Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menaiki Wahana


__ADS_3

"Hey ..hey ...Reksa aishh...kalian ini apa tidak malu yah, pergi ke taman hiburan di sore hari dengan pakaian formal seperti ini?" Ucapku menahan tangan Reksa.


Tiba-tiba saja Devinka menangkis tangan Reksa dan dia langsung menarik tanganku dengan cepat, dia menarikku sampai aku berdiri tepat di samping dirinya dan aku sangat muak dengan perlakuan dia yang seperti itu.


"Heh, apa-apaan kau ini, kenapa menarikku seperti itu, dan ini lepaskan tanganku memangnya kau pikir aku ini anak kecil apa? Pake di tuntun segala" gerutu kesal lalu menghempaskan tangan Devinka yang memegang tanganku.


Aku sangat marah dan masih sangat kesal atas apa yang di ucapkan Devinka kepada teman-temannya kemarin, aku bahkan masih mengingat dengan jelas semua kalimat dan perkataan yang dia lontarkan kemarin, tapi hari ini dia bersikap seolah dia memperdulikan aku, dia menggenggam tanganku dan memaksa aku untuk berdiri di sampingnya dan menjauhi Reksa.


Padahal aku dan Reksa memang sudah dekat lebih dulu dibandingkan dirinya denganku, tapi dia tetap tidak mau kalah dan terus saja menyuruh Reksa menjaga jarak dariku meski itu terlihat sudah cukup jauh, hingga perlakuan Devinka membuat Reksa jengkel di buatnya.


"Reksa cepat ke samping lagi, kau masih cukup dekat dengan si chicken ini" ucap Devinka memberi perintah lagi,


"Eh Devinka, sampai kapan kau akan terus menyuruhku ke samping dan menyingkir, jika kau terus seperti ini kapan kita akan masuk ke dalam?" Balas Reksa terlihat sangat kesal.


Aku memiliki kesempatan untuk menjauh dari Devinka dan saat itu juga aku langsung menghampiri Reksa dan menggandeng tangannya sambil menarik dia untuk segera masuk ke dalam taman bermain.


"Ah..Reksa ayo cepat kita masuk, aku sudah tidak sabar mencoba semua permainannya" ucapku dan langsung menariknya ke dalam.


Devinka juga mengikuti kami dari belakang dengan perasaan kesal dan tidak karuan, dia berlari menghampiriku dan terus berbicara tidak jelas kepadaku, bahkan dia terus membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal bagi dirinya saat itu.


"Hei .. chicken beraninya kau menolak pegangan tangan denganku tapi kau malah memegang tangan si Reksa itu, aishh... benar-benar" ucap Devinka menggerutu kesal sambil mengacak rambutnya beberapa kali dan menaruh sebelah tangannya di pinggang.


Bisa kulihat dengan jelas seberapa stresnya Devinka saat melihat aku berpegangan tangan dengan Reksa, dan aku tahu dia cemburu saat itu, tetapi aku terus melakukannya dan berusaha untuk semakin terlihat mesra dengan Reksa bahkan aku mengajak Reksa untuk melakukan beberapa permainan disana, mulai dari memukul tikus, melempar bola sampai memanah dan kami mendapatkan sebuah hadiah istimewa karena memenangkan permainan memanah itu dengan sangat cepat.


"Wah...wah ...Reksa kamu hebat sekali, aaahhh...aku merasa sangat senang, lihat ini berkat kamu aku bisa memiliki hadiah boneka besar ini, terimakasih Reksa" ucapku sambil memeluk sebuah boneka panda yang imut dan lucu di tanganku.


Saat aku berdiri dengan Reksa dan memegangi boneka panda tersebut, Devinka langsung menghampiriku dan dia berjalan diantara aku dan Reksa yang tengah mengobrol dan bicara satu sama lain disana, tapi dia berjalan dengan santai langsung membuatku dan Reksa sedikit menjauh dan kami tidak bisa melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya lagi.


"Devinka kau ini apa-apaan sih, kenapa harus berjalan di tengah-tengah ucapan seseorang, itu tidak sopan!" Ucapku sambil memonyongkan bibirku kesal.


Setiap saat ketika aku merasa kesal aku selalu memonyongkan bibirku dan berusaha menahan amarah dengan itu, bahkan aku sendiri juga tidak perduli apakah orang akan berpendapat baik atau buruk sekalipun tentangku, yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik dalam hidupku. Apalagi memonyongkan diri adalah bentuk sebuah respon positif dari tubuhku, sehingga mau bagaimana pun aku menahannya, itu akan tetap keluar dan terjadi secara sendirinya bahkan sampai aku tidak menyadari hal tersebut.

__ADS_1


"Aishh.... berhenti memonyongkan bibirmu seperti itu, apa kau mau aku menciummu?" Ucap Devinka dengan sedikit membentak.


Aku dan Reksa langsung menatapnya dengan kaget dan heran, aku langsung memegangi mulutku dan menutupinya dengan tangan karena takut dengan ucapan Devinka sebelumnya, aku juga tidak menyangka dia bisa bicara segampang tadi.


"Devinka apa kau kerasukan sesuatu saat di perjalanan, bagaimana bisa kau berkata seperti itu dengan sangat mudah?" Ucap Reksa sambil menggelengkan kepalanya.


Devinka pun mengalihkan pembicaraan dan dia malah mengajak aku dan Reksa untuk mencoba salah satu wahana paling menyeramkan di tempat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah wahana halilintar dimana orang-orang duduk di sebuah bangku dan memakai pengaman lalu dinaikkan keatas pelan dan ketika sudah mencapai titik paling atas akan di jatuhkan sekaligus dalam kecepatan yang tidak terhitung sehingga jeritan orang-orang akan terdengar begitu memekikkan telinga saat itu.


"Sudahlah aku hanya bicara sembarangan saja, ayo kita naik itu" ucap Devinka sambil menunjuk ke arah wahana halilintar yang menjulang tinggi.


Mataku langsung terbelalak lebar dan mulut terbuka, aku juga langsung saling tatap dengan Reksa saking kagetnya, karena tidak menduga Devinka akan mengajak kami menaiki wahana yang berbahaya seperti itu.


"Wah....Devinka, apa kau yakin ingin menaiki wahana itu? Apa itu tidak terlalu berbahaya bagi kita?" Ucap Reksa berusaha menggoyahkan keinginan Devinka,


"Tidak, aku ingin menaiki wahana itu sejak lama, jadi kalian berdua harus ikut denganku" ucap Devika yang langsung menggandeng tanganku juga Reksa,


Aku berusaha berontak dan menghentikan Devinka karena melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatku ngeri dan bulu di tanganku berdiri semua, aku sungguh sudah takut bahkan sebelum mendekatinya, tapi Devinka tidak mendengarkan rengekanku dan dia tetap membawaku menuju permainan menyeramkan itu.


Bukannya mengijinkan aku untuk tidak naik dan pergi dari sana dia justru malah memegang tanganku dengan erat lalu mendorong aku secara paksa untuk naik bersamanya dan dia terus saja mendudukkan aku di kursi tersebut dan memasangkan alat pengamannya kepadaku, lalu dia juga melakukan hal yang sama kepada Reksa meski Reksa sudah berteriak berontak tidak ingin menaiki wahananya.


"Eishh kenapa kalian berisik sekali sih, dasar penakut, tenang saja aku ada bersama kalian, selama ada aku kalian akan tetap aman, aku menjamin itu" ucap Devinka dengan percaya diri.


"Tapi aku tidak mempercayai itu Devinka" balas Reksa yang sangat tepat.


Hitungan mundur dari pemandu permainan sudah di mulai dan perlahan kursi yang kami duduki terangkat pelan ke atas, semakin tinggi itu semakin cepat aku sudah tidak sanggup melihat ke bawah, ke depan ataupun ke atas aku terus menutup mataku sejak awal kursi itu diangkat hingga aku merasakan bahwa permainan itu berhenti tepat di bagian paling atas.


"Ohh....Devinka.... bagaimana ini, permainannya berhenti, ini pasti akan meluncur ke bawah" ucapku dengan bergetar ketakutan dan masih menutup mataku,


"Ahaha.... Chicken apa kau sepenakut itu, ayo buka matamu ini akan sangat menyenangkan, ayo chicken!" Ucap Devinka berteriak,


"Tidak aku tidak akan membuka matakuuuuuuu....aaaaaa....DEVINKA SIALAN!!" Teriakku sangat kencang karena saat aku bicara permainan itu tiba-tiba saja meluncur ke bawah dengan sangat cepat.

__ADS_1


Aku bahkan merasakan wajahku seperti tertampar angin yang kencang dari bawah, aku berpegangan sangat erat kepada tangan Devinka dan yang satunya lagi pada kursi yang aku duduki.


Kursi itu kembali di naikkan dan aku sudah bergetar ketakutan lebih hebat dari sebelumnya, aku pikir permainan itu akan naik lagi ke atas dan meluncur secepat sebelumnya, namun untungnya itu tidak, kami hanya di naikkan setengah lalu di turunkan perlahan sampai akhirnya berhenti.


Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi, dan tidak bisa melihat keadaan Reksa yang juga sama kacaunya denganku. Bahkan hanya untuk membuka kursi pengaman saja aku di bantu oleh Devinka begitu pula dengan Reksa yang di bantu oleh petugas disana.


Aku sangat lemas sampai tidak sanggup untuk berjalan dengan benar hingg Devinka akhirnya memapahku, sedangkan Reksa sudah berjalan sempoyongan dan dia mabuk sembarangan kesana kemari, bukan hanya Reksa aku juga tidak bisa menahan rasa mual dii perutku, dan kami berlari ke kamar mandi terdekat di sekitar sana bersama.


"Howekk....aaahh...Devinka sialan, dia benar-benar mengerjai aku kali ini, aku akan memberinya pelajaran!" Ucapku sangat kesal.


"Devinka kau akan mendapatkan balasannya!" Gerutu Reksa yang juga tidak terima atas perbuatan Devinka.


Setelah merasa lebih baik aku langsung keluar dari kamar mandi dengan menendang pintunya cukup keras dan langsung menemui Devinka dengan memasang wajah yang kesal dan mata yang terbuka lebar.


"Devinka kau ini benar-benar telah melewati batas, kau memaksaku untuk naik permainan itu apa kau pikir semua ini lucu untukmu, apa kau tidak lihat seberapa takutnya aku tadi hah?" Bentakku langsung memarahinya,


"Lagian aku kan sudah menjagamu dan kita juga sekarang baik-baik saja, apa yang perlu di permasalahkan lagi?" Balasnya tidak merasa bersalah seperti biasanya.


Aku memang salah memarahi orang seperti dia, dia memang tidak akan pernah berpikir dan selalu merasa benar dengan dirinya sendiri, aku langsung memalingkan pandangan darinya dan aku sangat benci melihat wajah menahan tawanya itu, sampai tidak lama Reksa muncul dan terlihat begitu Lemar serta pucat.


Aku langsung berjalan menghampiri Reksa untuk memeriksa keadaannya karena dia terlihat begitu pucat.


"Ya ampun Reksa apa kau baik-baik saja?" Tanyaku sedikit mencemaskannya,


"A..aku... baik-baik saja, ayo kita duduk dulu disana aku butuh istirahat" ucapnya sambil memegangi perutnya tersebut.


Aku langsung memapahnya dan mengalengkan tangannya ke pundakku untuk membantu dia namun Devinka justru malah cemberut serta tidak bergerak dari tempatnya sehingga membuat aku yang hendak berjalan menjadi mengurungkan niat karena melihatnya terus diam mematung seperti itu.



"Devinka ada apa denganmu, ayo kita duduk di sana ayo...ayo kalian ini selalu saja tidak akur" ucap Reksa sambil mengalengkan tangannya pada Devinka.

__ADS_1


__ADS_2