
Aku memikirkan sejenak usulan dari Lili dan aku langsung mengangguk setuju.
"Idemu benar juga, tapi di mana kita akan bisa menemukan yang persis seperti milikku?" Ucapku menyetujui dan bertanya,
"Mari kita kelilingi semua tempat yang menjual berbagai jenis ikat rambut, aku yakin kita pasti akan menemukannya, percayalah padaku" ujar Lili sambil merangkul bahuku.
Aku setuju dengan Lili meski sebenarnya agak ragu jika harus berkeliling mendatangi semua toko ikat rambut hanya untuk mencari satu jenis ikat rambut yang mungkin terasa aneh dan kuno bagi kebanyakan orang sebab mereka tidak mengetahui alasannya.
Namun karena tidak mau membuat Lili kecewa aku rasa aku akan mencobanya, dan mungkin itu tidak ada salahnya jika dicoba, seandainya nanti benar bisa mendapatkan yang sama persis aku akan senang, dan jika tidak pun aku tetap senang, aku akan menganggap itu sebagai healing bersama Lili, lagi pula sejak kecil hingga tumbuh sebesar sekarang aku belum pernah merasakan rasanya berpergian berbelanja dengan teman, jangankan berbelanja aku bahkan hanya membeli pakaian baru satu tahun sekali itupun jika ada uang, jika tidak maka aku dan anak anak panti lainnya hanya mengenakan pakaian bekas yang diberikan beberapa donatur.
Selesai jam pelajaran hari ini karena aku masih punya waktu beberapa jam, aku pun pergi bersama Lili ke sebuah mall yang besar dan terkenal kami pergi ke sana menggunakan sepeda motorku, Lili juga nampak antusias meski dia putri dari keluarga yang berada namun dia sama sekali tidak merasa malu saat harus dibonceng olehku menggunakan sepeda motor yang mungkin baginya itu jelek tidak sebanding dengan mobil yang dia miliki di rumahnya.
Saat pertama kali sampai dan memarkirkan motor aku sudah sangat terpukau dan kagum dengan mall tersebut, gedung yang tinggi dan banyak orang keluar masuk dari sana semua itu masih seperti mimpi bagiku bisa menginjakkan kaki ke dalam mall sebagus itu, di mana hanya orang kelas menengah dan atas yang bisa masuk serta berbelanja di sana.
"Wahh....Lili apa kau tidak salah membawaku ke tempat berbelanja semewah ini, aku jadi ragu untuk pergi lebih dalam lagi" ucapku sambil terus menatap ke setiap sudut pusat perbelanjaan tersebut.
"Kenapa kamu harus ragu, aku sering ke sini bersama mamihku jika dia senggang" jawab Lili sambil memegangi lenganku,
"Aku hanya takut uangku tidak akan mempu membeli apapun di tempat ini, karena pasti harganya akan sangat mahal" jawabku penuh keraguan,
"Elisa kau lupa aku ada di sini denganmu, selama kau bersamaku aku akan menanggung semuanya tenang saja" jawab Lili sambil tersenyum,
"Lili apa ini sungguhan?, Aku benar benar beruntung memiliki sahabat sebaik kamu"
__ADS_1
"Tentu saja, lagi pula selama kita bersahabat aku belum pernah memberikanmu Hadiah apapun kecuali di hari ulangtahun kan, jadi hari ini mari kita bersenang senang" ucap Lili penuh semangat,
Aku tidak mau menghancurkan kesenangan Lili hanya karena ketakutanku dan rasa minder yang ada dalam diriku, aku berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan disana, Lili terus menarik lenganku dan kami sudah pergi ke beberapa toko yang menjual berbagai jenis ikat rambut di sana, namun sayangnya tidak ada satupun ikat rambut yang mirip dengan milikku sebelumnya.
Ku lihat wajah Lili yang sudah lelah dan putus asa karena kami tak kunjung mendapatkan apa yang dicari sebelumnya, aku jadi merasa bersalah dan tidak enak pada Lili karena sudah merepotkan dia.
"Lili apa kau lelah?" Tanyaku,
"Ahh...tidak aku masih sanggup kok, ayo kita cari lagi di tempat lain sepertinya mall ini memang kurang lengkap" jawab Lili menyembunyikan rasa lelahnya,
"Sudahlah Lili sebaiknya kita pergi makan saja lagi pula sebentar lagi aku harus bekerja, kita lanjutkan besok saja" ucapku sambil mengajak Lili keluar dari mall tersebut,
"Tapi Elisa bagaimana dengan ikat rambutmu apa tidak papa jika menunda mencarinya?" Tanya Lili dengan wajah yang bingung,
Aku berusaha menyembunyikan kekecwaanku dan kesedihan dalam diriku, tidak mungkin aku terus melibatkan Lili dalam hal ini, dia sudah banyak berjasa dan membantuku sejauh ini, aku rasa aku harus membalas semua budinya padaku, dia terlalu baik untuk berteman dengan orang yang menyedihkan sepertiku, terkadang aku berpikir mengapa Lili mau menjadi sahabatku selama ini, padahal aku dan dia terlahir dari keluarga yang bertolak belakang, namun Lili tetap mau berteman bahkan menjadikanku sahabat terdekatnya padahal kedua orangtuanya sangat membenci aku, mungkin karena aku adalah anak yatim piatu yang kumuh tak terurus dan hanya membawa Lili pada tempat kotor sejak kecil.
Aku rasa wajar jika seorang orangtua mencemaskan putrinya ketika bergaul dengan perempuan sepertiku yang selalu berada di tempat kotor, tidak terurus dan selalu seorang diri sejak kecil hingga dewasa, aku rasa Lili bisa mendapatkan banyak teman yang jauh lebih baik daripada aku.
"Lili kapan kamu akan sadar kalau aku sangat berbeda denganmu, dan apa persahabatan kita akan tetap sehangat ini?" Gumamku merasa sedih,
Aku melajukan motor menuju restoran namun di perjalanan telap saat lampu merah motorku berhenti bersebelahan dengan mobil milik ayah Lili, mereka langsung menurunkan kaca mobilnya dan menyuruhku untuk menepi.
Sebelumnya aku dan Lili sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka karena kami sibuk mengobrol satu sama lain.
__ADS_1
"Heh....Elisa..Lili...cepat kalian menepi, saya mau bicara padamu Elisa!" Bentak mamih Lili dengan mata yang melotot padaku.
Saat menyadari keberadaan mereka dan mendapatkan bentakkan seperti itu dadaku langsung bergetar hebat dan segera aku sampingkan sepeda motor ke tepi jalan, Lili juga segera turun dan menghampiri kedua orangtuanya, aku tau saat itu Lili sedang mencoba mencegah kedua orangtuanya agar tidak memarahiku.
"Ayah... Mamih, ini tidak seperti yang kalian pikirkan tadi aku hanya meminta Elisa mengantarkan ku pulang itu saja" ucap Lili mencegah kedua orangtuanya menghampiriku,
"Sudah cukup Lili, mamih tidak percaya omong kosong mu lagi, mamih mau bicara langsung pada anak kumuh itu!" Bentak mamih Lili dipenuhi kekesalan dalam dirinya.
Aku hanya bisa menunduk lemah dan berusaha agar tidak mengeluarkan emosi apalagi sampai membantah kedua orang tua sahabatku sendiri, aku hanya menghargai mereka karena mereka lebih tua dariku dan karena mereka orang tua dari sahabatku.
Mamih Lili menyuruh suaminya agar menahan Lili dan dia berjalan mendekatiku.
"Elisa apa kau masih tidak tahu malu untuk terus berteman dengan putriku?, Sampai kapan kau akan terus memanfaatkan kebaikannya?, Sejak kecil hingga dewasa kau terus saja menjadi parasit bagi Lili, aku menyesal sudah mengijinkan Lili berada satu sekolah denganmu!" Bentak mamih Lili dengan sinis,
"Maafkan aku tante, tapi aku sungguh berteman tulus dengan Lili, tidak ada sedikitpun niatan dalam hatiku untuk memanfaatkan kebaikannya" jawabku menjelaskan,
"Hah, kau pikir saya akan percaya dengan ucapanmu itu?, Lili adalah putri dari keluarga yang terpandang, dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan selama dia mau, sedangkan kamu?,.... Harusnya kamu malu melihat dirimu sendiri yang tanpa asal usul dan bebet bobot yang jelas!" Ucap mamih Lili yang sangat menusuk hatiku,
"Maafkan saya Tante" jawabku yang tak tahu lagi harus berkata apa selain maaf,
"Dengar baik baik, sekali lagi kamu mendekati putriku, akan aku buat kau enyah dari universitas secepatnya, jangan kau pikir ancamanku ini hanya ancaman burung!!" Ujar mamih Lili membisikan kalimat menyakitkan itu telap di telingaku.
Aku bisa merasakan dan mendengar dengan jelas seberapa bencinya mamih Lili kepadaku, dia bahkan menarik Lili dengan paksa dan kasar agar Lili mau masuk ke dalam mobil dan menurutinya, mereka pergi dengan teriakkan Lili yang terus berusaha keras kabur dari mamihnya sendiri demi membelaku, sedangkan aku hanyalah wanita pecundang yang hanya bisa menunduk dan menerima semua penghinaan dengan pahit.
__ADS_1