
Aku tak bisa berbuat banyak setelah mendapatkan banyak penolakkan dan diusir oleh ibu Lili, aku pun memutuskan untuk pergi ke tempat kerja daripada harus larut dalam kesedihan, aku paham mulai sekarang semakin aku dekat dengan Lili justru itu akan membuat masa depan Lili sulit dan itu juga akan semakin membuat ibunya menjauhkan Lili dariku.
Aku tidak mau jika sampai Lili benar benar di kirim oleh kedua orangtuanya ke luar negeri, aku juga mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi jika itu terjadi.
Aku terus berusaha untuk tidak merasa sedih dan menjatuhkan air mata selama perjalanan menuju ke tempat kerja, tapi sekuat apapun aku berusaha melupakan kejadian sebelumnya, tetap saja otakku itu terus terbayang dengan ancaman yang diberikan oleh ibu nya Lili padaku.
Hingga aku tidak sadar kalau ban motorku bocor, dan aku segera mengesampingkan motorku ke tepi jalan. Aku turun dan mulai memeriksa ban motorku satu persatu.
"Aduh....kenapa harus bocor begini, mana ke restoran masih jauh, di mana juga ada tambal ban sekitaran sini, jalan nya sepi begini lagi" ucapku setelah memeriksa ban belakang motorku,
Terpaksa aku harus mendorong motor itu seorang diri selama beberapa menit, keringatku sudah bercucuran hingga baju belakangku sudah habis basah kuyup dengan keringat aku berhenti sejenak untuk beristirahat dan mengikat rambut panjangku untuk membuatku sedikit merasa sejuk dan melepas kegerahan.
Saat aku hendak bersiap kembali mendorong motorku tiba tiba saja sebuah botol minum bekas melayang dan tepat mengenai jidatku dengan kuat hingga membuatku meringis kesakitan.
"Awwww....siapa ini yang melempar botol sembarangan!" Bentakku sambil memegangi jidatku,
Saat aku menengok ke kanan ternyata itu adalah Devinka yang keluar dari mobilnya dengan berjalan penuh keangkuhan dan mengejekku.
"Ahaha...rasakan itu dasar kau kurir ayam, bagaimana apa enak terkena botol bekas minum ku?" Ucap Devinka sambil menertawaiku,
Aku kesal saat tau ternyata dia yang melempar botol itu hingga mengenai jidatku, aku bahkan tidak tau mungkin sekarang jidatku akan merah dan lebam karena ulah Devinka.
"DEVINKA....kenapa sih Lo selalu muncul di depan gue, setiap kali ada Lo gue pasti sial, jangan jangan ban motor gue kempes juga karena kedatangan Lo ya..., eughhh" gerutuku kesal dan memegang botol tadi dengan kuat hingga ringsek.
__ADS_1
"Kenapa Lo mau marah?, memangnya Lo berani sama gue hah?, Sekali Lo berani ngelawan gue, awas aja gue bakal buat beasiswa Lo di cabut dari universitas!" Ancam Devinka saat aku sudah bersiap untuk melemparkan kembali botol tadi pada wajahnya.
Mendengar ancaman itu aku menahan emosiku dan mengurungkan niatku yang tadinya ingin melempar kembali botol tersebut ke wajahnya, akhirnya aku lempar botol itu ke bawah kakinya dan langsung pergi meninggalkan dia sambil mendorong motorku dengan kuat, karena tengah marah rasa lelah dalam diriku seketika hilang aku menjadi jauh lebih bersemangat mendorong motorku karena sangat benci berlama lama bertemu orang seperti Devinka.
"Sabar Elisa...sabar....biarkan saja dia lagi pula ini hanya merah dan lebam sedikit, nanti dikompres sedikit juga sembuh" ucapku berusaha menurunkan emosiku.
Tak lama akhirnya aku sampai di sebuah bengkel kecil dan aku langsung memasukkan motorku ke bengkel tersebut untuk tambah angin namun rupanya motorku itu menginjak paku yang cukup meninggalkan lubang besar sehingga butuh di tambal, aku pun menuruti apa yang di bilang sang pemilik bengkel, bagiku yang penting motorku bisa kembali aku pakai.
"Lakukan saja apa yang bagus untuk motor saya pak" ucapku menunggu di salah satu kursi,
Saat tengah menunggu aku pikir Devinka tidak mengikutiku, namun rupanya dia mengikutiku dari belakang dan dia juga berhenti di bengkel tersebut, tentu saja emosiku langsung tersulit bahkan sebelum dia keluar dari mobilnya.
"Itu kan mobil si manusia sombong, ngapain dia ikut ikutan kemari, menyebalkan" gumamku sangat tidak senang,
Saat dia turun dari mobil siapa sangka semua orang yang ada di bengkel tiba tiba saja menghentikan pekerjaan mereka dan memberi hormat pada Devinka, barulah setelah itu mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Selamat datang tuan, ada yang perlu saya bantu tuan?" Ucap seseorang yang nampak terlihat seperti pemilik bengkel itu,
Aku mengerutkan dahiku seketika dan merasa sangat heran saat mendengar orang tua itu memanggil Devinka dengan sebutan tuan dan memberi hormat dengan membungkuk kepada Divinka.
Tapi karena aku tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain aku mengabaikannya saja sampai tiba tiba Devinka berjalan ke arahku dan aku mulai merasa akan ada masalah lagi yang dia timbulkan untukku.
"Heh...berhenti, untuk apa kau mengikutiku kemari, aku malas berdebat denganmu jangan berjalan mendekatiku, pergi kau jauh jauh" ucapku dengan sinis,
__ADS_1
Tiba tiba saja mata semua orang yang ada di sana menatapku dengan tatapan aneh dan mereka saling berbisik satu sama lain, aku semakin aneh karena merasa menjadi pusat perhatian.
"Kenapa mereka tiba tiba menatapku begitu, memangnya aku melakukan apa?" Gumamku heran,
"Heh, kenapa kau diam dan clingukan, apa kau mulai sadar bahwa mah itu tidak tau sopan santun" ucap Devinka dengan kedua tangan yang dia lipatkan di dadanya,
"Hah....siapa yang tidak tau sopan santun di sini aku atau kau, kau yang mengikutiku kan" bentakku semakin kencang,
"Kau....dasar kau cewek kampung tak tahu malu" ucap Devinka melotot kepadaku,
"Apa...aku tidak pernah takut padamu, aku membencimu!" Ucapku saking kesalnya.
Aku segera mengambil motorku yang baru selesai di tambal dan aku memeriksanya perlahan lalu langsung aku lajukan dengan cepat meninggalkan tempat itu, saking terburu burunya aku bahkan lupa untuk membayar ongkos tambal ban motorku ke bengkel itu.
"Eh...neng...neng...tunggu kamu belum membayarnya neng...." Teriak bapak bapak yang memperbaiki ban motorku.
Aku sebenarnya mendengar dengan jelas teriakan bapak bapak itu namun aku tidak bisa kembali ke sana karena masih ada Devinka juga Reksa, kalau aku kembali ke sana saat itu, aku yakin mereka akan semakin mengejekku dan membuatku kesal juga malu bertambah jadi satu.
"Aduhh....Elisa kenapa kamu pake lupa buat bayar sih, bagaimana sekarang, apa aku bayar nanti saja yah saat aku pulang kerja...iya deh nanti saja dari pada bertemu lagi dengan pria sombong itu kan" ucapku menggerutu.
Aku pun sampai di restoran dan langsung bekerja seperti biasa, aku terus mengirimkan semua pesanan konsumen dan hari ini banyak sekali konsumen yang puas dengan pelayananku, banyak juga diantara mereka yang memberikan aku tip cukup banyak.
Selesai mengirimkan banyak pesanan aku beristirahat sejenak di warteg langgananku, aku mengisi perut di sana hingga kenyang dan beristirahat untuk beberapa saat, sembari aku melihat jadwal berikutnya untukku mengantar pesanan lainnya.
__ADS_1