
Aku mulai merasakan keanehan dari tatapan mereka berdua kepadaku dan aku juga malas menjelaskan masalah tadi karena terlalu panjang untuk dijelaskan.
"Aishh....kenapa kalian kepo sekali sih dengan urusan orang, sudah sana kembali ke meja masing masing aku harus menyelesaikan pekerjaan ku" balasku mengabaikan pertanyaan mereka,
"Hmm, Elisa kau sekarang sudah berani mengabaikan kami. Menyedihkan" ucap kak Anne dengan wajah cemberut.
Kak Anne dan kak Kris pun kembali ke meja mereka masing masing dan mulai bekerja seperti biasa sampai akhirnya ketika aku selesai mengemas semua detail kejadian perempokan itu aku langsung meminta kak Kris untuk menemaniku melaporkan masalah ini kepada kak Eril.
"Kak..syuttt...kak Kriss" bisikku memanggilnya,
"Ada apa?" jawabnya dengan santai,
"Antar aku melaporkan berita perampokan itu, ayo" ujarku sambil memberikan kode padanya.
Untunglah saat itu kak Kris mau menemaniku dan kami berdua memberikan laporan kasus perampokan di jalan sepi tersebut, tanggapan dari kak Eril juga cukup bagus dia sedikit memujiku yang membuat aku merasa sangat senang.
"Bagus berita ini akan menjadi plan B untuk kita karena kamu tidak mengetahui nama korbannya" ucap kak Eril kepadaku,
Aku menghembuskan nafas karena merasa tidak berhasil sepenuhnya dalam meliput sebuah berita.
"Maaf kak lain kali aku akan meliput berita dengan lebih baik dan teliti" jawabku meminta maaf,
"Tidak papa langkahku saat itu sudah sangat bagus aku menghargai usahama dengan Kris, dan pemberitaan yang Kris berikan padaku aku menunggunya pastikan kalian meliputnya dengan benar karena dia adalah selebritis terkenal juga satu lagi, beri aku pemberitaan yang jujur jangan di lebih lebihkan, mengerti!" Kata kak Kris dengan wajah yang serius.
"Iya kak aku mengerti" jawabku sambil membungkuk dan pergi dari sana.
Melihat wajah kak Eril yang begitu serius saat bekerja dia sangat menakutkan dan cukup hebat dalam membuatku parno juga takut, wajahnya berbeda sekali dengan dia saat di luar.
Di saat aku terduduk lemas dan menormalkan semangatku, tiba tiba saja kak Kris menghampiriku lagi dan mengajakku untuk pergi bersiap siap.
"Elisa..ayo siap sial sebentar lagi kita akan pergi mewawancarai dia" ujar kak Keris padaku,
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyusul mu sebentar lagi" jawabku padanya.
Kak Anne menghampiriku dengan wajah yang lesu dan tiba tiba memelukku dari samping.
"Aahhh....Elisa aku juga ingin bekerja di lapangan sepertimu, sudah bertahun tahun aku hanya duduk di ruangan ini bersama manusia es sepertinya. Aku merasa tidak memiliki hidup huhu" gerutu kak Anne yang nampak menyedihkan,
Aku hanya bisa tertawa menanggapinya karena apa yang diucapkan oleh kak Anne sungguh membuatku ingin tertawa dan wajahnya sangat lucu ketika bersikap se menyedihkan itu.
"Aishh...sudahlah kak harusnya kakak bersyukur bisa bekerja di perusahaan sehebat ini apalagi bisa melihat wajah kak Eril setiap hari, meski dia dingin dan berwajah datar tetapi wajah tampannya sayang sekali untuk dilewatkan iya kan haha" jawabku kepadanya,
"Elisa kau ternyata sudah bisa menilai seorang pria yah, wah....wah...aku harus berhati hati padamu" jawab kak Anne sambil menatapku tajam dan tersenyum di akhir,
"Haha...aku hanya bercanda, sudah ya aku pergi dulu. Dahh kak" tambahku lalu segera pergi dari sana sambil melambaikan tangan kepada kak Anne,
"Daaahh, jaga dirimu baik baik Elisa" teriak kak Anne sambil membalas lambaian tanganku.
Aku pergi menyusul kak Kris yang saat itu sudah berada di luar perusahaan saat aku mengenakan tas ranselku sambil berjalan memasuki lift, ternyata di dalam lift itu juga ada Reksa dan wajahnya nampak seperti tengah kesal.
"Ahh ini aku harus menjemput Devinka dia menyuruhku menjemputnya tapi dia sendiri tidak tau dia ada di mana sekarang, aishh itu membuatku kebingungan" ucap Reksa sambil mengucek rambutnya sekilas.
Aku menahan tawa saat mendengar keluhan dari Reksa pasalnya sangat lucu jika orang sebesar Devinka bisa tidak mengenali alamat dan tersesat seperti itu.
"Haha...apa dia itu anak kecil kenapa bisa sampai tersesat seperti itu" jawab ku menanggapi,
"Aahh aku juga tidak tahu yang pasti aku harus membantunya jika tidak kau tau kan Devinka akan seperti apa" jawab Reksa kepadaku.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman sambil menganggukkan kepala beberapa kali.
"Tapi Elisa kau mau kemana sudah menggendong ransel itu lagi?" Tanya balik Reksa,
"Ohh aku ada tugas lapangan dan akan pergi mewawancarai narasumber" jawabku jujur,
__ADS_1
"Wahhh hebat kau sudah bisa mewawancarai narasumber secara langsung yah, ehh tapi bukankah Devinka juga ditugaskan ditempat yang sama denganmu?" Ujar Reksa,
"Iya aku juga sempat bertemu dengannya tapi itu saat pagi tadi" balasku mengatakan yang sebenarnya,
"Kalau begitu jika kau bertemu dengannya lagi tolong bawa dia bersama, jika dia gengsi kau paksa saja karena aku yakin dia tidak tahu jalan pulang aku juga akan mencarinya di sekitar sana, tolong bantu aku yah Elisa" ucap Reksa memohon.
Saat itu aku ingin menolak permintaan Reksa karena aku tidak bisa mencari Devinka karena pekerjaanku yang menemukan apalagi aku pergi bersama rekan kerjaku kak Kris dia juga tidak akan mau membantuku mencari orang hilang yang hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga secara sia sia.
Namun sayangnya di saat aku mau menolak pintu lift terbuka dan Reksa pergi begitu saja sambil berteriak berterimakasih kepadaku.
"Aku sudah harus pergi, terimakasih ya Elisa" teriak Reksa sambil berlari meninggalkanku,
"Ehh...tunggu aku bahkan belum memutuskan, arghh Devinka itu selalu saja merepotkan banyak orang" gerutuku penuh kekesalan,
Aku tidak perduli meski Reksa sudah meminta bantuan padaku dan aku berusaha untuk mengabaikannya, saat keluar dari perusahaan aku langsung melihat mobil kak Kris yang sudah terparkir di depan dan aku langsung masuk ke dalam mobilnya.
Kami pun segera pergi menuju kediaman kak Anna karena sebelumnya aku sudah memberitahukan alamat rumah kak Anna kepada kak Kris, sesampainya di sana satpam menahan mobil kami aku pun langsung menurunkan kaca mobil dan mereka bisa langsung mengenaliku, sampai gerbangpun segera dibuka oleh mereka.
Kak Kris yang melihat itu dia berdecak kagum kepadaku.
"Wahh...wahh...Elisa kau luar biasa bahkan para penjaga di sini sudah mengenalimu dengan baik, beruntung sekali menjadi kau" ujar kak Kris sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Aku hanya tersenyum sambil tersipu malu mendengar ucapan kak Kris dan aku merasa diriku begitu hebat sampai senior rekan kerjaku sendiri mengatakan aku luar biasa.
"Haha tentu saja aku ini luar biasa aku kan Elisa yang cerdas dan bijak sana hehe" jawabku pada kak Kris.
Saat mendengar jawabku kak Kris justru malah berekspresi yang tidak menyenangkan sambil mengejekku.
"Hoekkk ....kau ini memang narsis yah, baru aku puji sedikit saja sudah melayang haduh dasar kau" ujar kak Kris.
Aku tidak perduli yang penting bagiku aku bisa menjadi diriku sendiri dan aku bangga dengan semua pencapaian dan sikap yang aku miliki lagi pula semua ini aku dapatkan karena sikap ku juga, seandainya saat itu hatiku tidak tergerak untuk membantu kak Anna mungkin aku juga tidak akan bisa mengenalnya sedekat ini sekarang.
__ADS_1
Begitu pun dengan berita perampokan yang aku dapatkan itu juga karena diriku maka tidak heran jika aku memberika reward sendiri kepada diriku, karena jika bukan aku yang memberikan semua itu siapa lagi, aku hanya hidup sendiri selama ini.