Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 30 ( Rahasia Mama Reni )


__ADS_3

Prosesi pemakan orang tua Zio kembali di langsungkan. Jika lima hari lalu pemakaman sang Ayah. Maka malam itu adalah pemakaman sang Bunda. Yang berada tepat di samping makam ayahnya.


Hati Zio runtuh mendapati kedua orang tuanya meninggal dengan jarak waktu yang begitu dekat.


Tanah merah sudah membentuk gundukan. Taburan aneka bunga berlimpah, sudah berhias di atasnya. Sebuah nama terukir di atas batu nisan berwarna putih.


Nama terindah yang pernah dikenal oleh Zio. Nama seseorang yang kemauannya selalu ia turuti. Salah satunya adalah perjodohannya dengan Calina.


Kini nama indah itu sudah tertulis di dalam nisan putih. Menggambarkan sang pemilik nama telah kembali berpulang ke pangkuan Tuhan. Tak mungkin lagi meminta ini dan itu padanya. Tak mungkin pula ia jadikan tempat untuk bercerita seperti sebelumnya.


Dan juga... Tak mungkin lagi ada sandiwara rumah tangga bahagia yang ia peragakan bersama Calina.


Derai air mata tak lepas dari sepasang mata Zio. Banyak kesalahan yang sudah ia lakukan. Banyak kebohongan yang belum berani ia ungkapkan. Termasuk biduk rumah tangganya yang sebenarnya tidak baik - baik saja.


Dengan tangannya yang masih berlumur tanah merah sisa galian, Zio mengusap lembut nisan Ibunya. Berulang kali mengucap kata maaf. Berulang kali pula menyesali kesalahannya.


Tapi semua sudah terlambat. Dua orang yang paling ia cintai sejak kecil telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan dirinya dengan kerumitan yang ia ciptakan sendiri.


Menikah diam - diam, mengingkari janji suci pernikahan dengan Calina. Juga tentang kebohongannya di perusahaan. Yakni menikah dalam satu perusahaan.


Jika Zio memohon maaf pada orang tuanya di pusara mereka dengan Naura yang setia duduk di sampingnya. Maka hal berbeda di lakukan Calina.


Sepasang mata lentik Calina sembab, akibat menangis seharian. Kali ini berada pelukan Ibundanya, Mama Shinta. Meluapkan segal emosi yang ia tahan selama di pelukan sang Ibu. Meski bibir belum bisa berkata jujur.


Sepanjang prosesi pemakaman, Mama Shinta kembali menatap aneh pada Zio dan Naura. Dalam hati, ia yakin mereka bukanlah sahabat.


Meski putrinya keukeh mengatakan mereka adalah sahabat. Tapi hati seorang Ibu tidak semudah itu bisa percaya pada ucapan putrinya. Mereka memiliki feeling yang kuat tentang hal lain yang di sembunyikan putrinya.


Mama Shinta hanya butuh waktu untuk bisa berbicara empat mata dengan sang putri satu - satunya.


Beberapa saat berlalu, semua akhirnya harus meninggalkan makam Mama Reni dan Papa Raihan. Meninggalkan area itu, saat hari menjelang tengah malam.


Jika Zio membawa Naura pulang ke rumah orang tuanya yang kini hanya ada seorang pembantu. Maka Calina memilih untuk pulang ke rumah Mamanya. Ia memilih berbagi duka dengan Ibunya. Dari pada harus beradu pandang dengan sepasang suami istri yang membuat hidupnya rumit.


Ia datang ke rumah Papa Raihan dan Mama Reni hanya saat pengajian saja. Setelahnya ia akan pulang dan kembali lagi esok siangnya untuk mempersiapkan pengajian berikutnya selama tujuh hari berturut - turut.


"Cal, kamu tidak tidur di sini saja?" tanya Zio.


"Tidak, Mas!" jawab Naura datar. Sembari mengemasi sisa hidangan hajatan.


"Kenapa? Toh Naura sudah pulang sejak senin pagi."


"Aku hanya ingin berdekatan dengan Mama ku, Mas!"


"Tidurlah di sini untuk malam ini saja, Cal..." mohon Zio. "Aku butuh teman..."


Calina tersenyum tipis, mencibir kalimat Zio dalam hati. Teman?


"Baiklah, untuk malam ini aku akan menginap di sini..." jawab Calina, "tapi esok aku akan kembali ke rumah Mama Shinta! Karena cuti ku tinggal besok dan lusa saja!"

__ADS_1


"Iya, Cal..." jawab Zio tersenyum gamang.


Malam itu, Calina menghubungi Mama Shinta, bahwa ia tidak pulang. Ia akan menginap di rumah Mama Reni bersama Zio.


***


Pagi hari, setelah keluar dari kamar tamu, Calina sibuk memasak bersama seorang pembantu yang sudah bekerja di keluarga Papa Raihan sejak Zio kecil.


"Mbak Cal?" panggil pembantu Mama Reni lirih dan setengah ragu.


"Ya, Bik?" jawab Calina menoleh wanita berusia hampir 50 tahun itu.


"Ada yang ingin Bik Asih sampaikan..." ucapnya. "Tapi ini bersifat rahasia.."


"Rahasia apa, Bik?" tanya Calina menghentikan aksinya memotong sayuran.


Bik Asih menghela nafas dan menunduk. Kemudian ia menarik pelan lengan Calina dan mengajaknya untuk duduk di kursi meja makan yang ada di dapur.


Bik Asih terlebih dahulu memastikan bahwa Zio belum bangun dari tidurnya. Toh anak majikannya itu terbiasa bangun agak siang jika libur bekerja.


"Ada satu rahasia yang di pegang Ibu dan saya..."


"Apa itu, Bik?"


"Sebenarnya..." Bik Asih menarik nafas dalam, kemudian menghelanya berat. "Sebenarnya Bu Reni tau, kalau Mas Zio itu menikah diam - diam dengan Mbak Naura!"


"Apa!" pekik Calina tak percaya.


"Jadi Mama Reni tau, kalau selama ini keharmonisan kami adalah sandiwara?"


"Iya, Mbak.." jawab Bik Asih menunduk pilu. "Ibu selalu menangis sedih, setiap kali habis bertemu dengan Mbak Calina. Beliau kasihan, tapi beliau juga bingung harus berbuat apa. Hanya Mbak Calina yang di percaya untuk kelak merawat Mbak Zhika. Termasuk..."


"Apa, Bik?"


"Rumah ini!"


"Rumah ini?" tanya semakin bingung hingga matanya mendelik.


"Iya, Mbak Cal. Rumah ini di serahkan untuk Mbak Zhika dan Mbak Calina."


"Tapi, Bik, siapalah aku?"


"Mbak Calina adalah satu - satunya harapan besar Bapak dan Ibu.." jawab Bik Asih.


"Ya Tuhan..." lirih Calina meneteskan air mata. Ia tak menyangka ternyata Ibu mertuanya mengetahui segalanya. Dan lebih membuatnya merasa tak percaya, rumah sebesar itu di berikan padanya dan Zhika.


"Bik, jangan beri tau Mas Zio tentang rumah ini ya? Biar rumah ini jadi milik Mas Zio. Saya tidak berhak menerimanya." Calina menolak dengan halus.


"Tapi, Mbak Cal."

__ADS_1


"Saya mohon, Bik!"


Menghela nafas berat, "Sebenarnya saya di pesani oleh Ibu. Supaya membantu Mbak Cal untuk merawat Mbak Zhika kelak!" ucap Bik Asih. "Tapi saya tidak pernah tau, apa Mbak Cal akan betah bersama Mas Zio yang seperti sekarang?" tanya Bik Asih ragu.


Giliran Calina yang menghela nafas. Menunduk dalam, karena ia sendiri tak tau. Karena ia sempat untuk berfikir meninggalkan Zio dengan segala luka yang di berikan oleh suaminya itu.


"Saya belum punya jawaban untuk itu, Bik!"


"Pikirkan baik - baik, Mbak Cal. Saya akan selalu siap, jika Mbak Cal membutuhkan bantuan saya..."


Calina mengangguk, "Terima kasih, Bik!"


***


Tujuh hari dari kematian Mama Reni telah terlewati. Esok adalah waktunya bagi Calina untuk kembali ke kota. Hari ini setelah acara pengajian di hari ke tujuh, Calina memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


"Cal, jujur pada Mama." ucap Mama Shinta membuat tubuh Calina menegang. Jika sudah bernada seperti itu, biasanya Mama Shinta akan mengajak bicara serius, dari hati ke hati.


"Jujur tentang apa, Ma?" tanya Calina menyiapkan diri untuk memberi jawaban terbaik.


"Katakan pada Mama, siapa sebenarnya Naura itu?" tanya Mama Shinta dengan tatapan serius pada Calina. "Mama mau kamu jujur, Cal!" lanjut Mama Shinta sedikit memaksa.


Calina menatap dalam mata wanita yang sudah melahirkannya itu. Mencari keteduhan yang lama tak pernah ia dapatkan. Karena hidup berjauhan dan sangat jarang bertemu. Sekalinya bertemu, hanya dapat di hitung oleh jam dinding.


Akhirnya keluarlah satu kalimat yang membuat Mama Shinta nyaris pingsan. Sekuat hati di usianya yang tak muda lagi ia menahan keterkejutan berlebih.


Ia teteskan air mata kesedihan. Tak kuasa lagi melihat air mata yang menetes dari pelupuk putrinya di setiap cerita - cerita menyedihkan yang keluar dari bibir tipis sang putri.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita, Calina.." lirih Mama Shinta menahan isakan.


"Calina tak ingin membuat Papa dan Mama kecewa, Ma.."


"Tapi tidak dengan cara seperti ini Calina." lirih Mama Shinta. "Kamu berhak bahagia, Nak..."


"Calina tau, Ma..." jawab Calina menunduk dalam.


Ia tau harus bahagia. Namun saat ini ia masih berfikir untuk mendapatkan cara yang tepat.


' Lagi pula Calina sudah kalah, Ma... Semoga Mama tidak kecewa, jika tau apa yang akan di lakukan Calina kedepannya... '


# # # # # #


Kembali menginjakkan kakinya di kantor, Calina segera di sambar oleh sahabatnya, Mereen. Tentu saja Mereen ingin tau cerita Calina selama satu minggu lebih tidak hadir di kantor.


"Lalu ini berkas apa?" tanya Mereen meraih amplop coklat di tangan Calina.


"Belum saatnya kamu tau, Reen!" jawab Calina kembali merebut amplop coklatnya yang berukuran besar.


"Calinaa....." rengek Mereen.

__ADS_1


Namun Calina hanya tersenyum simpul.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2