
"Tenang Dev, gue yakin tuan Bramasta pasti akan baik baik saja, Lo harus tenangin diri Lo sendiri dan jaga kesehatan Lo" ucap Reksa menenangkan Devinka.
Devinka pun terlihat jauh lebih tenang dan dia segera mengambil koper besar berisi barang-barang penting miliknya Devinka juga membawa sebuah ikat rambut berwarna hitam milik Elisa yang pernah dia temukan di depan pintu ruang kelas sebelumnya, dia pergi dengan cepat saat itu juga dan Reksa sendiri yang mengantarnya ke bandara saat di perjalanan Reksa juga sudah mengirim pesan kepada Dika juga Ciko agar mereka bisa ikut mengantarkan Devinka saat di bandara nanti.
Bukan hanya kepada mereka berdua namun Reksa juga mengirimkan pesan kepada Elisa, hingga mereka baru saja sampai di bandara disana sudah ada Ciko dan Dika yang menunggu kedatangan mereka lalu segera mengantarkan Devinka ke dalam untuk menunggu pesawat yang dia naiki.
Sedangkan Reksa terus saja clingukan menatap kesana kemari karena dia mencari Elisa, padahal dia mengirim pesan lebih dulu kepada Elisa namun sampai saat ini dia belum melihat batang hidungnya sama sekali.
"Heh...Reksa siapa yang sedang kau cari kita berdua kan sudah ada disini?" Tanya Ciko karena geram melihat Reksa yang tidak bisa diam,
"Itu loh si Elisa kenapa dia belum muncul juga, padahal udah aku kasih tahu lebih dulu" ucap Reksa sambil terus menatap ke segala arah,
"Mungkin dia tidak akan datang, untuk apa juga dia datang mengantarkan kepergian musuhnya sendiri, haha itu lucu" pungkas Devinka dengan sinis.
Mereka langsung diam ketika Devinka sudah bicara seperti itu hingga suara panggilan untuk penerbangan yang akan di naiki oleh Devinka sudah terdengar dan dia segera berpamitan kepada ketiga temannya termasuk pada Reksa.
"Maafkan aku Reksa selama kau menjadi temanku, aku selalu memerintahmu sesuka hatiku tapi kau adalah yang terbaik dari pada mereka berdua ini" ucap Devinka sambil bercanda dengan kedua temannya Dika dan Ciko,
Reksa tidak bisa melepaskan Devinka dia merasa sangat sedih kehilangan teman terbaiknya dan Reksa langsung memeluk Devinka dengan erat dia sengaja melakukan itu untuk mengulurkan waktu sampai menunggu Elisa tiba di sana, karena bagaimanapun Reksa tahu bahwa Devinka menyukai Elisa walau di luar mereka terlihat bermusuhan.
"Ayolah... Devinka kau juga teman terbaik untukku, huaaa...tidak ada ada yang mau meminjamkan mobil mewah lagi kepadaku jika kau pergi hiks..hiks..." Ucap Reksa dengan memeluk Devinka sangat erat.
Melihat kelakuan Reksa yang membalikkan tentu saja Ciko dan Dika tertawa melihatnya sedangkan Devinka merasa sangat risih dan dia berusaha keras untuk mendorong Reksa dan membuat dia melepaskan pelukan dari tubuhnya.
"Aishh.....Reksa apa yang sedang kau lakukan, ini di depan umum cepat lepaskan aku!" Bentak Devinka sambil berusaha mendorongnya.
__ADS_1
"Tidak....aku tidak ingin kehilanganmu Devinka huhu....biarkan aku memelukmu sebentar saja" ucap Reksa masih berusaha mengulur waktu untuk Elisa.
Sedangkan disisi lain aku baru sampai di kosan dan baru memeriksa ponselku lagi karena sebelumnya kehabisan batrai, saat batrai di ponselku menyala dan aku langsung mendapatkan notif sebuah pesan dari Reksa yang mengatakan Devinka akan segera pergi lalu dia mengirimkan sebuah lokasi bandara.
Aku sangat kaget dan panik, meski sebelumnya aku sangat kesal dan baru saja bertengkar dengan Devinka namun ketika mengetahui hal mendadak seperti ini tentu saja aku sangat panik, tanpa banyak bicara lagi aku segera berlari keluar dari kosanku dan hanya membawa uang yang ada di saku celanaku saja.
Aku menghentikan taxi dan meminta agar supir taxi bisa melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju bandara yang aku sebutkan kepadanya.
"Astaga...bagaimana bisa kau baru mendapatkan notif ini, ahhh sial dia pasti sudah pergi sekarang, Tuhan tolong beri aku sedikit kesempatan setidaknya agar aku tidak menyesal" ucapku penuh harapan.
Sialnya di tengah perjalanan taxi yang aku tumpangi justru malah tertahan oleh kemacetan sebab waktunya saat itu di tengah hari dimana tengah banyaknya kendaraan yang minta di jalur aktif seperti itu, aku tidak bisa terus diam dan hanya menunggu kemacetan selesai.
"Pak aku berhenti disini saja, terimakasih" ucapku berhenti di sana dan memilih untuk turun.
Sayangnya saat aku berhasil menemukan Reksa ternyata Devinka sudah pergi beberapa saat ketika aku belum sampai di sana.
"Hah...hah...hah...Reksa dimana Devinka?" Tanyaku dengan nafas ngos-ngosan sambil memegangi lututku yang lemas,
"Kau sialan, kau benar-benar kurang ajar kali ini Elisa, aku tidak akan memaafkanmu dan kau terlambat padahal aku sudah menahan Devinka cukup lama demi kau, kemana saja kau baru tiba di saat Devinka baru saja pergi?" Bentak Reksa memarahiku.
Reksa marah kepadaku dan dia terlihat sangat membenciku, namun aku tidak perduli dengan hal tersebut aku sungguh merasa lemas dan aku langsung jatuh ambruk ke lantai saat itu juga, aku tidak menyangka semua perjuangan yang aku hadapi untuk sampai ke tempat ini sia-sia, Devinka pergi tepat beberapa saat saja.
Aku sudah kehilangan dia dan mungkin tidak akan bertemu lagi dengannya, aku sungguh merasa sedih dan sangat sedih hingga aku ingin menangis, aku tertunduk dengan lesu dan tidak sanggup mengangkat kepalaku.
"Hiks...hiks...maafkan aku Reksa, aku tahu aku terlambat, ku pikir dia akan menungguku aku hanya perlu sedikit waktu...maafkan aku" ucapku merasa sangat bersalah.
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa perasaanku seperti ini padahal Devinka itu musuhku dia bukan temanku aku hanya mengenal dan sedikit dekat dengannya karena tugas kelompok saja tapi mendengar dia pergi dan aku tidak bisa melihatnya terlebih dahulu membuatku sangat sakit.
Meski Dika memegangi kedua pundakku dan dia berusaha menenangkan aku aku tetap tidak bisa membuat diriku tenang.
"Sudah Elisa kamu tidak salah, untuk apa juga kamu menangisinya, dia sudah pergi dia mungkin juga akan kembali lagi nanti" ucap Dika menenangkan aku.
"Bagaimana jika dia tidak kembali?" balasku kepada Dika.
Aku tetap menangis terisak sampai tiba-tiba saja suara seseorang terdengar sangat dekat dariku.
"Chicken bangun kau!" Ucap Devinka yang kembali datang dan dia berdiri di depan Elisa.
Aku kaget mendengar suara Devinka begitu dekat denganku, dan refleks aku langsung mengangkat kepalaku, lalu aku sangat kaget dan senang saat melihat Devinka berada di hadapanku saat itu.
Aku langsung bangkit meski kakiku teras sakit, aku langsung memeluknya dengan erat dan sangat bersyukur karena masih bisa melihat dia sebelum dia benar-benar pergi dari negara ini.
"Devinka....kau?" Ucapku sambil langsung memeluknya dengan erat.
"Terimakasih Devinka, terimakasih karena telah kembali hiks...hiks..." ucapku sambil memeluknya erat-erat.
Devinka membalas pelukan Elisa dengan hati yang senang dan matanya melihat ke arah kaki Elisa yang lecet dan lebab, dia tahu bahwa Elisa melewati beberapa hal yang sulit untuk sampai ke sana hanya untuk menemuinya sebelum pergi.
"Chicken apa kau harus melukai kakimu sendiri hanya untuk datang kesini?" Tanya Devinka sambil melepaskan pelukannya,
"Ehh...apa?, Darimana kau tahu kakiku terluka?" Tanyaku heran.
__ADS_1