Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Sadar


__ADS_3

Devinka yang berada di dalam ruang rawat dan melihat keadaan Elisa dengan selang infus juga uap di mulutnya membuat seorang Devinka merasa lemas dan dia langsung tertunduk sedih.


"E...Elisa ada apa denganmu, kenapa kau seperti ini, bangun Elisa ini aku Devinka....aku kembali untukmu Elisa" ucap Devinka sambil menggenggam tangan Devinka dengan erat.


"Elisa aku mohon tolong bangunlah banyak orang yang mencemaskanmu dan aku disini untukmu, tolong bangun Elisa jangan buat semua orang mengkhawatirkanmu" tambah Devinka merasakan kesedihan yang mendalam.


Hingga tidak lama Reksa dan Dika sampai di ruangan itu dan mereka langsung menarik Devinka keluar lalu langsung memarahinya dengan keras di luar ruangan tersebut.


"Devinka berani kau menampakkan wajah pada Elisa, kau adalah pengkhianat kau tidak pantas di cintai siapapun di dunia ini, pergi dari hadapanku dan Elisa mulai sekarang kau bukan bagian dari The Boys lagi!" Bentak Reksa dengan keras.


Devinka sangat kaget ketika mendengar ucapan yang sangat menyakitkan itu keluar dari mulut sahabat yang paling dekat dan yang paling mengerti keadaannya selama ini, Devinka langsung menahan tangan Reksa yang hendak masuk ke ruang rawat, dia berusaha meminta maaf kepada Reksa namun Reksa tidak bisa memakluminya lagi sekarang.


"Reksa tunggu, tolong maafkan aku, beri aku kesempatan kedua aku akan berusaha sebisa mungkin untuk melawan ibuku aku akan mengutamakan kalian dan Elisa, tolong jangan memutuskan persahabatan denganku" ucap Devinka memohon untuk pertama kalinya.


Sebelumnya Devinka tidak pernah seperti ini, dia adalah orang paling sombong dan selalu merasa dirinya yang paling pandai dan paling hebat dari segala hal, dia memiliki ego dan gengsi yang sangat tinggi, bahkan lebih dari atas rata-rata.


Namun kali ini untuk pertama kalinya Devinka memohon kepada Reksa dengan wajah yang sangat mengkhawatirkan, tapi sayangnya pintu maaf Reksa sudah tertutup dia tidak lagi menerima maaf dari siapapun apalagi orang seperti Devinka yang selama ini selalu dia berikan kesempatan berkali-kali.


"CK.... Lepaskan tanganmu, aku tidak sudi memiliki sahabat sepertimu Devinka, saat kau di luar negeri apakah kau ingat denganku, apa kau membalas pesan dariku? Tidak kau tidak melakukannya padahal aku tahu kau bisa, apa itu yang kau pikir sahabat?" Ucap Reksa sambil menghempaskan tangan Devinka dan dia segera menyusul Dika dan Ciko masuk ke dalam ruang rawat dengan segera.


Tidak lupa Reksa juga langsung mengunci pintunya dari dalam dan tidak disangka Elisa mulai sadar, saat itu aku seperti mendengar suara seseorang yang selama ini aku rindukan dan karena itulah aku memiliki semangat untuk hidup lagi, aku perlahan mengerjakan mataku dan menggerakkan jari tanganku pelan.


"Elisa.....Elisa apa kau sudah sadar.... Elisa sadar.....dia sudah siuman cepat panggil dokter!" Teriak Dika yang merasa senang dan sedikit panik.


Ciko segera pergi memanggil dokter dan Reksa juga menekan tombol pemanggilnya, Dika terus menemani Elisa sampai dokter tiba dan mulai memeriksanya lagi sedangkan Devinka masih tetap tidak di izinkan untuk mendekati ruangan rawat tersebut sehingga dia hanya bisa duduk menunggu di luar dengan sedih.


"Elisa aku harap kau akan baik-baik saja" gumam Devinka penuh harap.

__ADS_1


Setelah dokter memeriksaku aku kaget ketika sang dokter mengatakan bahwa aku sudah koma dan tidak sadarkan diri selama sepuluh hari lamanya.


"Dokter apa yang terjadi denganku, kenapa aku merasa sangat lemas?" Tanyaku dengan heran dan merasakan kepala yang cukup sakit,


"Kamu koma sepuluh hari jadi tentu saja kamu akan merasa sedikit lemas sekarang, namun setelah memasukkan beberapa makanan dan nutrisi ke dalam tubuhmu, kau akan kembali sehat dengan cepat seperti sedia kala" ucap dokter itu memberitahu.


Aku kaget dan hanya.bisa terperangah sendiri, karena sebelumnya aku bukanlah seseorang yang lemah bahkan aku tidak pernah jatuh pingsan saat upacara sekolah ataupun syok berat saat mengetahui ada hal-hal besar yang terjadi namun kali ini aku justru malah mengalami koma selama sepuluh hari.


"Wahhh.... Aku pasti sudah di pecat dari perusahaan, tapi siapa yang membayar semua tagihanku ini?" Gerutuku memikirkan.


Hingga dokter selesai dan suster sudah mengganti kantong infusnya, tidak lama tiga pria itu masuk, Dika yang terlihat paling senang dan dia langsung menyentuh tanganku juga mengusap lembut kepalaku.


"Elisa akhirnya kamu bangun, aku sangat mencemaskanmu selama ini, terimakasih karena sudah bertahan hidup Elisa" ucap Dika dengan air mata yang perlahan keluar dari pelupuk matanya.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang Dika menangis di hadapanku dan aku hanya tersenyum melihatnya sambil segera berusaha meraih pipi Dika dan menghapus air matanya segera.


Aku sangat penasaran sekali sebab selama aku koma aku tidak merasakan apapun kecuali mendengar sebuah suara orang yang sangat aku rindukan, seseorang yang sangat aku harapkan kehadirannya yang tidak lain adalah Devinka.


Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas disaat aku tengah koma, dan dia memanggil aku seakan meminta aku untuk kembali padanya maka dari itu tiba-tiba saja aku merasa ingin menemuinya sampai ketika aku bangun, aku melihat langit-langit rumah sakit dan mendengar Dika yang panik berteriak memanggil dokter.


Ku pikir telingaku tidak mungkin salah saat mendengar suara Devinka namun tidak ada satu pun diantara mereka yang menjawab pertanyaanku hingga tidak lama aku melihat wajah Devinka sekilas dari kaca pintu ruangan tersebut.


"Devinka.... Dia? Apa dia ada disini, kalian tolong jawab aku!" Bentakku sambil berusaha bangkit berdiri,


"Elisa hati-hati, kau baru saja sadar kau tidak boleh kemana-mana, kau harus menghemat energimu" ucap Dika menahanku,


"Dika aku mohon tolong bawa Devinka padaku jika kau tidak ingin aku yang pergi mencarinya, aku yakin sekali aku mendengar suara Devinka dan barusan aku melihat wajahnya di balik pintu, tolong aku ingin menemuinya hiks....hiks...aku sangat merindukannya aku mohon Dika" ucapku sambil menangis terisak.

__ADS_1


Akhirnya Dika menghembuskan nafas berat dan dia mengangguk menyetujui permintaanku, lalu Dika pergi ke luar menemui Devinka yang saat itu hampir pergi dari sana.


"Devinka tunggu!" Ucap Dika menghentikannya.


Devinka langsung berbalik dan berhadapan dengan Dika dalam situasi yang mencengangkan dan sedikit canggung.


"Ada apa?" Tanya Devinka dengan wajah yang lesu.


Dika sebenarnya memang tidak tega melihat wajah Devinka yang terlihat lesu dengan rambut berantakan dan pakaian yang sudah kusut, dia langsung menarik tangan Devinka dan membawanya masuk ke dalam ruangan Elisa.


"Ayo ikut aku Elisa ingin menemuimu" balas Dika dengan cepat.


Devinka sangat senang dan dia langsung berlari menghampiri Elisa mereka saling berpelukan satu sama lain di hadapan Dika, Ciko dan Reksa.


Rasanya memang mengharukan mereka berdua yang sebelumnya adalah musuh bebuyutan dan selalu mendendam satu sama lain kini justru saling menyayangi dan merindukan sosok satu sama lain.


"Devinka kamu kembali...hiks....hiks... Apa janjimu masih berlaku sekarang?" Ucapku sambil melepaskan pelukan dengannya.


Aku sangat berharap sebuah jawaban yang akan menggembirakan untukku dari Devinka sedangkan Devinka lama sekali tidak menjawab pertanyaanku itu dia menatap pada Dika terlebih dahulu barulah dia menjawabku.


"Iya.... Aku kembali untuk menempati janjiku padamu, kita adalah sebuah pasangan mulai sekarang, aku senang kau baik-baik saja Elisa" balas Devinka memelukku lagi.


Aku sangat senang mendengarnya, sungguh aku sangat senang dan merasa tenang sekarang, ku pikir ucapan Dika sebelumnya adalah kebenaran namun ternyata tidak Devinka kini sungguh kembali dan menepati janjinya kepadaku.


Tapi disisi lain Dika yang mendengar itu dari Devinka dia sangat kesal dan langsung keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan yang marah dan diselimuti dengan emosi.


Pasalnya Dika tahu betul bagaimana sikap ibu Devinka yang begitu keras dengan putranya dan Dika juga tahu bahwa Devinka sudah bertunangan dengan gadis lain yang jauh lebih segalanya dari pada Elisa, tentu saja ibunda Devinka akan lebih memilih gadis itu dibandingkan Elisa.

__ADS_1


Dika sangat kecewa dengan Devinka karena lagi dan lagi dia telah memberikan harapan palsu untuk Elisa sekaligus membohonginya, dan itu akan sangat menyakitkan bagi Elisa jika dia mengetahuinya nanti.


__ADS_2