Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menebus Obat


__ADS_3

Meski aku sangat membencinya dan dia sangat merepotkanku tapi aku juga tidak bisa berbuat apapun karena Devinka sungguh tak sadarkan diri, aku mencoba memegangi lengannya dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.


Untung sekilas aku merasa sangat tenang karena masih bisa merasakan denyut nadi pada pergelangan tangannya.


"Haaaah....syukurlah anak ini tidak benar benar mati, aiishh...aku parno begini gara gara supir sialan ini" gerutuku kecil sambil menatap sinis ke arah supir taxi tersebut.


Aku terpaksa membawa Devinka ke rumah sakit terdekat karena tidak mungkin jika aku membawanya ke kosan kecil milikku, yang ada nanti saat dia bangun pasti dia akan menghina kondisi tempat tinggalku dan hanya akan terus menghinaku, aku tidak mau itu terjadi lagi pula jujur saja aku juga sedikit khawatir makanya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


Aku meminta bantuan pada sang supir taxi untuk membantuku memapah Devinka karena jujur saja aku tidak sanggup kalau harus memapah badannya yang tinggi dan sangat berat sedangkan aku berbadan kecil dan tidak tinggi, dia benar benar merepotkanku kali ini.


"Pak...tolong bantu saya membawanya ke dalam rumah sakit, saya tidak mungkin memapahnya seorang diri, badannya ini terlalu berat eughh" ucapku sambil meminta bantuan,


"Bisa aja neng tapi ada bayarannya gak?" Tanya supir taxi itu sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning.


Aku sangat jijik melihat supir taxi yang sangat tidak bersih dan begitu perhitungan sepertinya, tapi karena aku membutuhkan tenaganya terpaksa aku harus menyetujui dia dan memberikan bayaran lebih atas bantuannya.


"Ehh...iya iya aku akan menambahkan ongkosnya, perhitungan sekali sih, tidak ada amal sedikitpun" balasku menyetujui sambil menggerutu kesal.


Supir itu langsung membantuku memapah Devinka hingga masuk ke ruang pemeriksaan dan dokter segera memeriksa kondisinya sedangkan aku pergi ke luar dan memberi bayaran pada supir taxi sialan itu.


"Ini bayarannya, terimakasih sudah membantuku pak" jawabku sambil memberinya sejumlah uang,


Bukannya bersyukur aku sudah melebihi ongkos taxinya sebesar lima puluh ribu rupiah, eh supir itu justru malah meminta bahwa bayaran dariku masih kurang dan dia terus memaksa kepadaku untuk memberinya bayaran lebih.


"Hah, apa apaan ini masa cuman segini?, Ini mah cukup buat ongkosnya aja neng bayaran buat bantuannya mana, pinggang saya sampai nyeri gara gara memapah pacarnya eneng, lah masa dapet bayarannya segini?" Ucap supir taxi yang tidak tau diuntung,

__ADS_1


"Pak...memangnya harus berapa hah, udah untung aku tambahin, udah pergi aja lagian aku udah bayar kan, apa masalahnya gak bersyukur banget sih jadi orang!" Balasku sangat kesal,


"Dasar perempuan gila tidak tau sopan santun pada orang tua, pantas saja pacarnya pingsan begitu dia pasti tidak tahan dengan kelakuanmu yang buruk!" Jawab sang supir yang membuatku begitu kesal.


"APA...KAU BILANG HAH?, Pergi dari hadapanku atau akan ku sumpal mulutmu...." Teriakku sambil membelalakkan mata lebar dan berkacak pinggang penuh emosi.


Sang supir langsung berlari terbirit birit meninggalkan tempat itu dia sepertinya takut dengan ucapanku, entah dia mungkin takut dengan kemarahanku.


Sungguh ini adalah pertama kalinya aku menemui supir taxi yang menjengkelkan dan tidak tahu diri sepertinya, semua ini terjadi juga gara gara Devinka aku kehilangan banyak uang juga mendapatkan penghinaan seperti tadi dalam waktu yang bersamaan.


"Hah....dasar supir sialan!, Arghhhh......hah...hah...sabar Elisa sabar" gerutuku kesal sambil duduk di depan ruang rawat Devinka sambil mengelus dadaku untuk menurunkan emosi.


Beberapa orang di sana yang sepertinya tengah menunggu pemeriksaan nampak langsung menatapku dengan tatapan yang aneh, aku tau mungkin mereka terganggu dengan teriakkan dariku sebelumnya, aku pun tersenyum membalas tatapan mereka sambil menunduk merasa bersalah.


Hari ini aku sukses di buat malu dan banyak mendapatkan kerugian gara gara menolong pria menyebalkan seperti Devinka.


Tak lama dokter yang memeriksa keadaan Devinka keluar dari ruangan dan memanggil wali dari pasien, aku pun langsung berdiri dan mengatakan bahwa aku adalah temannya Devinka.


Dokter itu mengatakan bahwa Devinka hanya mengalami Anemia atau tekanan darah rendah, dokter menjelaskan bahwa itu mungkin terjadi karena Devinka terlalu stress juga kelelahan makanya bisa tiba tiba pingsan seperti tadi.


Aku pun merasa lega setelah mengetahui penyebabnya apalagi saat dokter mengatakan bahwa Devinka hanya butuh istirahat dan makan dengan teratur lalu meminum obat penambah darah dengan rutin, dokter juga mengatakan bahwa Devinka sudah sadar dan dia sudah bisa pulang saat itu juga.


Aku kaget saat tau Devinka sudah sadar, aku juga bingung bagaimana sekarang aku harus menghadapinya.


"A..apa dok?, Di..dia sudah sadar sekarang?" Tanyaku kaget dan memastikan,

__ADS_1


"Iya, kenapa kamu terlihat kaget apa kamu tidak senang temanmu sudah sadar dan baik baik saja?" Jawab dokter itu balik bertanya,


"Ehh...bukan begitu dok hanya saja ahhh ini sulit di jelaskan, tapi terimakasih dok saya akan menebus obatnya" jawabku langsung pergi dari sana sambil mengambil resep obat yang sudah di tulis oleh dokter itu sebelumnya.


Lagi lagi aku sudah salah memilih membawa Devinka ke rumah sakit terdekat, karena harga obat yang harus di tebus di sana mencapai lima ratus ribu rupiah padahal aku tau itu hanya obat penambah darah dan beberapa vitamin.


"Totalnya lima ratu ribu rupiah ya" ucap sang apoteker,


"HAH?, Li...lima ratus ribu?, Hanya tiga jenis obat saja masa semahal itu sih?" Bentakku saking kagetnya.


Lagi lagi aku menjadi pusat perhatian banyak orang karena berteriak dengan keras dan membuat beberapa orang yang mengantri di belakang menatapku dengan tajam, aku pun kembali tertunduk malu dan segera menebus obat itu dengan sangat tidak ikhlas.


Semua uang saku yang aku kumpulkan dari gaji delevery ayam sebelumnya sudah habis terkuras hanya untuk menebus obat sialan untuk Devinka.


Aku berjalan menuju ruang rawat di mana Devinka berada, sepanjang jalan aku benar benar menahan emosiku dan meremas plastik obat ditangan dengan sangat kuat, berkali kali aku mengatur nafasku yang sulit dikendalikan sebelum aku masuk ke dalam ruangannya.


"Ahhh...dia benar benar membuatku jatuh miskin, sudahlah aku ini memang miskin ditambah arghhh...obat ini kalau tau akan semahal ini lebih baik aku membelinya di apotek luar yang jauh lebih murah, aishhh...." Gerutuku yang masih tidak terima.


Mau bagaimana lagi meski aku terus merasa kesal dan menggerutu tanpa henti, tetap saja aku tidak bisa mengembalikan uang yang sudah raib, aku menguatkan diriku dan mencoba untuk tabah lalu masuk ke dalam ruangan dan melihat Devinka yang sudah terduduk di ranjang rumah sakit sambil tengah memakai sepatunya.


Aku datang menghampiri dia dan melemparkan obat itu tepat ke badannya dan dia langsung menangkap obat itu dengan tepat.


"Heh...apa apaan kau ini, datang datang melempari ku sembarangan, ini apa lagi?, Obat siapa ini, kau mau meracuniku yah" ucap Devinka yang sungguh membuatku tercengang dan emosi,


"Hah?.....apa kau bilang, Meracunimu?, Apa kau tidak lihat itu hanya obat yang diresepkan oleh dokter untuk kau minum, sembarangan mencurigai orang, bukannya berterimakasih kau sudah aku tolong" ucapku membentak dia dengan tidak terima atas ucapannya.

__ADS_1


"Untuk apa aku berterima kasih padamu, aku hanya perlu mengganti uangmu kan, berapa jumlahnya sebutkan saja, apa satu juta cukup?" Balasnya sambil berdiri tegak di depanku dengan tatapan yang meremehkan.


__ADS_2