
Calina terlelap, setelah lelah menangis untuk mengadu pada sang ibu mertua yang masih berada di bawah alam sadarnya. Air mata yang berjatuhan sepertinya sudah cukup untuk mengungkapkan betapa pilu hidup yang ia rasakan.
Menggunakan lengannya sebagai bantal, Calina di bawa oleh mimpinya jauh entah kemana. Dan saat ia tak lagi mendengar hiruk pikuk duniawi, tangan berkulit putih merayap di pundaknya dengan sangat lembut.
"Maafkan aku, Calina..." lirih sang pemilik tangan. Ia tatap sendu wajah cantik natural khas bunga desa.
"Aku sudah berusaha membuat Mas Zio adil padamu.. Tapi siapa lah diri ini, Cal..." setetes air mata jatuh membasahi pipi mulus perempuan cantik yang tak lain adalah Naura.
Naura datang sejak beberapa waktu yang lalu bersama Zio. Namun Zio memilih untuk langsung makan malam di kantin sendirian, dan membiarkan Naura langsung mendatangi ruang ICU sendiri.
Naura hendak menjenguk wanita yang sudah melahirkan suaminya itu. Namun saat sudah masuk ruang ICU dan akan membuka tirai rawat ibu mertuanya, yang ia dengar adalah hal memilukan.
Suara Calina yang bergetar saat berbagi cerita membuat Naura tidak jadi membuka tirai yang menutupi brankar Mama Reni.
Ia meminta suster yang berjaga untuk keluar, meninggalkan ruangan ICU. Agar hanya dirinya saja yang mendengar curahan hati Calina. Tak perlulah orang lain tau tentang keruwetan rumah tangga mereka.
Lama ia duduk di kursi perawat, mendengarkan dengan perasaan yang tak menentu. Sedih, merasa bersalah, dan ikut merasa kecewa akan sikap suaminya, bercampur aduk menjadi satu.
Jika disalahkan, sebenarnya Naura juga tak sepenuhnya salah. Ia hanya manusia biasa yang mencintai seorang pria. Pria yang juga mencintainya dengan tulus.
Hanya karena restu yang tak di dapat, membuat keduanya harus menikah diam - diam. Tanpa berjuang untuk meminta restu. Di sinilah letak kesalahan mereka.
Satu hal yang membuat keluarga Zio menolak Naura, permusuhan dua keluarga di masa lalu. Namun untuk menutupi itu semua dari generasi, keluarga Zio mengatakan menolak Naura, karena Naura mandul. Juga karena Naura... Ah... Entahlah... Hanya akhir cerita yang tau.
Padahal keluarga Zio bukanlah tipe orang - orang yang mempermasalahkan keturunan.
Kembali pada Naura Azalea, gadis kota yang cantiknya tak bisa di pungkiri siapapun. Ia usap air mata yang berjatuhan. Meski make up tipis yang sempat ia poles basah oleh air mata, sama sekali tak mengurangi kecantikannya.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Cal?" tanya Naura lirih. "Apa aku harus pergi? Supaya Mas Zio mulai memberi mu perhatian?" lanjut Naura pilu. "Jika iya aku akan melakukannya, Calina... Meskipun itu sangat berat..."
Air mata secara reflek kembali berjatuhan. Berat bukan melepas seseorang yang kita cintai? Begitu juga yang di rasakan Naura, ia pun juga akan sangat berat jika harus meninggalkan Zio. Satu - satunya pria yang ia cintai saat ini.
"Berikan Mas Zio maaf, Calina.. Berikan ia maaf atas sikap dinginnya selama ini." ucap Naura lirih. "Dia bukanlah pria yang buruk, mungkin hanya karena apa yang ia ingin tidak terwujud, membuatnya menjadi laki - laki yang membangkang. Menjadi laki - laki yang menurut kamu teramat buruk."
Jemari lentik mengusap lembut pundak Calina yang masih di bawa jauh oleh mimpinya.
"Jika kamu bersedia, berikan Mas Zio kesempatan, Cal... Aku janji akan membuatnya adil pada kita berdua..." lirih Naura begitu dalam.
Naura mengusap lembut rambut Calina yang di kucir seperti ekor kuda.
Puas menyampaikan kalimat - kalimatnya, Naura beralih ke sisi brankar lainnya. Ia usap lengan ibu mertuanya. Ia tatap berbagai alat rumah sakit yang membantu jantung mertua tetap berdetak.
Hatinya pun ikut pilu. Meski ia di tentang oleh mereka. Tapi Naura tetap menyayangi Mama Reni dan Papa Raihan seperti orang tuanya sendiri.
"Ma...? Salahkah jika Naura memanggil Ibu suami Naura dengan sebutan Mama?" tanya Naura lirih. "Meskipun Mama Reni mungkin tidak pernah tau akan kehadiran Naura dalam hidup Mas Zio, Naura tetap menganggap Mama Reni adalah ibu mertua paling baik di dunia ini," ucapnya tulus. "Maafkan Naura, Ma... Karena Naura bersedia di nikahi Mas Zio tanpa restu Mama dan Papa, termasuk orang tua Naura... Naura sangat mencintai Mas Zio, Ma."
__ADS_1
Air mata Naura kembali menetes. Inilah Naura Azalea, perempuan cantik dan anggun yang hatinya sangat lembut. Air mata begitu mudah meleleh dari pelupuknya.
"Ma... Jika saja Mama tau, betapa rumit kisah kami bertiga... Naura yakin, Naura lah yang harus mengalah. Naura lah yang harus pergi... Tapi Ma... apakah salah jika Naura jatuh cinta? Naura mencintai Mas Zio dengan tulus. Bahkan Naura rela Mas Zio berbagi cinta untuk Calina, meskipun Naura adalah istri pertama Mas Zio."
Naura mencium kening ibu mertuanya sebagai akhir dari pertemuannya kali ini.
"Naura pulang, Ma.." lirihnya berpamitan.
Ia sempat melihat sendu Calina, sebelum akhirnya membuka tirai dan berlalu dari ruang ICU.
Sementara di luar, Zio terlihat terlelap di kursi tunggu. Naura menghampiri dengan perasan sendu. Duduk di samping Zio, menatap lekat suaminya dengan perasaan campur aduk.
Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Zio bisa bersikap adil pada dirinya dan Calina.
Naura beranjak, berdiri dari duduknya yang di penuhi dengan rasa gelisah.
Ia menyusuri lorong seorang diri. Saat malam semakin larut. Saat banyak penjaga pasien sudah banyak yang terlelap.
Saat sampai di area taman Rumah Sakit, ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Ia menoleh, namun tak ada siapapun di belakang sana. Selain dua perawat laki - laki yang melintas di lorong rumah sakit.
Naura kembali berjalan, dan perasaan itu semakin kuat. Ia hendak kembali menoleh, namun seketika itu seseorang mendekapnya erat.
"Emmh!" Naura berusaha untuk memberontak. Karena merasa sangat sesak di dekap sedemikian erat.
"Apa yang kamu katakan pada Calina dan Mama?" tanya seseorang yang tak lain adalah Zio, suaminya sendiri.
"Tentu saja aku mendengarnya, Naura!" jawab Zio sedikit menghentak. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi! apapun yang terjadi, kamu harus tetap bersamaku!"
"Mas!" hentak Naura tertahan. "Apa selama ini kamu tidak pernah sedikitpun perasaan Calina?" tanya Naura serius. "Sebagai wanita yang juga mencintai mu, hatinya merasa sakit, Mas! Dia sama seperti ku! Mencintai mu dengan tulus. Harusnya kamu juga memikirkan dia!"
"Aku hanya tidak ingin menyakitimu, Naura! Untuk itu aku menjaga hatiku agar tidak mencintai wanita manapun selain kamu!"
"Aku tidak akan tersakiti! Aku tau posisi ku! Aku tau kedudukan ku! Bahkan Mama dan alm Papa kamu tidak tau tentang keberadaan ku!" ucap Naura. "Aku menganggap Calina seperti adikku sendiri! Aku sama sekali tidak keberatan dia menjadi maduku!"
"Tapi aku tidak bisa mencintai dia, Sayang! Mengertilah!" hentak Zio lagi.
"Kalau kamu mencintai ku, kamu harus bisa menerima Calina sama seperti kamu menerima ku!" ucap Naura tegas.
"Bagaimana kalau pada akhirnya cintaku terbagi? Dan aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian berdua, saat kalian sama - sama membutuhkan aku?" tanya Zio serius. "Bayangkan jika seandainya Calina mengandung anakku, saat ia hendak melahirkan dan kamu tiba - tina sakit! Siapa yang harus aku jaga? Siapa yang harus aku rawat? Bayangkan, Naura!" hentak Zio lagi dan lagi.
Naura menunduk, terdiam untuk berfikir. Membayangkan posisi tentu yang tidak di inginkan siapapun di dunia ini.
Menggeleng lemah, "Aku tidak tau, Mas..."
Berat memang tapi jika semua harus terjadi seperti apa yang di ucapkan suaminya, tentu yang tidak bisa di bantu oleh Zio pasti akan sedih dan hancur. Tidak tau dia atau Calina yang akan merasakan hal itu.
__ADS_1
Tapi membiarkan gadis desa menderita dalam sebuah rumah tangga yang menyangkut dirinya, juga sesuatu yang berat untuk di biarkan Naura begitu saja.
Bisa saja dia egois, dan meminta Zio untuk melepaskan Naura. Tapi itu bukanlah jati dirinya.
"Buka pikiran kamu, Naura! Dan ingat! Jika aku tidak bisa berbagi cinta dengan siapapun!"
"Apa tidak ada cinta sedikitpun untuk Calina di hatimu, Mas?" tanya Naura lirih. Ia tatap dalam sepasang mata suaminya.
Kini Zio yang terdiam. Ia memang menjunjung tinggi kalimat tidak akan mencintai Calina. Tapi beberapa haris di Rumah Sakit bersama Calina rasanya mulai ada kebaikan yang keluar dari dalam dirinya.
Mungkin memang betul, sejak awal ia hanya butuh waktu untuk sedikit membuka bagi Calina.
Menggeleng pelan, "Aku hanya bisa baik padanya. Simpati karena dia bersedia merawat ibuku dan cuti panjang demi hal itu."
Zio menepis semua kalimat yang sepat ia pikirkan tentang Calina hari lalu.
"Hanya simpati?" tanya Naura lirih, menyakinkan kembali akan kalimat suaminya.
"Ya..." jawab Zio. Namun sorot matanya seperti ragu akan hal itu.
Naura tersenyum tipis, "Jangan pernah tinggalkan Calina demi aku, Mas!" ucap Naura. "Kamu hanya butuh waktu dan belajar untuk bisa adil pada kami berdua."
Zio mengalihkan pandangannya. Rasanya perdebatan dengan suara tertahan malam itu tidak akan usai begitu saja. Tidak akan selesai seperti apa yang ia inginkan. Naura tetap memintanya untuk bersama Calina.
Mengangguk lemah, "kita pulang sekarang?" tanya Zio lirih.
"Meninggalkan Calina sendirian di sini?" tanya Naura.
"Kenapa?"
Menghela nafas berat, "Kita semua tidur di sini, Mas! Besok pagi - pagi kita kembali ke kota!"
"Tapi bagaimana kalau kamu sakit?"
"Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan Calina? dia juga perempuan! Dia juga bisa sakit sama seperti aku, Mas!"
Menghela nafas berat. Di rasa Zio malam ini istri pertamanya sangat keras kepala.
"Baiklah!"
Mereka berbalik, berjalan kembali memasuki lorong Rumah Sakit. Saat mereka berdua berjalan, ambulance datang dengan kecepatan tinggi. Sontak semua perawat tergopoh - gopoh membawa brankar untuk menyelamatkan siapa yang ada di dalam ambulance.
Zio dan Naura sempat berhenti dna melihat betapa semua orang panik. Termasuk orang - orang yang berada di mobil belakang Ambulance.
"Cepat! Cepat!" satu kata itu yang terdengar oleh Zio dna Calina.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...