
Aku benar-benar kesal karena Reksa justru malah membuatku harus mengingat kembali kejadian yang paling aku benci dari Devinka, padahal sebelumnya aku sudah sangat senang dan memuji dirinya karena bersikap baik dan lembut kepadaku bahkan aku sampai mengira dia memiliki perasaan lebih kepadaku tapi nyatanya dia hanya memberi pinjam semua barang-barang tersebut, benar-benar menjengkelkan.
Aku memilih untuk memberikan kembali hadiah yang Reksa bawa untukku dari Devinka, dan aku tidak ingin menerima apapun lagi dari orang yang perhitungan seperti dirinya karena itu hanya akan menyulitkan hidup dan perekonomian diriku saja.
"Reksa...sudah sana kamu kembalikan hadiah itu kepadanya, dan bilang aku tidak membutuhkan itu bisa melihat dia kembali ke sini saja aku sudah senang" balasku kepada Reksa,
"Ya sudah kalo gitu, tapi ingat kalian harus datang besok karena itu acara penting terutama kau Dika, awas saja kau kalau tidak datang" ucap Reksa memperingati Dika.
Dia pun segera pergi dari tempat kerjaku dan tak berselang lama setelah kepergian Reksa, Dika juga ikut pergi dan dia kembali meminjam komik yang sebelumnya masih belum maki selesaikan bacaannya.
"Elisa kalau gitu aku juga harus pergi, ada sedikit urusan di kantor dan buku ini aku pinjam dulu yah" ucap Dika meminjamnya,
"Ya tapi awas jangan sampai rusak, dan harus di kembalikan dalam tiga hari, awas saja kalau terlambat!" Ucapku memperingati Dika,
"Iya...iya kau seperti tidak mempercayai aku saja" balas Dika dengan tersenyum kecil,
"CK...memang aku tidak mempercayaimu, sudah sana pergi kenapa kau masih disini juga?" Ucapku mengusirnya.
Dika pun segera pergi sambil melambaikan tangannya dan terus berjalan keluar dari area perpustakaan, moodku sudah sangat hancur hanya karena dia orang manusia yang menjengkelkan itu. Padahal pada awalnya aku sedang asik membaca komik komedi dengan Dika, karena mereka membicarakan Devinka aku menjadi sedikit kesal.
Ku lanjutkan pekerjaanku di perpustakaan dengan menata buku-buku ke atas rak dan mulai membersihkan seluruh kawasan di perpustakaan karena ini sudah hampir waktunya pulang dan ketika jam sudah menunjukkan ke arah angka empat aku pun segera bersiap pulang dan segera mengunci perpustakaan tersebut.
Namun saat aku berbalik aku sudah melihat Devinka baru saja keluar dari mobilnya bersama Reksa dan dia berteriak memanggil namaku dengan keras.
__ADS_1
"ELISA!" Teriak Devinka begitu kencang dengan mata yang menatapku cukup tajam.
Aku merasa heran dengan kedua alis yang aku kerutkan bersamaan dan aku semakin bingung ketika Devinka tiba-tiba saja memelukku dengan sangat erat.
"Eh..eh...Devinka lepaskan, hey lepaskan aku...kau ini kenapa sih hey....bukannya kau baru saja tiba di sini yah...Devinka!" Teriakku berontak dan terus berusaha mendorong tubuh kekarnya dari pelukan.
Hingga akhirnya Devinka sendiri melepaskan pelukannya dariku dan dia nampak seperti tengah kesal kepadaku.
"Chicken kenapa kau menolak hadiah pemberian dariku, apa kau tidak menyukainya?" Tanya Devinka dengan suara sedikit membentak dan membuatku terheran-heran.
"Hey...memangnya kenapa kalau aku menolak hadiah darimu?" Balasku merasa heran tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Ya karena saat itu aku pikir aku memang tidak salah karena semua orang berhak menolak ataupun menerima setiap pemberian dari siapapun, dan itu hakku mau menerima atau menolak pemberian dari Devinka habisnya aku juga tidak tahu itu benar-benar pemberian murni atau hanya memberi pinjam karena kasihan melihatku yang selalu terlihat tampil sederhana dan menyedihkan.
"Chicken apa kau tidak bisa menjadi seperti wanita normal pada umumnya?" Ucapnya dengan keras,
"Apa maksudmu Devinka, kau lupa yah sebelumnya kau pernah memberikan aku banyak hal tapi kau memintaku untuk membayarnya itu berarti kau bukan memberinya tetapi hanya memberikan pinjaman tanpa aku meminta, makanya aku menolak hadiahmu karena aku tidak mau harus menerima barang tidak berguna seperti itu, apalagi jika harganya mahal, uang darimana aku membayarnya padamu nanti" ucapku menjelaskan.
Devinka terdiam dan dia menatapku dengan terperangah lalu mengusap wajahnya kasar dan menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.
"Chicken apa kau bodoh, sebelumnya juga aku tidak meminta untuk kau mengembalikan semuanya bahkan aku masih menyimpan semua uang pemberian darimu, jika kau tidak percaya kita akan melihatnya di rumahku sekarang juga" ucap Devinka membuatku kaget.
"Reksa ke rumahku sekarang" tambah Devinka memerintah Reksa.
__ADS_1
Aku pikir dia mungkin sudah memberikan uang recehan dariku itu kepada pelayannya atau membiarkan uang itu terbengkalai dan memberikannya ke sembarangan orang, namun ternyata dia mengatakan bahwa dia tidak memakai uang dariku sedikitpun.
Aku sangat kaget hingga ketika kami sampai di kediamannya Devinka langsung menarik tanganku dan membawaku ke kamarnya lalu dia membuka sebuah lemari pakaiannya dan mengambil kantung kresek yang saat itu aku pakai untuk membungkus yang recehan tersebut, dia memberikannya kembali padaku dengan keadaan sama persis seperti semula.
"Ini...kau ambil kembali semua uangmu dan ini gaun yang pernah aku belikan untukmu lalu kau harus menerima hadiah ini juga, dan aku mau kau memakainya besok" ucap Devinka memberika semuanya pada tanganku,
"De...Devinka...tapi bukannya saat itu kau bilang semua ini hanya pinjaman kepadaku dan kau bilang aku harus mengembalikannya" kataku yang masih belum mengerti dengan pola pikir Devinka,
"Aku berkata begitu karena aku....." Ucap Devinka tertahan,
Aku sudah sangat penasaran apa alasan dia mengatakan seperti itu kepadaku jika dia tidak bermaksud seperti yang dia ucapkan sendiri.
"Apa ...kenapa kau berhenti?" Tanyaku semakin penasaran,
"Aaahh...sudahlah intinya anggap saja saat itu aku salah bicara, kau bawa semuanya kembali dan ingat aku ingin besok kau memakai gaun ini lagi dan sekalian pakai sepatu itu, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu besok" ucap Devinka terlihat serius,
"Baiklah....tapi kau janji yah tidak akan meminta aku mengembalikan semuanya lagi, kalau tidak aku akan sangat membencimu" ucapku memperingati dia,
"Iya aku janji chicken, lagi pula disini ada Reksa dia akan menjadi saksi" balasnya sambil mengusap pucuk kepalaku.
Aku merasa gugup dan sedikit kaget ketika Devinka mengusap atas kepalaku dengan lembut dan wajahnya yang berseri bahkan mungkin bukan aku saja yang kaget dengan sikapnya tersebut tapi sepertinya Reksa juga merasakan keanehan yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Devinka mendorong tubuhku keluar dari kamarnya dan dia langsung mengantarkan aku pulang ke rumah saat itu juga, aku masih tetap diam membisu karena benar-benar merasa aneh dengan sikapnya ditambah detak jantungku yang terasa tidak normal, aku menjadi gugup saat berhadapan dengannya kali ini padahal sebelumnya aku merasa biasa saja bahkan saat aku tidur di rumahnya sekalipun.
__ADS_1