Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 95 ( Masa Lalu Kayla )


__ADS_3

Dokter kandungan sudah menyatakan jika Calina benar - benar hamil dari hasil USG yang menunjukkan usia kehamilan sudah 7 minggu. Usia yang masih sangat muda. Meski pun sang Ibu tampak malas dan hanya ingin tidur saja, rupanya sang bayi sangat sehat di dalam sana.


Dan apa yang di jelaskan sang dokter tentu membuat kedua orang tua dari dua anak itu merasa sangat senang dan puas. On the way anak tiga, setidak itulah yang di ucapkan Kenzo setelah keluar dari ruang pemeriksaan.


Dan wajah sumringah keduanya siap untuk di sambut di apartemen.


***


Hari itu, selain ada Calina dan Kenzo yang sedang sibuk di Rumah Sakit, juga ada Zahra yang sedang berusaha menemukan apartemen Gilang di gedung apartemen yang menjulang tinggi.


Setelah bertanya pada resepsionis yang sedang bertugas, maka Zahra pun sampai di lantai yang di tempati oleh Gilang. Hanya saja di lantai itu ada dua pintu yang harus ia cocokkan nomornya.


Ting!


Berdasarkan alamat yang di berikan Gilang, maka nomor apartemen Gilang benar yang ada di depannya saat ini. Sehingga ia tak ragu untuk menekan tombol bel yang ada di samping pintu.


Dan tak lama kemudian, muncullah seorang lelaki berperawakan tinggi besar khas bule. Dengan wajah yang sedikit kebulean, namun rambut full hitam. Dialah Gilang Adhitama.


"Selamat pagi, Pak Gilang?" sapa Zahra mengangguk hormat.


"Hemm." jawab Giang mengangguk santai. "Masuklah!" titah Gilang memberi kode.


"Terima kasih, Pak!" jawab Zahra.


Zahra pun masuk ke dalam apartemen yang ternyata cukup mewah meski tidak sebesar apartemen Kenzo. Dengan satu kamar di bawah dan dua kamar di lantai atas. Ruang tamu yang menyatu dengan pantry, dan sebuah toilet kecil.


Nuansa vintage terkesan begitu mewah di dalam kamar bujangan.


"Di mana Kayla, Pak?" tanya Zahra yang tak melihat keberadaan sang saudara kembar di lantai bawah.


Gilang masih mengikuti langkah Zahra, dan saat Zahra bertanya di mana Kayla? Maka Gilang hanya menunjuk sebuah pintu yang di masuki Kayla saat pertama kali datang di apartemen itu.


"Boleh saya masuk, Pak?" tanya Zahra meminta izin.


Dan Gilang hanya mengangguk pelan.


"Dia tau kalau saya akan datang?"


Menghela nafas kasar, "Ya... aku sudah bilang, tapi tidak tau apa dia mendengar ku atau tidak." jawab Gilang.


"Maksud Pak Gilang, Kayla benar gila? dan tidak merespon Bapak?"


"Aku tidak bilang begitu..." sahut Gilang menggelengkan kepalanya pelan.


Clekk!!


Pintu yang sedari tadi menarik pehatian Zahra, tiba - tiba terbuka begitu saja. Dan seseorang yang sangat mirip dengannya keluar dari sana. Membuat sorot mata keduanya saling beradu sampai beberapa detik lamanya. Suasana seketika terasa membeku. Hanya deru nafas yang terdengar di antara tiga orang dewasa itu.


Zahra tertegun sangat dalam. Bagiamana tidak, Kayla benar - benar jauh berbeda dari terakhir yang ia lihat di Rumah Sakit Jiwa.


Sebelum ini, Kayla selalu berpakaian acak - acakan, dan rambut yang di sisir sangat asal dan tidak rapi sama sekali. Bahkan kulit putihnya sampai menjadi kering dan tidak terawat.


Tapi hari ini, Kayla sungguh berbeda. Memakai dress sederhana namun terlihat sangat elegan, dengan rambut bergelombang yang di ikat satu ala ekor kuda. Kulit yang semula kusam, hari itu terlihat cukup cerah. Dan sedikit make up tipis di wajah cantik naturalnya, semakin menambah kesan segar pada saudara kembarnya.


Kaki yang dulu selalu memakai sendal jepit kemana - kemana karena tak mau di ganti, sampai kaki terlihat kotor dan dekil. Hari ini kaki itu terlihat sangat bagus dengan cat kuku berwarna pink muda. Sungguh menawan penampilan seorang Kayla.


Ya, semua itu tak lepas dari peran Gilang yang semalam membawa Kayla ke salah satu salon terbaik di mall. Guna memenuhi kebutuhan normal seorang wanita. Yaitu shopping dan memanjakan diri di salon.


"Kayla..." lirih Zahra menatap tak percaya pada Kayla yang ternyata tidak gila. Sungguh, tidak ada kabar yang lebih baik dari kabar ini, bagi Zahra.


"Zahra..." lirih Kayla memanggil sang saudara kembar.


"Aku kamu tidak gila. Dan aku yakin kamu yang mengirim boneka itu padaku!" seru Zahra dengan rasa bahagia yang membuncah. Setelah belasan tahun, ini kali pertama Kayla menyebut namanya dengan jelas.


Sama - sama melangkah dua jangkah, kini saudara kembar itu berpelukan erat, sangat erat. Hingga air mata jatuh begitu saja dari mata bundar keduanya. Rasa haru dan rindu menyeruak dari dua hati yang sedang berdekatan.


"Maafkan aku, Zahra..." lirih Kayla masih dalam posisi berpelukan. "Maafkan aku yang membohongi kamu.." lanjutnya terisak. "Maafkan aku karena membuat kamu harus bekerja keras untuk membiayai Rumah Sakit Jiwa..."


"Akulah yang harus meminta maaf, Kayla... gara - gara kamu menggantikan aku di masa kecil dulu, jadi kamu yang mengalami depresi berat..." lirih Zahra. "harusnya aku, bukan?"


Saudara kembar yang sama - sama merasa bersalah atas satu masalah yang berbeda, namun masih dalam satu keterkaitan, hanya bisa berpelukan dengan air mata yang menganak sungai.


Zahra rindu berhubungan dengan Kayla dengan kondisi Kayla yang waras dan baik - baik saja. Sedangkan Kayla rindu dengan Zahra yang menjadi satu - satunya saudara yang dekat dengannya. Karena sang Kakak laki - laki yang entah kemana, terakhir ia dengar sang Kakak keluar pulau bersama istri dan anak - anaknya. Meski begitu uang masih sering di kirim untuk membantu biaya Rumah Sakit Jiwa.


"Sudah.... duduklah.." ucap Gilang tak ingin melihat momen haru ini terlalu lama. Ia bisa mati kutu kalau sampai waktu habis hanya untuk pelukan mereka yang berarut - larut.


"Duduklah..." sahut Kayla melepas pelukannya pada Zahra.


"Ya, Kayla..." jawab Zahra.

__ADS_1


Kini ketiganya duduk di sofa ruang tamu yang cukup luas. Saling tatap satu sama lain. Seolah tak tau obrolan apa yang harus mereka bahas untuk mengawali pertemuan ini.


"Sekarang bisakah kamu bercerita, Kayla... kenapa kamu sampai depresi berat waktu itu?" tanya Zahra memutar waktu yang sampai saat ini belum ia ketahui alasannya. Kenapa Kayla bisa depresi berat bahkan nyaris seperti orang gila.


Kayla terdiam untuk sesaat. Berpikir, dari mana ia harus mengawali cerita. Sedikit banyak ia masih ingat kejadian waktu itu. Kejadian yang membuatnya memiliki masa lalu kelam, sangat kelam. Hingga ia ingin muntah jika mengingatnya.


Meski sesungguhnya ia belum siap untuk bercerita di depan Gilang yang ia ketahui menaruh hati padanya. Tapi pria itu berhak tau darinya di banding tau dari orang lain. Toh jika cinta, pasti bersedia menerima apa adanya.


"Hari pertama aku di bawa oleh Bang Dirman ke salah satu rumah yang waktu itu aku tidak tau itu rumah siapa, atau rumah apa?" jawab Kayla. "Di rumah itu banyak sekali wanita berpakaian seksi yang memandangku dengan tatapan aneh."


Flashback On . . .


Titania Azkayla, remaja 14 tahun itu mengikuti langkah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, yang tak lain adalah Dirman. Dirman memasuki sebuah pekarangan rumah bertingkat yang cukup besar, Kayla tak tau itu rumah siapa tentu saja.


Saat di kepalanya masih banyak pertanyaan, ada seorang wanita yang keluar dari pintu utama. Wanita itu berpakaian sangat minim, kemudian menghampiri sebuah mobil sedan yang terparkir di salah satu area parkir. Dan masuk ke dalam pintu penumpang bagian depan.


Sepasang mata di bawah umur Kayla terus saja memperhatikan gerak gerik wanita itu. Dan betapa Kayla kaget, saat melihat wanita itu langsung nyosor lelaki yang ada di balik kemudi. Cepat - cepat Kayla memalingkan wajahnya.


Dan sampailah Kayla di pintu tempat wanita tadi keluar. Saat memasuki pintu utama rumah itu, mata Kayla terbuka lebar, dan jantungnya berdetak sangat kencang.


Banyak sekali wanita berpakaian seksi, bahkan tanpa ragu hanya memakai rok mini dan br* yang hanya di tutupi oleh seutas kain berbentuk segitiga yang di ikat di punggung. Padahal ada sekitar tiga laki - laki yang masing - masing mengobrol dengan satu wanita. Seolah terjadi adegan tawar menawar.


Suara musik terdengar di setiap sisi ruangan. Membuat beberapa wanita yang sedang bersantai menggerakkan kepala untuk mengikuti irama.


' Rumah macam apa ini? '


Gumam Kayla dalam hati.


Namun mau tak mau untuk saat ini Kayla hanya bisa mengikuti langkah Dirman.


Saat Dirman memasuki ruang tamu yang luasnya seperti ruang kelas itu, dia di sambut dengan sapaan - sapaan dari para wanita itu dengan suara yang manja. Rupanya mereka semua mengenal siapa Dirman.


Sedang Dirman sendiri tersenyum nakal pada mereka semua, dan tanpa ragu untuk membalas sapaan mereka dengan mencium pipi mereka yang bisa di jangkau, untuk kemudian ia rem*s bagian tubuh mereka. Entah itu bagian dada ataupun bagian bokong mereka.


Bukannya marah, mereka justru menjerit manja, dan membalas dengan cara merem*s bagian inti Dirman. Dan saat itu Dirman justru terlihat kesenangan. Dan dapat di dengar oleh Kayla jika Dirman berucap...


"Nanti malam ketuk pintu kamarku! kita akan bersenang - senang!"


Dan itu membuat Kayla ingin muntah melihat dan mendengarnya. Mata suci Kayla terpaksa di kotori oleh orang - orang brengsek di usia yang masih 14 tahun.


Wanita yang baru saja di bisiki Dirman untuk di minta datang ke kamarnya itupun mengangguk dengan senang hati, bahkan mencium singkat bibir Dirman. Kemudian bertanya...


Tersenyum culas, dapat di dengar oleh Kayla apa jawaban pria itu.


"Jaminan..."


"Oh..." wanita dengan baju serba mini itu hanya mengangguk. "Nanti kalau dia sudah tau rasanya pasti akan bilang biarkan disini saja. Meski hutangnya sudah lunas!" ucap wanita itu terkekeh.


"Ya... kamu benar, Baby..." jawab Dirman kembali mencium pipi wanita berparas cantik dengan body goals nya. Juga kulit putih mulus tak bercelah yang kepalanya di hujani rambut hitam panjang dan lurus.


"Hari ini kamu ada yang booking?" tanya Dirman pada wanita itu.


"Nanti jam 4 sore!"


"Kalau sudah selesai langsung datang padaku, ya!"


"Siap, Om..." jawab gadis yang usianya di perkirakan sekitar 25 tahun itu.


"Jangan sampai lupa!" ujar Dirman memukul gemas dan manja pada bokong wanita itu.


Kayla menelan ludahnya dengan sangat resah. Ia tak menyangka akan di bawa ke tempat tidak waras seperti ini.


"Ikut aku!" ujar Dirman dengan suara sedikit membentak pada Kayla. Sungguh berbeda dengan saat bicara pada wanita tadi.


Kayla kembali mengikuti langkah Dirman untuk memasuki rumah yang menurut Kayla adalah sarang buaya itu. Karena pasti banyak buaya darat yang mendatangi tempat itu. Entah untuk melepas penat, atau memang hobi berganti - ganti pasangan untuk mendapat nikmat sesaat.


"Nyonya Wolly!" panggil Dirman pada seorang wanita yang bernama Wolly.


Wanita setengah baya yang berpawakan tinggi dan ramping itu duduk di sebuah kursi yang menghadap meja kerja di ruang tengah. Sekilas, penampilan wanita itu biasa saja. Tidak ada yang berlebihan. Hanya memang cukup cantik untuk wanita seusia nya.


Di sampingnya duduk seorang lelaki yang berpakaian serba hitam. Dapat di lihat jika lelaki itu semacam bodyguard. Lalu seorang wanita di sisi satunya, yang merupakan asisten pribadi sang Nyonya.


"Ada apa, Dirman?" tanya Wolly saat melihat Dirman datang bersama seorang gadis yang di lihat saja sudah bisa di prediksi bahwa gadis itu...


"Untuk apa kamu membawa gadis di bawah umur?" tanya Wolly. "Aku tidak mau memperkejakan gadis di bawah umur! kamu tau itu, bukan?" ujar Wolly dengan sedikit ketus dan tegas.


"Tentu saja saya tau, Nyonya Wolly... tapi nasabah tidak punya uang lagi. Dia hanya punya anak ini yang aku bisa bawa."


"Lalu?" tanya Wolly dengan tatapan menelisik pada tubuh Kayla. Dari ujung rambut, lalu ke bawah hingga ujung kaki dan kembali ke wajah Kayla yang sangat lugu dan polos. Wajah cantik yang sedari tadi hanya menunduk dengan mendung yang menyelimuti.

__ADS_1


"Pekerjakan saja dia jadi apapun, Nyonya! sampai keluarganya bisa melunasi hutang - hutangnya!"


"Jadi apa maksudmu?"


"Suruh saja dia jadi pembantu di sini, Nyonya?" ucap Dirman. "Toh Rusmi mulai lusa cuti, bukan?"


Wolly kembali menatap Kayla yang jelas sesungguhnya tak ingin berada di tempat itu. Tapi Wolly juga bukan orang yang mudah untuk peduli dengan orang lain. Contohnya saja ia menggerakkan orang - orang seperti Dirman untuk menagih hutang pada penebar pinjaman yang berada di bawah naungannya.


"Baiklah, sepertinya ide mu cukup bagus!" jawab Wolly.


Dirman pun tersenyum ketika idenya di terima. Itu artinya ia akan mendapat bonus dari pekerjaannya kali ini.


"Nes! antar dia menemui Rusmi. Supaya dia tau job desk yang harus ia kerjakan!"


"Siap, Nyonya!" jawab Ines, sang asisten pribadi.


Di bawalah Kayla ke ruang yang ada di belakang rumah. Yang tak lain adalah dapur, lalu sampailah di depan barisan pintu yang berjajar tiga. Pintu itu adalah tiga kamar sempit yang biasa di tempati oleh para pembantu.


Ines membuka salah satu pintu, "Ini kamar mu!" ucap Ines dan Kayla hanya mengangguk sambil meletakkan tas kecil berisi baju yang ia bawa. "Sekarang ikut aku!"


Kayla kembali mengikuti langkah Ines, dan ternyata ke ruangan untuk mencuci dan setrika baju. Di sana ada dua wanita yang sedang melakukan pekerjaan berbeda. Satu setrika satu lagi tengah mencuci pakaian menggunakan tangan.


Dan saat Ines datang bersama Kayla, dua orang itu langsung menoleh ke arah keduanya. Dan betapa terkejut saat melihat Ines membawa seorang gadis di bawah umur.


"Rusmi, saat kamu cuti nanti, gadis ini yang akan menggantikan kamu!" ucap Ines sedikit ketus. "Jadi beri tahu dia apa yang harus dia kerjakan!"


"Tumben masih anak sekolah, Bu?"


"Adanya ini, jangan berisik!" pungkas Ines dan langsung berlalu pergi dari ruangan itu.


Rusmi dan satu wanita lainnya saling tatap, seolah keheranan tiada tara. Setelah itu barulah menyapa Kayla yang tampak masih sangat polos.


"Masuklah, Nduk!" ucap Rusmi meminta Kayla untuk masuk dan bergabung dengan mereka. "Duduklah.."


Kayla pun masuk dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di ruangan itu.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini, Nduk?" tanya Rusmi merasa prihatin.


Dan Kayla pun menceritakan semua dengan jelas dari awal duduk permasalahannya. Dua wanita itu tampak sangat prihatin dengan Kayla. Berulang kali mereka mengusap lengan Kayla.


"Pesan Bibi, selama kamu di sini, kamu harus berhati - hati ya, Nduk... di sini tempat yang tidak baik untuk anak seusia kamu. Apalagi kamu sangat polos..." ucap Rusmi.


"Kayla, pesan saya selama disini jangan terlalu sering muncul di luar sana." pesan wanita satunya.


"Saya tau, Bibi..." jawab Kayla menunduk.


Dan sejak di sanalah penderitaan seorang Kayla di mulai. Kehidupan yang semula hanya tidak bisa untuk jajan seperti teman - teman yang lain. Kini semakin terasa berat untuk seorang Kayla. Gadis 14 tahun yang malang.


Suatu malam, Kayla di perintahkan oleh Ines untuk mengantarkan minuman Wolly ke ruang tengah. Karena sedang ada tamu penting katanya. Sementara pembantu satunya sudah tidur. Sehingga dengan terpaksa Kayla mengantarkan minuman itu.


Dan saat itulah, kehidupan yang mengenaskan dimulai. Dimana tamu istimewa yang merupakan seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun itu mulai melirik nakal pada Kayla. Dan sejak hari itu, pria itu terus saja mengejar untuk bisa mendapatkan Kayla.


Wolly terus menghalangi pelanggan tetap nya itu untuk bertemu Kayla. Karena memang Wolly memiliki perjanjian untuk tidak mempekerjakan gadis di bawah 17 tahun. Dan ia akan terus mempertahankan itu. Karena tak ingin perputaran uang di rumahnya itu terganggu.


Namun karena pria itu sudah gelap mata, Kayla di culik dan di bawa paksa oleh pria itu ke sebuah apartemen miliknya. Dan dengan gilanya pria itu ingin bercinta dengan Kayla yang masih berusia 14 tahun.


Satu hari sudah Kayla di kurung dan di rayu untuk bersedia melayaninya dengan suka rela. Namun Kayla semakin takut dan histeris. Kayla terus merasakan ketakutan hingga sejak di culik sampai malam tiba Kayla trus saja menangis. Pikiran remaja 14 tahun itu mulai ambyar dan tidak bisa fokus.


Dan malam harinya, adalah malam naas untuk Kayla. Pria itu melucuti setiap helai kain yang menempel di tubuh Kayla. Dan satu persatu dunia remaja Kayla serasa runtuh di atas kepalanya.


Sementara Wolly dan yang lain di buat bingung dengan hilangnya Kyla. Namun dengan banyaknya Chanel yang di miliki Wolly dan dengan bantuan polisi, Kayla berhasil di temukan, saat Kayla sudah dalam keadaan telanj*ng bulat dan kesuciannya hampir saja di renggut oleh pria yang lebih pantas untuk menjadi Bapaknya itu.


Telat sedikit saja, maka ujung tombak yang sejak tadi kesulitan untuk masuk itu pasti sudah merobek benang suci sang gadis.


Di temukan dalam keadaan yang tidak baik, membuat Kayla merasa depresi berat. Hidupnya hancur berkeping - keping. Ia seolah tengah di telanj*ngi di muka umum. Dan berakhir dengan gila nya seorang gadis remaja.


Flashback Off ...


"Dan aku kabur dari Rumah Sakit Jiwa, saat melihat pria itu ternyata akhirnya gila karena di penjara, dan juga d masukkan ke Rumah Sakit Jiwa Ibukota." terang Kayla mengakhiri sesi ceritanya.


Zahra sudah menangis sesenggukan sejak tadi membayangkan apa yang terjadi dan seperti apa ketakutan Kayla saat berada di tempat yang tak satu pun orang yang ia kenal.


Apalagi bisa jadi dirinyalah yang mengalami itu semua jika Kayla tidak mencegah Dirman membawa dirinya.


"Maafkan aku, Kayla..." lirih Zahra sembari mengusap air matanya.


Gilang sendiri hanya bisa menunduk. Tidak menyangka seberat itu kehidupan yang harus di lalui Kayla pada masa itu.


Suasana seketika terasa sendu.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2