Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Ciko yang menyebalkan


__ADS_3

Elisa tak tahan dengan wajah Reksa dia tahu Reksa tidak bermaksud berbuat jahat padanya dan ini hanya sebuah ke salah pahaman namun cara Ciko yang membiusnya benar benar tak bisa dia maklumi begitu saja.


"Reksa aku memaafkan mu dan aku minta jangan pernah melakukan hal konyol seperti ini lagi, kita juga tidak se dekat itu kau seharusnya mengerti" jawabku memperingati Reksa.


Aku memaafkan Reksa karena selama ini hanya dia yang berada di pihak ku dia yang banyak membantu dan membelaku ketika aku selalu bertengkar dengan Devinka dia juga tidak pernah merendahkan ku makanya aku menghargai kebaikan dia dengan tidak mempermasalahkan urusan ini lebih jauh.


Reksa yang mendengarkan ucapan serta peringatan dariku dia nampak begitu murung dan mengubah ekspresi wajahnya secara tiba tiba sehingga aku sedikit merasa bersalah ketika melihat dia kembali meminta maaf kepadaku.


"Iya Elisa, aku minta maaf yah, tapi tolong jangan katakan kalau kita tidak dekat sebelumnya aku tidak pernah menemukan teman perempuan sehebat kau kau berarti untukku dan aku harap kau juga begitu padaku" jawab Reksa sambil menghembuskan nafas di depanku.


Melihatnya memasang wajah yang begitu menyedihkan bagaimana bisa aku menolak pria sepolos dan sebaik dia lagi pula meski karakternya itu sulit di tebak dia tetaplah Reksa yang selalu membantuku, lagi pula niatnya itu baik hanya Ciko saja yang sialan dan tak tahu diri malah membius ku seenaknya.


"Haaahh....baiklah aku tidak akan berkata seperti itu itu lagi, tapi Reksa kau itu seperti bocah jika memasang wajah seperti itu, ku pikir kau pria nakal' sama dengan Devinka" ujarku keluar dari mulut begitu saja.


Entah dari mana aku bisa memiliki keberanian membandingkan Reksa dengan Devinka di hadapan ketiga temannya sekaligus, mereka langsung menatapku dengan mata yang membelalak sempurna, aku susah payah menelan salivaku seakan aku berada di ujung kematian saat itu.


"Ahh?, Elisa apa aku tidak salah dengar, barusan kau membandingkan aku dengan Devinka?" Tanya Reksa yang malah memperjelas ucapanku,


"A..ah..tidak kok haha tentu saja tidak niatku bukan ke sana aku hanya berpikir kau bersikap sedikit lebih baik daripada si bodoh Devinka itu" ucapku yang lagi lagi malah keceplosan mengejek Devinka.


"Ya ampun Elisa sekarang aku semakin yakin kalau telingaku masih sehat dan aku bisa mendengar ucapanku dengan sangat baik" jawab Reksa sambil menggelengkan kepala dan menatapku serius,


"Hah, kau akan dalam bahaya jika Devinka mengetahuinya" ujar Ciko dengan tatapan acuhnya,


"Ciko jangan coba coba kau akan mengadukannya pada Devinka dia bisa membuat Elisa dalam bahaya" ucap Reksa yang masih mau membelaku,


Aku sungguh kaget dan kagum melihat Reksa yang selalu membelaku sampai aku tiba tiba saja berpikir yang aneh mengenainya serta semua kebaikannya kepadaku selama ini.

__ADS_1


"Kenapa anak ini baik sekali padaku?, Apa jangan jangan dia menyukaiku?, Aaaa tidak ini pasti kesalahan dia tidak mungkin kan menyukai wanita miskin sepertiku" gumamku dalam hati,


"Tentu saja aku akan mengadukannya pada Devinka" jawab Ciko dengan senyum sinis menatapku,


Pikiranku tentang Reksa langsung buyar saat mendengar ucapan Ciko saat itu juga, dia adalah pria paling menjengkelkan dan menyebalkan setelah Devinka, bahkan aku akan menentang Lili untuk menyukainya sampai kapanpun.


"Aishhh dia sangat menjengkelkan, seandainya Lili mengetahui sikap aslinya begini aku yakin dia juga tidak akan menyukainya lagi" gerutuku dalam hati.


"Sudahlah Ciko ini kan hanya masalah sepele tolong jangan di perpanjang lagi pula kau kan sudah berjanji pada Reksa untuk meminta maaf pada Elisa, apa begini sikapmu padanya" ucap Dika mulai menyadarkan Ciko.


Dia menghembuskan nafas kasar dan berjalan mendekatiku, aku terus menatapnya dengan penuh kebencian dan kesal sepanjang waktu.


"Arghhh jiga bukan demi Reksa aku tidak akan menurunkan derajaku sampai harus meminta maaf pada wanita miskin dan konyol sepertinya" gumam Ciko menahan kekesalannya.


Ciko adalah pria yang paling mementingkan image dan selalu tahan gengsi dia tidak pernah mau menurunkan standar gengsinya itu kepada siapapun kecuali pada ketiga sahabatnya dan kini dia justru di tuntun untuk meminta maaf kepada Elisa secara langsung yang jelas Elisa hanyalah orang asing baginya.


"Heh, kau ini mau meminta maaf atau membunuhku?, Kenapa malah memberiku tatapan maut" bentakku padanya,


"Maaf" ucap Ciko sangat pelan sampai aku hampir tidak mendengarnya,


"Eh...apa?, apa yang kau katakan barusan aku tidak bisa mendengarnya?" Tanyaku padanya,


"Maaf" katanya lagi dengan singkat, padat dan jelas.


Walau dia sudah mengatakan maaf padaku tapi caranya meminta maaf tidak seperti orang yang bersalah dan dia sama sekali tidak meminta maaf dengan benar, aku tidak terima dengan caranya berminta maaf sehingga aku sengaja sedikit mempermainkan agar dia bisa jera juga dan tidak melakukan apapun seenaknya kepada siapapun.


Dengan begitu aku berpura pura tetap tidak mendengar ucapan maaf nya.

__ADS_1


"Eihhh apa yang sebenarnya kau sampaikan padaku, bicaramu terlalu pelan dan cepat sehingga aku sulit memahaminya bahkan untuk mendengarnya itu tidak jelas" kataku kepadanya,


"Ciko meminta maaflah dengan benar aku juga tidak mendengar perkataan mu barusan" ujar Reksa,


"Minta maaf lah dengan tulus Ciko, itu tidak akan menurunkan derajat dan gangsimu sedikitpun, lagi pula tidak ada orang yang bisa mengetahuinya aku akan pastikan itu" ujar Dika berusaha membujuk Ciko agar menuruti ucapannya dan meminta maaf dengan baik padaku.


Ciko yang terdesak dia mulai mengatur nafasnya dan berusaha bersikap baik di hadapanku saat ini hingga akhirnya dia kembali mengucapkan permintaan maafnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Haaahh. Elisa maafkan aku, ini semua salahku dan aku sadar aku salah tolong maafkan aku demi Reksa" ucap Ciko di akhiri dengan senyum paksa dari mulutnya.


"Ckk...jika kau tidak ingin tersenyum maka jangan lakukan itu, tersenyum hanya ketika seseorang bahagia dan aku tahu kau tidak sedang bahagia maka jangan bohongi dirimu dengan melemparkan senyum palsu itu kepadaku, itu menjijikan!" Ucapku mengatakannya dengan jujur.


Ciko langsung pergi dari ruangan ku setelah aku berbicara seperti itu dengannya bahkan dia pergi tanpa sepatah katapun dan Reksa juga Dika tidak bisa melakukan banyak hal untuk itu selain menyusulnya.


"Aishh dia pasti tengah kacau sekarang aku harus menemaninya agar dia bisa mengontrol diri dengan cepat" ucap Dika.


Saat Dika hendak pergi meninggalkan rumah sakit, Reksa menahan tangannya dan dia meminta untuk ikut menyusul Ciko bersama Dika.


"Ehh tunggu, kau mau kemana aku akan ikut mencarinya" ucap Reksa,


"Jika kau ikut siapa yang akan menjaga Elisa" kata Dika sambil menatap ke arahku sekilas,


"Oh iya iya, tapi jika aku tak ikut mencarinya bersamamu aku akan merasa cemas terlebih dia itu punya tempramen yang buruk semakin banyak yang mencarinya akan semakin cepat menemukannya" tambah Reksa berusaha kelas beralasan agar dia bisa membantu Dika mencari Ciko,


"Lalu bagaimana dengan dia apa kau sudah lupa ha?" Kata Dika sambil merotasikan matanya,


"Aahh begini saja bagaimana jika aku telpon Devinka dia akan segera datang kemari dan menjagamu, aku harus pergi ini sangat penting bagi kami, jaga dirimu baik baik terlebih mulutmu itu ketika bicara dengan dia nanti" ujar Reksa sudah seperti ibu yang memberikan petuah pada putranya.

__ADS_1


__ADS_2