Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 100 ( Saya Tidak Mengenal Anda )


__ADS_3

Barisan kursi membentuk lingkaran yang membawa Zio dan Zahra mulai bergerak mengikuti pergerakan air yang meliuk seperti sungai. Menerjang berbagai rintangan yang akan mereka hadapi bersama orang - orang yang berada dalam satu lingkaran dengan mereka.


Teriakan demi teriakan keluar dari mulut orang - orang yang ada bersama Zio dan Zahra. Menyandang status yang semakin dekat, Zio tak ragu lagi untuk meraih dan menggandeng tangan Zahra yang memegang sabuk pengaman. Tanpa peduli dengan apa yang akan di katakan oleh orang - orang yang ada di depannya.


Merasa sudah berhak untuk menunjukkan pada dunia, jika mereka adalah pasangan, maka Zahra pun menautkan jemarinya pada jemari Zio, dan menggenggamnya erat ketika mengalami semacam guncangan yang membuat Zahra kaget.


Belum lagi derasnya air yang mengalir, yang mana muncratan airnya bisa dengan mudah masuk ke dalam lingkaran. Dan jeritan orang - orang yang tak merasa ia kenal membuat Zahra reflek ikut berteriak.


"Ini sangat seru, Mas!" ujar Zahra.


Zio pun menoleh dan menatap wajah Zahra yang terlihat sangat bahagia siang itu. Ia tatap jemarinya yang bertaut dengan perempuan itu. Getaran - getaran syahdu semakin terasa oleh hatinya yang sudah lama kosong. Hati yang hanya di hinggapi bayangan saja, selama beberapa waktu terakhir.


' Naura... maafkan aku jika kini aku juga mencintai dia... '


Lirihnya dalam hati, sembari meremas lembut tangan Zahra yang putihnya memang tak bisa menandingi kulit putih Naura.


Meski begitu Zio bukan tipe lelaki yang memandang fisik sang wanita. Ia hanya menggunakan hati untuk melabuhkan cintanya. Jika fisik Naura sempurna, itu adalah bonus yang di dapatkan oleh Zio. Karena Zio pun hanya akan memandang wanita yang ia cintai, sebagai wanita tercantik di muka Bumi ini.


Tidak ada niatan untuk Zio membandingkan kecantikan Zahra dengan Naura, maupun Zahra dengan Calina yang kini memang semakin cantik. Apalagi menjabat sebagai istri CEO yang merupakan pewaris perusahaan Adhitama Group. Uang suaminya bisa membuat Calina bak hidup di negeri dongeng. Hanya saja perempuan itu tidak tertarik untuk hidup semacam itu.


' Dia cantik! sama seperti kamu, Sayang... '


Batin Zio kembali seolah tengah bercakap dengan arwah Naura yang entah ada di mana.


Tanpa terasa kursi bundar dengan sabuk pengaman dan sebuah gagang pegangan itu telah sampai di titik akhir. Membuat semua penumpang harus turun, dan mengakhiri aksi teriak mereka di wahana arung jeram.


"Mau coba apalagi?" tanya Zio sembari berjalan bersama meninggalkan titik akhir arung jeram.


"Sudah. Aku mau mandi dan ganti baju. Lalu makan siang, perut ku sudah lapar, Mas!" jawab Zahra dengan seulas senyum kaku karena memanggil Zio dengan sebutan yang masih sangat sulit ia sematkan.


Tidak semudah itu membiasakan lidah untuk mengganti sebutan panggilan pada seseorang. Apalagi dari Pak ke Mas. Dari menyebutnya Bos jadi calon Suami.


Tapi hal itu pula yang di rasakan oleh Calina beberapa tahun yang lalu. Dari memanggil Pak Kenzo menjadi Mas Kenzo. Dari yang hanya berjabat tangan, jadi cium tangan. Dari yang hanya teman curhat, jadi teman tidur.


Zio terkekeh mendengar keluhan Zahra, "Ya, sama aku juga lapar!" sahut Zio yang sebenarnya tidak lapar.


Ya, tidak semua lelaki mudah merasakan lapar. Kadang mereka mau makan hanya untuk mengimbangi pasangan mereka saja. Supaya tidak sungkan jika ingin makan.


"Kamu mau makan apa?"


"Apa saja, Mas! Yang penting tidak antri! karena aku sudah benar - benar lapar!' jawab Zahra kembali tersenyum kikuk. Lagi - lagi karena lidah yang masih sangat kaku, namun harus di paksakan untuk terbiasa.


"Okay! kita ke ruang ganti!" jawab Zio. "Boleh aku..." ucap Zio sembari melirik tangan Zahra.


Zahra tau apa yang di maksud oleh Zio. Dengan wajah yang merona karena malu, Zahra pun mengangguk.


Zio cepat menyambar tangan kanan Zahra, dan kembali berucap.


"Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan... Sayang?" tanya nya dengan menatap lekat sepasang mata Zahra yang sangat indah.


Tersenyum malu, dan lagi - lagi Zahra hanya bisa mengangguk yang di sertai dengan senyuman manis khas milik Zahra.


"Thank you, Sayang..." ucap Zio untuk pertama kali.

__ADS_1


Dan jantung Zahra bagai semakin terasa berdebar hebat. Sebutan yang sangat indah dan menenangkan jiwa kaum hawa.


Dan pasangan baru itupun berjalan dengan saling menggenggam satu sama lain menuju ruang ganti. Kemudian berpisah di persimpangan ruang ganti, antara ruang ganti laki - laki dan ruang ganti perempuan.


Kalian tau apa yang terjadi di bawah guyuran air shower?


***


Mereka sama - sama mengulum senyuman di antara buliran air yang mengalir. Mengenang momen mendebarkan yang baru saja mereka bangun. Dimana apa yang baru saja mereka lewati akan mengubah masa depan keduanya nanti.


Hari baru, kehidupan baru, dan suasana yang baru. Begitu juga dengan jumlah keluarga. Bisa jadi akan berubah angka.


Dari yang hanya rekan kerja, kemudian di terima menjadi calon suami. Yang artinya mulai hari ini status mereka setara dengan berpacaran. Bedanya mereka menolak di sebut sebagai pacar. Karena usia sudah tidak muda lagi. Sudah bukan waktunya untuk bercanda dengan status yang masih terombang ambing.


Sama - sama pernah menikah, sama - sama pernah kehilangan dengan cara yang sama, rasanya sangat tidak masuk akal jika mereka di sebut bercanda ataupun bermain - main dengan perasaan.


Justru semakin cepat menikah, itu semakin baik. Mengingat keduanya sudah sama - sama tau masa lalu masing - masing. Juga sifat dan sikap yang mereka tunjukkan di sepanjang hari ini.


' Seperti apa ya rasanya? ketika ada yang kembali mengatakan... I love you... kemudian memanggil dengan sebutan sayang...setiap hari... '


Gumam Zahra dalam hati. Di antara lamunan yang semakin membawanya jauh melayang, bibir mengulas senyum penuh arti yang menunjukkan bahwa dirinya sedang berbahagia.


' Apa yang harus aku jawab? I love you too? sepertinya terlalu monoton... '


Zahra terus berangan sembari menggosok rambutnya yang basah menggunakan shampoo dan di bilas di bawah guyuran air shower yang beruntung. Karena berhasil menelusuri kulit putih mulus itu tanpa tertutup sehelai kain pun.


Tidak salah jika siang itu ia kan menjadi pengunjung terlama yang ada di dalam bilik ganti. Karena ia membutuhkan waktu tiga kali lipat dari biasanya untuk menyelesaikan bebersih di kamar mandi pasca berenang.


Begitu juga dengan Zio yang melakukan hal yang sama pula. Di bawah guyuran air shower bilik mandi umum milik Dufan, ia justru melamun. Mengingat kembali, betapa tadi ia sempat berdebar saat menunggu jawaban Zahra. Dan nyaris putus asa saat Zahra mengucap kata Maaf untuk pertama kali.


Namun semua terbayar lunas dengan Zahra yang pada akhirnya menerima pengajuan menikah yang ia mohonkan. Sekarang angannya hanya satu, segera mewujudkan acara pesta pernikahan itu, dengan sangat meriah. Mungkin dengan mengudang orang sekantor jika Zahra mengizinkan.


Buliran air shower yang jatuh menabrak kepala dan meluncur di atas kulit berototnya, hingga mendarat di lantai basah, mengiringi angan Zio yang beralih akan sosok Titania Azzahra di masa depan. Membayangkan perempuan itu akan selalu menemani setiap hari di rumah yang berbulan - bulan telah sepi. Kemudian membayangkan wajah cantik itu selalu ada di sampingnya saat ia bangun tidur.


Seperti yang di lakukan oleh Naura Azalea semasa hidupnya, semasa mereka bersama hingga berakhir dengan tertancapnya sebuah batu nisan di atas tanah merah yang basah. Sebuah nama terukir di sana.


Tidak ada niatan untuk membuat Zahra seperti Naura, tidak juga menginginkan Zahra untuk bisa bersikap sepert Naura, Zio hanya terkadang masih mengingat kebiasaan istri yang sudah menemaninya selama lebih dari lima tahun itu.


***


Berbeda dengan sepasang sejoli yang sedang di mabuk cinta, maka ada Kayla yang meminta izin pada Mama Shinta untuk berkeliling di sekitar kolam. Ia butuh cuci mata, setelah puluhan menit hanya ia fokuskan untuk melihat Gilang dan sang keponakan yang ia sayangi seperti anak sendiri.


Kayla dan Felia, tentu sering bertemu di Rumah Sakit Jiwa, meski tidka pernah mengobrol dengan gaya manusia normal. Tapi Kayla selalu menatap Felia dengan tatapan manusia normal. Dan naluri selalu saja bekerja bukan? Apalagi Felia adalah anak - anak yang sangat sensitif terhadap perasaan orang di sekitarnya.


"Tante, saya mau lihat wahana air yang ada di sana, ya?" pamit Kayla pada Mama Shinta, menunjuk kola dewasa yang letaknya tidak terlalu jauh.


"Ya, Kayla. Hati - hati, ya? dan jangan terlalu lama. Cepat kembai." Mama Shinta mengingatkan Kaya layaknya mengingatkan anak sendiri.


"Iya, Tante.." jawab Kayla tersenyum ramah.


Kayla pun melangkahkan kaki dengan sesekali melirik Gilang yang masih asyik bermain air bersama keponakannya sendiri dan satu lagi mungkin calon keponakannya.


Kayla berjalan di tepian kolam, melangkah pelan dengan menikmati lantai yang basah oleh anak - anak yang berlarian. Sampai akhirnya, Kayla berhenti di sebuah tepian kolam. Dari kejauhan, Kayla dapat melihat betapa banyak orang - orang yang tampak sangat bahagia dengan keluarga, kekasih atau juga teman - teman mereka. Semua tampak bahagia, tanpa ada satu wajah pun yang berpura - pura bahagia.

__ADS_1


Sungguh ia tak pernah merasakan hal ini selama bertahn - tahun. Waktu belasan tahun ia habiskan hanya untuk mendekam di dalam Rumah Sakit Jiwa, dengan gejala pura - pura depresi. Tanpa memikirkan seperti apa kehidupan bahagia di luar sana.


Selama ini ia hanya berfikir, jika kehidupan di luar sana adalah kehidupan yang kejam dan di penuhi oleh laki  laki yang semua rata - rata adalah lelaki hidung belang. Lelaki yang hanya mengandalkan nafsunya, kemudian di doping dengan kekuatan uang yang tebal.


Ia tersenyum kecil, mengingat betapa konyol apa yang ia lakukan selama belasan tahun ini. Betapa ia tak menyadari jika ada banyak cerita bahagia di luaran sana yang bisa menghibur dirinya yang depresi.


Dan kebodohan yang membuatnya menggelengkan kepalanya adalah... Kenapa ia tidak mengikuti Gilang sejak beberapa tahun yang lalu? padahal Tuhan sudah mempertemukan pada orang yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkan dirinya dari kehidupan yang berat dan trauma yang berat.


Tapi semua itu memang akibat dari rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu. Contohnya takut pada seseorang, yang bahkan orang itu sudah meninggal.


Dan kini semua akan ia jadikan pelajaran yang sangat berharga dan tidak terlupakan. Kehidupan yang kelam, masa lalu yang tidak indah, dan sebuah insiden yang membuatnya trauma dan depresi berat pada suatu masa.


Puas melihat kebahagiaan orang - orang yang ada di sana, Kayla kembali berjalan dan kembali ke arah di mana meja Mama Shinta berada. Dan saat melintasi ruang ganti, seseorang menari lengannya dengan sangat lembut.


"Kenapa kamu meninggalkan aku, Sayang!" ujar pria itu sembari mengikuti langkahnya dengan menggenggam tangan kanan nya.


Kayla pun di buat bingung dengan raut wajah yang heran melihat lelaki yang di perkirakan berusia beberapa tahun di atasnya itu.


"Kamu jadi mau makan dimana?" tanya lelaki itu dengan melirik Kayla.


Kayla semakin bingung dengan pertanyaan lelaki itu. Kenal saja tidak, tapi sok sekali mengenalnya dengan bertanya jadi makan siang di mana. Padahal pria itu sempat melihat wajahnya, tidak mungin kan jika ia salah lihat.


"Katakan, Sayang!" ucapnya menoleh Kayla dan menatap wajah cantik Kayla. "Rambut kamu cepat sekali keringnya?" tanya pri aitu.


Sontak Kayla mengerutkan keningnya, ia yakin jika lelaki di sampingnya ini sedang mengigau. Atau pura - pura depresi seperti yang pernah ia lakukan?


"Maaf, apa anda salah orang?" tanya Kayla.


"Apa maksud kamu?" tanya pria itu menghentikan langkahnya. Dan kini keduanya langsung berhadapan dengan tangan yang sudah tidak bergandengan. Justru tatapan satu sama lain yang terlihat sama - sama tegang.


"Maksud saya, saya tidak mengenal anda. Kenapa anda bilang rambut saya cepat kering?" tanya Kayla kebingungan. "Anda yakin yang berenang dengan anda adalah saya?"


Dan kini pria itu yang di buat bingung, "suara kamu kenapa berubah?" tanya pria yang tak lain adalah Zio itu.


"Berubah bagaimana?" tanya Kayla. "Dari dulu seperti ini suara saya, Tuan!"


"Sayang! please, jangan bercanda!" seru Zio dengan wajah serius. "Panggil aku Mas!"


"Saya tidak bercanda, Tuan! apa anda yakin yang berenang dengan anda adalah saya?" tanya Kayla memastikan. "Coba perhatikan wajah saya baik - baik!"


"Sudah! dan ini benar kamu, Sayang!" ujar Zio.


Kayla di buat semakin bingung. Sebenarnya siapa pria ini? kenapa begitu percaya diri mengenal dirinya dan bahkan berenang bersama dirinya, bahkan di saat dia sendiri tidak tersentuh air kolam sedikitpun. Bahkan satu - satunya prai yang ia kenal baik di sana hanyalah Gilang Adhitama.


Kayla menelisik Zio dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian kembali naik ke kepala. Dan memperhatikan potongan rambut pria itu. Terlihat bukan orang sembarangan. Maksudnya tipikal pria dengan kedudukan tertentu.


' Apa mungkin pria ini adalah lelaki yang berniat untuk menikahi Zahra? '


"Memangnya siapa nama orang yang sedang berenang dengan anda?"


"Mas!" seru Zahra dari arah belakang Kayla.


Dan itu membuat Zio membelalakkan matanya lebar. Sangat lebar. Hingga mulut reflek terbuka dan membentuk huruf O besar.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2