
Sepanjang perjalanan pulang aku seperti orang linglung dan terus merasa heran tidak menentu tapi setelah sampai di kosan aku berusaha menyingkirkan semua perasaan aneh di dalam diriku itu dan berusaha fokus dengan kenyataan.
"Aaahh...ayolah Elisa...sadar...ada apa sih denganku sebenarnya, aishh....si Devinka itu benar-benar membuat orang kebingungan dan salah paham saja" gerutuku merasa pusing sendiri.
Aku melihat ke arah box hadiah yang dia berikan kepadaku sebelumnya dan aku kembali membuka box berisi sepatu berwarna silver tersebut.
Sepatu silver hadiah dari Devinka.
sepatunya sangat cantik di lihat dari sudut manapun, aku sangat menyukainya dan aku segera mencoba sepatu itu di kakiku, hasilnya memang sangat cantik sesuai dengan apa yang aku harapkan dan sangat pas dikakiku aku bahkan sampai merasa bingung bagaimana Devinka bisa mengetahui nomor kakiku hingga bisa membeli sepatu yang sangat cocok di kakiku seperti ini.
"Apa selama ini dia diam-diam memperhatikan segalanya tentangku yah?" Gumamku memikirkan.
Karena kebaikannya itu aku selalu salah paham terhadapnya, tapi aku juga selalu menepis pikiran tersebut dengan cepat karena aku sadar diri siapa aku ini.
Mungkin aku akan merasa senang jika dia benar menyukaiku sebab aku juga tidak bisa terus membohongi perasaanku seperti ini, aku juga menyukainya hanya saja aku takut jika dia hanya menganggap ku teman biasa dan semua kebaikannya hanya rasa kasihan saja, itu yang selalu aku takutkan sebab kasta aku dan dia terlampau begitu jauh, seandainya dia bisa menerima aku apa adanya, keluarganya juga belum tentu bisa menerima aku sama seperti dia bisa menerimaku juga, itulah yang selalu membuatku cemas.
Tapi untuk saat ini aku tidak perlu terlalu mencemaskan hal sejauh itu yang bahkan belum terjadi, bisa melihat dia ketika tersenyum dan marah saja itu sudah cukup untukku dan dia yang memberikan semua ini kembali kepadaku itu juga sudah membuat aku sangat senang hingga aku tidak sabar untuk segera memakainya esok pagi.
Saking tidak sabarnya menunggu hari wisuda besok aku bahkan tidak bisa tertidur malam ini, aku sudah membayangkan banyak hal yang menyenangkan akan terjadi besok hingga akhirnya aku justru tertidur larut malam dan bangun hampir ke siangan ke esokan paginya.
"Kring...kring ..kring" dering alarm di jam beker ku,
"Aishhh.....ini sudah jam tujuh pagi?, Ya ampun bagaimana aku bisa kesiangan begini" gerutuku sambil segera bergegas bangkit dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku mandi dengan terburu buru bahkan tidak mencuci rambutku, aku langsung memakai gaun yang pernah Devinka berikan kepadaku lalu segera memakai sepatunya juga sehingga ketika sudah siap dan telah menata rambutku aku langsung pergi keluar dari kosan menuju ke jalanan tapi tiba-tiba saja Reksa datang menjemputku tanpa aku duga.
"Elisa...disini ayo masuk" ucap Reksa sambil melambaikan tangan kepadaku.
Aku merasa heran dan menaikkan kedua alisku tapi aku menurutinya segera untuk masuk ke dalam mobil hingga ketika sudah melaju barulah aku kembali bertanya.
"Reksa bagaimana kamu bisa tiba-tiba ada di depan jalan rumahku?" Tanyaku dengan heran,
"Devinka menyuruhku untuk menjemputmu dan sepertinya kita harus ke salon dulu deh, mana mungkin kamu pergi ke acara wisuda dengan tampilan sangat sederhana seperti ini kan?, Setidaknya kau harus memakai riasan walau hanya sedikit" ucap Reksa sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku,
"Tapi Reksa ini sudah siang, mungkin kita akan terlambat jika pergi untuk merias wajahku dulu" balasku memberitahunya,
"Tenang saja Devinka sudah mendapatkan perias terbaik dan dia sudah ada di ruang ganti sekolah menunggumu datang sekarang, kita juga tidak akan kesiangan santai saja Elisa" balas Reksa begitu tenang dan benar-benar santai.
Dia terus tersenyum sambil mengemudi sedangkan aku merasa sangat cemas dan khawatir tidak jelas, aku tidak tahu apa yang sebenarnya tengah di rencanakan oleh Devinka dan Reksa, tapi untuk saat ini aku hanya bisa mengikuti apa yang mereka katakan saja, hingga sesampainya di sekolah Reksa langsung membawaku ke ruang ganti dan ternyata benar saja di sana sudah ada seorang perias yang menunggu kedatanganku.
"Tenang saja tuan tampan aku akan meriasnya sampai dia terlihat seperti bidadari di matamu" balas perias itu yang terlihat begitu centil dan ngondek.
Aku pikir awalnya dia seorang perempuan maka dari itu saat dia meriasku dan di saat Reksa sudah keluar aku memanggilnya mbak tapi dia justru malah marah kepadaku.
"Mbak riasannya yang simpel saja ya" ucapku padanya,
"What?, Kamu panggilan saya apa tadi mbak?, Hello saya ini sis Rini kau ini bagaimana sih, cantik-cantik tidak bisa membedakan orang, aku beritahu kamu yah, aku ini lady boy tentu saja kau harus memanggil sis Rini atau kamu boleh memanggilku ka Rini oke," ucapnya dengan begitu ngondek dan membuatku kaget hingga terperangah.
Seketika aku langsung menjadi gugup dan tanganku gemetar bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin, aku tidak menyangka ada seorang lady boy secantik ses Rini ini, bahkan dari cara berjalan dan semua lekuk tubuhnya dia sama sekali tidak menunjukkan sisi pria dan suaranya juga mirip suara seorang wanita maka dari itu aku mengira dia wanita tulen.
__ADS_1
Aku hanya bisa menanggapi semua ucapannya dengan anggukan dan mulai memanggilnya dengan ses Rini sama seperti dengan apa yang dia inginkan, tapi disisi lain aku sungguh kesal kepada Reksa dan Devinka bisa bisanya dia membawakan perias seperti ini untukku, aku menjadi tidak percaya diri dengan hasil riasannya di wajahku nanti.
"Astaga....aku hanya bisa berdoa semoga mereka tidak mengerjai aku di hari sepenting ini" gumamku dalam hati yang terus saja merasa tidak tenang.
Selama dia meriasku sudah beberapa kali aku menahan bersin hingga akhirnya dia selesai juga merias wajahku, dan dia membawaku ke depan kaca yang besar untuk melihat hasil dari riasannya.
Perlahan aku membuka mataku dan saat ku buka mata ternyata hasilnya sangat bagus dan luar biasa ini bahkan lebih bagus dari harapanku sebelumnya.
"Wow.....sis Rini ini luar biasa aku bahkan tidak bisa mengenali diriku sendiri, apa yang di depan cermin ini sungguh aku, ahaha...sis Rini kamu luar biasa" ucapku tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan senang dengan hasilnya.
"Baguslah kalau kamu puas artinya aku akan mendapatkan pendapatan besar dari tuan muda tampan itu, tapi kamu memang sudah cantik dasarnya gadis mungil" ucap sis Rini itu sambil mencolek daguku sekilas.
Itu membuatku merinding dan sedikit takut dengannya, karena mau bagaimanapun dia tetap saja seorang lady boy bukan wanita sungguhan.
Karena semua sudah selesai aku segera keluar dengan memakai pakaian wisuda dan memakai seragam toga yang umum digunakan semua mahasiswa ketika wisuda, aku berjalan keluar dari ruang ganti dengan senyum yang terpancar berseri di wajahku.
Semua orang menatap ke arahku dan aku melihat Devinka dan Reksa yang berjalan ke arahku juga, aku menghampiri mereka dan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah memberikan semua ini kepadaku sehingga aku bisa tampil sama seperti teman-teman yang lainnya.
"Reksa, Devinka terimakasih atas semua kebaikan kalian aku sangat senang mendapatkan semua ini" ucapku dengan tersenyum berseri,
"Jangan sungkan kita kan teman, ayo pergi ke aula acara sudah akan di mulai" ajak Reksa kepadaku.
Kami berjalan bersama menuju aula dan semua mata memandang ke arahku aku tahu mungkin mereka akan membenciku karena aku berjalan di tengah-tengah idola mereka Reksa dan Devinka.
Foto wisuda Elisa.
__ADS_1