Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Pulang Saat Itu Juga


__ADS_3

Aku berusaha untuk menghentikan Dika karena aku ingin menolong Devinka namun karena ucapan Devinka yang sangat kasar dan menuduhku tanpa mau mendengar penjelasan dariku dahulu aku pun tidak bisa diam dengannya aku di tarik oleh Dika pergi dari sana namun Devinka mengejarku dan berhasil menahan tanganku.


"Mau kau bawa kemana pacar? Apa kau tidak malu merebut pacar sahabatmu sendiri hah?" Bentak Devinka pada Dika,


"Lepaskan tanganmu bajingan! Kau tidak pantas untuk wanita sebaik Elisa" balas Dika dengan tatapan mata yang sangat tajam,


"Siapa kau berani menahanku, aku adalah pacarnya, Elisa ayo ikut denganku" ucap Devinka sambil menarikku.


Aku yang sudah terlanjur sakit hati dengan perkataan dia sebelumnya, kini sungguh tidak bisa lagi memaklumi apapun yang keluar dari mulutnya apalagi dia tetap merasa dirinya benar seperti itu dan Devinka terus menarik tanganku dengan kasar, aku pun segera menghempaskan tangannya sekaligus.


"Eughhh ... Lepaskan aku dan aku peringatkan padamu Devinka, mulai sekarang kita bukan siapa-siapa lagi, kau juga tidak berhak mengaturku. Aku benar-benar membencimu mulai sekarang!" Ucapku mendominasi.


Dika langsung kembali membawa aku pergi dengan segera menjauhi Devinka sedangkan Devinka saat itu sangat kesal dan dia menendang pasir ke laut dengan berteriak sangat kencang, sebenarnya aku tidak tega melihat dia kacau seperti itu, namun semua yang sudah dia lakukan padaku dan Dika itu sungguh di luar batas kesabaranku.


Dia sungguh mengujiku habis-habisan, aku sudah berbaik hati memberikan dia kesempatan meski dia pernah meninggalkan aku tanpa kabar tapi aku tetap menerimanya dan berusaha selalu mengalah darinya agar tidak memicu pertengkaran diantara kami, namun nyatanya pertengkaran memang tidak bisa di hindari.


Sebab sekuat apapun aku berusaha menghindarinya akan selalu ada permasalahan baru yang tidak pernah bisa aku duga dan pada akhirnya aku dan Devinka tetap berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan bagi kami berdua.


Malam itu juga aku langsung membereskan semua pakaian dan barang-barang milikku hingga Dika dan Reksa yang awalnya menahanku karena ini sudah sangat larut untuk pulang, merekapun akhirnya ikut pulang mengantarkan aku sebab khawatir jika aku pergi mencari kendaraan umum untuk pulang di tengah malah dalam perjalanan yang jauh seperti ini.


"Elisa apa tidak sebaiknya kita pulang besok saja? Ini sudah sangat larut tidak akan ada kendaraan yang bisa kau naiki" ucap Reksa berusaha menahanku,

__ADS_1


"Aku ingin pulang, apapun caranya aku ingin pulang hiks...hiks...hiks...." Balasku sambil menangis terisak,


"Baiklah tenangkan dirimu dulu aku akan mengantarmu pulang saat ini juga" balas Dika sambil memelukku dan mengusap rambutku dengan lembut.


Aku menangis dalam pelukannya dan aku sungguh merasa sangat buruk malam ini, tidak pernah aku sangka sedikitpun,.bahwa seorang Devinka akan menyakitiku dengan kalimat dan perkataan yang begitu kasar dan menusuk ke hatiku.


Dia begitu di buatkan dengan emosi di dalam dirinya, padahal aku juga tidak pernah semarah itu dengannya bahkan ketika melihat para wanita terus mengerumuni dia, aku hanya percaya padanya tapi dia seakan tidak mempercayai aku sedikitpun.


Itu sungguh membuat hatiku terluka dan sangat sakit, maka dari itu kali ini aku tidak bisa memakluminya lagi, bukan karena aku tidak mencintainya aku sangat mencintai dia melebihi apapun yang pernah aku cintai, namun aku rasa benteng antara sikapku dan sikapnya sangat tidak cocok.


Entah mungkin karena pada awalnya kami juga tidak pernah akur satu sama lain sehingga sulit untuk menyatukan kami jika hanya sekedar dengan rasa saling mencintai saja namun tidak saling percaya.


Saat ini ketika di dalam mobil aku hanya duduk diam membisu dengan tatapan kosong melihat ke luar jendela mobil dengan menahan tangis dan berusaha keras agar tidak menjatuhkan air mata lagi, meskipun air mata itu terus saja mengalir keluar menerobos dinding pertahanan yang aku sudah persiapkan sebelumnya.


Reksa dan Dika yang mendengarnya mereka hanya bisa diam dan tidak ingin ikut campur apapun karena takut itu akan mempengaruhi perasaanku, aku benar-benar merasa bodoh selama ini karena terus mencintai Devinka tanpa alasan dan menunggu dia dalam waktu yang sangat lama.


Bahkan aku menjadi buta ketika dia datang lagi dalam hidupku, aku melupakan Dika yang selama ini selalu hadis menemani aku dan melindungiku aku juga lupa dengan Reksa yang selalu mendukungku dan aku mengabaikan kak Eril yang selalu bersikap baik padaku hanya demi menjaga hati untuk seorang Devinka yang nyatanya menyakiti perasaanku seperti ini.


Dan lebih bodohnya lagi adalah, aku malah tetap mencintai dia dan merasa sangat sedih karena aku malah memutuskan hubungan dengannya.


Bodoh bukan? Iya aku tahu aku sangat bodoh karena menyesali tindakan yang aku perbuatan, mungkin aku mengatakan itu pada Devinka hanya karena aku sangat marah saat itu namun kini aku menyadarinya bahwa cintaku jauh lebih besar di bandingkan rasa benciku padanya.

__ADS_1


Aku terus memendam perasaan menyesal ini seorang diri dan tidak memberitahu Dika juga Reksa karena aku tidak ingin membuat mereka mengkhawatirkan aku lagi, aku juga merasa sangat bersalah karena hubunganku dengan Devinka kini The Boys kehilangan satu orang yang sangat berpengaruh, aku benar-benar merasa sangat bersalah pada Reksa, Dika dan Ciko.


Sepanjang jalan aku terus menangis dan tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir di pipiku, hatiku rasanya sangat sakit sekali hingga lama kelamaan aku mulai memaksakan diriku untuk tertidur lelap agar aku bisa sedikit melupakan masalah yang memberatkan diriku ini.


Disisi lain Dika yang mihat Elisa tertidur dia sebenarnya merasakan sakit yang sama karena dia juga sangat kecewa dengan Devinka, dia merasa sangat kesal karena dia sudah pernah merelakan Elisa bersama Devinka hingga membuatnya menderita terus menerus seperti ini.


"Maafkan aku Elisa, seandainya dulu aku terus mengejarmu dan terus bersaing dengan Devinka, mungkin kamu tidak akan semenderita ini, dan aku janji mulai sekarang aku tidak akan mengijinkan Devinka membuatmu terluka lagi" ucap Dika membuat janji di hadapan Reksa.


"Aishhh.... Kenapa semua orang membuat janji di hadapanku sih, aku juga yang harus menderita mendengarkannya" gerutu Reksa merasa sedikit frustasi.


Sedangkan Dika hanya tersenyum menanggapinya. Hingga beberapa jam berlalu akhirnya mereka tiba di perkotaan dan Dika kembali membawa Elisa pulang ke kediamannya begitu juga dengan Reksa.


Hari ini ibunya sudah pulang ke negera tempat tinggal utamanya dan kebetulan di rumah tidak ada siapapun sehingga Dika bisa membawa Reksa pulang dengannya juga.


"Reksa... Bangun kau kita sudah sampai bodoh!" Bentak Dika sambil menendang kaki Reksa pelan,


"Aaaduhhh kau ini tidak punya tangan yah, sampai harus menendangku begitu?" Ucap Reksa protes sambil menggosok matanya,


"Lihat apa aku punya tangan sekarang hah?" Balas Dika sambil menunjukkan bahwa dirinya menggendong Elisa.


Reksa pun cemberut merasa kesal dan dia segera keluar dari mobil lalu pergi memarkirkan nya dengan benar dahulu baru dia pergi berlari untuk membukakan pintu bagi Dika yang kesulitan karena menggendong Elisa.

__ADS_1


"Hey..... Cepatlah kau pikir menggendong itu enak?" Ucap Dika yang sudah tidak tahan lagi.


Dia merasa sangat pegal di tangannya karena menyetir sendiri selama perjalanan dan sekarang harus menggendong Elisa, dia memang senang bisa menggendongnya namun tidak bisa di pungkiri tangannya memang sudah sangat pegal sekali.


__ADS_2