Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Pesanan Devinka


__ADS_3

Bahkan ketika aku melihat Lili diseret oleh ibu kandungnya sendiri demi membela diriku, aku tak bisa berbuat apapun selain tertunduk dan meneteskan air mata, setelah kajadian tadi aku bahkan tidak tau apa aku masih bisa bersahabat dengan Lili, atau apa aku bisa sekedar menyapa dia jika kita bertemu, aku terlalu takut hanya karena ancaman itu dari ibunya Lili.


Aku berusaha melupakan kejadian sebelumnya dan kembali mengemudikan sepeda motorku, aku pergi menuju restoran ayam tempat ku bekerja, saat itu pesanan yang siap diantarkan sudah menunjuk dan meski ini belum waktunya aku bekerja aku memutuskan untuk mengantarnya.


"Pak apa ini pesanan yang harus saya antarkan hari ini?" Tanyaku pada kepala pelayanan,


"Iya Elisa....tapi ini kan belum masuk jam kerjamu untuk apa kau datang lebih awal?" Tanya kepala pelayan,


"Tidak papa bos banyak memberiku bonus sebelumnya, apa salahnya aku juga memberikan bonus tambahan waktu hehe" jawabku menyembunyikan kesedihan,


"Kau memang pekerja keras, ahh andai saja semua anak anak memiliki semangat sepertimu pasti resto ini akan cepat melesat" ujar kepala pelayan,


"Sudahlah jangan menyanjungku begitu, aku pergi dulu yah pak" jawabku sambil membawa semua kotak itu keluar,


"Hati hati Elisa..." Teriak kepala pelayan.


Seperti biasa aku menata dahulu box berisi ayam itu ke dalam box besar yang sudah aku pasangkan di motorku, aku pun menaiki motor dan memberikan semangat pada diriku sendiri agar bisa menikmati hari ini jauh lebih baik.


"Ayo, semangat Elisa...." Ucapku sambil mengepalkan kedua tangan penuh energi,


Aku langsung berangkat ke tujuan pertama dan tempatnya itu lumayan jauh namun sepanjang perjalanan aku sangat menikmatinya.


"Ahh... udaranya sejuk sekali, tidak panas juga tidak mendung sangat mendukungku untuk bekerja" ucapku sambil mengendarai motor penuh semangat.

__ADS_1


Sudah sore dan aku hampir menyelesaikan semua antaran pesanan pembeli untuk hari ini, karena hanya tinggal ada dua pesanan lagi dalam box ku aku pun memutuskan untuk beristirahat sebentar di bahu jalan tepat di sebuah warung kecil, aku memarkirkan motor di depan warung itu dan memesan teh manis untuk menghapuskan dahaga pada tenggerokanku, setelah itu aku juga menikmati roti nanas kesukaanku di sana.


Rasanya nikmat sekali bisa menikmati roti nanas di pinggir jalan dengan teh manis sebagai minumannya, setelah kenyang aku melanjutkan pekerjaanku dan kembali ke restoran, aku pikir kali ini aku bisa pulang lebih awal karena semua pesanan sudah aku kirim dengan aman dan aku hanya tinggal membantu beberapa urusan di restoran sampai jam pulang nanti.


****


Di sisi lain Devinka yang masih merasa penasaran mengenai Elisa yang bekerja sebagai kurir pengantar ayam dia memutuskan untuk memesan kembali ayam di tempat yang sama dan dalam jumlah yang banyak, tidak hanya itu bahkan Devinka meminta agar mengantarkannya secepat mungkin dan ayam harus dalam keadaan yang masih hangat.


Permintaannya itu sedikit menyulitkan koki yang memasak sebab pesanannya tidak lah sedikit dalam waktu yang terbatas sangat tidak mungkin ayam itu akan sampai dalam keadaan masih hangat ketika sampai pada tangan konsumen, namun kepala pelayan yang bersih keras menerima pesanan itu sebab jumlahnya yang banyak sehingga sayang jika di lewatkan.


Setelah mereka sudah menyetujui pesanan Devinka satu sama lain, barulah kepala pelayan mengatakannya padaku.


"Elisa kemari sebentar" ucap kepala pelayan,


"Kamu hari ini lembur satu jam yah, ada pesanan spesial yang harus kamu antar dan orang yang memesan hanya ingin kamu yang mengantarkannya, dan satu lagi kamu harus memastikan semua ayamnya dalam keadaan masih hangat" ucap kepala pelayan yang membuatku merasa heran,


"Tunggu pak, tapi bagaimana bisa saya memastika semua ayam akan tetap hangat hingga sampai pada pembelinya, lagi pula pesanannya ini sangat banyak mungkin jika saya belum memasukkannya ke dalam box ayam ini sudah ada yang dingin" jawabku merasa mustahil,


"Ayolah Elisa, aku yakin kamu bisa melakukannya, kamu kan tinggal mengakalinya dengan melajukan motor secepat kilat atau apalah agar pelanggan senang, dia orang berpengaruh di negara ini, kita tidak mungkin menolaknya!" Ucap kepala pelayan yang sepertinya tidak ingin penolakkan.


Aku hanya bisa pasrah dan meminta alamat pengiriman saat aku membacanya, aku bisa langsung tau bahwa itu adalah rumah Devinka.


"Apa?, Ini kan rumah Devinka?" Bentakku tak sadar masih ada kepala pelayan di depan wajahku,

__ADS_1


"Heh, kenapa kau terlihat sangat kaget ini kan bukan pertama kalinya kamu ke sana" ujar kepala pelayan dengan acuh tak acuh.


"Iya pak sa....saya tau" jawabku segera pergi dari sana.


Aku pergi ke kamar mandi dan meluapkan semua ke kesalan dalam diriku yang sudah aku tahan saat di depan kepala pelayan dan karyawan lain.


"Euhh....Devinka sialan, aku yakin dia hanya ingin mengerjaiku, bagaimana mungkin aku bisa menjaga agar pesanannya tetap hangat memangnya aku ini induk ayam yang akan mengerami telurnya...huuuh...menyebalkan sekali" gerutuku penuh emosi.


Aku ingin pergi dan menolak namun tak bisa karena aku takut dipecat dari sana, dan ucapan kepala pelayan memang ada benarnya Devinka adalah orang paling berpengaruh dalam urusan bisnis di negara ini, akan sangat rumit jika berhubungan buruk dengannya, dan aku terpaksa harus masuk ke dalam jebakkan Devinka dalam keadaan sadar bahwa aku tengah di jebak.


Aku tidak tau apa yang akan aku dapatkan dan apa yang akan Devinka lakukan padaku saat mengirimkan pesanannya nanti, namun aku sudah berlatih bela diri sejak aku kecil selama tinggal di panti asuhan sehingga aku bisa berjaga jaga untuk melindungi diriku sendiri dari pria sepertinya.


Aku melanjutkan pekerjaanku membersihkan meja dan mengelap kaca restoran sambil menunggu para koki selesai memasak semua pesanan milik Devinka, hingga setelah semua sudah dibungkus rapi aku langsung saja berangkat dan berpamitan terburu buru pada kepala pelayan karena tidak mau jika sampai ayamnya keburu dingin.


Aku melajukan motor dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga aku sendiri harus mengusap dadaku berkali kali karena terkejut bisa menjalankan motor secepat tadi, saat sampai di tempat tujuan rasanya aku sangat plong dan tak ada lagi perasaan cemas yang mengganjal dalam diriku.


Aku bergegas berlari sekuat tenaga sambil membawa tumpukan box berisi ayam pesanan Devinka aku bahkan sampai bulak balik sebanyak tiga kali untuk mengambil pesanan tersebut karena sangat banyak, aku mengetuk pintunya dengan terburu buru sampai Devinka keluar.


"Kau rupanya cepat juga, mana pesanannya" ucap Devinka dengan kedua tangan yang dilipat di dada,


"Ini pesananmu" jawabku menunjuk ke arah tumpukan box ayam yang bertumpuk tinggi.


Melihat wajahnya saja sudah sangat membuatku muak dan kesal, aku sudah tidak tahan melihatnya memeriksa satu persatu box itu hanya demi memastikan apakah semua ayam itu dalam keadaan hangat atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2