
"Devinka aku bisa menerima semua hukuman yang akan kau dan Reksa berikan padaku karena sudah membohongi kalian berdua, aku sudah pasrah bahkan jika kau memberiku hukuman yang berbahaya aku akan menerimanya" balasku yang sangat putus asa.
Saat itu aku sudah sangat pasrah dengan nasib diriku sendiri dan itu pertama kalinya aku menyerah dalam hidup, aku sungguh tidak enak hati dan rasanya ingin menangis melepaskan semua beban sesegera mungkin.
Namun karena di sampingku masih ada Devinka aku harus terus menahannya, aku tidak bisa memperlihatkan kelemahanki di depan musuhku sendiri, meski pun Devinka sudah bersikap baik padaku tetap saja aku pikir itu hanya sebagai balasan atas kebaikanku pada dia sebelumnya.
Aku sudah diam dan menundukkan kepala cukup lama menunggu Devinka melontarkan hukuman yang akan dia berikan kepadaku tapi setelah beberapa saat tetap saja tidak ada jawaban dari Devinka dia hanya terus fokus menyetir sehingga aku merasa kebingungan sendiri dengan sikapnya yang tidak bisa ini. Aku pun memberanikan diri untuk kembali bertanya menyapanya dan memastikan kondisinya.
"Devinka apa kau baik baik saja?, Kenapa kau diam terus apa kau tidak mau memberiku hukuman atau semacamnya?" Tanyaku bertubi tubi,
"Tidak, biarlah untuk kali ini aku melepaskanmu, anggap saja itu balasan karena Ciko sudah membuatmu di rawat kemarin" balasnya dengan santai.
Aku terperangah membuka mata dan mulutku dengan lebar saking kagetnya mendengar jawaban dari Devinka yang nampak begitu tenang dan santai sama sekali tidak mirip seperti dirinya sedikitpun.
Aku masih sulit untuk mempercayainya sehingga aku mengira bahwa itu hanya candaan dari Devinka untuk mempermainkan aku seperti biasanya.
"Ahaha...Devinka bagus, bagus sekali kau mau mempermainkan aku yah ayo cepat katakan saja hukuman apa yang harus aku lakukan untuk menebus kebohonganku" ucapku dengan serius pada Devinka,
"Elisa kau ini kenapa sih, aku sungguh tidak akan meminta apapun darimu, aishh kau ini buang buang waktu saja" balas Devinka membuatku seketika terperangah dan mematung.
Aku sangat tidak bisa mempercayai semua ini dengan cepat, pasalnya sikapnya kali ini seperti bukan Devinka yang aku kenal dan dia terus menyetir dengan serius menatap ke depan tanpa memperhatikan atau mencoba mempermainkan aku seperti biasanya.
Suasana seperti ini justru membuatku tidak nyaman karena aku pikir bertengkar dengannya lebih membuatku leluasa dan bebas sekarang dia tiba tiba saja terus bersikap baik padaku bahkan tidak mencoba untuk berdebat denganku sedikitpun.
Aku tak bisa melakukan apapun lagi karena sudah beberapa saat aku memperhatikan wajah Devinka dan rasanya tidak ada yang berubah dari wajahnya, saat itu aku mencurigai dan takut jika itu bukan Devinka, aku takut orang yang bersamaku saat ini hanyalah seseorang yang wajahnya mirip dengan Devinka sehingga aku terus memperhatikan wajah Devinka dengan lekat dan cukup lama.
"Hah, apa ini sungguh dia?" Gerutuku masih tak habis pikir.
__ADS_1
Devinka yang mulai merasa risik karena Elisa terus menatapnya dengan sangat dekat dan terus memperhatikan dia dari segala arah, alhasil amarah Devinka tidak bisa di tahan lagi.
"ELISAAA!, tidak bisakah kau diam ha?" Bentak Devinka sangat keras sampai membuatku terperanjat dan sangat kaget.
Tapi dengan begitu kini aku kembali yakin bahwa yang bersamaku saat ini adalah Devinka sungguhan bukan tiruan ataupun orang yang menyamar.
"Ahhh... Akhirnya kau kembali pada karaktermu yang semula sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik dan tenang" ujarku membalasnya dan menyandarkan tubuhku ke belakang,
Sedari tadi aku sudah sangat lelah dengan berbagai macam kejadian yang menimpa diriku dan membuat mood ku hancur, kini Devinka hanya menatap ke depan samb mengemudikan mobil dengan ekspresi wajah yang ditekuk kesal. Sedangkan aku merasa senang dan tersenyum puas karena sudah bisa memastikan aku tidak salah dalam mengenali orang lain.
Saat suasana tengah tenang tiba tiba saja perutku mengeluarkan suara yang sangat membuatku malu sampai tak berani memperlihatkan wajahku pada Devinka.
"Kreokkk....kreokkkk...." Suara perutku yang keroncongan,
"Astaga, perut ini benar benar tidak bisa diajak bekerjasama aishh" gumamku merasa kesal sendiri,
"Haisss..semua ini karena kak Kris sialan, gara gara dia aku kelaparan sekarang aaahhh sepertinya lambungku juga akan kambuh, aduh ini mulai terasa sakit" gerutuku pelan.
Aku tak tahu apakah Devinka mendengar gerutuanku atau tidak namun tiba tiba saja dia menghentikan mobilnya lalu keluar dari mobil begitu saja.
"Eh..Devinka kenapa berhenti, tunggu kau mau kemana hey....." teriakku memanggilnya karena dia pergi meninggalkanku di dalam mobil sendirian begitu saja,
Aku tadinya mau menyusul Devinka dan mengejarnya namun rasa sakit di perutku tepatnya perih di lambungku semakin menjadi sehingga aku tidak bisa keluar dari mobil dan hanya memegangi perutku yang terasa sangat perih juga sakit yang tak tahan.
"Aaaahhh....kenapa bisa sesakit ini, sial aku belum makan sejak pagi, bagaimana ini aaaahh aku harus bagaimana obat mag ku tidak aku bawa" ucapku merasa kebingungan sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian Devinka kembali sambil membawa sekantung keresek makanan di dalamnya aku langsung membelalakkan mataku dan seperti mendapatkan cahaya kehidupan lagi ketika melihat makanan makanan itu.
__ADS_1
"Devinka bolehkan aku meminta makananmu, perutku sakit dan aku harus segera mengisinya dengan makanan kalau tidak mungkin aku akan segera di rawat lagi, aku mohon Devinka tolong beri aku satu saja" ujarku memohon padanya,
"Tidak bisa ini makananku ini untukmu makan obatnya nanti juga akan sembuh" kata Devinka sambil memberikan obat mag berbentuk tablet padaku.
Aku sangat kesal karena dia malah memberiku obat bukan makanannya meski pun aku juga memang membutuhkan obat itu, tapi tetap saja aku perlu makan karena perutku belum terisi makanan sejak pagi.
Tapi ku pikir daripada aku terus merasakan sakit di lambungku lebih baik aku mengambil obat itu setidaknya untuk menghilangkan rasa perih di lambungku dan sebagai ganjalan untuk perutku sampai aku bisa membeli makanan ketika kembali nanti.
"Kenapa?, Apa kau tidak ingin obat. Ya sudah kalau tidak mau" ucapnya yang membuatku berhenti berpikir dan langsung mengambil obat itu dari tangannya dengan cepat,
"Oohhh tidak, haha aku akan mengambilnya ini sangat aku butuhkan terimakasih Devinka hehe" kataku sambil merampas obat itu dan langsung memakannya sampai habis.
Devinka nampak kaget dan membuka matanya lebih lebar saat melihat aku bisa memakan obat tanpa air dan mengunyahnya layaknya mengunyah sebuah permen.
"Ehh....tunggu, kau?, Kau memakannya begitu saja?, Apa kau tidak butuh air ini cepat minum airnya obat itu pasti sangat tidak enak kan" ujar Devinka sambil memberikanku sebotol air mineral.
Aku hanya menatapnya heran karena sejak dulu aku sudah biasa memakan obat tanpa air jadi tentu saja itu biasa dan sangat mudah bagiku namun sepertinya itu tidak mudah untuk Devinka sampai dia kaget dan panik seperti barusan.
Karena Devinka memberiku air tentu saja aku tidak boleh menyia nyiakannya dan langsung ku teguk air itu sampai habis, dan lagi lagi aku berusaha menahan rasa lapar di perutku dengan meminum semua air itu, aku tahu Devinka tidak akan memberiku makanan miliknya jadi hanya air itu yang bisa mengisi perutku sampai aku tiba di daerah yang aku ketahui.
"Heh, Elisa kenapa kau menghabiskan semua airnya?" Bentak Devinka dengan kedua alis yang dikerutkan.
Aku tahu dia pasti tengah kesal karena aku menghabiskan semua air miliknya tapi jika tidak seperti itu kapan lagi seorang Devinka akan memberikan miliknya padaku apalagi dia sangat protektif dengan kebersihan, mungkin mobil ini juga akan dia cuci segera setelah aku turun nanti.
"Kau pikir aku ingin meminum semua air itu, tentu saja tidak aku hanya terpaksa meminumnya agar perutku berhenti berontak" jawabku dengan jujur,
Devinka semakin menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan sampai dia akhirnya melemparkan semua makanan yang baru saja dia beli barusan padaku.
__ADS_1