
Tentu saja aku merasa kaget dan sangat tidak percaya dengan ucapannya tersebut, aku terdiam terperanga dan membuka mataku dengan lebar.
"Eh..eh...tunggu apa aku tidak salah dengar, kau serius ingin mengantarku?" Tanyaku memastikan karena masih tidak percaya,
"Cepat masuk atau aku akan meninggalkanmu!" Jawab Devinka dengan dingin dan wajah datarnya yang tanpa ekspresi.
Aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan dia langsung menyalakan mobilnya, aku pun menunjukkan jalan menuju kampus karena aku tidak mau Devinka mengetahui di mana tempat tinggalku selama ini.
Membuatnya mengetahui tempat tinggalku yang kecil dan berada di lingkungan kumuh itu hanya akan melukai perasaanku sendiri karena pasti dia akan menghinaku lagi.
Saat aku meminta dia menurunkanku di depan kampus wajahnya nampak keheranan dan dia langsung bertanya kepadaku begitu saja.
"Heh, apa kau sehat itu sampai datang ke kampus tengah malam begini, cepat katakan di mana rumahmu" jawab Devinka seperti tidak percaya pada ucapanku,
"Aish....apa masalahnya denganmu, sudah turunkan saja aku di depan, rumahku memang di sekitar sini, kau banyak tanya sekali sih, memangnya kau sangat ingin pergi ke rumahku yah" jawabku sengaja membuatnya kesal agar dia tidak bersih keras mengantarku sampai ke rumah lagi,
"Hah, siapa juga yang ingin mengetahui rumahmu, mengantarmu saja aku terpaksa!" Jawab Devinka sungguh membuatku jengkel dan kesal.
Dia pun menghentikan mobilnya ke pinggir dan aku langsung keluar begitu saja tanpa berpamitan kepadanya.
Devinka langsung berdecak kesal sambil memalingkan pandangannya dan melajukan kembali mobilnya meninggalkan tempat itu dengan segera.
"Ck...dasar cewek ayam, tidak tau terimakasih. Ini terakhir kalinya aku bersikap baik padanya!" Gerutu Devinka di dalam mobil.
Aku tidak memperdulikannya dan langsung berjalan menuju kosanku, saat itu aku sangat lelah sehingga langsung membersihkan diri, segera beristirahat dan langsung tertidur lelap dengan cepat.
__ADS_1
Sampai ke esokan paginya aku bangun sangat awal lalu langsung mempersiapkan beberapa hal yang akan aku bawa ke kampus karena hari ini adalah hari untuk pendaftaran lamaran kerja ke perusahaan yang sudah di tentukan oleh dosen sebelumnya.
Untung dari jauh jauh hari aku sudah mempersiapkan semua berkasnya sehingga hari ini hanya perlu pergi ke perusahaan CTN group untuk menyerahkan file tersebut.
Hari ini aku sungguh bersemangat, hari di yang sudah aku tunggu tunggu sejak lama akhirnya tiba, CTN group bukan lah perusahaan biasa namun merupakan salah satu perusahaan pemberitaan terbesar dan terbaik di negara ini bahkan se Asia tenggara.
Aku selalu bercita cita untuk menjadi seorang reporter dan tentunya untuk mencapai karir tersebut aku harus menjadi wartawan terlebih dahulu, dan kali ini aku justru mendapatkan pekerjaan magang di perusahaan yang sangat aku impikan apalagi setelah dosen mengatakan bahwa setiap orang yang magang akan memiliki kesempatan untuk melanjutkan bekerja di sana sebagai karyawan tetap hingga dia lulus kuliah.
Jika aku sampai menjadi karyawan tetap tentunya hidup dan karirku sudah sangat terjamin dan aku tidak perlu mengeluh kekurangan uang lagi, aku juga bisa membantu mendirikan panti asuhan yang baru, setidaknya itu akan membantu anak anak jalanan lain untuk memiliki tempat tinggal.
Dan aku tidak akan merasa bersalah lagi sebab dulu gagal mempertahankan tempat panti asuhan di mana aku tinggal.
Mengingat masalah panti aku tiba tiba saja sedih dan terbawa perasaan, aku pun segera mengesampingkan kesedihanku dan kembali memupuk semangat dalam diri lalu segera pergi ke kampus.
"Ahhh....hari ini sangat cerah, secerah hatiku hehe....ayo Elisa.. fighting!" Ucapku sambil berjalan penuh semangat masuk ke dalam gedung kampus.
Saat aku hendak masuk ke ruang kelas, tiba tiba dari belakang terdengar suara Reksa yang meneriaki ku, aku pun refleks berbalik dan melihatnya.
"Hey...ELISAAA..." Teriak Reksa sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Aku menatapnya dengan heran karena merasa sedikit aneh dengan sikap Reksa kepadaku biasanya dia tidak pernah se ramah ini sebelumnya.
"Eihh.... Kenapa kau menyapaku seperti itu, memangnya kita sedekat apa?" Ucapku dengan jutek,
"Ahaha...Elisa ayolah jangan terlalu kaku dan serius, kita kan sekarang teman satu kelompok dan akan menjadi rekan kerja jadi bekerja samalah dengan baik nanti kau juga harus berkomunikasi dengan kita, alapagi pada Devinka kau akan membutuhkan bantuannya nanti" jawab Reksa yang membuatku merasa heran,
__ADS_1
"Hah, kenapa aku akan meminta bantuannya bukankah sebaliknya yah!" Jawabku kesal,
"Aishh... Aku ini ketua kelompok apa kau masih belum paham dan apa kau melupakan janji yang kau buat sendiri, dasar pecundang!" Ucap Devinka melukai harga diriku.
"Iya Elisa kau harus bersikap baik dan menuruti semua perintah Devinka selaku ketua kelompok apalagi dia yang memiliki, eummm...." Ucap Reksa yang hampir membocorkan rahasia Devinka.
Saat itu Reksa hampir saja mengatakan bahwa Devinka adalah pewaris perusahaan CTN group yang nantinya akan menjadi pemilik perusahaan tersebut menggantikan ayahnya, untunglah sebelum Reksa mengucapkan masalah itu Devinka sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
Reksa yang mulutnya tiba tiba saja di bungkam oleh Devinka dia kebingungan dan tidak mengerti mengapa Devinka tiba tiba bersikap seperti itu kepadanya, mata mereka saling tatap dan Devinka memelototi Reksa seakan memberikan peringatan agar tidak membicarakan masalah identitas nya.
Reksa pun langsung mengerti dan mengangguk sampai akhirnya Devinka melepaskan tangan yang membungkam mulut Reksa.
"Ahhh...Dev, Lo bener bener yah, untung gue gak sesak nafas" ucap Reksa sambil mengusap wajahnya,
"Diem Lo!" Ucap Devinka memperingati.
Aku menatap mereka dengan heran namun sama sekali tidak perduli dengan apa yang tengah mereka sembunyikan dariku, lagi pula aku tidak ingin berhubungan dengan mereka dan memilih untuk pergi.
Sayangnya saat aku baru hendak melangkah Devinka menarik tanganku dan membuatku kembali mundur ke belakang sambil langsung menghempaskan tanganku dari genggamannya.
"Aishh...lepasin tangan gue, Lo tuh apa apaan sih Dev gue udah berusaha sabar dan bicara dengan baik sama Lo tapi Lo terus aja bikin gue emosi kali ini gue gak akan bicara lembut lagi sama orang kaya Lo!" Bentakku dengan kesal.
Sebelumnya aku tidak pernah bicara dengan sebutan elo gue kepada siapapun bahkan kepada Devinka orang yang sangat aku benci namun kini setelah mengingat bagaimana perlakuannya begitu kasar dan semakin menyebalkan aku tidak bisa menahan diri lagi.
"Hah?, Haha....jadi Lo sekarang udah berani manggil gue kaya gitu, ehh asal Lo tau bagaimanapun Lo mangg gue mau pake bahasa yang baik dan benar ataupun bahasa kasar gue gak perduli, tapi Lo harus ikut gue karena ini perintah!" Ucap Devinka sambil menarik lenganku secara tiba tiba.
__ADS_1
Aku sungguh tidak mengerti dengan Devinka kadang kita bicara baik baik meskipun tengah berdebat dengan menyebut satu sama lain dengan panggilan aku kamu, tapi kini dia bisa terlihat sangat kasar dan begitu menyebalkan, mulai sekarang aku akan putuskan tidak akan memanggilnya dengan sebutan aku kamu lagi, dan panggilan lo gue lebih cocok untuk orang sepertinya.