
Setelah perbincangan yang sangat menyebalkan untuk Reksa karena dia merasa terus diabaikan oleh Devinka, tidak ada lagi pembahasan yang dibicarakan selama pembicaraan hingga mereka sampai di sebuah cafe milik Dika di mana tempat itu sudah lama menjadi tempat kumpul The Boys selama ini.
Awalnya Aku merasa kebingung dan heran saat mengetahui mobil yang dikemudikan oleh Reksa malah berhenti di depan sebuah cafe yang ramai oleh pengunjung sore itu.
"Eh, kenapa kita berhenti di sini memangnya kau mau beli sesuatu dulu ya?" Tanyaku sambil menatap ke arah Reksa,
"Tidak ayo turun Elisa, kita akan mengerjakan tugasnya di basecamp The Boys dan kamu akan menjadi satu satunya orang luar sekaligus satu satunya perempuan yang pernah masuk ke basecamp kita" ujar Reksa memberitahuku.
Aku hanya menanggapinya dengan anggukan sambil membulatkan mulutku ber ohhh ria.
Kami pun segera turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe tersebut bersamaan, awalnya aku terus menatap ke sana kemari mencari tempat yang kosong agar bisa aku tempati bersama Devinka dan Reksa namun mereka berdua justru malah membawaku terus masuk ke dalam cafe dan ke sebuah ruangan yang aku pikir itu adalah ruangan khusus dari cafe tersebut.
"Eh, kita mau kemana bukannya mau mengerjakan tugas ngapain malah ke sini?" Tanyaku dengan heran,
"Sudah jangan banyak tanya, ayo ikut masuk kita punya ruang khusus di sini" ujar Devinka sambil menarik lenganku ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Saat pertama kali masuk ke dalam aku terperangah melihat betapa luasnya ruangan rahasia tersebut, dan banyak sekali barang barang antik serta mewah di ruangan tersebut, ku lihat di sana juga ada Dika dan Ciko yang tengah bermain video game di depan layar tv yang sangat besar.
Aku sungguh terperangah dan sangat kagum melihat betapa tertata rapihnya ruangan tersebut dan semua yang kita butuhkan rasanya sudah tersedia dengan lengkap di dalam ruangan tersebut padahal jika di lihat dari luar ruangan ini seperti berbentuk kecil dan sederhana sehingga mungkin tidak akan ada orang yang menyangka bahwa di dalamnya semewah dan sebesar ini.
"Wahhh.....a..apa..ini sungguh tempat rahasia kalian...wah..wahh...ini luar biasa" ujarku sambil terus berjalan memasuki ruangan itu dengan perlahan.
Devinka dan Reksa mengikuti langkahku dari belakang, aku yang sangat kagum dan penasaran terus saja memeriksa satu persatu patung yang terbuat dari batu marmer mahal di pinggiran televisi besar tepat di tengah ruangan besar itu.
"Aaaahhh...apa ini patung langka yang banyak dibicarakan orang di televisi itu, aku sungguh bisa memegangnya apa aku akan mendapatkan keberuntungan yang dikabarkan banyak orang karena sudah memegangnya dengan tangan kosong secara langsung, apa benar akan begitu Reksa?" Tanyaku pada Reksa,
__ADS_1
"Tentu saja, dan keberuntungan itu di mulai saat ini" balas Reksa sambil merangkul pundakku,
Aku tidak terlalu memperhatikan hal tersebut karena terlalu fokus dan terkesima dengan semua keindahan dan kemewahan di ruangan tersebut sampai semua barang yang ada di sana coba aku pegangi satu persatu.
"Aaa...kapan aku bisa memiliki barang barang sebagus ini, rasanya aku tidak akan pernah bisa memilikinya, menyedihkan sekali. Tapi tidak papa yang penting aku sudah pernah memegangnya meskipun hanya satu kali seumur hidup hehe" ucapku sambil tersenyum senang pada Reksa.
Reksa juga menanggapi senyumanku dan dia menjelaskan beberapa barang di sana termasuk dari mana dia dan ketiga temannya bisa mendapatkan semua barang itu, aku hanya mendengarkan cerita darinya yang menurutku itu cukup menarik untuk di dengarkan.
Sampai tiba tiba saja Devinka menghampiriku dan Reksa lalu dia mendorong Reksa dan menghempaskan lengan Reksa yang merangkul pundakku.
"Heh, kalau mau bicara ya bicara saja jangan sampai merangkul begitu, kebiasaan!" Ucap Devinka dengan wajah judesnya,
Aku dan Reksa saling pandang satu sama lain dan merasa heran dengan tingkah Devinka yang tidak biasa.
"Tentu saja tidak" jawabku secara langsung.
Devinka malah menatapku dengan tajam dan dia mengerucutkan mulutnya sampai tiba tiba dia pergi sambil memalingkan pandangannya ke arah lain lalu pergi duduk di tengah tengah Dika dan Ciko yang sedang fokus bermain game sedari tadi.
Aku tidak perduli dengan perubahan sikap Devinka yang sangat aneh dan selalu berubah ubah secara tiba tiba seperti itu sehingga Reksa malah mengajakku untuk berkeliling dahulu melihat lihat seisi ruangan tersebut.
"Reksa, dia kenapa sih apa salah makan ya, kenapa tiba tiba marah dan merajuk tidak jelas?" Tanyaku pada Reksa dengan penuh keheranan,
"Mana aku tahu, mungkin moodnya sedang buruk, sudahlah sebaiknya kita jangan mengganggunya ayo aku ajak kau melihat lihat tempat ini" ajak Reksa sambil menarik lenganku,
"Ayo" balasku dan pergi bersama Reksa melihat lihat bagian ruangan itu yang sangat menarik untukku.
__ADS_1
Sedangkan Devinka malah duduk sambil menyilangkan kedua lengannya dan menatap penuh kekesalan ke depan layar televisi sampai dia berada di titik amarahnya hingga tidak bisa menahan kekesalan saat melihat aku dan Reksa terus tertawa dan melihat lihat ruangan itu bersama.
"Eughhh....dasar mereka kekanak kanakan!" Bentak Devinka cukup keras namun aku tidak terlalu jelas mendengarnya karena fokus dengan urusanku sendiri.
Dika dan Ciko langsung berhenti bermain game karena bentakkan Devinka barusan berhasil membuat mereka kaget sehingga langsung kalah dalam pertarungan oleh lawan mainnya.
"Aishhh.....aahhh kita kalah lagi, kalau begini terus tidak seru" ucap Ciko menyerah sambil melemparkan stik game nya ke atas meja,
"Huuuh benar benar menyebalkan, padahal sedikit lagi kita akan menang" tambah Dika sambil menaruh stik game nya juga.
Beberapa detik kemudian Dika dan Ciko menatap ke arah Devinka secara bersamaan dan mereka sama sama menaikkan kedua alisnya merasa heran satu sama lain dengan wajah Devinka yang cemberut dan nampak menahan emosi.
Sampai Dika dan Ciko mengikuti arah pandang Devinka yang ternyata melihat ke arah Elisa dan Reksa yang tengah asyik bercanda sambil tertawa senang dan melihat lihat bagian ruangan itu tepat di depan mereka.
"Ohhh....jadi kau memperhatikan Elisa atau Reksa?" Tanya Dika sengaja menggoda Devinka,
"Hah, apa apaan siapa juga yang memperhatikan mereka, malas sekali" ucap Devinka dengan nada suara yang kesal,
"Terus kenapa kau merajuk ke sini dan malah uring uringan tidak jelas di sini ha?" Tambah Ciko yang ikut bertanya.
Devinka yang merasa dirinya terpojokkan dia langsung membalas pertanyaan kedua temannya itu dengan tatapan tajam.
"Hey, apa apaan kalian ini, sudah jangan hiraukan aku sama bermain game lagi, kalian semua menyebalkan" ucap Devinka dongkol.
Dika dan Ciko hanya bisa menggelengkan kepala mereka karena melihat tingkah Devinka yang selalu gengsi untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan sendiri.
__ADS_1