
Devinka yang cemas Elisa akan terjatuh saat tidur di sofa dia berkali kali memeriksa keadaan Elisa dari kamar ke ruang tengah sampai akhirnya bi Eli menyapanya karena terus melihat Devinka berjalan terburu buru bolak balik dari kamar ke ruang tengah sambil menggerutu kesal dan itu hanya untuk memastikan bahwa Elisa tidak terjatuh ke lantai.
"Tuan muda, apa anda mencemaskan gadis itu, saya bisa memindahkannya ke kamar tamu jika anda mencemaskannya tidur di sofa" ujar bi Eli mengusulkan,
"A..ahh...tidak usah bi, biarkan saja cewek menyebalkan itu tidur di sana kau pastikan dia tidak jatuh ke lantai, aku akan tidur sekarang" balas Devinka lalu segera kembali ke kamarnya.
Setelah memerintah bi Eli untuk menjaga Elisa, barulah Devinka bisa tertidur dengan tenang dan lelap, sementara bi Eli tersenyum kecil melihat tuan mudanya membawa pulang seorang wanita untuk pertama kalinya.
Bi Eli adalah ketua pelayan di kediaman Devinka dia sudah bekerja bersama keluarga itu sejak Devinka masih kecil karena dulunya dia adalah perawatan yang merawat Devinka hingga dia tumbuh sebesar saat ini, karena Devinka sudah menganggap bi Eli sebagai kerabatnya sehingga dia meminta ibunya untuk tetap mempekerjakan bi Eli sebagai ketua pelayan.
Malam itu aku sama sekali tidak sadar jika aku tidur di rumah Devinka, karena pada siang harinya aku terlalu kelelahan tentu saja aku tertidur lelap sampai tak sadar jika sudah berada di kediaman Devinka.
Hingga ke esokan paginya Devinka bangun lebih dulu dan bi Eli sudah menyiapkan banyak menu makanan untuk sarapan diatas meja makan, seperti biasa hari ini Devinka bersiap siap untuk pergi ke perusahaan tempatnya magang dan saat dia turun ke lantai bawah dia baru ingat bahwa Elisa masih di rumahnya dan dia melihat Elisa masih tertidur di sofa rumahnya.
"Aishh....sudah siang begini dia belum bangun juga, benar benar" gerutu Devinka kesal.
Devinka berjalan lebih cepat dan bergegas menghampiri Elisa yang masih tertidur lelap, saat hendak membangunkan Elisa, entah kenapa tiba tiba saja Devinka justru malah terdiam saat melihat wajah Elisa yang tengah tertidur.
"Deg....deg...dia terlihat cantik saat tertidur seperti ini" gumam Devinka tanpa sadar,
"Astaga...apa yang aku pikirkan barusan?, Tidak tidak...aishh seharusnya aku mengusir dia dari sini secepatnya sebelum Reksa datang kemari" tambah Devinka bicara heboh sendiri.
Devinka pun segera menarik selimut dari tubuh Elisa dan dia terus berteriak membangunkan Elisa sambil menggoyangkan lengan Elisa agar dia bisa cepat sadar dari tidurnya.
"Heh, cewek ayam cepat bangun... Hey....pergi kau dari rumahku, cepat bangun" teriak Devinka membuat Elisa akhirnya terbangun dan mulai mengerjakan matanya perlahan.
Elisa tersadar perlahan dia menguap sambil menggaruk kepalanya lalu membuka matanya perlahan dan betapa kagetnya dia saat pertama kali bangun langsung melihat wajah Devinka yang dipenuhi kekesalan di hadapannya.
"ASTAGA!" teriak ku sangat kaget sampai langsung terperanjat duduk di sofa,
__ADS_1
"Heh, kenapa kau harus sekaget itu, apa kau baru pertama kali yah melihat ketampananku ini" bentak Devinka menanggapi,
"Ehhh...aku kaget karena wajahmu lebih mirip hantu daripada tampan" balasku mengerutkan bibir.
Devinka yang kesal mendengar jawaban dariku dia langsung mengusirku sambil menarik lenganku cukup kuat dan menyeretku keluar dari rumahnya itu.
"Aishhh sudahlah, kemari kau cepat keluar dari sini, sana kau pergi" ucap Devinka sambil terus menyeretku dengan kasar.
Karena aku baru terbangun tentu saja aku belum menerima semua kesadaran dalam otakku sehingga saat itu aku mengira kalau aku berada di rumahku sendiri, sehingga aku berontak dan berusaha melepaskan diri dari Devinka serta masih bersih keras tidak ingin keluar dari rumah tersebut.
"Eh, apa apaan kau ini, lepaskan ini rumahku kenapa kau menyeretku begini harusnya aku yang menyeretmu dari rumahku" teriakku sambil menahan lengan Devinka yang terus menyeretku.
Tiba tiba Devinka terdiam dan menghempaskan lenganku dengan kasar lalu dia kembali membentakku dan menyuruhku untuk tersadar.
"Heh, apa kau sudah gi*a yah, lihat baik baik di mana kau saat ini, ini rumahku bukan rumahmu, benar benar tidak tahu diri!" Bentak Devinka menyadarkanku.
Saat aku mulai menatap ke sekeliling ruangan, barulah aku tersadar perlahan lahan bahwa sangat jelas sekali itu bukan kosan sempit tempat aku tinggal, namun rumah mewah milik Devinka, saat pertama kali menyadarinya aku sangat malu dan bingung harus menjawab ucapan Devinka seperti apa, tapi walau begitu tetap saja aku tidak mau kalah dan tidak ingin terlihat bodoh di depannya.
"Heh, kau masih belum sadar juga dasar kepala lemot" ucap Devinka sambil menyentil jidatku sampai membuat aku meringis kesakitan.
"Awww... Devinka, kau ini apa apaan sih. Seenaknya menyentil jidat orang sembarangan sakit tahu" balasku sambil mengusap jidatku yang terasa sakit.
Aku berusaha mengingat ngingat lagi kejadian semalam sampai akhirnya aku mengingat dan menyadari semuanya dengan jelas, dan aku kembali bertanya pada Devinka untuk memastikan apa yang aku pikirkan mengenai kejadian semalam.
"Astaga....apa semalam dia benar benar menggendongku dan menidurkanku di sofa, aishhh kenapa aku bisa tidur seperti itu sih, atau apa efek obat bius itu masih ada yah" gumamku dalam hati yang baru menyadari kejadian semalam,
"Kenapa kau diam?, Apa kau sudah mengingat semuanya sekarang ha?" Ucap Devinka membuatku semakin merasa malu tak karuan,
"Hehe... Devinka jangan sensi begitu dong, lagian aku hanya numpang tidur semalam di sini, jadi jangan seperti itu oke, aku juga akan segera pergi kok tenang saja" balasku merasa tidak enak dan malu,
__ADS_1
"Huh, baguslah kalau kau sudah sadar, tunggu apa lagi cepat kau pergi aku sangat emosi melihat wajahmu itu" bentak Devinka yang masih dikuasai oleh emosi dalam dirinya.
Sebenarnya aku sangat kesal melihat tingkah Devinka yang semakin meninggi dan terus mengusirku seperti itu, padahal aku kan tidak tahu apapun meskipun memang kesalahan ada pada diriku tapi seharusnya dia membangunkanku lebih keras lagi hingga aku bisa tersadar dari tidurku bukannya membawaku pulang ke rumahnya, di sini aku juga sama sama di rugikan tapi seakan dia saja yang bisa marah denganku.
Saat dia kembali mengusirku dengan wajahnya yang menyebalkan, aku sebenarnya ingin sekali segera pergi saat itu juga, tapi aku harus memastikan sesuatu dahulu kepadanya.
"E..eumm...Devinka sebelum aku pergi ada sesuatu yang ingin aku pastikan padamu" ucapku bersikap baik menahan kekesalan dalam diriku, agar dia mau menjawab pertanyaan dariku,
"Apa?" Balasnya membentak dengan wajah yang menyebalkan,
"Begini, apa semalam kau yang menggendongku dan memindahkan ku ke sofa, lalu apa kau juga yang memberikan selimut itu semalam?" Ucapku menanyakannya dengan penuh penasaran,
"Hah, jangan bermimpi tidak mungkin aku memperlakukanmu sebaik itu, bi Eli yang memberimu selimut dan satpam di depan yang menggendongmu, mana mungkin aku mau mengotori diriku untuk menggendong Musuhku sendiri jangan harap kau akan mendapatkannya" balas Devinka dengan sinis,
"Aishhh kau....eughh dasar Devinka kau benar benar membuatku naik pitam, aku tidak ingin bekerja sama denganmu lagi" bentakku dengan kesal dan langsung bergegas pergi dari sana.
Aku terus pergi dari kediaman rumah Devinka dengan perasaan kesal dan menggebu, rasanya ingin sekali memukul Devinka dan membuatnya babak belur saat itu juga, namun mengingat dia sudah mau menolongku dengan tidak meninggalkanku di jalanan dan memberiku tempat untuk tidur tadi malam, aku masih bisa menahan emosiku.
Tapi jika itu terjadi lagi, akan aku pastikan dia mencicipi kepalan tanganku tepat di kedua pipinya hingga dia tidak bisa bicara seenaknya dan membuatku emosi lagi.
"Eughh....dasar pria menjengkelkan, tidak punya hati, kepala batu...aku akan memberimu pelajaran lain kali, awas saja kau Devinka!" Teriakku sambil berjalan penuh emosi.
Sedangkan di sisi lain telat di dalam rumah kediaman Devinka, bi Eli mengintip dari kejauhan dan dia memperhatikan semua pembicaraan yang dilakukan oleh Devinka bersama Elisa sebelumnya, tak lama setelah Elisa keluar dari rumah, bi Eli langsung menghampiri Devinka.
"Permisi tuan muda" ucap bi Eli menyapa Devinka yang nampak menunduk setelah Elisa pergi dari rumahnya,
"Iya, ada apa bi?" Balas Devinka,
"Tuan bukankah semalam anda sendiri yang menggendong dan memberikan selimut pada gadis tadi, bahkan anda berulang kali memastikannya agar tidur dengan aman di sofa, kenapa anda berbohong dengan gadis tadi?" Tanya bi Eli pada Devinka dengan lemah lembut,
__ADS_1
"Bi, tolong jaga rahasia ini aku hanya tidak ingin dia mengetahuinya itu saja" balas Devinka sambil menepuk sebelum pundak bi Eli lalu pergi meninggalkannya.