Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Kalah Taruhan


__ADS_3

Mulai saat itu aku semakin membencinya dan aku sudah memutuskan bahwa dia sungguh musuh bebuyutan bagiku secara resmi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau bekerjasama dengan orang sombong dan egois sepertinya.


Aku sungguh mengeluarkan banyak energi dengan sia sia karena harus bertengkar di pagi hari dengan orang yang keras kepala sepertinya.


Aku sungguh kesal bahkan enggan untuk melihat wajah menyebalkannya itu, namun demi tugas dan magang di perusahaan impianku aku sepertinya harus menahan semua kekesalan ini, Reksa mengajak ku untuk membicarakan masalah tugas ini di kantin dan terpaksa aku harus mengikuti mereka berdua.


Saat sampai di kantin rupanya mereka duduk di bangku yang sering mereka dudukki dan parahnya di sana ada Dika juga Ciko yang sudah berada di sana lebih dulu, aku sungguh harus menahan emosi karena harus duduk bergabung dengan para pria menjengkelkan tersebut.


"Elisa..kenapa kamu masih berdiri di sana, sini duduk di sampingku" ucap Reksa berteriak memanggilku.


Rasanya diantara ke empat pria itu hanya Reksa yang paling bersahaja denganku, meski dia sama menyebalkannya dengan yang lain namun setidaknya dia bisa menjadi rekan yang cukup baik dari pada Devinka.


Aku berjalan menghampirinya dan duduk tepat di samping Reksa, tapi baru saja aku melepaskan tas selempang ku dan hendak membahas masalah tugas magang itu, tiba tiba saja para mahasiswi yang kecentilan datang menghampiri meja yang kami tempati mereka sibuk meminta tandatangan juga foto kepada anak anak The Boys.


"Hey...hey...kau bisa tolong fotokan aku dengan The Boys, ini cepat fotoin kita" ucap salah satu mahasiswi sambil menyerahkan ponselnya dengan paksa kepadaku.


"Eh...apa apaan ini, aku bukan tukang foto tau!" Bentakku tidak terima,


"Ayolah Elisa, lagian cuman minta tolong fotoin kok ribet banget sih, udah sana cepet fotoin" balas perempuan yang bernama Vika.


Vika adalah salah satu teman sejurusan denganku dan dia juga pernah satu kelas denganku saat SMP maka dari itu dia mengenalku dan mengetahui namaku.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan berdecak kesal menahan emosi, tidak ada yang bisa aku lakukan selain memotret mereka beberapa kali lalu ku kembalikan ponselnya dan mereka menjerit kegirangan lalu berterimakasih pada ke empat pria menyebalkan itu, namun sialnya Vika bahkan tidak berterimakasih kepadaku, orang yang sudah membantunya berfoto.

__ADS_1


"Aishh...bahkan dia tidak mengatakan apapun setelah aku membantunya, menyebalkan!" Gerutuku dengan kesal.


Aku kembali duduk dan mulai membuka pembicaraan mengenai acara magang nanti kepada Reksa dan mengabaikan Devinka.


"Hah...oke sekarang kita bahas mengenai tugas magang kita, aku sudah mencatat semua hal yang harus kita pelajari saat magang di perusahaan CTN group nanti, Reksa kamu bisa mencatat beberapa poin yang sudah aku garis bawahi di buku ini dan aku akan melakukan sisanya, nanti kita akan merangkumnya bersama dan menyamakan catatan" ucapku menjelaskan dengan singkat.


"Eumm...hanya lima poin ini yah, baiklah ini sangat mudah untukku" jawab Reksa sambil mengangguk mengerti.


Aku sudah memberikan tugas kepada Reksa dan aku tidak ada urusan lagi dengan mereka sehingga saat itu aku memutuskan untuk pergi dari sana, baru saja aku berdiri Devinka menarik lenganku dan membentakku dengan keras.


"Heh...tunggu, mau kemana kau seenaknya pergi begitu saja" bentak Devinka dengan kerutan di wajahnya yang terlihat sangat jelas,


"Ihkk...lepaskan tangan kotor mu dariku, aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu dan kita sudah membahas tugas magang, jadi untuk apa aku tetap di sini bersama kalian orang orang kaya yang terhormat!" Jawabku sambil membelalakkan mata kepada Devinka,


"Iya, kau memang tidak akan bisa menyelesaikan tugas apapun!" Jawabku sambil merotasikan mataku,


"Kau!, Dasar cewek ayam beraninya kau mengatakan seperti itu" balas Devinka dengan wajah yang mulai memerah menahan amarah,


"Apa?, Aku tidak takut padamu meskipun kau orang kaya dan meski kau marah seperti itu, kau lebih mirip banteng saat marah" jawabku sengaja mengejeknya dengan puas,


"Baiklah, kau boleh memberikan tugas semaumu dan melakukan apapun tapi itu jika memang kau benar benar terpilih sebagai ketua di tim ini dengan adil" jawab Devinka membuatku mengerutkan alis,


"Apa maksudmu?, Apa kau mau bertanding denganku untuk menjadi ketua kelompok?" Tanyaku memastikan,

__ADS_1


"Tentu saja, ayo suit denganku, yang menang dia lah yang akan jadi ketua" ucap Devinka membuatku tidak habis pikir dengan kelakuannya.


Aku benar benar tidak habis pikir bagaimana otak Devinka bekerja dia bahkan memperebutkan hal seperti itu dengan seorang perempuan tanpa tahu malu sedikitpun, dan parahnya dia membuat pertarungan sendiri dengan beradu suit denganku untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua kelompok.


"Devinka sudah lah itu terlalu kekanak kanakan lagi pula Elisa satu satunya perempuan di kelompok kita, tidak ada salahnya jika dia yang menjadi ketua tim, dia juga mahasiswa terbaik di jurusan kita" ucap Reksa membujuk Devinka.


Sayangnya Devinka bukanlah orang yang akan luluh hanya dengan sebuah perkataan atau bujuk murahan dari seorang Reksa.


"Tidak bisa!, Apa hebatnya seorang mahasiswa terbaik, dia hanya memerlukan beasiswa agar bisa bertahan di tengah orang orang kaya" jawab Devinka yang menyulut emosiku.


Mendengar perkataan darinya yang lagi lagi membahas mengenai status sosial membuatku sangat muak dan aku langsung menyetujui keinginannya biar aku membuktikan kepadanya, bahkan apapun caranya aku tetap tidak akan mengalah darinya.


"Oke, ayo kita suit siapapun yang menjadi ketua tim berhak memerintah apapun pada anggotanya dan memutuskan semuanya" ucapku menyetujuinya,


Aku pun mulai suit dengan Devika dan sialnya aku malah kalah dari nya, aku tidak menyangka dia ternyata jago suit di banding aku, pantas saja mereka selalu sibuk bermain dan saling bertengkar sampai menyelesaikannya dengan suit setiap kali memutuskan sesuatu, sedangkan aku tidak pernah melakukan suit seperti itu sebelumnya.


Ini adalah keputusan paling bodoh yang pernah aku buat karena mau bertanding dengan orang licik sepertinya, aku yakin dia pasti sudah tau bahwa dia akan menang jika melakukannya dengan suit seperti ini.


"Ahahaha...lihat kan, mereka bertiga adalah saksi bahwa aku pemenangnya dan kau kalah, itu menunjukkan bahwa aku ketua tim di kerja kelompok kita saat ini sekarang kau patuhi janjimu sendiri bahwa semua anggota tim harus menuruti semua perintah ketua kelompok dan keputusan ada di tanganku sebagai ketua, apa kau mengerti!" Ucap Devinka sambil tersenyum mengejekku.


Aku tidak terima dan sudah tidak tahan lagi mereka bertiga hanya tersenyum menertawakan ku yang kalah bertaruh dengan Devinka, aku langsung mengambil tas slempangku dan pergi dari sana meski Devinka berteriak memanggil namaku dan menyuruhku untuk kembali.


"Hey....cewek ayam mau kemana kau?, Aku tidak mengijinkanmu untuk pergi, cepat kembali ini perintah!" Teriak Devinka yang aku abaikan.

__ADS_1


Aku tetap berjalan dengan cepat dan kesal bahkan aku sama sekali tidak menoleh ke belakang, tidak peduli meski aku melanggar ucapanku sendiri aku sungguh tidak bisa merendahkan harga diriku pada orang sepertinya, aku tau dia pasti akan bersikap semena mena terhadapku.


__ADS_2