lagi, itu akan membuatnya meradang ayo ikut aku" ucapku sambil menahan lengan Devinka dan langsung menariknya.
Aku membawa Devinka ke sebuah apotik tak jauh dari sana dan aku menyuruh Devinka untuk menungguku di luar.
"Devinka tolong jangan menggaruknya lagi, dan tunggu aku di sini oke aku akan segera kembali" ucapku dan Devinka hanya terus menatap tajam penuh amarah sambil menahan rasa gatal di tubuhnya.
Aku menghembuskan nafas kasar dan sangat menyesal karena sudah mempermainkan Devinka hingga membuatnya seperti ini, aku langsung membeli obat pereda alergi karena aku tahu mungkin alergi Devinka kemungkinan besar di sebabkan oleh udang aku langsung membelinya obat pereda ya.
Untunglah orang orang di apotik itu bergerak cepat dan mereka turut membantuku untuk mengobati Devinka.
"Devinka ayo minum obat ini, ini akan meredakan rasa gatalnya" ucapku sambil memberikan sebutir obat dan air mineral padanya,
Devinka langsung mengambil obat itu dengan kasar dan meminumnya dengan cepat, setelah meminum obat itu Devinka menjadi jauh lebih tenang dan dia sudah tidak se gila tadi dengan gatalnya.
Devinka bersandar di bangku tepat di depan apotik bersamaku, tubuhnya terlihat sedikit pucat dan dia nampak begitu lemas, aku juga mulai membantunya mengoleskan obat pada tangannya yang masih meninggalkan beberapa bintik bekas garukannya.
"Devinka sini aku bantu kau oleskan obat, kau istirahat lah sebentar di sini" ucapku sambil meraih tangannya dan langsung mengoleskan obat pada alerginya.
"Lepaskan, semua ini juga karena kau aku tidak mau kau membantuku yang ada kau akan membuatku semakin buruk!" Bentakku tidak mempercayaiku,
"Ayolah Devinka aku tidak mungkin mencelakaimu, meskipun aku membencimu tapi aku tidak sejahat itu" jawabku menjelaskan.
Meski aku sudah berkata jujur Devinka yang keras kepala tetap saja menolak bantuanku.
"Bagaimana aku tahu jika kau tidak melakukannya dengan sengaja, kau pikir tadi tiba tiba saja kau mau menyuapiku dan ternyata kau hanya mempermainkan ku lalu apa sebuah kebetulan kau malah memberikan udang padaku, lalu obat ini dari mana kau bisa tahu jika alergiku karena udang, aku bahkan tidak pernah memberitahumu soal itu sebelumnya, apa kau bisa menjelaskannya sekarang?" Bentak Devinka dengan wajah serius dan terus mencurigai ku.
Padahal aku hanya menebaknya karena memang yang aku berikan pada dia hanya sebuah nasi goreng dan dua buah udang, makanya aku berpikir dia alergi udang karena tidak mungkin jika alergi nasi goreng sebab dia juga memesan nasi goreng yang sama denganku hanya saja tanpa udang.
Aku ingin menjelaskan semuanya pada dia tapi aku tahu dia tidak akan mempercayaiku bagaimanapun aku menjelaskannya.
Tapi aku juga tidak bisa membuatnya terus menderita seperti itu dan membiarkannya kesakitan karena ulahku, aku tentu harus bertanggung jawab dan mengobatinya, aku pun tetap memaksa dia agar aku bisa mengobati lengan dan semua bekas alergi tadi.
__ADS_1
"Devinka asal kau tahu aku memang tidak sengaja melakukan semuanya aku sungguh tidak tahu apapun mengenai alergimu dan masalah mempermainkan mu aku hanya sedikit usil, maaf jika itu malah membuat kau seperti ini" ucapku padanya,
"Jadi tolong izinkan aku tetap mengobatimu aku hanya ingin membalas atas kecerobohanku, tolong jangan menolaknya. Kemarikan tanganmu" ujarku dan kembali menarik lengan Devinka dengan paksa.