Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Di culik


__ADS_3

Aku tahu ada obat bius di kain itu sehingga perlahan membuatku merasa lemas aku berusaha untuk tidak menghirupnya namun mungkin aku bisa mati jika terus berusaha menahan nafas, aku terlalu panik untuk berpikir jernih sampai akhirnya aku kehilangan kesadaran karena di bius oleh Ciko.


"Ciko aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini" gumamku dalam hati penuh dendam sebelum aku benar benar kehilangan kesadaran.


Itu adalah gumaman terakhir yang aku sadari hingga aku kehilangan kesadaran sepenuhnya, dan aku tidak tahu apa yang terjadi di saat aku pingsan.


Dika yang melihat Ciko melakukan itu pada Elisa dia langsung membentak Ciko dengan keras.


"Ciko apa kau gila?, Kenapa kau sungguh membiusnya bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?" Bentak Dika dengan wajah yang marah,


"Ini hanya obat bius dosis ringan dia akan bangun saat efek obatnya hilang dalam beberapa menit, kau tidak perlu mencemaskan dia berlebihan seperti ini" ujar Ciko masih dengan keras kepala,


"Bagaimanapun dia ini anak orang kau tidak bisa memperlakukannya seenaknya" balas Dika masih kesal,


"Dia itu sebatang kara apa kau lupa, bukankah semua orang di kampus tahu itu, jadi sekalipun dia mati tidak akan ada yang mencarinya" jawab Ciko dengan sinis.


Mendengar ucapan kasar dari Ciko,.Dika sudah kehabisan kesabaran dan dia menghentikan mobil saat itu juga lalu dia mengusir Ciko dari mobilnya.


"Keluar kau!, Cepat keluar" bentak Dika dengan suara yang tinggi.


Ciko yang melihat itu terjadi pada Dika untuk pertama kalinya dia sangat kaget namun dia tetap segera turun dari mobil itu walau dengan perasaan yang kesal.


"Baik aku akan keluar" ujar Ciko dan langsung keluar.


Saat baru saja Ciko menutup pintu mobil, Dika langsung menginjak pedal gas dan meninggalkan Ciko di jalanan sepi yang jauh dari mana mana.


Ciko menggerutu kesal dan merutuki Dika dengan semua kekesalannya lalu dia segera menghubungi Reksa untuk menjemputnya.


Sedangkan Dika dia juga kembali berhenti dan memindahkan Elisa ke bangku depan lalu membenarkan posisi duduknya serta memasangkan sabuk pengaman padanya, Dika adalah pria yang paling baik diantara mereka ber empat meski wajahnya terlihat cool namun dia selalu memperlakukan siapapun dengan baik dan rasa hormat.

__ADS_1


Setelah memastikan Elisa duduk dengan nyaman Dika pun melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Devinka hingga sesampainya di sana Dika segera menggendong Elisa karena dia belum sadar juga padahal saat itu sudah hampir 30 menit.


Dika sudah berusaha menahan emosinya sedari tadi karena sudah berkali kali berusaha membangunkan Elisa tapi dia tak kunjung sadarkan diri juga.


Saat pertama kali membawa masuk Elisa ke kediaman Devinka, Dika langsung menidurkannya di sofa di mana di sana juga ada Devinka yang tengah asik bermain game.


Betapa kagetnya Devinka saat melihat Dika menggendong musuhnya sendiri dan menidurkannya di sofa mahal miliknya.


"Heh, Dika apa yang sudah kau lakukan?, Kenapa kau membawa cewek ayam ini kemari?" Bentak Devinka kaget dan marah,


"Bukankah kau memerintahkan Reksa untuk menyuruhku membawa Elisa ke rumahmu karena kalian bertengkar di perusahaan dan harus menyelesaikan tugas kelompok yang tertunda ya?" Jawab Dika yang tak kalah kaget.


"Hah, apa apaan si Reksa ini, asal kau tahu aku sangat membencinya dan aku tidak pernah meminta Reksa melakukan itu padamu dan Ciko!" Jawab Devinka dengan serius.


Dika merasa kesal dan dia hanya bisa membuang nafas kasar sambil berdecak kesal karena ternyata dia sudah ditipu oleh Reksa.


"Eh, hai guys ternyata kalian sudah di sini ya hehe" ucap Reksa yang mulai ketakutan.


"Aahhh gawat mereka pasti sudah tahu ini ulahku" gumam Reksa dalam hatinya.


Meski dalam keadaan genting seperti itu, Reksa masih bisa memperlihatkan wajah polos andalannya dan dia bersikap seakan semua baik baik saja meski dia tahu bahwa saat itu dia sedang dihadapkan oleh dua serigala dan satu banteng yang siap memangsanya kapanpun.


"Ahh...kenapa kalian berdua menatapku begitu?" Tanya Reksa mulai memasang wajah polos nya.


Melihat wajah Reksa yang masih tidak merasa bersalah setelah membohongi temannya sendiri, Dika dan Devinka tak bisa menahan kekesalan mereka dan langsung saja Dika menarik Reksa lalu Devinka mulai menghajarnya habis habisan.


"Reksa kau...." Ucap Dika dan menarik lengan Reksa tanpa aba aba.


"Bug...bug...bug, rasakan ini beraninya kau membohongiku" bentak Devinka sambil meluncurkan kan tinjunya.

__ADS_1


"Aa...ampun..aa..berhenti kalian tega sekali memukuliku" teriak Reksa meminta ampun.


Ciko hanya berdiri mematung melihat ketika temannya sibuk berkelahi dan dia hanya duduk santai sambil menghembuskan nafas perlahan dengan malas.


"Haaaahh....dasar tiga bocah ini, aku sudah tahu Reksa pasti berbohong karena tidak mungkin Devinka meminta kita menculik perempuan itu tiba tiba" ujar Ciko yang membuat pertarungan mereka berhenti.


Ketiga pemuda itu kembali duduk dengan memalingkan pandangan pada Ciko dengan tajam terutama Dika yang merasa sangat tertipu di sini.


"Ciko jika kau tahu kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, aishh" ujar Dika,


"Karena kau tidak akan mendengarkan ku apalagi itu hanya dugaanku saja" balas Ciko yang memang ada benarnya.


Melihat betapa tegangnya suasana di sana, Reksa pun mulai berusaha menenangkan ketiga temannya itu meski dia sudah cukup tersiksa dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena Dika dan Devinka.


"Eishh...sudah sudah aku memang membohongi kalian mengenai Devinka tapi tadi dia memang bertengkar hebat dengan Elisa sehingga tugas kami tidak bisa diselesaikan" ungkap Reksa berkata jujur,


"Lalu apa hubungannya masalah kalian bertiga denganku?" Tanya Ciko yang nampak acuh tak perduli,


"Tentu saja ada hubungannya aku dan Devinka ini kan teman kalian tentu saja kalian harus membantu kami menyelesaikan masalah ini" jawab Reksa dengan kuat,


"Kalian bisa membuat laporan itu masing masing sendiri" jawab Dika kembali dingin,


"Tadinya begitu tidak papa.tapi masalahnya dosen yang memberikan kami tugas itu dosen killer dia tidak akan meluluskan kami bertiga jika itu terjadi dan dia akan terus menilai kita buruk dalam pekerjaan kelompok karena tidak kompak, aku baru tahu kekejaman dosen itu setelah beberapa mahasiswa lain mengatakannya" ujar Reksa menjelaskan,


"Kau kan punya banyak uang Devinka juga cukup berpengaruh di kampus apa kalian harus melibatkan Elisa dalam hal ini ha?" Bentak Dika yang bereaksi terlalu berlebihan,


"Tidak bisa dosen itu anti so*okan, dia bersih dan kejam seandainya bisa mungkin hanya Devinka yang akan dia loloskan lalu bagaimana denganku apalagi Elisa yang hanya mahasiswa biasa" ungkap Reksa dengan memasang wajah menyedihkan.


Devinka, Ciko dan Dika mereka menggelar nafas panjang dan memegangi keningnya saat melihat wajah Reksa yang begitu menyebalkan saat memasang wajah menyedihkan seperti itu sehingga membuat mereka benci melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2