Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Makan dengan Devinka


__ADS_3

Aku membelalakkan mata mendengar ucapannya yang sangat menusuk jantung serta harga diriku sekaligus, rasanya aku seperti tengah di hina sebagai manusia pembawa kuman untuknya padahal aku hanya memegangi kemeja dia agar dia tidak bisa berlari lagi dan aku tidak perlu mengejarnya lagi.


Meski dia memintaku untuk melepaskan tangan dari kemejanya aku tetap tidak melakukan itu dan tetap memegang kemejanya dengan lebih erat dari pada sebelumnya.


Devinka yang sudah mulai kesal karena aku tidak melepaskan pegangan pada kemejanya dia pun menarik lenganku dan menghempaskan nya dengan kasar.


"Aishh.... lepaskan tanganmu dari pakaianku!" bentak Devinka sambil menghempaskan lenganku,


"Heh, Devinka aku kemari itu ingin membantumu tahu, bukankah kau tersesat yah?" Ujarku padanya dengan lantang.


Seketika Devinka tersentak dan dia langsung menarik lenganku dan membawaku ke tempat yang tidak terlalu ramai orang.


"Heh, pelankan suaramu apa kau sengaja ingin membuatku malu di depan banyak orang ha?" Ujar Devinka membentakku lagi,


"Ehh?, Kalau kau malu kenapa juga kau bersikap seperti anak kecil mana mungkin ada orang sebesar kau bisa tidak tahu jalan bahkan kau bisa membaca jika itu benar terjadi" tambahku berbicara sambil merapihkan pakaianku,


"Sudahlah diam saja, darimana kau tau kalau aku tidak tahu jalan?" Tanyanya sambil menyuruhku untuk diam.


Aku tahu saat itu Devinka pasti sangat malu karena dia ketahuan memang tengah tidak tahu jalan namun sikapnya yang sombong tentu saja memiliki gengsi yang tinggi untuk meminta bantuan denganku makanya sedari tadi dia menghindari ku.


Aku terdiam sejenak saat Devinka menanyakan dari mana aku mengetahui masalah dirinya yang tak tahu arah, aku ingin mengatakan yang sebenarnya namun aku takut nanti Devinka malah memarahi Reksa karena sudah mengatakannya kepadaku.


Padahal jika bukan karena permintaan dari Reksa tadi aku juga tidak akan turun dari mobil sampai harus mengejarnya dan kelelahan seperti sekarang.


"Aah... Itu aku hanya menebak saja karena kau terlihat kebingungan makanya aku menghampirimu" jawabku berbohong,


Untunglah Devinka langsung percaya dan dia memintaku lagi untuk mengantarnya kembali perusahaan.


"Baiklah karena kau sudah tahu ayo antar aku kembali ke perusahaan" ucapnya memerintah begitu saja.

__ADS_1


Sebenarnya saat itu aku sangat kesal dan rasanya ingin sekali memukul dia dengan keras namun energiku sudah habis dan tidak bisa membuat diriku terbakar amarah di tempat umum seperti ini.


"Aishh....tanpa kau perintah aku memang akan kembali ke perusahaan, dasar pria lemah" gerutuku kesal sambil berjalan mendahuluinya.


Devinka pun menyusulku dengan berlari dan menyetarakan jalannya denganku.


"Hey, tunggu!" Teriak Devinka menyusulku.


Aku hanya menatapnya sekilas dan terus mengabaikan dia sampai tak sengaja berjalan melewati sebuah kedai makanan kecil dan bau dari sana begitu harus sampai bisa tercium oleh hidungku dan membuat perutku langsung lapar.


"Kreokkk...kreokkk" suara perutku yang keroncongan meminta asupan makanan.


Aku memegangi perutku dan berhenti menatap kedai makanan itu, di mana di sana banyak sekali orang yang menikmati makanan dengan lahap. Melihat banyak pasangan dan orang orang yang makan di sana dengan begitu lahap tentu saja aku semakin merasa lapar.


Aku pun berniat untuk membeli makanan itu namun saat aku mengecek yang di dompetku hanya tinggal beberapa lembar sepuluh ribuan lagi yang tersisa di sana dan aku bahkan belum bisa menerima gajihku karena semua uang sudah aku berikan pada ibu kos bukan kemarin.


Aku pun hanya bisa tertunduk lesu dan kembali membalikkan badan.


"Ada apa denganmu?" Ujar Devinka dengan heran.


"Sudah ayo kita kembali saja aku bisa makan mie instan lagi nanti. HM" tambahku sambil berjalan pergi.


Tiba tiba saja Devinka menarik lenganku dan membawaku ke tempat makan itu lalu dia memesan makanan begitu saja.


"Pak saya pesan semua makanan terbaik di sini" teriak Devinka memesan seenaknya.


Aku membelalakkan mata sangat kaget dan panik, aku tahu dia orang kaya tapi saat ini dia sedang tersesat aku takut dia tidak membawa uang sedangkan aku juga tidak bisa membayar semua makanan itu sendirian.


"Devinka astaga apa yang kau lakukan kenapa memesan begitu banyak, apa kau mampu membayarnya aku tidak ada uang kau tahu!" Bentakku sambil berbisik dengan kesal pada Devinka,

__ADS_1


"Tenang saja aku yang akan membayar semuanya, kau duduk dan habiskan semua makanan ini aku benci mendengar suara perutmu itu" kata Devinka dengan santai.


"Hey, bagaimana aku bisa makan kalau tidak mampu membayar kau ini bagaimana sih" ujarku padanya dengan gemas,


"Kau tidak mempercayaiku yah?, Ini lihat apa semua ini masih kurang untuk membayar semua makanan murah ini, bahkan jika harus menyewa hotel aku masih sanggup" ucapnya sambil membuka dompet miliknya di hadapanku.


Kartu ATM berjajar rapih dan uang tunai yang banyak tersedia di sana, aku kaget melihat isi dompet Devinka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya ternyata dia lebih kaya dari dugaanku.


"Ehh...kau kan..." Ucapku tertahan,


"Apa?, Aku ini buta arah bukannya miskin sepertimu, sudah cepat habiskan makananmu setelah itu kita akan cepat kembali ke perusahaan sebelum malam" tambah Devinka kepadaku.


Saat Devinka belum selesai berbicara aku sudah langsung menyantap beberapa makanan yang ada di atas meja dengan sangat lahap. Karena sudah tahu Devinka memiliki banyak uang aku jadi tidak ragu lagi untuk menghabiskan semua makanan yang ada di sana dan tidak ada yang perlu aku khawatirkan ketika bersamanya.


"Haha ini sebuah keberuntungan untukku" ucapku di sela sela makan.


Devinka hanya menatap Elisa dengan tatapan heran dan mata membelalak karena melihat Elisa yang makan seperti orang kelaparan.


Bahkan makanan yang tadinya memenuhi meja kini sudah hampir ludes disantapnya bahkan dia tidak tahu malu bersendawa di depan Devinka dengan suara cukup keras, Devinka yang melihat kelakuan Elisa dia hanya bisa menutup wajahnya karena merasa malu diperlihatkan oleh beberapa pengunjung di sana.


"Aishhh...dasar cewek ayam ini, sudah berapa lama dia tidak makan kenapa malah memalukan begini sih" gerutu Devinka sambil menunduk dan memijat keningnya.


Aku hanya tersenyum dan sangat puas melihat wajah Devinka yang nampak frustasi dengan wajah yang sudah pucat bahkan aku memiliki ide yang sangat bagus dengan berniat menyuapinya seperti pasangan lain yang tengah makan di sana.


"Ehh, Devinka kau juga belum makan kan?, sini biar aku suapi aaaa..." ucapku sambil memberikan suapan pada Devinka.


"Heh...apa apaan kau ini aku tidak mau makan dari tangan kotormu itu" bentak Devinka dan aku langsung berpura pura sedih agar mendapatkan empati dari orang orang di sana,


"Sayang apa kau masih marah denganku hanya karena aku dekat dengan temanmu, dan kamu tidak mau menerima suapanku hiks...hiks" ucapku mulai melancarkan aktingnya,

__ADS_1


Devinka membelototkan matanya padaku dan mengerutkan kedua alisnya meminta penjelasan sedangkan aku terus sengaja berpura pura hingga beberapa orang di sana mulai berbisik dan menyuruh Devinka untuk memaafkanku.


__ADS_2