Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Kembali ke Perusahaan


__ADS_3

Tapi aku juga tidak bisa membuatnya terus menderita seperti itu dan membiarkannya kesakitan karena ulahku, aku tentu harus bertanggung jawab dan mengobatinya, aku pun tetap memaksa dia agar aku bisa mengobati lengan dan semua bekas alergi tadi.


"Devinka asal kau tahu aku memang tidak sengaja melakukan semuanya aku sungguh tidak tahu apapun mengenai alergimu dan masalah mempermainkan mu aku hanya sedikit usil, maaf jika itu malah membuat kau seperti ini" ucapku padanya,


"Jadi tolong izinkan aku tetap mengobatimu aku hanya ingin membalas atas kecerobohanku, tolong jangan menolaknya. Kemarikan tanganmu" ujarku dan kembali menarik lengan Devinka dengan paksa.


Meski aku sudah berusaha keras menjelaskan dan mengatakan yang sebenarnya Devinka tetap saja menatap tajam dan seakan tidak mempercayaiku sama seperti dugaanku, aku pun menyerah dan tidak perduli lagi dengan pandangannya terhadapku.


Yang pasti saat itu aku terus memaksa dia untuk memberikan tangannya agar aku bisa segera mengobati semua bekas garukan di tubuhnya yang meninggalkan bekas kemerahan.


"Devinka maaf aku sungguh menyesal dan mungkin bekas alergimu ini akan menghilang besok, tapi aku sungguh tidak bermaksud membuatmu begini, jadi percaya saja padaku biar aku mengobatimu. Oke" tambahku sambil terus mengoleskan salep pereda alergi ke beberapa titik di tangannya.


Semua bintik merah di tangan Devinka sudah selesai aku olesi salep tinggal bagian leher dan beberapa titik di wajahnya, tanpa basa basi aku langsung hendak mengoleskan salep pada wajah Devinka namun tiba tiba saja dia tersentak ke belakang mencoba menghindariku.


"Deg...deg...." Suara dentuman jantung Devinka yang mulai tak terkendali,


Devinka mulai gugup karena wajah serius Elisa yang mengoleskan obat pada wajah dan lehernya membuat wajah mereka sangat dekat satu sama lain.


Beberapa kali Devinka menelan salivanya dengan susah payah karena dia ingin menahan kegugupannya dan menyembunyikan detak jantungnya yang begitu cepat.


Namun meski Devinka sudah berusaha keras menutupi ke gugupannya di depan Elisa tetap saja Elisa bisa mendengar detak jantung Devinka yang begitu cepat karena tubuh mereka sangat dekat saat itu.


"Nah sudah selesai, Devinka kau tidak perlu segugup itu sampai suara detak jantungmu begitu keras hehe" ucap Elisa menggoda Devinka,


"A..apa..apaan kau ini, itu karena aku kelelahan kau tahu kan tadi kau sendiri yang menyeretku dengan kuat berlari kemari makanya aku kelelahan dan berusaha menormalkan detak jantungku" ujar Devinka menutupinya,


"Ohh iya iya....lagian siapa yang bilang kau gugup karena hal lain?" Balas Elisa sambil tersenyum menahan tawa.


Jelas sekali saat itu Aku tahu jika Devinka gugup karena aku yang terlalu dekat dengan dirinya, bahkan sebenarnya aku sendiri juga merasakan kegugupan yang sama namun tetap harus mengobatinya sebagai tanggung jawab.

__ADS_1


Selesai mengobati Devinka aku duduk sejenak di sana sampai ketika Devinka sudah jauh lebih baik aku mengajaknya untuk segera pergi kembali ke perusahaan karena aku baru ingat bahwa masih ada laporan penting yang harus aku lakukan pada ketua tim.


"Astaga...Devinka ayo kita harus cepat kembali ke perusahaan" ucapku baru ingat,


"Heh, kenapa kau tiba tiba menjadi panik?" Tanya Devinka keheranan,


"Aahhh....sudahlah tidak ada waktu untuk menjelaskan ayo kita pergi ke halte bus di depan saja, masih ada waktu untuk menunggu sampai bus tiba" jawabku bangkit berdiri dan menggandeng lengan Devinka.


Bukannya bergerak Devinka justru malah terdiam sambil menatap tangannya yang aku genggam.


"Hey Devinka apa yang sedang kau pikirkan ayo bangun kita harus segera pergi" ujarku terburu buru.


Devinka pun tersadar dan dia langsung berlari bersamaku menuju halte bus, sayangnya aku sudah menunggu di sana beberapa lama dan menghabiskan cukup banyak waktu namun bus jurusan menuju daerah tempat kantor CTN group tetap belum tiba juga dan itu membuatku semakin gelisah.


"Aduhh...bagaimana ini kenapa bus nya lama sekali?" Gerutuku dengan wajah gelisah,


Aku membuka ponselku dan berniat ingin menghubungi kak Kris namun sayangnya ponselku justru mati dan kehabisan daya.


Saat itu Devinka duduk di halte sedangkan aku berdiri di depannya dengan berjalan mondar mandir berberapa kali karena aku kebingungan serta merasa gelisah memikirkan nasib ku di perusahaan.


Devinka yang melihat Elisa tidak mau diam dan menghalangi pemandangan dia pun sudah sangat geram dan membentak Elisa sambil memintanya agar diam.


"Elisa...apakah kau tidak bisa diam, cepat berdiri dengan benar jangan membuatku pusing!" Bentak Devinka yang langsung membuatku diam tak berkutik.


Aku berdiri diam mematung sambil menggigit kuku ibu jariku karena masih merasa gelisah dan tidak tenang, Devinka yang melihat itu tiba tiba saja dia berdiri dan menghentikan sebuah taxi, lalu dia tiba tiba masuk ke dalam taxi itu dan aku segera menghampiri dia dan berbicara padanya.


"Devinka apa yang kau lakukan?" Tanyaku padanya,


"Cepat masuk, kau tidak mau terlambat kan" ujar Devinka dengan santai.

__ADS_1


Aku pun ikut masuk ke dalam taxi itu dan kami duduk bersebelahan, aku kembali meminta penjelasan pada Devinka.


"Devinka taxi ini kau yang akan bayar kan, uang ku tidak akan cukup kau tahu itu sedari tadi" ujarku padanya.


"Iya...kenapa kau bawel sekali sih, sepertinya hidupmu itu dipenuhi dengan kemiskinan ya" balasnya malah menghinaku,


"Aishh...bisakah kau berhenti mengataiku begitu, kau tidak akan pernah tahu seberapa sulit hidupku sejak kecil karena kau tidak tumbuh sepertiku, kau harusnya bersyukur atas hidupmu saat ini, bukannya malah terus menghinaku seenaknya" jawabku padanya sambil menahan kekesalan.


Saat itu rasanya aku ingin menjambak rambut Devinka sampai dia botak, namun aku sadar diri jika aku melakukan itu padanya sekarang maka tidak akan ada yang membayar taxi yang tengah ku tumpangi sehingga mau tidak mau aku harus menahan emosi sekuat tenaga.


Devinka hanya menatapku dengan sinis dan berdecak kecil.


"Cihh...dasar dompet kosong!" Gerutu Devinka dengan suara kecil yang sinis.


"Diam, kau pikir aku tidak bisa mendengarnya yah" balasku padanya.


Tidak ada percakapan lagi diantara aku dan dia setelah perdebatan tersebut, kami memalingkan pandangan satu sama lain ke luar jendela sampai akhirnya kami sampai di tempat tujuan yang tak lain adalah perusahaan CTN group tempat aku dan Devinka bekerja.


Aku sangat lega ketika sudah sampai di perusahaan dan langsung saja aku turun meninggalkan Devinka seorang diri yang masih berada di dalam taxi.


"Terimakasih atas tumpangannya" ucapku sambil keluar dari taxi dan berlari secepat kilat masuk ke dalam gedung perusahaan.


"Heh, kau...aishh apa dia seorang pelari maraton, cepat sekali perginya" ujar Devinka kesal.


Aku berlari terburu buru dan berdesakkan masuk ke dalam lift menuju lantai atas tempat ruangan departemen dua berada. Hingga sesampainya di sana saat aku masuk ke dalam ruangan kerjaku nampak semua orang masih duduk santai di bangku kerjanya masing masing.


Ketenangan mereka membuatku semakin gelisah dan merasa tidak enak hati, aku pun langsung berjalan menghampiri meja kak Kris dan bertanya kepadanya.


"Kak...maaf aku terlambat, bagaimana dengan laporannya?" Ucapku padanya dengan mata terbelalak karena sangat penasaran,

__ADS_1


"Sudah aku bereskan dan Eril sangat mendukung berita yang kau hasilkan itu akan jadi berita utama malam ini melawan berita dari Kiki di departemen satu" jawab kak Kris membuatku semakin kaget.


"APA?" Teriakku sangat kencang dan kak Kris langsung menutup mulutku dengan cepat.


__ADS_2