Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menyatakan Perasaannya


__ADS_3

"Devinka kau ini apa-apaan sih, aku mau masuk" ucapku sambil menghempaskan tangannya yang menahan tanganku sebelumnya,


"Siapa yang mengijinkan kau duduk di belakang dengan Reksa?, Duduk di depan" ucapnya dengan datar dan memerintah.


Dia langsung masuk ke dalam mobil dan aku terpaksa menuruti perintahnya hingga duduk di depan bersampingan dengannya lagi, dia membawa kami ke sebuah restoran yang cukup mewah tidak jauh dari sekitaran sana, Reksa terlihat sudah jauh lebih baik dan dia terburu-buru keluar dari mobil karena tidak tahan ingin ke kamar mandi.


Dia masuk ke dalam restoran lebih dulu sambil memegangi bagian depan miliknya dan pergi meninggalkan aku berada Devinka di belakang.


"Sepertinya dia sudah baik-baik saja" celetukkan aku yang melihat Reksa berlari dengan sangat cepat.


Aku bahkan hampir tersenggol olehnya saat dia keluar dari mobil dan membiarkan pintu mobil terbuka saking tidak tahannya ingin ke toilet, sedangkan Devinka langsung mengajakku untuk segera masuk ke dalam dan kami duduk berdua saling berhadapan satu sama lain.


Suasana mulai terasa canggung apalagi disaat pelayan di sana mengira aku dan Devinka sebagai pasangan dan dia meminta kami untuk berfoto bersama.


"Permisi kak, bisakah kami mengambil foto kalian disana, saat ini tengah ada acara perayaan hari Valentine, jadi kami memotret pasangan paling serasi disini" ucap pelayan itu meminta izin.


Aku dan Devinka saling tatap satu sama lain dan kami bingung bagaimana cara menjelaskan kepada pelayan tersebut bahwa kami sebenarnya bukanlah pasangan, namun sialnya Devinka malah mengangguk sehingga membuat pelayan itu semakin penasaran.


Dia langsung menarik aku dan membawaku ke pinggir tempat spot foto di restoran itu bersama pasangan lainnya yang juga melakukan pemotretan disana.


"Devinka apa kau gila, kita ini bukan pasangan apa yang mau kau lakukan?" Ucapku membisiki dia sambil mencubit pinggangnya sedikit,


"A..aaaw...aish...apa kau mau menyakitiku terus, ini hanya sebuah foto kenapa kau harus khawatir, sudah ikuti saja" ucapnya dengan santai.


Hingga giliran kami tiba dan mereka langsung mendandani aku juga Devinka lalu memotret kami beberapa kali dan menyuruhku untuk berpose sangat dekat dengan Devinka bahkan mereka terus menyuruhku membuat sebuah bentu hati bersama Devinka dan yang paling keterlaluan mereka malah memuji kami sebagai pasangan paling romantis dan serasi yang mereka potret sepanjang merayakan Valentine setiap tahun.


Aku benar-benar malu dan tidak tahu bagaimana harus menghadapinya sampai akhirnya mereka mau membebaskan aku lalu memberikan makanan geratis kepada meja kami dengan begitu banyak menu yang tersedia di sana.


Reksa yang saat itu baru kembali dari toilet dia juga kaget membuka matanya lebar saat melihat meja sudah dipenuhi dengan berbagai menu masakan hingga hampir memakan semua tempat yang ada di meja tersebut.


"Waahhh...Devinka apa kita sedang menggelar pesta? Kenapa banyak sekali begini?" Tanya Reksa sambil segera duduk di sampingku.


Aku langsung menunduk malu tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya pada Reksa tapi Devinka mengatakannya lebih dulu, hingga Reksa justru malah ikut ikutan ingin berfoto dengan aku dan Devinka.


"I...itu...aaahh....sudahlah itu makanan gratis karena kami berfoto pasangan disana" ucap Devinka sambil menunjuk ke ujung tempat pemotretan.


Terlihat disana juga masih ada beberapa pasangan lainnya yang di potret oleh karyawan toko lalu pasangan itu diberikan menu yang super banyak juga, sama persis dengan yang ada di atas meja mereka.

__ADS_1


"Aahahaha.....wah...wah....kalian ini memang pasangan pembawa rejeki, kalo begitu boleh aku berfoto dengan pasangan menarik ini" ucap Reksa menggodaku dan Devinka.


Aku benar-benar sangat kesal dan hanya bisa menggelengkan kepala dengan mengeratkan gigiku kuat sedangkan Devinka justru malah terlihat tenang-tenang saja, mereka berdua ini memang manusia tanpa rasa malu, sehingga aku tidak bisa mengimbangi mereka berdua.


Reksa terus saja memaksaku untuk berfoto dengannya dan terpaksa aku harus tersenyum dalam foto itu karena tidak ingin diledeki lagi oleh mereka, setelah berfoto di ponsel Reksa kami mulai menikmati makanannya.


Hasil foto mereka bertiga.



Semua hidangan itu sangat lezat dan luar biasa kami bertiga bahkan tidak bisa menghabiskan semua menu yang tersedia disana dan setelah puas makan kami pun segera pulang Reksa dan Devinka mengantarkan aku terlebih dahulu namun dilihat dari wajah Devinka dia terus menatapku lekat dan sempat menahan tanganku sebelum aku keluar dari mobil.


Dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku tapi aku sendiri tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan.


"Tunggu" ucapnya menahan tanganku,


"Ada apa?" Tanyaku langsung berbalik ke arahnya,


"A..ahhh...tidak ada, sana kau pergi saja" balasnya tidak jelas.


Aku merasa aneh dan segera keluar tapi baru saja beberapa langkah aku pergi Devinka tiba-tiba memanggilku dan disaat aku berbalik dia langsung memelukku dengan erat dan Reksa terlihat berdiri di samping mobil tidak jauh dari tempatku berdiri.


"Eh.... Devinka ada apa denganmu? Lepaskan!" Ucapku tegas sambil mendorong tubuhnya sedikit menjaga jarak dariku.


"Katakan ada apa denganmu, kenapa kau terlihat aneh hari ini?" Tanyaku kepadanya dengan heran,


"Aku ingin kau tahu, kalau aku menyukaimu Elisa...aku menyukaimu" ucapnya dengan mata yang berbinar dan dia menggenggam kedua tanganku dengan cepat.


Aku tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menatapnya dengan perasaan tidak menentu, dia membuatku sangat syok dan terlalu kaget karena mendengar pernyataan cinta secara tiba-tiba di tempat seperti ini.


Saat itu aku kira dia hanya menggodaku sebab ada Reksa juga disana sehingga aku tidak terlalu menganggap ucapannya serius dan aku segera menarik tanganku kembali dengan perlahan.


"Ahaha....Devinka kau bercanda yah, jangan membuatku bingung kau ini apa-apaan sih" balasku tersenyum canggung.


"Aku serius Elisa, aku sungguh menyukaimu dan sangat menyukaimu. Aku tahu mungkin ini terdengar aneh bagimu tapi aku tidak bohong atau sedang menggoda mu lihat itu, Reksa berdiri disana dan dia akan menjadi saksi bahwa saat ini, detik ini dan di hari ini aku menyatakan perasaanku kepadamu, aku mencintaimu Elisa" ucapnya dengan raut wajah yang penuh kesungguhan.


Aku mulai gugup dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa,.aku juga menyukainya tetapi aku ingat dengan perkataan dia sebelumnya yang mengatakan bahwa aku bukan tipenya dan dia tidak menyukaiku.

__ADS_1


"Devinka jangan berbohong kepadaku dan jangan mempermainkan aku seperti ini, aku tahu dan mendengarnya sendiri bahwa kau tidak menyukaiku, kau hanya kasihan kepadaku kan?" Balasku bertanya kepadanya,


"Elisa apa kau masih tidak mempercayai aku?" Tanya balik Devinka,


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu jika kemarin saja aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri bahwa kau berbicara dihadapan semua temanmu dan mengatakan kau hanya merasa kasihan denganku, kau bahkan rela jika Dika mengejarku, apa itu benar Devinka?" Ucapku sambil menatapnya dengan menahan rasa sakit.


Devinka tidak menjawab ucapanku dan dia hanya tertunduk lesu serta menghembuskan nafas yang lesu, dia mungkin mulai mengingat kejadian dan ucapannya itu.


"Kenapa kau diam saja Devinka? Apa aku salah dengar saat itu atau memang kau yang....." Ucapku tertahan karena Devinka tiba-tiba saja mengecup pipiku.


Aku kaget dan langsung membelalakkan mukaku lalu memegangi pipi kananku yang dicium olehnya tanpa izin dariku.


"DEVINKA! Kau benar-benar gila!" Bentakku kepadanya,


"Iya Elisa aku gila, aku gila karenamu dan saat itu aku memang mengatakan bahwa aku mengasihani mu, tapi itu karena aku marah denganmu, kenyataannya aku tetap menyukaimu dan aku tidak bisa melihat kau dekat dengan pria lain, aku.....aku akan pergi ke luar negeri dan aku tidak ingin kau bersama Dika disaat aku tidak ada, maka dari itu aku mengatakannya sekarang, aku hanya takut keduluan oleh Dika" ucapnya sambil menatapku dengan sorot matanya yang membuat jantungku berdegup kencang.


Aku terdiam dan bingung harus menjawab apa tapi disisi lain aku juga kaget saat mendengar Devinka akan kembali pergi ke luar negeri, aku juga takut dia jauh dariku, aku sedih dan ingin dia selalu berada di sampingku.


"Devinka kau bodoh!, Kenapa kau mengatakannya sekarang disaat kau sudah mau pergi ke tempat yang jauh?, Kenapa Devinka?" Tanyaku meninggikan suara padanya,


"Maafkan aku....aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang, aku bisa menunggumu Elisa" balas Devinka tanpa keraguan di dalam dirinya.


"Baiklah, aku akan menjawabnya disaat kau kembali ke kota ini lagi" ucapku membuat perjanjian dengannya,


"Benarkah?, Kau janji padaku, tapi kau juga menyukaiku kan, kita akan berpacaran dan menjadi pasangan tepat ketika aku kembali, iya kan Elisa?" Ucap Devinka begitu antusias dengan menggenggam kedua tanganku.


Aku mengangguk membalasnya dan Devinka langsung berjingkrak kegirangan dia terlihat begitu senang bahkan sampai memeluk aku dan mengangkat tubuhku sambil berputar begitu saja, Reksa juga menatap ke arahku dan dia memberikan aku jempolnya, aku tahu Reksa adalah sahabat yang baik dia selalu mendukung Devinka dan aku juga merasa sangat senang saat itu.


Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan di dalam hidupku, hingga aku tidak bisa tertidur karena terus memikirkan pria bernama Devinka tersebut, bahkan dia juga mengabari aku tentang kepergian dia ke esokan paginya, aku pergi mengantarkan dia ke bandara bersama dengan Reksa, Ciko dan Dika.


Aku melihatnya melambaikan tangan padaku dan tersenyum manis untuk terakhir kalinya, pada saat itu aku kira dia hanya pergi untuk beberapa saat saja sama seperti kepergian dia yang sebelumnya sehingga aku tidak terlalu mencemaskan dia ketika dia pergi, aku juga tidak membiarkan dia mencium keningku karena terlalu malu dilihat oleh Ciko dan yang lainnya.


Dia hanya memelukku dan mengelus rambutku dengan lembut, dia juga kembali mengambil ikat rambut yang aku pakai hari itu, seakan mengambil ikat rambutku menjadi kebiasaan baginya.


Hingga satu bulan berlalu, Devinka tidak kembali juga, dia juga tidak pernah memberiku kabar semenjak dia pergi ke luar negeri. Biasanya dia sering mengirimiku email atau pesan singkat di wa, dia juga sering menghubungiku lewat panggilan video ketika tengah malam sebab perbedaan waktu diantara negara tempatku tinggal dengan tempatnya.


Meski begitu satu Minggu setelah dia pergi itu tidak menjadi penghalang bagi hubunganku dengannya, meski aku tahu saat itu kita belum benar-benar resmi menjadi sebuah pasangan, tapi mengetahui bahwa kami saling mencintai satu sama lain itu sudah sangat cukup bagiku dan aku selalu bahagia bersamanya.

__ADS_1


Namun di Minggu ke dua sampai satu bulan berlalu dia sudah lama tidak pernah memberiku kabar, tidak mengirimi aku pesan ataupun email, dia seperti tiba-tiba menghilang di telan bumi dan semua kontaknya tidak ada yang bisa aku hubungi, media sosialnya pun tiba-tiba saja hilang dan tidak pernah terlihat lagi.


__ADS_2