
Disaat kita bertiga baru saja ingin duduk di kursi sayangnya seorang wanita hamil dengan suaminya itu datang lebih dulu ke sana dan mereka menduduki satu-satunya kursi panjang yang tersisa, melihat ibu itu dengan perut hamilnya yang besar tentu saja kami tidak tega untuk mengusirnya dan alhasil kami bertiga hanya bisa berjongkok di tengah jalan dengan perasaan lelah dan campur aduk.
Aku sungguh tidak kuat lagi untuk kembali bermain permainan yang ada di taman hiburan tersebut, aku hanya berjongkok dengan menengadahkan tangan ke depan karena merasa hujan perlahan mulai turun.
Saat itu di sampingku ada Reksa dan di sebelahnya lagi ada Devinka, aku bertanya kepada mereka dan menyuruh mereka untuk melakukan hal yang sama denganku.
"Ehh...apa turun hujan? Coba deh kalian rasakan" ucapku kepada mereka.
Devinka dan Reksa mengikuti apa yang aku lakukan tapi ternyata itu hanya gerimis kecil dan beberapa orang yang melewati kami justru malah melemparkan koin dan uang recehan lainnya pada telapak tangan Devinka.
Saat itu aku dan Reksa langsung membelalakkan mata dengan kaget, tidak pernah sedikitpun aku mengira bahwa seorang Devinka akan dikira sebagai pengemis oleh orang lain, karena pakaiannya terlihat sangat mahal dan semuanya barang-barang branded, tapi ibu-ibu itu malah memberikannya uang koin.
"Wahhh ...Devinka apa ini sebuah penghinaan?" Ucap Reksa sambil menelan salivanya susah payah,
"Devinka jangan marah, tahan dirimu mereka tidak tahu apa-apa, jangan mengamuk disini aku mohon bersabarlah" ucapku sambil menepuk pundaknya pelan.
Aku harus menahan Devinka karena saat itu wajahnya sudah perlahan memarahi dan dia menggenggam uang koin yang ada di tangannya dengan kuat, aku tahu dia sedang menahan emosi yang menggebu di dalam hatinya kala itu, sampai ternyata usahaku untuk membuatnya tetap sabar tidak berhasil.
Devinka tetap marah dan dia langsung bangkit berdiri lalu melemparkan koin itu ke sembarang arah sambil berteriak sangat kencang.
"Aaarrkkk....." Teriak Devinka sambil melemparkan koin tersebut.
Aku dan Reksa hanya menatap terkejut karena Devinka justru malah melemparkan koin tersebut basa seekor anjing yang tengah di bawa jalan-jalan oleh pemiliknya dan anjing itu terlihat sangat besar juga berbulu hitam, aku sangat takut saat melihatnya dan mulai memiliki firasat yang buruk.
"Guk....guk.....gog...." Suara anjing itu terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Reksa apa kau tahu sekarang kita harus apa?" Tanyaku pada Reksa sambil memegangi pakaiannya.
Aku sangat gugup dan takut tapi Reksa mulai melepaskan tanganku yang memegangi pakaiannya itu.
"Tidak Elisa....tidak ada yang bisa dilakukan, kalian jangan lari oke....anjing itu akan mengejar jika kita lari, tenang oke ....tenang" ucap Reksa menenangkan.
Aku mengangguk mengerti tapi tidak lama dari itu Reksa justru langsung lari lebih dulu meninggalkan aku dengan Devinka disana dan anjing besar itu juga langsung berlari ke arah kami karena ikatan yang di pegang oleh pemiliknya terlepas.
"Hoaaaaa.....lariii!" Teriakku sangat kencang dan panik.
Aku langsung berlari sekencang yang aku bisa dan terus berlari tanpa henti, hingga aku terpaksa harus bersembunyi di balik penjual jagung bakar yang ada disana, untunglah penjual itu baik karena memperbolehkan aku bersembunyi di balik barang dagangannya, sedangkan bisa aku lihat anjing itu mengejar Reksa dan Devinka berdiri di sebrang sana dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Fffff.....fhahaha....rasakan itu haha siapa suruh kau berlari lebih dulu haha, ayo anjing baik kejar terus dia" teriakku menertawakan Reksa.
Aku sangat puas ketika melihatnya terus berlari sangat kencang dikerja oleh anjing hitam tersebut, sedangkan pemilik anjingnya mengikuti di belakang, dia berusaha untuk menangkan anjing peliharaannya dan Reksa terpaksa harus memanjat sebuah tiang lampu untuk menghindari anjing tersebut.
"Aaahhh...beky ternyata kamu disini yah, maaf anak muda beky memang sering seperti ini, maafkan saya" ucap pemilik anjing itu dan segera pergi dari sana.
Reksa segera turun dengan lesu dan dia terduduk lemas sambil memeluk tiang lampu itu dengan lemas, sedangkan Devinka terus tertawa dengan puas melihat keadaan Reksa yang kelelahan dengan pakaian yang acak-acakan seperti itu.
Aku juga sebenarnya ingin menertawakan Reksa dan sedikit kesal kepadanya karena dia juga berlari meninggalkan aku lebih dulu saat anjing itu mengejar kami, tapi ketika melihat dia lemah seperti itu aku tidak tega untuk menertawakannya lagi dan aku sedikit kesal melihat Devinka terus menertawakan Reksa dengan puas seperti itu.
"Ahaha....rasakan itu Reksa, kau meninggalkan aku disaat anjing itu mengejar, ini adalah karma untukmu ahaha.... Kau seperti udang rebus, lihat wajahmu itu ahaha...kau sudah mirip seperti pemilik anjingnya tadi" ucap Devinka mengolok-olok Reksa.
"DEVINKA!" Bentakku cukup keras hingga langsung membuat Devinka terdiam dan berhenti menertawakan Reksa,
"Apa? Kenapa kau berani membentakku dengan memasang wajah seperti itu?" Tanya Devinka terlihat tidak senang,
__ADS_1
"Sudah cukup, kau tidak perlu terus menertawakan Reksa seperti itu, bagaimana pun juga semua ini terjadi karena ulahmu, kau yang melemparkan koinnya sembarangan sampai mengenai anjing itu makanya dia mengejar kita" balasku kepadanya.
Devinka hanya terlihat acuh tak acuh dan tidak terlihat sedikitpun rasa bersalah dalam dirinya atau meminta maaf kepada Reksa saat itu.
"CK....dasar kau keras kepala, ayo Reksa aku bantu kau berdiri" ucapku menatap sinis pada Devinka dan langsung menolong Reksa.
Devinka terlihat cemberut dan dia memalingkan pandangannya lalu pergi meninggalkan kami lebih dulu, aku sangat kesal dengan kelakuannya itu, dia tidak ada niatan sedikitpun untuk membantuku memapah Reksa dan dia terus saja berjalan dengan santai dan tidak perduli melihat aku yang kesulitan memapah Reksa.
"Eugghhh...dasar si Devinka manusia batu, apa dia itu benar sahabatmu atau bukan sih?" Bentakku menggerutu kesal,
"Sudahlah Elisa kita sabar saja, dia memang terlahir seperti itu, tidak ada yang bisa mengubahnya" balas Reksa yang sudah pasrah.
Aku tetap tidak bisa menerima itu dan aku berteriak memanggilnya lagi.
"Tidak bisa, aku tida sabar sepertimu Reksa jadi aku akan memanggilnya" balasku pada Reksa.
Walau Reksa sudah menahanku tapi aku tetap tidak akan membiarkan orang seperti Devinka terus tumbuh tanpa rasa sosial seperti itu, dia terlihat seperti bukan manusia jika hatinya tidak tersentuh bahkan ketika melihat sahabatnya sendiri yang paling setia kepada dia tidak berdaya begini.
"DEVINKA, berhenti kau!" Teriakku memanggilnya.
Dia langsung membalikkan badan dan aku menatapnya dengan tajam lalu terus berjalan menghampiri dia sambil memapah Reksa pelan.
"Devinka bantu aku, aku tidak kuat memapah Reksa seorang diri" ucapku meminta bantuannya secara baik-baik.
"Tidak, kau bawa saja dia sendiri" balasnya membuatku semakin kesal.
"Devinka apa kau ini sahabatnya atau bukan, kau tega melihat dia seperti ini hah?" Bentakku lagi.
__ADS_1
Sampai akhirnya Devinka langsung mengambil tangan Reksa dan memapah Reksa bersamaku hingga sampai di depan mobil, kami segera membantu Reksa untuk masuk ke dalam dan aku berniat untuk duduk di belakang bersama Reksa, namun sialnya Devinka menahan tanganku dan dia langsung menutup pintu belakang dengan cepat.