Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Minum di botol yang sama


__ADS_3

"Heh, Elisa kenapa kau menghabiskan semua airnya?" Bentak Devinka dengan kedua alis yang dikerutkan.


Aku tahu dia pasti tengah kesal karena aku menghabiskan semua air miliknya tapi jika tidak seperti itu kapan lagi seorang Devinka akan memberikan miliknya padaku apalagi dia sangat protektif dengan kebersihan, mungkin mobil ini juga akan dia cuci segera setelah aku turun nanti.


"Kau pikir aku ingin meminum semua air itu, tentu saja tidak aku hanya terpaksa meminumnya agar perutku berhenti berontak" jawabku dengan jujur,


Devinka semakin menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan sampai dia akhirnya melemparkan semua makanan yang baru saja dia beli barusan padaku.


Awalnya aku heran dan kaget jadi aku kembali bertanya apa dia apa maksudnya melemparkan makanan itu kepadaku dengan cukup kasar.


"Devinka apa maksudmu melempar makanan ini padaku, apa kau tidak mau memakannya?" Ucapku padanya,


"Tidak, kau makan saja dan pastikan di perjalanan jangan sampai perutmu bersuara lagi, aishhh" balas Devinka dengan jengkel dan dia kembali mulai melajukan mobilnya.


Aku merasa sangat senang dan langsung saja membuka salah satu roti yang cukup besar, aku mulai memakannya dengan lahap sedikit demi sedikit.


"Eummm... Aaa rotinya enak sekali, Devinka apa kau mau mencobanya?, pasti kau juga lapar. Ini" ucapku menawarkan pada Devinka sambil mengarahkan roti tersebut padanya,


"Kau makan saja sendiri, aishh bagaimana bisa kau memberiku roti bekas gigitanmu dasar jorok!" Bentak Devinka malah mengataiku jorok.


Aku langsung menaikkan kedua alisku dengan heran dan kembali tidak memperdulikan dia. Aku terus menikmati roti itu dengan nyaman dan rasanya yang sangat aku sukai.


"Ohh ya sudah jika kau tidak mau, itu lebih bagus karena aku akan menghabiskan semua makanan ini haha kau juga tidak mau kan memakan makanan bekas gigitanku kalau begitu aku akan gigit dulu semua makanan ini agar kau tidak mau memakannya" ujarku sambil mulai menggigit berbagai macam makanan di sana satu persatu,


"E..e..eh ...apa kau itu beruang yah, bisa bisanya kau makan seperti itu, heh perhatikan mulutmu aku peringatkan kau jangan sampai ada satu titik makanan pun yang jatuh ke mobilku atau aku akan melempar mu keluar!" Bentak Devinka terus mengancam.


Awalnya aku pikir dia marah karena aku akan menghabiskan semua makanannya tapi rupanya dia marah karena takut mobilnya kotor terkena remahan makanan yang aku makan dengan brutal. Setelah mendapatkan ancaman seperti itu tentu saja aku seketika memperlambat makanku dan mulai memperhatikan makanan yang aku makan agar tidak jauh ke mana mana.


Namun lama kelamaan aku merasa kesal juga karena tidak bisa menikmati makanan dengan nikmat jika aku harus memakannya perlahan dan sedikit demi sedikit seperti itu.

__ADS_1


"Arghhh....kalau begini bagaimana aku akan kenyang aku tidak bisa makan seperti ini huaaaa" gerutuku mengeluh,


"Diam kau!, Bukannya bersyukur kau sudah aku beri makanan, jangan merepotkanku lagi" balas Devinka dengan sinis.


Aku tak bisa makan dengan lahap dan tak bisa mengeluh juga alhasil selesa makanku hilang aku tidak bisa melanjutkan makanku, tapi perutku berkehendak lain sehingga aku tetap memakan makanan itu walaupun dengan wajah yang cemberut dan tidak senang.


"Huuh dasar pria menyebalkan, Devinka ini tidak bisa melihat orang bahagia sedikit saja eughhh aku ingin segera menjauh darinya" gerutuku dalam hati.


Tak lama tiba tiba saja mobil yang dikemudikan oleh Devinka berhenti tiba tiba dan aku kaget hingga tersedak sebab mobilnya berhenti sangat mendadak.


"Ohok...ohok..ohok....eumm..euuu..ohok..." Suaraku terbatuk batu dan meminta bantuan pada Devinka.


Aku bisa melihat bagaimana wajah Devinka begitu panik dan dia mencoba membantuku, dia berjalan keluar dari mobil dan membantuku memukul belakang leherku beberapa kali sampai akhirnya makan yang menyangkut di tenggorokanku bisa dikeluarkan.


"Ah..hah...hah...hah...terimakasih Devinka" ujarku sambil memegangi leherku yang sakit,


Aku ingin mengambilnya tapi aku tahu itu botol minum yang sudah bekas Devinka dan aku tahu jika Devinka tidak suka ketika barang pribadi yang dia gunakan di pakai oleh orang lain, jadi saat itu aku merasa ragu untuk mengambil air mineral itu darinya dan aku hanya menatap kebingungan.


"Heh, kenapa kau diam saja apa kau masih merasa tidak enak?, Di mana apa masih tersedak?" Tanya Devinka dengan wajah yang masih panik,


"Eh..tidak tidak aku sudah baik baik saja" balasku menghentikannya,


"Terus kenapa kau tidak mengambil air ini, tanganku akan pegal jika kau tidak mengambilnya juga" bentak Devinka sudah mulai kesal dan tidak sabaran,


Terpaksa aku pun segera mengambilnya dan meneguk air itu sampai merasa tenggorokan ku jauh lebih baik, tapi di saat aku baru saja selesai meneguk air itu, tiba tiba saja Devinka merampasnya dariku dan dia juga meneguk sisa air di dalam botol itu yang jelas jelas barusan botol itu bekas bibirku.


"Aahhh...terimakasih Devinka" ucapku selesai meneguk air,


"Kemarikan" ujar Devinka sambil tiba tiba merebut botol air mineral dari tanganku,

__ADS_1


"E..e..eh...tunggu itu" ucapku yang gagal menahan Devinka,


"Apa?" Tanya Devinka baru saja selesai meminum air di dalam botol mineral tersebut,


"I...itu, airnya itu....bekas bibirku" ujarku sedikit gugup dan menunduk takut.


Saat itu aku tahu dengan jelas Devinka akan marah denganku makanya aku menunduk lesu dan tidak berani melihat wajahnya, kami diam beberapa saat dan Devinka baru sadar sehingga dia membelalakkan matanya kaget.


"Astaga....apa aku baru saja minum dari tempat yang sama denganmu?" Ucap Devinka yang baru sadar,


"I..iya, tapi kamu tenang saja aku sehat kok selain penyakit lambung aku tidak memiliki riwayat penyakit yang berbahaya dan lambung itu tidak menular jadi kau tidak perlu merasa cemas" ujarku langsung menjelaskan.


Aku mengatakan itu karena aku takut dia marah padaku ditambah ancaman yang dia lontarkan kepadaku sebelumnya aku tidak mau jika Devinka sungguh meninggalkanku seorang diri di tempat yang aku tidak tahu wilayahnya, sehingga untuk saat ini mau tidak mau aku harus bersabar dan bersikap baik kepadanya agar dia tidak semakin marah denganku.


Aku sudah siap menunggu Devinka membentakku dan mengomeliku habis habisan tapi sudah beberapa saat aku menunggu tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut Devinka sehingga aku mulai memberanikan diri mengangkat kepalaku dan bertanya kepadanya secara langsung.


"Devinka, apa kau tidak marah denganku?" Tanyaku padanya dengan heran dan sedikit takut,


"Tidak sudahlah lagi pula itu sudah terjadi mau bagaimana lagi" balas Devinka dengan santai.


Aku sangat kaget dan merasa sangat tidak percaya melihat reaksi yang diberikan Devinka kepadaku, pasalnya ini sangatlah bukan seperti sikap Devinka yang aku kenal, dia biasanya akan selalu marah bahkan tadi saat di dalam mobil dia sudah melontarkan ancaman padaku hanya karena takut remehan makanan jatuh ke mobilnya.


Sedangkan kini secara tidak sengaja kami minum pada tempat yang sama dan bisa dikatakan itu seperti ci*man tidak langsung, tetapi dia malah memberikan reaksi yang tidak aku duga sama sekali.


"Eihhh....apa kau sungguh tidak marah denganku?" Tanyaku lagi padanya,


"Tidak, sudahlah jangan membahasnya lagi kau tunggu di sana aku akan memeriksa mobil sepertinya mobilku mogok lagi" ujar Devinka sambil membuka bagian depan mobilnya dan mulai memeriksa.


Aku menuruti ucapannya karena memang aku tidak mengerti soal mesin mobil sehingga aku tidak bisa ikut membantunya, aku duduk di pinggir jalan sambil membawa beberapa makanan yang diberikan oleh Devinka sebelumnya dan aku menikmatinya dengan lahap dan leluasa karena di sana aku bebas memakan makananku seperti apapun bahkan jika berserakan ke tanah aku tidak akan mendapatkan bentakan dari Devinka sebab itu tempat umum.

__ADS_1


__ADS_2