Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 82 ( Drama Memasuki Lobby )


__ADS_3

Menuruni kendaraan besinya, Zio menggandeng tangan Clarice untuk bisa sampai di lobby perusahaan.


Sebenarnya, saat ia melewati pos security tadi, ia sudah bisa membaca ekspresi para security yang sedang bertugas, jika mereka seolah menyimpan tanya, tentang ...


Bagaimana bisa Nona Clarice ada bersama dirinya di dalam satu mobil?


Sementara ia bahkan baru kembali dari tanah rantau dan baru mengenal Nona Clarice?


Lebih gila lagi, bukan dia orang terdekat CEO di perusahaan. Melainkan Venom, sang Asisten Kenzo Adhitama.


Selama ini hanya Venom yang di perbolehkan membawa Clarice kemanapun perintah sang CEO. Tidak yang lain.


Jantung Zio cukup berdebar, saat langkah semakin dekat dengan Lobby perusahaan. Dimana di sana pasti banyak pula security juga Resepsionis, yang pekerjaan mereka rata - rata bergosip secara real, maupun by group whatsapp.


Namun karena sudah sepakat dengan sang bos untuk menunjukkan keadaan apa adanya, maka ia berusaha untuk melangkah dengan percaya diri.


Zio tidak peduli jika pada akhirnya orang - orang akan menganggap miris pada dirinya. Karena mantan istrinya justru di nikahi Bos mereka. Dan menganggap dia sengaja di buang keluar kota oleh sang Bos.


Namun, ia justru bangga menunjukkan pada dunia, jika ia memiliki Clarice di dalam hidupnya. Gadis kecil yang manis dengan rambut hitam yang saat ini sudah di kepang dua ala karakter Anna dalam film animasi Frozen.


Tentu saja guru di sekolah yang melakukan itu. Atas permintaan Zio tadi pagi.


Zio dan anaknya semakin dekat dengan area depan lobby. Dan saat ia berbelok ke arah lobby, maka saat itulah semua sorot mata karyawan yang bertugas di pintu lobby menoleh kepadanya dan Clarice yang berjalan dengan suka cita.


Melihat dari baju yang di kenakan sang Nona kecil, tentu semua tau jika Nona kecil mereka baru pulang dari sekolahnya yang merupakan salah satu sekolah terbaik di Ibukota. Dan lagi Clarice selalu memakai seragam sekolah saat tiba di kantor. Sampai karyawan hafal betul jadwal memakai seragam Nona kecil.


Namun kali ini yang membuat mereka heran adalah, bagaimana bisa Clarice seakrab itu dengan GM yang mungkin baru di kenal beberapa hari oleh Clarice?


"Hati - hati, Sayang!" ujar Zio saat Clarice menaiki tangga dengan melompat - lompat, ciri khas bocah kecil itu jika memasuki lobby perusahaan Daddy nya.


"Ya, Papa!" seru Clarice sedikit kencang.


Dan itu membuat dada Zio semakin berdebar hebat. Karena satu detik setelah seruan Clarice, semua karyawan yang ada di depan Lobby saling pandang dan berbisik.


Tentulah mereka saling bertanya - tanya. Kenapa Nona kecil memanggil General Manager nya dengan sebutan Papa.


Zio terus menggenggam tangan Clarice hingga sampai di depan security yang menjaga pintu Lobby. Tangan mungil itu rupanya sangat ampuh untuk menutupi kegugupannya karena di panggil Papa di hadapan umum.


"Selamat siang, Pak Zio.." sapa mereka.


"Hm.." balas Zio tersenyum datar.

__ADS_1


"Selamat siang, Nona Clarice..."


"Yes, Uncle!" seru Clarice.


Nah! seperti itulah seharusnya Clarice memanggil Zio, tapi kenapa bisa menjadi Papa? Pikir para security.


Pertanyaan demi pertanyaan hanya bisa mereka simpan di dalam hati untuk saat ini. Menunggu sampai ada berita akurat yang akan beredar mungkin saja.


Pintu kaca tebal Lobby otomatis terbuka begitu tubuh kecil Clarice sudah lebih dulu mendekati pintu. Dan lagi - lagi kedekatan Zio dan Clarice menjadi magnet tersendiri untuk para karyawan yang bertugas di Lobby.


Dua perempuan yang bertugas di balik meja resepsionis saling senggol satu sama lain menggunakan siku masing - masing. Dan mereka menyimpan pertanyaan yang sama dengan para security di depan sana.


"Selamat siang, Pak Zio dan Nona Clarice..." sapa dua gadis itu bersamaan.


"Yes, Aunty!" jawab Clarice dengan nada cerianya.


Dua perempuan itu pun terus mengumbar senyum manis, sampai Zio dan Clarice melewati mereka untuk masuk ke lorong lift. Meskipun otak mereka yang terisi bukan tentang senyum penyambutan seorang General Manager beserta anak sang CEO.


"Papa! aku mau coba naik lift yang itu, boleh?" tanya Clarice saat keduanya sudah melewati meja resepsionis.  Dan Clarice meminta untuk naik lift umum. "Bosan naik lift yang ini... Ayo, Pa! cepat!" lanjutnya.


Berhubung lobby adalah ruangan yang luas dan tak terlalu banyak orang, maka teriakan Clarice tentu terdengar sangat jelas di telinga dua resepsionis itu.


Sontak hal itu membuat dua perempuan itu saling menatap dengan mata yang membulat dan bibir yang membentuk huruf O besar, hingga keduanya kehilangan senyum manis mereka.


"Oh my God!" pekik salah satu dari dua resepsionis itu lirih.


"Bagaimana bisa?" tanya gadis satunya namun sama sekali tidak ada suara yang dapat di dengar.


Dan keduanya hanya bisa saling tatap dan berakhir dengan saling mengangkat kedua bahu mereka. Dan satu - satunya solusi saat ini adalah membuka group khusus untuk mencari informasi yang akurat. Namun benar - benar Nihil.


"Sepertinya belum banyak yang tau..."


Bersamaan dengan itu, telepon di meja resepsionis berbunyi. Cepat - cepat salah satu dari mereka memegang gagang telepon, untuk menjawab panggilan di sebrang sana,


📞 "Selamat siang, dengan resepsionis Adhitama Group, ada yang bisa kami bantu?" sapanya.


📞 "Apa Pak Zio sudah datang?" suara di sebrang cukup di kenali oleh sang resepsionis.


📞 "Maaf, Pak Venom. Pak Zio sudah datang, dan baru saja masuk ke dalam lift bersama Nona Clarice." infonya.


📞 "Hm, baiklah!" jawab Venom ketus mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


Resepsionis itupun menatap gagang telepon dengan penuh tanda tanya. Ia sengaja menyebutkan jika Zio bersama anak sang CEO, siapa tau ada info yang sedikit membuka tabir, namun sang Asisten tampak biasa saja mendengar info yang ia berikan. Seolah apa yang baru saja ia lihat adalah berita lama.


"Kenapa?" tanya teman satunya.


"Pak Venom tampak biasa saja saat aku menyebut Pak Zio sedang besama Nona Clarice.


"Pasti ada rahasia besar yang melebihi rahasia aset perusahaan."


Dan resepsionis yang mengangkat telepon mengiyakan kesimpulan yang di ambil temannya itu. Bertahun - tahun perempuan itu menjabat sebagai resepsionis, sejak Zio belum pergi sampai GM itu kembali lagi, tak pernah melihat sekalipun Kenzo dan Zio bersikap seperti teman dan beramah tamah.


***


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Mobil mewah berwarna putih yang di ketahui sebagai tunggangan sang CEO, berhenti tepat di depan Lobby perusahaan untuk menurunkan orang - orang yang ada di dalamnya.


Merasa itu adalah mobil sang bos, tentulah para security bersiap siaga untuk menyambut orang terdekat sang bos. Siapa pun dia, selagi keluar dari mobil sang bos, itu berarti orang yang harus mereka hormati.


Perempuan berusia 32 tahun turun dengan menggunakan sepatu flat shoes berwarna hitam, kemudian dress berwarna merah selutut membalut tubuh ramping sang wanita. Rambut hitam di ikat ala kuncir kuda. Sebuah tas kecil berwarna hitam dari brand kenamaan menyilang dari pundak kanan sampai ke pinggang sebelah kiri, melewati dada.


Penampilan yang cukup sederhana dan sama sekali tidak glamor. Karena aksesori yang melekat di tubuhnya hanyalah cincin pernikahan, sebuah jam tangan dari brand internasional yang berharga standar di pergelangan tangan kirinya. Kemudian ada kalung emas kecil dengan bandul huruf C melingkar di lehernya.


Tidak langsung masuk ke dalam perusahaan, melainkan ia kembali membalikkan badan ke arah dalam mobil. Rupanya bocah kecil berusia dua tahun melompat dari lantai mobil, ke aspal dengan di  sertai seruan yang luar biasa ceria.


'Hap!"


Melihat dari jauh, Security yang bertugas sudah mengenali bocah kecil yang baru saja melompat. Dialah Tuan muda kecil, Galen Adhitama. Dan mereka semua menghormati lelaki kecil itu sama seperti Clarice.


Dalam benak mereka seketika berfikir, apa ini istri Pak Kenzo?


Dan saat wanita anggun itu kembali membalikkan badan untuk melangkah masuk ke dalam Lobby, maka di saat itulah semua seolah berjalan sangat lambat. Seperti satu adegan slow motion dalam sebuah film action.


Satu orang security di buat menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sementara dua lagi saling melirik seolah bertanya...


Benarkah itu istri Pak Kenzo?


...🪴 Bersambung ... 🪴...


✍️ Hai.... Author ingin menyapa semua teman - teman yang sudah berbaik hati untuk terus mendukung karya - karya Author receh ini.


Lagi - lagi Author hanya bisa menyampaikan terima kasih sedalam - dalamnya, karena para reader masih sudi untuk membaca sampai di episode 82 ini.


Semoga kita semua selalu dan terus di berikan kesehatan dan rezeki yang cukup... Aamiin...

__ADS_1


Salam Lovallena 🥰


__ADS_2