Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Karena Dia


__ADS_3

Waktu berlalu terlalu cepat untukku, kini hari sudah larut dan aku baru saja selesai mengantarkan semua pesanan, aku bersiap untuk pulang dan seperti biasa aku pergi mencari makanan untuk mengisi perut sebelum istirahat dan tidur di kosan, saat di perjalanan aku melihat sebuah gerobak nasi goreng di pinggir jalan, aku pun memutuskan untuk berhenti dan pergi dahulu ke sana.


"Wah...ada nasi goreng tuh, mending aku makan di sana dulu deh kayanya enak deh, pungunjungnya juga rame banget" ucapku sambil memarkirkan motor tak jauh dari gerobak nasi goreng itu,


Aku berjalan menuju sebuah meja yang kosong untunglah masih ada meja kosong di sana lalu aku menaruh helm ku di atas meja dan berteriak memesan nasi goreng, begitulah yang dilakukan orang orang kelas bawah sepertiku, makan di pinggir jalan menikmati makanan sambil melihat hirup pikuk kemacetan ibu kota, mencium asap dari kendaraan sambil makan dan minum itu sudah biasa bagi kami.


"Bang saya seporsi nasi goreng kumplit yah, sama minumnya satu" teriakku sambil mengangkat tangan,


"Oke neng, di tunggu yah" sahut si abang nasi goreng sambil tersenyum sekilas padaku,


Aku membuka ponselku sejenak sembari menunggu makananku tiba, ku lihat sudah banyak notifikasi pesan dalam ponselku diantaranya adalah pesan tugas dan gruf kuliah ada juga sebuah pesan terselip dari Lili beberapa menit lalu, aku segera membukanya.


"Elisa, aku minta maaf atas semua perlakuan ibu dan ayahku padamu tadi siang, Elisa jika kita masih sahabat tolong balas pesanku aku sangat mengkhawatirkanmu" isi pesan dari Lili yang membuatku merasa terharu,


Aku segera membalas pesan itu dengan perasaan senang karena ternyata ponsel Lili masih aman dan tidak di rampas oleh kedua orangtuanya.


"Iya Li, tidak papa aku baik baik saja, terimakasih sudah menghubungiku" jawabku lalu langsung mengirimkan pesan itu.


Baru juga aku hendak mematikan ponselku dan menaruhnya karena nasi goreng pesananku sudah tiba namun tiba tiba ponselku berbunyi dan dari layar menunjukkan balasan pesan dari Lili, aku langsung kembali membuka pesan itu yang ternyata isinya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.


"Kau dasar anak nakal, apa masih belum cukup mengganggu Lili, jangan menghubunginya lewat apapun atau beasiswamu akan saya cabut dari universitas!" Isi pesan balasan dari Lili.

__ADS_1


Aku kaget kenapa bisa ibu Lili yang membalas pesan dariku, padahal sebelumnya aku yakin itu Lili gaya ketikan nya sangat berbeda dengan pesan yang kedua kalimatnyapun begitu berbeda, saat aku hendak membalas kembali tiba tiba saja nomor ku di blokir sehingga aku bahkan tidak bisa membalasnya, aku simpan ponselku ke dalam saku bajuku lagi dan menghembuskan nafas dengan lemas.


"Meski mereka bukan pemilik universitas tapi tetap saja aku dalam bahaya sekarang, mereka bisa saja melakukan apapun untuk mengacaukan beasiswaku, maafkan aku Lili mulai sekarang sepertinya aku benar benar harus menjaga jarak darimu" gerutuku sambil mulai menyantap nasi goreng.


Aku sudah memutuskan semuanya, mulai detik ini aku akan berusaha menjauhi Lili dan menjaga jarak darinya bukan karena aku membencinya tapi ini demi kebaikan dia dan aku, di satu sisi aku sebenarnya tidak masalah jika ibu Lili hanya mengancam masalah beasiswaku namun kini ibu Lili tidak hanya mengancam akan hal itu melainkan mengancam akan mengirimkan Lili keluar negeri dan itu yang membuatku tak bisa berbuat banyak.


Aku tau semua ancaman yang diberikan oleh ibu Lili padaku bukanlah ancaman angin namun semua itu pasti akan terjadi jika aku tetap tidak mengikuti keinginannya, dulu saja Lili pernah di kurung di rumahnya seharian hanya karena dia ketahuan mengobrol denganku di sekolah saat jam istirahat.


Aku tidak mau kejadian menyedihkan itu terulang lagi, aku tau Lili pasti akan lebih memilih di kirim ke luar negeri dari pada harus berjauhan denganku namun aku tidak bisa bersikap sepertinya, apa bedanya dia ke luar negeri dengan kita yang lebih baik menjaga jarak sama sama jauh dan tidak bisa bersahabat dengan dekat lagi.


"Maafkan aku Lili, ini semua salahku aku terlalu ceroboh saat itu" gerutuku lagi merasa bersalah.


Ke esokan paginya adalah jadwal presentasi ku di kelas seni rupa aku sudah menyiapkan sebuah lukisan yang aku buat sendiri selama beberapa hari belakangan ini, aku bahkan mengerjakan tugasku itu di sela sela pekerjaan atau ketika aku pulang kerja dan saat di kampus, aku sangat bersemangat dan pagi pagi buta aku sudah duduk dengan tenang di dalam kelas menunggu dosen datang pagi ini.


Sesekali aku melihat jam di tanganku untuk melihat waktu, sampai tak lama beberapa.mahasiswa masuk ke dalam kelas di ikuti dengan desain di belakangnya, satu persatu mahasiswa mempresentasikan karya lukisan yang mereka buat, semuanya sangat canti cantik dan elegan hingga akhirnya giliranku tiba.


Aku maju ke depan dengan percaya diri dan memperlihatkan hasil lukisanku untunglah dosen terpukau dan menyukai lukisanku itu bahkan dia berniat ingin membelinya.


"Wahhh..... Elisa lukisanmu adalah yang terbaik sejauh ini, saya sangat menyukai sentuhan lembut dan ukiran canti dalam lukisanmu itu, kira kira apa kamu mau menjualnya saya bersedia untuk membeli sebagai hiasan di galeri lukisan saya" ucap sang dosen,


Mendengar tawaran dari dosen tentu saja aku sangat tergiur dan langsung menyetujuinya.

__ADS_1


"Tentu saja saya akan dengan senang hati menjualnya padamu prof, masalah harga kita bisa bicarakan di belakang" ucapku dengan sedikit tersenyum.


Di tengah tengah kebahagiaanku tiba tiba saja Devinka mulai mengacau, dia bangkit berdiri dan mengejek karyaku begitu saja.


"Hah...prof anda ini apa tidak bisa melihat mana karya yang berkelas dan mana yang murahan jelas karyaku lebih bagus dari pada miliknya aku bahkan diajarkan langsung oleh pelukis ternama, bagaimana bisa lukisannya yang terbaik!" Bentak Devinka tidak terima,


Aku tidak terima dia berkata seperti itu mengenai karyaku terlebih dia sudah bicara tidak sopan dengan dosen meskipun kelas ini hanyalah kelas tambahan yang diikuti mahasiswa namun tetap saja sudah sepantasnya semua mahasiswa menghormati dosennya.


"Devinka.... Bicara lebih sopan pada orang yang lebih tua darimu terlebih dia adalah gurumu di sini kamu harus belajar menghormati orang lain!" Bentakku membalasnya,


"Apa...kau berani padaku, heh asal kau tau dia bahkan digajih oleh ayahku dia bekerja di universitas milik keluargaku, harusnya dia yang menghormatiku bukannya malah memuji karyamu, kalian semua memang sama saja, tidak tahu malu!" Jawab Devinka tanpa rasa bersalah sedikitpun,


Saat aku hendak menghampiri Devinka untuk meluapkan kekesalan tanganku di tahan oleh dosen dan dia memintaku agar tidak membuat keributan dengan Devinka bahkan dosen justru menyuruhku untuk meminta maaf pada Devinka dia juga tidak jadi membeli karya lukisanku.


"Berhenti Elisa, sudah cukup jangan buat keributan dalam kelas saya" ucap sang dosen,


"Tapi prof...dia sudah keterlaluan pada anda" ucapku membelanya,


"Sudah berhenti Elisa, cepat minta maaf pada Devinka sekarang juga" ucapnya dengan intonasi yang tinggi.


Aku benar benar tidak mengerti dengan pemikiran semua orang, mereka bisa berubah dalam waktu beberapa detik hanya karena sebuah gertakan kecil dari Devinka.

__ADS_1


__ADS_2