Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Pulang Kerja


__ADS_3

Tapi disisi lain Elisa sama sekali tidak mengetahui bahwa alasan dia diterima di perusahaan tersebut dengan mudah adalah karena adanya pengaruh yang di berikan oleh Devinka sehingga dia merasa semua itu adalah hasil dari kerja kerasnya selama ini dan keberuntungan yang dia miliki. Hingga ketika masuk jam istirahat, dan dia pergi ke kantin untuk makan bersama kak Anne juga kak Kris.


Aku tidak sengaja mendengar bisikan beberapa orang di departemen satu dan anak-anak departemen lainnya, entah kenapa aku merasa mereka seperti membenciku dan menatapku dengan tatapan yang sinis, sehingga membuat aku sedikit tidak nyaman ketika berjalan masuk ke dalam kantin tersebut.


"Hey, lihat dia kan gadis yang masuk karena pengaruh itu bukan?,"


"Benar, dia terlihat biasa saja dan tidak ada yang spesial dari dirinya, tetapi tuan muda malah memilihnya, apa dia memberikan tubuhnya untuk bekerja disini, menyedihkan" ucap orang-orang yang membicarakan Elisa.


"Ada apa dengan mereka, apa mereka membicarakan mu Elisa?" Tanya kak Kris dengan mengerutkan dahinya,


"A...aku tidak tahu, tapi sepertinya iya karena mereka menatap ke arahku" balasku dengan gugup dan tidak nyaman,


"Sudahlah jangan dengarkan mereka, paling mereka hanya iri terhadapmu, mereka memang sering bergosip, kita makan saja ayo" ajak kak Anne langsung merangkul pundakku dan membawaku segera duduk.


Meski perasaanku tadi sedikit terobati oleh kak Anne yang terus menghibur kami selagi makan tetapi aku tetap kepikiran dengan perkataan beberapa orang sebelumnya karena mereka mengatakan aku masuk ke sini dengan pengaruh, padahal aku sama sekali tidak tahu apapun, jangankan pengaruh bahkan tidak ada siapapun yang aku kenal dekat di perusahaan tersebut kecuali rekan kerjaku di departemen dua.


"Lagi pula kak Kris atau kak Anne mana mungkin memiliki pengaruh besar seperti itu, kecuali jika itu kak Eril, aaahh iya atau jangan-jangan ini berkat kak Eril yah?" Gerutuku memikirkan.


Karena aku dekat dengan dia akhir-akhir ini dan dia sendiri juga yang mengabari aku jika aku diterima bekerja lagi, sehingga aku langsung berpikir kepadanya, saat itu juga aku langsung menyelesaikan makanku dan pergi untuk mencari kak Eril.


"Kak aku ada urusan sebentar, aku duluan yah sampai ketemu di ruangan" ucapku sambil segera pergi dengan cepat,


"Eh...Elisa kau mau kemana hey" teriak kak Anne namun aku tetap pergi.


"Ada apa dengannya, kenapa dia terburu-buru dan terlihat aneh?" Tanya kak Anne merasa heran dengan sikap Elisa,


"Mungkin dia masih terganggu dengan omongan orang-orang sebelumnya" balas kak Kris.


Kak Anne langsung mencari tahu dan mendekati beberapa orang yang sebelumnya dia ketahui membicarakan Elisa di belakang.


Sedangkan aku sudah pergi ke ruangan kerja mencari keberadaan kak Eril, tetapi aku tidak menemukan dia disana dan aku memutuskan untuk mencarinya ke tempat lain, saat aku berbalik hendak keluar dari ruangan tersebut tiba-tiba saja kak Eril muncul begitu saja dihadapanku sehingga aku tidak sengaja langsung menabrak dadanya.


"Bruk...aduhh" suaraku yang menabrak dada kak Eril dan aku refleks memegangi kepalaku.


"Elisa?, Kanapa kau ada disini bukannya tadi pergi bersama Anne dan Kris?" Tanya kak Eril kepadaku,

__ADS_1


"Oh....itu aku mau menemuimu kak kebetulan kita bertemu sekarang" ucapku langsung menyampaikannya,


"Ada apa mau menemuiku" tanya lagi kak Eril sambil berjalan masuk ke dalam menuju meja kerjanya.


Dia terlihat sedikit sibuk dari biasanya dan aku merasa tidak enak untuk mengganggu dia, sehingga aku sedikit gugup untuk mengatakannya, dan hanya bisa berdiri dengan melipat bibirku dan sulit sekali untuk tenang.


"Eu...itu kak....aku ingin menanyakan mengenai..." Ucapku terdiam dan aku sedikit malu untuk mengungkapkannya,


"Elisa aku masih banyak pekerjaan sekarang jadi jika kamu belum siap untuk mengatakannya sebaiknya kamu tulis saja di kertas aku akan membacanya nanti" balas kak Eril membuatku langsung membuka mata lebar.


Aku tidak ingin dia berkomunikasi denganku lewat sebuah kertas, memangnya ini jaman kapan masih memakai surat-suratan seperti itu, sehingga aku langsung mengepalkan kedua tanganku dengan kuat dan langsung memberanikan diri sendiri untuk mengungkapkan semuanya kepada kak Eril.


"Ah...tidak...tidak...kak aku akan mengatakannya sekarang, begini apa kau yang menjadi alasan aku diterima di perusahaan ini, apa benar yang dikatakan oleh orang-orang bahwa aku masuk dengan pengaruh bukan karena kemampuanku sendiri?" Tanyaku kepadanya sambil menunduk.


Aku takut sekali untuk mendengar jawabannya tetapi aku juga sangat penasaran dan ingin mengetahui semuanya secara nyata.


Tidak aku sangka kak Eril yang tadinya terlihat begitu sibuk di depan laptopnya kini dia langsung menghentikan aktivitas dia dan langsung menatap kepadaku dengan lekat, itu membuat aku semakin cemas dan merasa sedikit gugup.


"Elisa...apa kau percaya dengan gosip murahan seperti itu, lagi pula aku ini hanya kedua departemen mana mungkin memiliki wewenang sebesar itu, kau jangan terlalu memikirkannya oke" balas kak Eril yang membuatku bisa langsung bernafas lega.


Aku pun segera permisi dari sana dengan hati yang senang karena sudah mengetahui kebenarannya, aku sangat percaya kepada kak Eril karena dengan kepribadiannya itu tidak mungkin juga dia membohongiku lagipula apa keuntungan yang akan dia dapatkan dari membohongi karyawan rendahan sepertiku ini.


"Aaahh.... Aku merasa sangat lega sekarang, berarti mereka memang hanya penggosip murahan, dasar para penggosip itu membuatku merasa malu saja dihadapan kak Eril" gerutuku sambil berjalan menuju dapur.


Aku segera menyeduh teh manis dan kembali membawanya ke ruanganku lalu mulai melanjutkan pekerjaanku dengan perasaan yang jauh lebih baik, senyum tidak terlepas dari wajahku sedangkan kak Anne dan kak Kris yang melihat itu mereka hanya bisa menatap Elisa dengan tatapan bingung dan keheranan.


"Elisa ada apa?, Kau terlihat sangat senang bukankah sebelumnya kau murung?" Tanya kak Anne penasaran,


"Ah... tidak papa kak, aku hanya sedang memiliki mood yang baik" balasku sambil tersenyum lebar kepadanya.


"Kau benar-benar aneh" balas kak Anne sambil menggelengkan kepalanya.


Aku tidak memperdulikan apapun lagi dan hanya fokus pada pekerjaan di hadapanku, yang terpenting untukku adalah kebenarannya tidak perduli meski orang-orang di sekitar sana menggosipkan aku dengan rumor yang tidak jelas yang penting aku tidak boleh terganggu dengan hal tersebut dan tetap bekerja dengan semaksimal mungkin.


Saking merasa senangnya selama bekerja aku sampai tidak sadar bahwa jam pulang sudah tiba dan kak Anne juga kak Kris langsung menyadarkanku untuk segera pulang.

__ADS_1


"Elisa ayo pulang apa kau mau menginap disini?" Ucap kak Anne memberitahuku,


"Aahh...sudah jam pulang ya, aku pikir belum" balasku yang baru menyadarinya.


"Aishhh kau memang karyawan teladan Elisa, kau boleh tidur di kantor sesukamu" tambah kak Kris menggodaku.


Aku hanya menanggapi ucapan mereka dengan tawa ringan lalu segera mematikan komputerku dan membereskan meja disana, lalu segera berpamitan pada kak Eril untuk pulang lebih dulu, kami bertiga pun pergi bersama hingga keluar dari kantor dan saat aku keluar mobil hitam milik Reksa sudah terparkir tepat di depan kantor dan dia berdiri di samping mobilnya dengan mengenakan setelan yang modis dan kacamata hitam.


Aku kaget saat melihat Reksa dan baru ingat dengan ucapan Reksa saat pagi tadi, aku sungguh merasa malu dan ingin menghindar darinya karena saat aku itu berjalan bersama kak Kris dan kak Anne aku rasa mereka akan merasa penasaran jika sampai mengetahui mengenai Reksa yang menungguku disana dengan mobil mewah dan penampilan mencolok seperti itu.


"Aduh....itu Reksa bagaimana ini, aku harus menghindarinya" gerutuku pelan.


Aku berusaha menutup wajahku dengan kedua tangan namun sialnya baru saja aku hendak membalikkan badan dan berniat bersembunyi di balik badan kak Kris, sialnya Reksa sudah lebih dulu mengetahui keberadaanku dan dia memanggil aku sambil melambaikan tangannya kepadaku.


"Elisa....hey...Elisa, disini" teriaknya sambil melambaikan tangan ke arahku.


Aku tidak bisa mengelak lagi karena dia sudah berjalan ke arahku dan kak Kris juga kak Anne menatap ke arahku dengan kebingungan.


"Elisa kenapa kau bersembunyi, pria itu memanggilmu apa kau tidak mendengarnya" ucap kak Anne padaku,


"AA..aaah...aku, iya aku mendengarnya, kak aku harus pergi lebih dulu ya, sampai jumpa besok kak" ucapku sambil tersenyum melambaikan tangan pada mereka berdua.


Aku segera berjalan cepat dengan terburu-buru menghampiri Reksa dan langsung merangkul Reksa sambil mengunci kepalanya dengan tanganku, aku langsung menarik dia dan membalikkan badan segera untuk meninggalkan tempat itu dengan cepat karena aku tidak ingin kak Anne dan kak Kris mencurigaiku.


"Aaahh....Reksa kau sudah datang ya, ohh maafkan aku membuatmu menunggu ayo....ayo cepat kita pergi secepatnya ayo....Reksa" ucapku sambil terburu-buru menarik dia dengan cepat,


"Heh....heh....heh...ayolah Elisa kenapa kau merangkulku seperti ini, aduh pinggangku bisa patas, aishh....Elisa kau kenapa hey" ucap Reksa berontak.


Aku tetap tidak melepaskannya hingga ketika aku melihat kak Anne dan kak Kris sudah pergi, akhirnya aku pun baru bisa melepaskan dia dan dia segera memarahi aku habis-habisan.


"Aduh...Elisa kau ini kenapa sih, tiba-tiba saja menjadi aneh seperti itu, membuatku merasa heran saja, dan lihat aku sudah berpakaian sangat keren begini kau malah menyeretku dengan cara memalukan seperti tadi, mau ditaruh dimana mukaku sekarang!" Ucap Reksa dengan kesal.


Potret Elisa saat menarik Reksa untuk menjauh dari kak Anne dan kak Kris


__ADS_1


__ADS_2