Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Cemas


__ADS_3

Box pesanan ayam yang dia beli dari restoran tempat ku bekerja, namun dia terus saja membuka semua box ayam itu hingga berserakan ke mana mana dan hasilnya dia malah mengacak ngacak semua ayam itu.


"Hah.... Ayam apaan ini semuanya sudah dingin, dan rasanya tidak enak sama sekali!" Bentak Devinka sambil memuntahkan ayam dari mulutnya,


"Heh!, Kalau kau tidak suka aku tidak perduli sekarang mana bayarannya" bentakku menahan emosi.


Bukannya dia membayar atas pesanan yang sudah dia acak acak, justru dia malah semakin membuatku kesal dan menolak untuk membayar semua pesanan yang sudah dia hancurkan.


"Siapa yang mau membayar ayam samp*h seperti ini, aku tidak sudi membayarnya" ucap Devinka berlenggang pergi hendak masuk ke dalam rumah meninggalkanku.


Aku langsung bergerak cepat mencegah dia kabur dari tanggung jawabnya, untunglah aku berhasil menahan tangannya itu.


"Mau ke mana kau?, Jangan mentang mentang kau orang kaya bisa menindasku seenaknya, kau sudah merusak semua ayamnya bahkan kau sudah memakannya jelas kau harus mengganti rugi!" Ucapku dengan tegas.


"Sudah ku bilang sebelumnya aku hanya akan membayar jika ayamnya masih dalam keadaan hangat dan sekarang bahkan ayamnya sangat dingin apa aku pantas membayarnya hah?" Bentak Devinka dengan wajah sombongnya itu.


Dia menghempaskan tanganku dan masuk ke dalam rumahnya begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun aku juga tidak bisa menahannya lagi dan tak bisa berbuat banyak, meski aku sudah mengetuk pintu rumahnya berkali kali tetap saja dia tidak keluar dari sana.


"Euhh .....dasar manusia si*lan, bagaimana dengan semua ini" gerutuku kesal.


Aku pun segera membereskan beberapa box ayam yang masih tersisa dan nampak masih utuh aku memasukkan kembali ke dalam box di motorku dan segera aku pergi dari sana dengan perasaan yang tidak menentu, sepanjang perjalanan hatiku sudah merasa takut dan cemas aku sungguh tidak berani menghadap kepada bos, karena aku yakin dia pasti akan memarahiku habis habisan.


Saat sampai di depan restoran aku mulai masuk ke dalam perlahan hingga bos datang menghampiriku dan mulai menanyakan setoran dari ayam tersebut.


"Elisa...akhirnya kamu sampai juga, mana uangnya kita sudah mau tutup nih" ucap bos menanyakan uang itu,

__ADS_1


"Ma...maaf bos tapi orang tadi tidak mau membayar ayamnya dan dia merusak semua ayam kita hanya sisa beberapa yang bisa saya selamatkan" ucapku meminta maaf dan menunduk dengan lesu,


Mendengar itu bos langsung membentakku dan dia memarahiku dengan kencang bahkan dihadapan beberapa karyawan lain.


"Apa?, Aishhh...kau ini baru juga bekerja di sini beberapa hari sudah membuat kerugian sebesar ini, hah...kalau begini gajih kamu saya potong untuk membayar kerugiannya" bentak bos sambil memukul meja dengan keras.


Aku sempat kaget karena baru pertama kali melihat bos dengan mata merah dan marah sebesar tadi padaku, aku tau kerugiannya pasti sangat besar di bon nya saja total semua ayam itu mencapai 500 ribu rupiah sedangkan gajihku di sana hanya satu juta setengah, uangku akan raib hanya mengganti pesanan yang Devinka hancurkan.


"Euhhhh.....semua ini karena Devinka, kenapa dia selalu membuat hidupku sulit...." Gerutu ku sambil mengepalkan kedua tangan sekuat tenaga.


Aku sungguh emosi dan marah tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah semuanya sudah terjadi dan gajih pertamaku akan kena potong karena semua itu, aku pergi pulang ke kosan dengan membawa sisa ayam sebelumnya, karena kejadian itu bahkan aku harus makan dengan ayam terus menerus selama beberapa hari untuk mengirit pengeluaran dan menghabiskan semua ayam itu sendiri.


*****


Hari ini setelah selesai ngampus aku berniat pergi menemui Lili ke rumahnya meski aku tau apa yang akan aku dapatkan dari kedua orang tuanya namun aku harus tetap memberanikan diri demi Lili.


"Lili kemana yah, apa dia sakit atau karena kedua orangtuanya, aku harus segera mencari tau" gumamku sudah bertekad.


Aku mempercepat langkahku dan segera pergi menuju kediaman Lili hingga sesampainya aku di sana nampak rumah Lili begitu sepi bahkan lebih sepi dari biasanya aku mengetuk pintu rumahnya berkali kali dan menekan bel di samping pintu sesekali namun sudah cukup lama aku berdiri di depan pintu tidak ada sahutan ataupun orang yang membuka pintu. Aku semakin khawatir dan mencoba menghubungi Lili lewat ponselnya.


Pertama aku coba mengirimnya pesan karena aku takut jika menelpon dan diketahui oleh ibu Lili pasti ponsel Lili akan dirampas dan membuatku semakin kesulitan untuk menghubunginya.


Aku menunggu balasan pesan dari Lili sambil berjalan mondar mandir di depan rumahnya sampai tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke halaman rumah tersebut dan berhenti di depan teras rumah tepat di hadapanku.


Aku langsung menunduk karena tau itu adalah mobil yang sering dipakai oleh ayah ataupun ibunya Lili dan ternyata benar saja kedua orang tua Lili keluar dari mobil begitu juga dengan Lili yang menyusul di belakang mereka, aku sangat lega saat melihat Lili baik baik saja.

__ADS_1


"Li...Lili kamu baik baik saja aku sangat senang bisa melihatmu, kenapa kamu tidak masuk kuliah?" Tanyaku refleks dan mengabaikan keberadaan dua macam yang menatapku dengan tajam seakan siap menerkam kapan saja,


Lili terus menunduk dan mengabaikanmu dia sama sekali tidak melihat apalagi membalas perkataan dariku.


"Maafkan aku Elisa....aku bukan sahabat yang tepat untukmu" gumam Lili merasa bersalah,


Saat aku hendak menghampiri tanganku ditarik dan aku di dorong begitu saja dengan kuat hingga jatuh tersungkur ke lantai.


"Heh...saya sudah memperingatiku untuk tidak mendekati putri saya lagi, dan sekarang kamu bahkan berani datang ke rumah saya....pak...pak satpam usir dia!" Ucap ibu Lili dengan mata yang merah melotot dan dia memanggil satpam berteriak dengan keras.


Aku segera bangkit meski tanganku sedikit sakit aku mengabaikan semua sakit di tubuh dan hatiku aku terus berusaha memohon pada ibu Lili agar dia mengijinkanmu tetap bertemu dengan Lili walau itu jadi yang terakhir kalinya.


"Tan...Tante saya mohon, tolong jangan pisahkan saya dengan Lili, saya sama sekali tidak pernah memanfaatkan Lili, atau kalau tidak saya janji tidak akan bersama Lili lagi tapi tolong ijinkan dia kembali ke kampus, saya mohon Tante" ucapku memohon di bawah kakinya,


Ibu Lili tetap tak mau memberikan sedikitpun kesempatan padaku dia malah kembali menendang kakinya hingga lagi lagi membuatku terpental ke belakang cukup keras,


"Minggir kau!, Berani beraninya memegang kakiku dengan tangan miskin mu itu" bentak ibu Lili yang membuatku sungguh merasa terhina.


Aku bangkit berdiri dan mencoba meraih tangan Lili aku ingin dia membelaku saat itu namun nyatanya Lili justru pergi begitu saja karena dia ditarik paksa oleh ayahnya agar masuk ke dalam rumah.


"Ayo...Lili ikut ayah jangan mengotori tanganmu dengan orang sepertinya" ucap ayah Lili sambil terus menarik Lili ke dalam rumah dengan paksa,


"Elisa...ell..aku minta maaf Ell...." Teriak Lili dengan mata yang berkaca kaca.


"Dengar baik baik...mulai saat ini saya sudah memindahkan kelas Lili dan kamu jangan coba coba mendekatinya, sekali lagi saya melihat kamu bersama putri saya, akan saya pastikan Lili dipindahkan ke luar negeri selamanya!, Apa kau paham!" Bentak ibu Lili sambil berlenggang pergi meninggalkanku.

__ADS_1


__ADS_2