
"Ehhh....apa apaan kau ini, masak sendiri!" Bentak Devinka sambil merampas mie itu dari tangan Reksa lalu memakannya dengan lahap.
"Aishh....kenapa kau bisa serakus itu, dan sejak kapan kau suka mie instan seperti ini, aneh" gerutu Reksa sangat heran sambil menggelengkan kepalanya.
Devinka tidak menghiraukan setiap ucapan dari Reksa dia terus memakan mie itu dengan perasaan kesal mengingat kelakuan Elisa yang pergi meninggalkan dia begitu saja.
"Sial, dasar cewek ayam tidak tahu terimakasih, aku menyesal sudah bersikap terlalu baik padanya tadi, aishh....huuh menyebalkan sekali" gumam Devinka sangat kesal sendiri.
Reksa terperangah seakan tidak percaya melihat Devinka yang pertama kalinya memakan mie instan dengan lahap di depan matanya secara langsung.
"Apa dia baru saja kesurupan s*tan mie instan?" ucap Reksa saking kagetnya.
Devinka terus uring uringan sendiri dan memakan mie instan itu seperti orang yang tidak makan dalam waktu yang lama, sedangkan Reksa sudah berkali kali menggelengkan kepalanya saking merasa herannya dengan sikap Devinka.
Reksa pun memutuskan untuk menyeduh kopi sendiri di sana karena dia tidak ingin mengganggu Devinka yang nampak tengah memiliki mood yang buruk.
"Ahh..sudahlah, Devinka apa kau mau aku buatkan kopi juga?" Tanya Reksa menawarkan,
"Tidak aku sudah kenyang" balas Devinka sambil menaruh piring di meja.
Di sisi lain Aku sudah kembali ke ruanganku dan baru ingat kalau tadi aku pergi ke dapur membawa ponsel sedangkan saat ini, aku baru menyadarinya jika ponselku tertinggal.
"Astaga...di mana ponselku?, Ahhh pasti tertinggal di dapur semoga belum ada orang yang menemukannya" ucapku sambil segera bergegas kembali mencari ponselku ke dapur.
Di dapur Devinka hendak menaruh piring kotor yang baru saja dia gunakan ke tempat barang kotor lainnya namun saat melihat meja dia tidak sengaja melihat sebuah ponsel dan langsung memeriksanya.
Saat di nyalakan wallpaper di ponsel itu adalah foto Elisa sehingga dengan cepat Devinka mematikan ponsel itu lalu memasukkannya ke dalam saku celananya secara diam diam dan tidak memberitahu Reksa.
Tak lama dari itu Elisa tiba di dapur dan langsung mencari ponselnya ke sana kemari sampai membuat Reksa kebingungan melihatnya.
"Heh, Elisa apa yang sedang kamu cari kenapa tiba tiba datang seperti itu?" ucap Reksa bertanya,
__ADS_1
"Itu....aku lupa meninggalkan ponselku tadi" jawabku sambil terus fokus mencari ke semua bagian yang pernah aku lewati,
"Memangnya di mana terakhir kali kamu menaruhnya?" Tanya Reksa lagi,
"Aku tidak ingat tapi aku yakin pasti akan ada di dapur, soalnya ini tempat terakhir yang aku datangi" ucapku jujur,
"Ya sudah biar aku bantu carikan" tambah Reksa membantuku segera.
Sudah beberapa lama aku terus mengubek semua tempat di dapur bersama Reksa dan Devinka yang terlihat tidak niat dalam membantuku mencari ponselku.
Aku sudah hampir menyerah dan frustasi karena tetap tidak menemukan ponselku itu.
"Aishh di mana ponsel itu, kenapa tidak ketemu juga?" Gerutuku merasa kesal,
"Elisa kamu kembali saja ini sudah jam masuk kau akan terlambat jika terus di sini, nanti kau bisa mencari ponselmu lagi kan" ucap Devinka yang tiba tiba saja mengingatkanku.
Aku tidak menaruh curiga apapun karena aku juga kaget dan baru menyadari bahwa ini sudah masuk jam kerja lagi, aku pun langsung tersadar dan segera terburu buru kembali ke ruangan departemen dua untuk melanjutkan pekerjaanku lagi.
Aku berlari secepat yang aku bisa karena saat itu aku takut di dahului oleh rekanku yang lain karena jika itu terjadi mungkin mereka akan menghukumku karena aku terlambat masuk kerja padahal tidak pergi ke mana mana.
Saat sampai di ruang kerjaku untunglah belum ada siapapun di sana dan aku segera masuk ke dalam lalu mengistirahatkan diriku dan menetralkan nafasku agar bisa kembali tenang.
"Hah....hah...hah...aduh aku sial.sekali sih, sekarang kalau ponselku hilang bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan semua orang, ahhh bagaimana dengan Lili aku tidak akan bisa berkomunikasi dengannya lagi jika ponsel itu benar benar hilang" gerutuku merasa lesu dan sedih.
Sebenarnya aku tidak terlalu berat jika ponsel itu hilang lagi pula memang sudah sangat usang dan aku bisa membeli ponsel baru yang lebih bagus namun kenangan yang ada di dalamnya yang membuat aku merasa sangat berat untuk kehilangannya.
Banyak sekali foto foto masa kecilku saat di panti dahulu, di sana juga ada nomor ponsel ibu panti juga nomor Lili, aku tidak bisa menghubungi mereka lagi jika aku sungguh kehilangan ponsel itu, dan aku sangat berat untuk menerimanya.
Karena kehilangan ponsel itu dan aku masih belum berhasil menemukannya aku tidak memiliki semangat untuk bekerja, dan hanya terus merasa cemas ingin segera pulang agar bisa kembali mencari ponselku yang hilang.
Aku berusaha menyemangati diriku sendiri agar semua pekerjaan bisa cepat selesai dan aku bisa segera mencari ponselku lagi sampai bisa menemukannya.
__ADS_1
"Aahhh...sudahlah aku harus tetap semangat menyelesaikan pekerjaan ini, lebih cepat selesai maka lebih cepat aku bisa menemukan ponselku, semangat Elisa!" Ucapku penuh semangat lagi.
Saat aku menyemangati diriku sendiri aku sama sekali tidak sadar kalau rekan tim ku baru saja masuk ke dalam ruangan dan mereka menatapku bersamaan dengan kedua alis yang dinaikkan merasa heran dengan diriku yang begitu bersemangat dalam bekerja.
"Eh...eh....ehh ada apa dengan anak itu, kenapa dia tiba tiba dipenuhi semangat membara?" Tanya kak Kris pada kak Anne,
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi itu mungkin bagus untuk anak magang sepertinya" balas kak Anne yang sama herannya ketika melihat semangatku.
"Sudah...sudah...harusnya kalian mencontoh anak baru itu, dan bekerjalah lebih baik" ucap kak Eril dan dia segera duduk di meja kerjanya.
Aku tidak memperdulikan ucapan mereka meski aku bisa mendengarnya dengan jelas, kini fokus utamaku sungguh teralihkan dengan semua pekerjaan ini karena aku sungguh ingin cepat menyelesaikannya demi menemukan ponselku yang jauh lebih penting dari apapun untukku.
Sedangkan Devinka yang ada di balik semua itu dia pergi dari perusahaan untuk menghindari Reksa karena dia takut Reksa mengetahui bahwa di yang mengambil ponsel Elisa secara diam diam.
"Reksa aku ada urusan di luar kau tetaplah di sini, aku akan segera kembali" ujar Devinka beralasan,
"Eh...mau kemana kau?, Pekerjaan kita di kantor kan masih banyak dan kita masih belum menyelesaikan tugas tim itu, kau ini bagaimana sih maen pergi pergi saja" balas Reksa sedikit kesal,
"Aku hanya pergi sebentar, kau ribet sekali sih sudahlah aku pergi" kata Devinka tidak memperdulikan ocehan dari Reksa.
Dia tetap pergi dan Reksa hanya bisa uring uringan sendiri dan lagi lagi dia yang harus menyelesaikan pekerjaan Devinka di kantor, sedangkan Devinka segera pergi dengan perasaan senang karena dia berhasil mengelabui Reksa tanpa di curigai sedikitpun.
Devinka keluar dari kantor dan segera melajukan mobilnya ke sembarangan tempat sampai dia berhenti di pinggir jalan, lalu dia mulai membuka kembali ponsel Elisa dan menyalakan ponsel tersebut, hal pertama yang membuat Devinka kaget adalah ponsel Elisa itu tidak dikunci dan dia bisa membuka semua fitur di dalamnya dengan leluasa.
"Hah... Apa dia seceroboh ini?, Bahkan ponselnya pun tidak di kunci benar benar cewek bo*oh" gerutu Devinka memakai Elisa.
Devinka mulai membuka aplikasi chating di dalam ponsel Elisa dan dengan penasarannya dia hanya melihat apakah Elisa menyimpan nomor ponselnya atau tidak, dan ternyata setelah mencari tahu Elisa memang tidak menyimpan nomor ponsel Devinka dan hanya ada nomor Reksa di dalam ponselnya itu.
Devinka merasa sangat kesal dan dia lagi lagi menggerutu merutuki Elisa habis habisan.
"Aishh...dasar cewek ayam, kenapa dia tidak menyimpan nomorku benar benar keterlaluan padahal semua wanita tergila gila denganku, bagaimana bisa hanya dia yang terlihat acuh padaku, benar benar aneh!" Gerutu Devinka penuh kekesalan.
__ADS_1