Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Mengirit uang


__ADS_3

"Baiklah kak, terimakasih sudah mau mempekerjakan aku, dan terimakasih karena kau terlalu baik kepadaku" balasku kepadanya merasa tidak enak,


"Tidak masalah, kalau begitu sudah dulu ya aku masih banyak pekerjaan di sini" kata kak Anna dan panggilan pun terputus tepat setelah aku menjawabnya.


Setelah berbicara dengan kak Anna lewat telpon aku sungguh merasa lesu dan mulai saat ini mungkin aku hanya bisa mengandalkan gajih dari magang di perusahaan yang tak seberapa di banding menjadi bodyguard kak Anna, aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar dengan lesu lalu kembali duduk di bangku kerjaku sambil menundukkan kepalaku ke atas meja.


"Huhu....aku semakin miskin sekarang dan harus mengirit keuangan lagi, bagaimana aku bisa membeli rumah jika seperti ini terus" gerutuku seorang diri.


Aku sungguh merasa sangat lesu dan tidak bersemangat, badanku seketika kehilangan banyak energi dan aku tidak memiliki mood untuk makan siang, lagi pula mulai sekarang aku sudah harus mengecilkan uang jajanku, jadi hanya bisa makan dua kali sehari saat sarapan dan pulang bekerja nanti.


Hanya itu satu satunya cara agar aku bisa menyisihkan sebagian uang untuk membayar kosan dan menabung agar bisa segera membeli rumah impianku.


Aku lihat tabungan di bank melalui ponselku, nampak uang tabunganku masih senilai tiga juta rupiah saja dan itu masih sangat sedikit untuk bisa membeli rumah di daerah perkotaan elit seperti ini, lagi lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu dan kembali menaruh ponselku ke dalam saku celanaku.


"Ya ampun, aku sangat menyedihkan sekali, sekarang tabunganku hanya tiga juta dan bulan ini aku tidak bisa menabung lagi karena gajih dari hasil bekerja pada kak Anna hanya cukup untuk membayar kosan dan biaya makan juga transformasi ku sampai gajihan bulan depan" ucapku memikirkan nasib diriku sendiri.


Aku sudah mulai cemas dan berniat memeriksa uang yang ada di dompetku nampak hanya ada beberapa lembar uang seratus ribuan saja di sana, aku yang tadinya berniat untuk pergi makan siang, kini mengulurkan niatku itu dan lebih memilih untuk menyeduh mie instan gratis yang ada di dapur di mana itu sudah di sediakan oleh perusahaan.


"Tidak apa apa Elisa, mie instan juga bisa membuat perutmu kenyang, yang penting aku tidak kelaparan" ucapku bicara sendiri untuk memberikan semangat pada diri sendiri.


Saat aku tengah mengeluh dan berusaha menyemangati diriku sendiri, kak Anne datang menghampiriku dan mengajakku untuk pergi makan siang keluar bersama kak Kris dan kak Eril, sebenarnya aku sangat antusias dan bersemangat ketika dia mengajakku untuk makan siang bersama di cafe tapi lagi lagi aku tersadarkan dengan keadaan keunganku yang tidak sama dengan mereka.


Aku pun dengan berat hati menolaknya dengan lembut dan membuat alasanku sendiri.


"Hey, Elisa ayo kita makan siang bersama kebetulan di cafe dekat sini lagi banyak menu baru loh, katanya sih enak banget kamu kan pecinta makanan pasti kamu suka, ayo ikut" ajak kak Anne padaku penuh semangat,

__ADS_1


"Maaf kak, aku gak bisa kerjaanku masih banyak aku mau lanjutin dulu dan lagian aku bisa makan di dapur, kalian pergi aja" balasku dengan wajah yang lesu.


Aku lesu karena tidak bisa makan enak dengan sepuasnya seperti yang biasa aku lakukan akhir akhir ini saat masih mendapatkan dua pekerjaan sekaligus dan gajih yang besar dari kak Anna, tapi sekarang aku hanya karyawan magang yang gajihnya gak seberapa jadi aku harus mengirit pengeluaran ku, lebih irit dari sebelumnya.


Kak Anne awalnya mencoba mengajakku terus namun karena aku menolaknya dia pun akhirnya menyerah dan pergi meninggalkanku di ruangan itu sendiri.


"Elisa ayo dong, apa kamu marah ya karena kemarin Kris tidak memberimu makan, maafkan aku yah aku sudah berusaha mengejarmu kemarin tapi kamu berlari sangat kencang, jadi aku tidak bisa menahan mu" kata kak Anne merasa bersalah.


Seandainya mereka tahu aku murung dan sedih bukan karena masalah itu tapi karena mulai saat ini aku harus selalu makan siang dengan mie instan persediaan dari kantor, tidak terbayang betapa menyedihkannya aku harus memakan mie instan setiap hari hanya untuk mengganjal perutku agar cacing di dalamnya tidak demo dan mempermalukan aku sebagai pemiliki perut ini.


Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya aku mencoba menolak dan menjelaskan alasanku dengan sangat lembut kepada kak Anne agar dia memahami maksudku dengan baik tanpa menyinggung siapapun di sana.


"Kak, aku menolak ajakanmu bukan karena itu kok, masalah kemari aku sudah melupakannya karena aku tahu kak Kris juga hanya marah sebenar denganku mungkin aku saja yang terlalu baper kemari, tapi untuk makan siang bersama....kali ini aku memang tidak bisa" balasku menjelaskan.


"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu beneran tidak marah kepadaku karena kejadian kemarin kan" ucap kak Anne memastikan,


"Iya aku tidak marah, santai saja" balasku sambil melemparkan senyum padanya.


"Kalau begitu kami pergi dulu yah, oh iya Elisa kalau kau berubah pikiran aku akan menunggumu dan mentraktir mu secara khusus untuk menebus kesalahanku kemarin" teriak kak Kris sambil tersenyum dan menunjuk padaku,


"Iya....sana pergi saja" jawabku yang sudah malas untuk tersenyum kepada mereka.


Aku bukannya masih marah dengan mereka hanya saja di saat kondisi seperti ini meskipun ditawari dengan sebuah traktiran tetap saja aku tidak ingin pergi karena tidak mau merepotkan orang lain terlebih rekan tim ku sendiri, lagian kejadian kemarin terjadi karena diriku juga yang terlalu terbawa oleh emosi sesaat yang membutakan mata dan pikiran.


Sampai tidak memikirkan dahulu dampak yang akan aku dapatkan.

__ADS_1


Setelah semua tim ku pergi keluar dan aku sudah benar benar memastikan mereka keluar dari gedung, barulah aku pergi menuju dapur dan mencari mie instan di sana, karena ini pertama kalinya aku menyeduh mie instan sehingga aku tidak mengetahui di mana biasanya OB di sana meletakan mie tersebut.


Aku pun terus mencarinya kesana kemari selama beberapa saat hingga tak lama akhirnya aku menemukan satu lemari di atas tempat kompor yang cukup tinggi untuk aku gapai, saat itu aku sudah sangat yakin bahwa mie instan tersebut pasti berada di dalam lemari berukuran sedang itu, sebab aku sudah mencari di semua tempat lain yang ada di sana dan aku tidak menemukannya.


Hanya satu lemari itu yang belum aku periksa, aku berusaha menggapai lemari itu namun rasanya lemarinitu sangat tinggi untuk aku gapai, hingga membuatku merasa kesal dan menggerutu kesal beberapa kali karena selalu gagal untuk meraih pintu lemari itu dan membukanya.


"Aishh...kenapa lemarinya sangat tinggi, siapa lagi yang menaruh mie untuk umum di tempat setinggi ini, benar benar merugikan untuk orang sepertiku!" Gerutu aku sambil terus berusaha meraih lemari itu.


Aku berusaha berjinjit sampai akhirnya tanganku hampir berhasil membuka lemari itu dan sekilas banyak mie yang tersusun rapih di sana, itu membuatku sangat senang karena ternyata sungguh masih ada makanan yang bisa aku nikmati untuk membakar rasa lapar aku ini.


"Aahhh....itu mie nya aaahh syukurlah masih tersisa banyak, aku harus bisa mengambilnya" ucapku sambil berusaha mengambil salah satu mie di sana tepat setelah berhasil membuka lemari itu.


Saat aku tengah kesulitan dan terus berjinjit menahan tumpuan tubuhku tiba tiba saja seseorang dari belakangku mengambil mie itu dan aku segera membalikkan badan untuk mencari tahu siapa orang tersebut.


Saat aku berbalik dan menengadahkan kepalaku ke atas rupanya itu Devinka, dia berdiri sangat dekat denganku bahkan bisa dibilang tubuh kami hanya berjarak dua cm saja saat itu.


Aku tiba tiba merasa gugup dan tidak menentu, sampai akhirnya Devinka menyadarkanku dari kegugupan itu dengan memberiku mie instan yang dia ambil barusan.


"Apa ini yang ingin kau ambil?" Tanyanya sambil menenteng sebungkus mie instan di tangannya,


Aku pikir dia membantuku barusan makanya aku sangat gembira dan langsung tersenyum saat menjawabnya karena aku pikir dia akan memberikan mie instan tersebut padaku.


"Iya...hehe" balasku sambil hendak mengambil mie itu dari tangannya.


Sialnya saat aku hendak mengambil mie instan tersebut dari lengan Devinka, dia justru malah mengangkat tangannya ke atas sehingga membuatku kesulitan untuk mengambil mie itu.

__ADS_1


__ADS_2